(30-08-2011, 08:01 PM)micgitu2 Wrote: BAH! gara2 ada pembajakan jadi susah deh nya. grrr
emangnye CR legal mah? ga ada bedane anda CR ama kriminil wong kegiatan illegal
Ketika anda berniat mencari pengetahuan atau ilmu, yang harus anda lakukan adalah membaca, mencari informasi, mendengar diskusi, dan memberi pendapat yang logis. Dan itulah gunanya forum :3.
Apakah Hibernasi bisa menghasilkan ilmu dan informasi? Semua orang pun tau jawabannya...
Hibernasi ã„ã¿ã¯ ãÂÂã¦ã„ãÂÂã¾ãÂâ„¢. XDa
l
Saya mau tanya.
> Gimana caranya mass menghubungi pihak Stasiun (mungkin dalam hal ini PPKA atau NX) untuk memberi sinyal Semboyan 5 (LS) di petak TLS sampai GMR ? kan prosedurnya harus melalui KP dulu.
> Petugas Stasiun terkait (dalam hal ini mungkin TLS, CKP ataupun BKS) tidak mengambil tindakan, semisal menghentikan KA diBLBkan (Sinyal muka menyala kuning > Sinyal Masuk menyala kuning disertai ada pembatas taspat > Sinyal Keluar menyala Merah)
> Saat KP mengetahui ada pembajakan mengapa tidak segera mengikat rem darurat pada (setiap) rangkaian ? dari berita diatas disebut bahwa rem darurat yang diikat (hanya) pada Pembangkit saja saat masuk PSE
UTAMAKAN KESELAMATAN..........! Keluarga Anda Menanti di Rumah ! Juragan Warteg yang Juga Seorang Aktivis KA
(30-08-2011, 11:52 PM)Warteg Wrote: Saya mau tanya.
> Gimana caranya mass menghubungi pihak Stasiun (mungkin dalam hal ini PPKA atau NX) untuk memberi sinyal Semboyan 5 (LS) di petak TLS sampai GMR ? kan prosedurnya harus melalui KP dulu.
> Petugas Stasiun terkait (dalam hal ini mungkin TLS, CKP ataupun BKS) tidak mengambil tindakan, semisal menghentikan KA diBLBkan (Sinyal muka menyala kuning > Sinyal Masuk menyala kuning disertai ada pembatas taspat > Sinyal Keluar menyala Merah)
> Saat KP mengetahui ada pembajakan mengapa tidak segera mengikat rem darurat pada (setiap) rangkaian ? dari berita diatas disebut bahwa rem darurat yang diikat (hanya) pada Pembangkit saja saat masuk PSE
Nyoba jawab pake analisis ya:
1. Hubungan antara mass dg PK/OC melalui radio lok kan ga perlu melalui perantara, karna radio lok sebenernya memank diperuntukkan bagi panggilan darurat lok saat ga bawa rangkaian ato rangkaian yg dibawa adalah KA barang & gw rasa itu ijo ijo kemungkinan besar adalah permintaan pembajak melalui mass, jadi supaya mreka dpt s5 sepanjang jalan maksud pembajak adalah dg memberikan tekanan pada PK sbagai otoritas tertinggi pengatur traffic juga dg memberi tau bahwa KA di bajak
2. Diberita disebut pihak BKS mencoba tapi gagal & diterabas koq kang sama massnya, tentunya kalo asumsi gw si ga mungkin dg mengabaikan prosedur yg menyuruh mass menurunkan taspat dulu sblom akhirnya dikasi merah ya.
3. Soal kenapa baru akhir2 tuas emergency brake ditarik, dugaan kuat KM juga disatroni pembajak, karna pas dibekuk tertangkap 1 di lok, 1 di rangkaian & 1 bhsil kabur, jadi KP pun mungkin menghubungi PK wilayahnya dia pada saat akhir2 saat pembajak lengah.
Gw rasa tuas yg ditark 1 kereta aja cukup, karna selang air brake 1 rangkaian kan terbungung smua, seharusnya 1 ditarik maka bisa dibilang seluruh kereta akan ngepress rem juga walopun lok tidak kena press tp pasti ga bisa lari walopun dipaksa.
Disini gw agak ranchu juga sama persepsi kronologisnya, bnernya emergency brake ditarik ini saat masuk JNG sblom KP menghubungi OC ato saat masuk PSE ya? Kan kalo dipikir biasanya antrian masuk di JNG sampe /block, sedangkan KA 53 ato kaleng didepannya aja blom aman JNG-MRI, brarti perlu jeda waktu yg lumayan untuk membentuk wesel, rasanya sangat susah kalo sambil KA jalan, perlu jeda waktu KA berenti sampe wesel terbentuk, sedangkan di PSE kan jlas signal merah & sudah sampe dalem pusat kota jadi mass menarik tuas remnya dg PD karna itu instruksi dr PK + uda disiapkan pembekukan, justru kalo kasat mata keperluan penarikan tuas emergency brake lebi penting berada disaat masuk JNG, bukan PSE
(30-08-2011, 11:52 PM)Warteg Wrote: [spoiler]
Saya mau tanya.
> Gimana caranya mass menghubungi pihak Stasiun (mungkin dalam hal ini PPKA atau NX) untuk memberi sinyal Semboyan 5 (LS) di petak TLS sampai GMR ? kan prosedurnya harus melalui KP dulu.
> Petugas Stasiun terkait (dalam hal ini mungkin TLS, CKP ataupun BKS) tidak mengambil tindakan, semisal menghentikan KA diBLBkan (Sinyal muka menyala kuning > Sinyal Masuk menyala kuning disertai ada pembatas taspat > Sinyal Keluar menyala Merah)
> Saat KP mengetahui ada pembajakan mengapa tidak segera mengikat rem darurat pada (setiap) rangkaian ? dari berita diatas disebut bahwa rem darurat yang diikat (hanya) pada Pembangkit saja saat masuk PSE[/spoiler]
Coba jawab yang nomor 3 aja,Nih pak adi uda menganalisis di page sebelumnya kang...
Ada baiknya,
kita sebagai Rf, pasti menginginkan kereta yang baik,
bersih, tepat, tertib, dan lain sebagainya,
yang memanjakan penumpang.
Tapi untuk urusan kambing atau apapun istilahnya,
biarlah ditindak lanjuti oleh mereka yang berkompeten saja.
Tadi siang, sempat ngobrol dengan salah seorang yang ikut dalam rangkaian tersebut.
Menurut beliaunya, ketika sampai BKS, karena kebetulan beliaunya berada dekat pintu,
sudah diteriaki untuk memutar emergency brake nya.
Tetapi, karena PLK berada digerbong paling belakang,
jadi, mungkin, masih belum mengetahui
atau menyadari kejadian tersebut.
Terlebih, penumpangnya kan tidak ada,
jadi, tidak ada yang ikut memberitahukan kejadian tersebut.
Rangkaian yang panjang, disertai suara gesekan roda dengan rel,
kereta dengan jendela tertutup karena K1,
sangat membantu untuk tidak menyadari hal dramatis tersebut.
Memang, akhirnya, dengan diputarnya emergency brake tersebut,
rangkaian menjadi dapat dikendalikan dari belakang,
dari gerbong pembangkit.
Ketika ada aparat yang masuk kekabin, ada yang lari,
tetapi, akhirnya ditemukan satu orang,
dengan sajam didalam gerbong.
Buntut dari kejadian tersebut, KTP nya masih ditahan di Jakarta
sebagai saksi, dan nanti akan dikembalikan jika telah selesai.
Ada 9 orang yang KTP nya masih diperlukan disana,
walau beliaunya,
telah kembali ke Malang.
Demikian tadi ngobrol-ngobrol dengan salah satu yang ikut dalam
rangkaian Gajah Apes tersebut.
[/spoiler]
SEBELUM MENUTUP MATA INI IJINKAN AKU TUHAN MELIHAT SEMUA JALUR MATI DI JAWA HIDUP KEMBALI. AMIN
Demi keamanan setiap lok dikasi CCTV gimana ya? Juga termasuk rekaman akselerasi, pengereman, dll. Kayak pesawat gitu. Trus recordernya ditempatin di tempat yang aman, ga rusak kalo tabrakan paling parah sekalipun.
Jadi kalo masinis ngangkut kambing, pasti langsung ketahuan. Sebelumnya, masinis dan kru dikasi gaji diatas standart dulu, biar manusiawi.
RF Restiono (DAOP VII MN), telah menjadi warga Semboyan35, Indonesian Railfans sejak Jul 2010.
Demi keamanan setiap lok dikasi CCTV gimana ya? Juga termasuk rekaman akselerasi, pengereman, dll. Kayak pesawat gitu. Trus recordernya ditempatin di tempat yang aman, ga rusak kalo tabrakan paling parah sekalipun.
Jadi kalo masinis ngangkut kambing, pasti langsung ketahuan. Sebelumnya, masinis dan kru dikasi gaji diatas standart dulu, biar manusiawi.
Kalo rekaman aktifitas lok baik itu throtle, track yg dilalui, pengikatan gandar rem, bahkan waktu idle setempat/ blocknya sbenernya uda ada dari dulu sejak jaman CC 203 lahir di indonesia, tapi bukan tersimpan di dalem lok, tapi justru langsung dalem setiap PK/OC tidak terbatas /DAOP saja karna disinyalir secara exclusive dg yg namanya loco track (site resmi milik PT. Kereta Api Indonesia (Persero) yg mengupdate tiap pergerakan lok tiap detiknya dimanapun 24x7) & ga mungkin ada namanya lok dinas sebuah KA reguler skarang ini yg ga terdeteksi loco track karna itu uda standard resmi sbuah lok berdinas menarik KA reguler atopun tambahan, namanya go item, karna kalo ga terekam & atopun ga memiliki alat komunikasi (radio lok) atopun pengamanan yg cukup dlm memantau kesigapan seorang masinis sperti dead man pedal, sbuah lok hanya diperbolehkan jadi lok langsir alias no go tiem.
Kalo keberadaan CCTV dlm kabin lok kalo ga sala suda diwacanakan oleh kemenhub, tapi entah keefektifan CCTV itu dapat menjamin ato membantu sesuatu secara cepat ga untuk mass kalo mendapat masalah dadakan sperti topik di thread ini, karna kalo CCTV itu tersambungnya hanya ke PK, PK pun ga bisa berbuat banyak sama sperti kejadian pembajakan ini & lagi pengiriman gambar dr CCTV untuk track didaerah terpencil yg masuk ke pengawasan PK biasanya tersendat sendat, ditambah CCTV berkualitas tinggi di indonesia (sperti dg daya zoom tinggi & bisa mendeteksi wajah sperti yg digunakan diluar) kalo yg gw tau masi cenderung langka & sulit dg dana anggaran yg dimiliki PT. Kereta Api Indonesia (Persero) sekarang ini.
Mungkin kalo CCTV lok disalurkan pantauannya ke KM untuk KP atau staff keamanan KA mungkin akan lebi efektif & jelas gambar maupun penanganan secara cepat yg bisa diberikan ke dlm kabin lok, tapi itu kasusnya kalo K1 yg memang banyak ruang lowong & akses yg baik, tapi bagaimana kalo yg rangkaiannya K2 & K3 ato yg ga beroperator, karna bisa memicu kericuhan bagi penumpang karna kurangnya ruang & privasi.
Disamping itu perlu ditekankan lagi kepada mass
nya mau ga dia make CCTV itu dg optimal, karna sampe skarang ada aja mass yg dlm perjalanan KA sengaja menon aktifkan dead man pedal karna risi, berisik & cape injekinnya tiap brapa menit, serta menon aktikan speedo meter untuk menggeber taspat supaya ga terekam dg baik di loco track, walopun skarang uda jarang ada yg melakukan.
Perlu diyakinkan dulu rewspon para mass dg CCTV ini, karna ngambing bukan cuma budaya bagi para kambingnya yg rata2 (maaf) dg ekonomi rendah, tp juga kebutuhan pemasukan pribadi bagi mass
Itu yg gw ngerti, maaf & CMIIW