17-09-2011, 11:50 PM
(17-09-2011, 07:38 PM)Andrew_CN Wrote: [ -> ]Nah itu dia, meskipun ada lodaya & sancaka KA ini masi tetep penting karna sancaka & lodaya ga cukup menampung smua. Karna keindahan & potensialnya karakter penumpang di selatan agak berbeda dg penumpang diutara, penumpang selatan antara perjalanan pagi dg malem ga terlalu drastis perbedaannya untuk jarak tengah, bayangkan kalo KA ini keilangan penumpang di petak itu & musti keutara yg blom tentu masi banyak penumpang sisa untuk SGU-SBI-SMT-CN atopun sebaliknya & CN-BD atopun sebaliknya, sangat eman2betul mas..... KA ini tetap rame, baik oleh penumpang jarak terjauh ato penumpang tengah... meskipun dah ada Sacnaka dan Lodaya... ya karena disamping sebagai satu2nya KA yang prima yg jalan siang di lintas yg sepenuhnya lintas selatan... ni train tidak menggunakan mekanisme single tarif... jadi cukup worthed untuk bepergian yg ga dikejar waktu.... selain itu dengan jarak yg cukup jauh dan tarif yg beragam.. KA ini memberi pilihan pelayanan untuk rute2 tanggng seperti: Surabaya - Kroya, Banjar-Madiun dsb yg tentu saja tidak mungkin bisa dicover Sancaka dan Lodaya
Karna di utara sindoro, rajawali uda dibantu dg anggrek, kaligung mas & bahkan ciregal, itupun rangkaian anggrek pendek, ga bisa sepanjang dulu lagi, klo KA ini ikut keutara ga dapet apa2
selain itu... faktor pendukungnya adalah... di Jawa Timur dan Jawa Tengah,, lebih banyak kota besar atau kota2 dengan potensi penumpang besar yg ada di lintas selatan dibanding utara.... mari kita bandingkan
utara: Surabaya, Bojonegoro (mengcover wil. Bojonegoro, Lamongan Tuban), Semarang, Pekalongan, Tegal, CN dst...
selatan: Surabaya, Jombang (mengcover wil Jombang, Kediri, Lamongan, bahkan Blitar dan Malang), Kertosono (mengcover wil. Nganjuk, Kediri, Tulungagung) Madiun (mengcover wil. Madiun, Ponorogo, Pacitan, Magetan n Ngawi), Solo dan Jogja (jelas mengcover banyak wilayah).. Kutoarjo (mengcover wil. Purworejo, Wonosobo bahkan Magelang), Kroya (mengcover Cilacap dan Purwokerto) dst... tentu potensi tersebut sudah terbaca dengan sangat baik oleh perencana KA pada jaman PERUMKA ketika Wilis pertama kali diluncurkan... (tahun 1998)
selain itu dengan topografi jalur selatan yg cenderung bergunung-gunung... membuat KA mempunyai keunggulan mutlak dibanding moda pesaing... sebagai contoh: orang tua saya kalo pulkam ke Purwokerto dulunya pake mobil... dan membutuhkan waktu minimal 10 jam siang hari (itu kalo nyetirnya gantian dan istirahat cuman di pom)..sekarang Jombang Purwokerto bisa 12 jam pake mobil.... nah sekarang lebih milih naek Wilis... lah perjalanan cuman 6 jam (JG-KYA: 8.20 - 14.20 sementara KYA-JG 11.30 - 17.30)....
so justru di lintas selatan lah wilis bisa tetep eksis... bisa mengcover penumpang terjauh dan melayani penumpang jarak tanggung dengan tetep prima.... meskipun brentinya banyak (Gubeng, Jombang, Kertosono, Madiun, Solo, Jokdja, Kutoarjo, Kroya, Banjar, Tasik, Cipendey dan Bandung)



berarti kalo k1.laNGSUNG di bebelakang cc 201 92 04 berarti itu berbong aling-aling + cuma bawa K1-1 s/d K1-3( cuma ada 3 gerbong penumpang) +M1+ bp..