(06-01-2011, 04:47 PM)BAMBANG EKO Wrote: [ -> ]BuGe780 Wrote:05-Jan-2011, 10:37 AMsepertinya ini smakin membingungkan,mulai dari molornya peluncuran KA ini sampai wacana kl argo peuyeum hnya smpai LPG n perpanjangan si BUGE. Well..sy jd makin bingung...kalo scara teknis sih sy rasa si loko BB bisa aja lwati trowongan LPG toh bobot BB kan lbh ringan dr CC n kalaupun BUGE smpai LPG bukankh sma aja bobotnya kataknlah 1 KRD bratnya 37 ton x 4 aja udh brapa n jika si AP LOKOnya 52 ton x berkos kreta pnumpang itu brapa ya? Yg paling hnya menarik 4 kreta,coba kawan2 kalkulasikan.
Kalau masalah berat rangkaian kayaknya matchingnya dengan jenis rel ( Type Rel R berapa } dan tekanan gandar .
sedangkan untuk Terowongan lebih matching dengan dimensi ( ukutan lebar dan tinggi Lok dan rangkaiannya )
Untuk gerbong penumpang di desain berat 30 ton s/d 37 ton plus muatan ( penumpang 100 x 80 kg ) plus toleransi 100 % = 16 ton
jadi berat siap Kereta /gerbong penumpang sekiutar 48 ton dibagi 4 menghasilkan tekanan gandar 12 ton sesuai dengan kondisi rel R 33 yang standarnya memang 12 ton.
sedangkan lok BB 301 / BB 304 berat 52 ton dgn tek gandar 13 ton juga masih bisa
yang jadi masalah adalah Daya mesin lok tsb.
Kondisi prima HP lok BB 301 sekitar 1350 PK dan kondisi sekarang sekitar 60 % atau sekitar 800 PK dengan max daya tarik 2 K3 saat menanjak.
wah brarti utk KA ke bd ga ada prubahan ttp stia loko bb n 2 grbong kreta..wooff,.cape deh
![[Image: overstappen.png]](http://www.semboyan35.com/images/overstappen.png)
tadinya sy menaruh harapan kalo reaktifasi jalur ini akan digunakan kreta yg baru seperti halnya KRD BUMI GEULIS meskipun bukan gress tp paling tidak lbh baik dari sebelumnya. Tapi stlah sy baca n telaah postingan diatas,nampaknya jalur ini hnya memperbaiki relnya saja sehingga bisa dilalui lg oleh kreta yg sjak dulu ada yaitu argo peuyeum,loko BB plus narik cuma 2 gerbong! Ya Tuhan... Tapi gak apalah daripada gak sama skali. Smoga saja jalur legendaris ini mnjadi perhatian khusus dari pusat agar dpt diupgrade smua sarana n prasarananya,amin.
saya dulu sih pernah baca di blog orang ITB kalo ga salah...
daerah terowongan lampegan bukan hanya berada pada garis patahan...
tapi juga struktur tanahnya berada pada posisi struktur tanah tua dan struktur tanah bercampur lapisan pasir... dan ini yang menyebakan terowongan dandaerah sekitarnya rawan longsor...
(07-01-2011, 12:06 PM)masboleng Wrote: [ -> ]saya dulu sih pernah baca di blog orang ITB kalo ga salah...
daerah terowongan lampegan bukan hanya berada pada garis patahan...
tapi juga struktur tanahnya berada pada posisi struktur tanah tua dan struktur tanah bercampur lapisan pasir... dan ini yang menyebakan terowongan dandaerah sekitarnya rawan longsor...
pantesan kang,trowongan lampegan itu gak prnh stabil,btw dulu sy prnh dngar ktanya rel yg mlintas trowongan mau direlokasi memutari jalur yg ada skarang tp kyaknya itu hnya skadar wacana..tinggal crita..
(06-01-2011, 04:47 PM)BAMBANG EKO Wrote: [ -> ]Kalau masalah berat rangkaian kayaknya matchingnya dengan jenis rel ( Type Rel R berapa } dan tekanan gandar .
sedangkan untuk Terowongan lebih matching dengan dimensi ( ukutan lebar dan tinggi Lok dan rangkaiannya )
yang jadi masalah adalah Daya mesin lok tsb.
Kondisi prima HP lok BB 301 sekitar 1350 PK dan kondisi sekarang sekitar 60 % atau sekitar 800 PK dengan max daya tarik 2 K3 saat menanjak.
Kalau tidak salah sekitar tahun 80 an pernah ada studi PJKA mengenai jalur PDL-CJ-SI-BOO (khususnya Terowongan Lampegan) sebagai jalur KA Barang dari BD dan sebaliknya. Sebagai antisipasi jika lintas PDL-PWK-CKP penuh dengan KA penumpang. Waktu itu Alm.Parahyangan masih jadi mesin duit PJKA yang paling kenceng. Hasilnya clearence Lampegan bisa dilalui oleh lok sekelas CC 201. Ilustrasinya seperti KRL kalau lewat Sudirman. LAA & Pantographnya mepet dengan bagian bawah jembatan Jl.Sudirman tapi masuk.
Masalah lok, jadi serba salah.
BB 301 yang sekarang menggunakan mesin MTU dengan power 1500 HP sama seperti BB 304. Sayangnya lok BB 301 dianggap bukan aset produktif PT.KA. Kalau saya tidak salah spare partnya pun masih ada, hanya harganya selangit. Tidak seperti lok buatan GE, spare part gampang, banyak, lebih murah pula. Akibatnya lok DH tidak dilirik lagi oleh PT.KA. Wajar kalau kondisi lok DH sekarang alakadarnya. Tidak boleh diforsir, kalau rusak harus kanibal sama yang lain. Lihat saja sekarang lok Argo Peuyeum. BB 301 17,24,41. Supaya B1 17 dan 24 tetap jalan harus kanibal dari si 41. Dinasnya pun sehari jalan,sehari tidur di Dipo. Memang idealnya repowering dengan mesin baru atau lok baru yang sejenis, sambil tunggu repowering. BB 304 THB dimutasi ke BD.
KRD Bumi Geulis sampai LPG, mungkin setelah hampir 30 tahun KRD tidak pernah menginjakkan rodanya di petak SI-LPG. Setelah tahun 80 an terjadi PLH KRD di daerah Cibeber. KRD nya nyungsep masuk sawah. Saksi bisunya NR JNG, konon ikut evakuasi KRD di CBB.
(07-01-2011, 12:22 PM)BuGe780 Wrote: [ -> ] (07-01-2011, 12:06 PM)masboleng Wrote: [ -> ]saya dulu sih pernah baca di blog orang ITB kalo ga salah...
daerah terowongan lampegan bukan hanya berada pada garis patahan...
tapi juga struktur tanahnya berada pada posisi struktur tanah tua dan struktur tanah bercampur lapisan pasir... dan ini yang menyebakan terowongan dandaerah sekitarnya rawan longsor...
pantesan kang,trowongan lampegan itu gak prnh stabil,btw dulu sy prnh dngar ktanya rel yg mlintas trowongan mau direlokasi memutari jalur yg ada skarang tp kyaknya itu hnya skadar wacana..tinggal crita..
Itulah kondisi bawah tanah Lampegan..
Saya salut sama Belanda dulu bangun Terowongan Lampegan. Lebih memilih gali lubang buat terowongan dari pada harus memapas bukit. Kondisi tanah seperti ini ditambah banyak mata air, bangun terowongan pakai bata merah pula. Yang jadi pertanyaan apa maksud Belanda dulu lebih memilih bangun terowongan dari memapas bukit?

secara teoritis melubangi lbh mudah dr pd mengeruk. Trlepas dari apapun,artinya bhwa lok bb yg akn didaulat di jalur ini yg menarik (masih) 2 gerbong rangkaian ekonomi seperti sebelumnya. Just wait n see then...
katanya Tgl 10 ini ada test run,,tapi ditanya ke petugas yg di St SI bengong smua,,kapan ni??wah molor bnr dari rencana..padahal sudah siap pakai ni jalur!
(08-01-2011, 12:31 PM)KRD_Bumi_geulis Wrote: [ -> ]katanya Tgl 10 ini ada test run,,tapi ditanya ke petugas yg di St SI bengong smua,,kapan ni??wah molor bnr dari rencana..padahal sudah siap pakai ni jalur! 
sy mah sangsi jalur ini akan dibuka scepatnya,mungkin PT KA lg bingung KA apa yg nti akn digunakan pd jalur ini. Smuanya srba tanggung n mepet. Mau pk krd scara jalur ini bnyk tanjakan curam,mau pk loko cc scara jalur ini mayoritas relnya type R33,mau pk si argo peuyeum yg dah ada scara si loko bb lg ga fit bngt. So bingung kan???
(08-01-2011, 03:14 PM)BAMBANG EKO Wrote: [ -> ]Ada pemikiran untuk memaksimalkan rangkaian
KA Kahuripan yang
" bobo siang " di Padalarang ga ya ?
Untuk rangkaian
KA BD - SI kayaknya bisa
' Pinjam Pakai " rangkaian KA Kahuripan .
Trus Lok nya mungkin bisa
tuker guling dengan Lok
KA Banten Ekspres yang nota bene pakai
BB 304 yang sehat dan Fit.
Maksudnya ,
BB 304 yg biasa narik
KA Banteks tukeran sama
Lok CC 201 punyak Daop II BD.:
Secara perhitungan
KA Banteks diuntungkan karena ada Power lebih dari daya mesin 1550 PK menjadi 1950 PK yang artinya bisa nambah gerbong dari
7 kereta menjadi
12 kereta . sedangkan Daop II BD bisa
memaksimalkan rangkaian KA Kahuripan yang Bobo Siang untuk trayek
Bandung - Sukabumi PP . Kalau dikelola maksimal dan profesional kayanya sih memungkinkan dan mungkin BB 304 yang masih sehat mampu membawa 4 K3 menanjak di petak
Padalarang - Cianjur .

Namanya juga usul.
lho, bukannya gerbong harus diistirahatkan minimal 8 jam??? trus dari kediri saja Kahuripan cuma tidur sekira 4 jam bahkan mungkin bisa kurang lantaran ni KA ekonomi yang terkenal dengan telatnya...

wah,wah,wah..kyknya pd ikutan bingung jg ya? Itulah yg mnjdi concern sy,dgn kreta apakh nantinya jika jalur ini diaktifkn kmbali..??