07-08-2011, 02:04 PM
mungkin untuk pertimbangan keselamatan mas..
hidupkan lagi jalur KTA - PWR & feeder purworejo..

|
07-08-2011, 02:04 PM
mungkin untuk pertimbangan keselamatan mas..
hidupkan lagi jalur KTA - PWR & feeder purworejo..
07-08-2011, 02:42 PM
(This post was last modified: 07-08-2011, 02:45 PM by Adi Sutjipto.)
Kalau LH,
secara tidak langsung kan juga berfungsi sebagai aling-aling. Dan yang jelas, kedua orang yang bertugas didalam kabin, harus selalu siap kedua-duanya. Dalam arti, "bolo kiwo" atau, mereka yang bertugas disebelah kiri, juga tidak bisa lebih santai, karena, masinis tidak bisa melihat rambu atau apapun yang ada disebelah kiri, terutama jika jalan menikung kekiri. Sederhananya begini, [ni hanya pengandaian lho], bisa saja, karena berangkat dengan SH, seumpama saya yang jadi Asmass, waktu berangkat, saya ijin dengan masinis, untuk istirahat sejenak, karena malamnya habis ada acara, misalnya. Lalu waktu pulang/ arah balik, ganti saya yang jadi joki, sbg gantinya, bolo kiwo silakan istirahat, tidur-tidur ayam umpamanya. Karena jika dengan SH, walau sendiripun, masih sanggup membawa dan semua pandangan bebas bukan ? Coba jika dengan LH, pasti kita yang dikanan, tidak begitu tahu keadaan yang dikiri. Jadi, secara tanggung jawab, berangkat dengan LH, kedua joki harus sama-sama bekerja. Pehatikan contoh gambar dibawah ini. Anda tidak dapat melihat jika ada yang melintas dari sebelah kanan bukan ? Juga yang duduk dikanan, tidak dapat melihat jika ada yang melintas dari sebelah kiri bukan ? * semoga bermanfaat. ![]() Bandingkan dengan gambar ini. Pandangan lebih bebas bukan ? Gambar diambil dari posisi Asmass, CC201 ![]() Tapi dalam pengendalian, jika posisi LH, lebih terasa goyangan didalam kabin masinis, karena posisi mesin yang didepan sehingga berat mesin terpusat didepan, dan loko mencari jalan di rel, ibarat seperti kepala ular yang sedang merayap, lebih terasa arah goyangan kekiri dan kekanan. Beda dengan saat SH, karena posisi mesin dibelakang kita, goyangan akibat berat mesin, diredam oleh gerbong yang tersambung dibelakang loko. ![]() (07-08-2011, 12:09 AM)pardjono Wrote: Pernah baca postingan, lupa entah di thread apa, waktu Bapak Hatta Rajasa jadi Menhub, menyarankan agar lokomotif sedapat mungkin berjalan SH, agar dapat mengurangi penyebab PLH. Nah .... hal itu masih berlaku sampai sekarang. Nah, jaman Belanda, yang ini sudah diperhitungkan, makanya pakai LH ! Alasannya ? Ya seperti yang sudah saya tulis diatas. ![]()
Berjalan SH jg trmasuk rekomendasi dr KNKT, jln LH asap dr exhaust byk yg msuk ke kabin. Jln SH jg utk mnciptakan masinis yg sehat
RF Martu Hares P, telah menjadi warga Semboyan35, Indonesian Railfans sejak Jan 2011.
11-08-2011, 11:54 PM
oh gitu ya...berarti kalo SH enakan Assmas nya dunk...hahahahhahaha
cuma becanda.....tapi kalo saya ngerasa lebih mantap (kalo jadi Masinis) LH....biar sama2 kerjanya....![]() ![]() ![]()
Jayalah terus Kereta Api Indonesia
11-08-2011, 11:57 PM
(10-08-2011, 11:22 AM)Martu Hares P Wrote: Berjalan SH jg trmasuk rekomendasi dr KNKT, jln LH asap dr exhaust byk yg msuk ke kabin. Jln SH jg utk mnciptakan masinis yg sehat Untuk masalah rekomendasi dari KNKT, mungkin anda bisa share disini ? Penasaran juga sih, dan buat pencerahan kita semua. Tadi saya tanyakan kembali sampai posisi level dua, juga lintas Daop, semuanya cuma memberi jawaban ? [tanda tanya] Karena semua punya kelebihan dan kekurangan, tapi, disini yang dipersoalkan [maksud saya], bukan dari segi kesehatannya. Karena, semua masinis, terlebih yang baru lulus, untuk kesehatan, dianggap prima, karena lulus A1, seperti Pilot Pesawat Terbang. Juga ketika saya diskusikan dengan masinis senior, bagi mereka, tidak masalah, karena loko memang diciptakan untuk dua arah, dan siapa yang akan memutar loko, jika melalui percabangan dan balik arah. Tidak semua tasiun mempunyai Turn Table atau harus kehilangan waktu untuk memutar dijalur pembalik/ BL. Jika loko. dijalankan dengan posisi SH sesuai anjuran, untuk kondisi perawatan roda karena aus sebelah, akan lebih cepat. Tanpa meremehkan fungsi kesehatan para petugasnya, tetapi posisi SH, lebih rawan godaan masinis terhadap rasa tanggung jawab [istilahnya, arisan tidur], masih manusiawi memang, tetapi sangat dilarang. Karena, juru rem atau pengawal kereta BBM, justru yang paling rentan. Baik terhadap bahaya saat terjadi PLH, entah anjlok, terguling, terlena saat ada goyangan, atau ketel meledak. Belum lagi, panas dan hujan, akan terkena langsung, baik siang maupun malam hari. Juga bahaya dari gram/ bubuk besi yang ditimbulkan, selain mudah terhirup, juga membuat iritasi pada mata, jika tidak memakai pelindung. Kembali kepada SH, memang lebih nyaman jika posisi ini, karena jarak pandang masinis yang sangat luas jangkauannya, walau goyangan lebih keras, tetapi untuk SH atau LH, yang saya maksudkan disini, lebih ditekankan untuk mengurangi hal-hal manusiawi yang akan terjadi selama perjalanan. [baca : tanggung jawab] Salam 35 ! ![]() apa yang akan terjadi
12-08-2011, 07:27 AM
saya jadi bingung nih.
Kalau jalan SH terus, tentu aus nya lebih rata karena roda akan bertemu rel yang berbeda ketika perjalanan balik. Melihat sinyal juga lebih enak tidak menguras tenaga. Jaman sekarang mestinya masinis tidak disibukkan dengan hal-hal fisik semacam keluar jendela, melongok wesel. Tapi mestinya lebih rajin komunikasi untuk mengetahui hal apa yang ada di depan. Jadi enak ketika trip planning nya.
12-08-2011, 09:05 AM
Untuk 'memancing' kewaspadaan masinis dan 'bolokiwo', LH lebih bagus. Buat nyaman enak SH. Menurut RF Adi Sutjipto, apalagi kalau bawa CC 201. Dua hal yang sulit disatukan.
12-08-2011, 11:26 PM
(12-08-2011, 09:05 AM)pardjono Wrote: Sebenarnya, untuk ruas-ruas tertentu, akan berbalik dengan sendirinya. Misal, TA, dari ML sampai BG dengan posisi SH misalnya. Tapi jika setelah dari BG menuju Bwi, akan berbalik dengan sendirinya, menjadi LH. Memang benar, hanya pada masalah tanggung jawab yang lebih ditekankan, jika sedang membawa LH, istilahnya, jadi tidak bisa iri-iri an lah....., semua bekerja. Menurut sebuah sumber, jika dipakai dalam posisi yang sama, tiap 25,000 km, akan di PB. Tapi jika bolak balik arahnya, bisa 1 tahun, atau P12. Yang penting, semua selamat tidak hanya sampai tujuan, tetapi sampai rumah masing-masing.
|