masih berharap ada rute Tegal-Yogyakarta,,,,selama ini baik mahasiswa atau lainnya merasa agak ribed jika mau ke yogya..andalan utamanya adalah bus Citra Adi Lancar..the one and only hiks..
Kayaknya PT. Kereta Api Indonesia (Persero) perlu coba cara ini untuk pemasaran Mageks:
- Sebar aja leaflet, ga perlu bagus2, cukup leaflet berwarna dicetak di kertas HVS yg dipotong jadi 4 bagian. Isinya tentang jadwal dan tarif KA Mageks serta keunggulan pelayanannya, serta keunggulan dibanding moda tranportasi lain. Sebarkan di stasiun, tempat keramaian (termasuk termasuk terminal, hehehe), dan jangan lupa sebar juga di dalam kereta yg ada potensi penumpang Mageks (Contohnya Prameks, Kutojaya, Logawa, Sri Tanjung, Senja/Fajar YK dsb)
- Selain bentuk leaflet juga bisa pake poster dan spanduk lalu ditempatkan di area2 seperti di atas.
Tap tergantung niat PT. Kereta Api Indonesia (Persero) sendiri se. Jangan mentang2 memonopoli terus ga mikirin pemasaran.
Pak de saya yg tinggal di Cilacap adalah pengguna sepur dari djaman mbiyen.
Pernah beberapa kali mengalami naik KA dari Jakarta smp di Purwokerto pada malam, tengah malam dan subuh. Kemudian menunggu smp langit terang untuk melanjutkan perjalanan ke Cilacap menggunakan bus. Jika naik KA ekonomi biasanya beliau turun di Kroya. Pernah juga dijemput anaknya dengan mobil di Setasiu Purwokerto kemudian melanjutkan perjalanan ke Cilacap.
Begitu juga dari Cilacap, sewaktu belum ada Purwojaya, biasanya pak de ke Kroya dulu untuk naik KA ke Jkt baik itu yg ke melalui lintas selatan atau utara. Pada jamannya Purwojaya, jika pak de tidak sempat naik KA tersebut, biasanya beliau pasti akan ke Purwokerto untuk naik kereta malam ato pagi hari (non ekonomi)
Yang jadi pertanyaan saya terkait dengan keberadaan KA Maguwo Ekspress adalah:
1. Apakah contoh pengalaman berkereta api yang dialami pak de saya sudah dijadikan riset atau pertimbangan saat menentukan rute KA. Maguwo Ekspress pada awal peluncuran dan pada perkembangannya saat ini????
2. Apakah ada penumpang2 lain yang mengalami kesulitan yang sama dengan yang dialami pak de saya, kalo ada apakah presentasenya tidak cukup signifikan untuk membuat jadwal KA komuter Cilacap-Kroya-Purwokerto atau Cilacap-Kroya-Kutoarjo????
3. Apakah masyarakat di daerah Cilacap dan sekitarnya tau akan keberadaan KA Maguwo Ekspress????
4. Dan apakah masyarakat di daerah Cilacap dan sekitarnya lebih memlih angkutan roda 4 dan 2 ketimbang KA. Komuter???
Kalo dari pengalaman saya pribadi??? Setiap lebaran kalo mau bertamu ke Cilacap, biasanya orangtua saya pasti akan carter mobil milik tetangga (koperades atau mobil pribadi jenis carry/colt). Tarifnya (walau milik tetangga) biasanya PP sekitar 250 ribu, sopir ditanggung makan dan bensin plus jajanan ditambah lagi ada oleh2. Mengingat rumah saya di Baturraden, kalo kita mau ke Cilacap tanpa mencarter mobil, ya harus ke kota dulu naik Koperades yg jadwalnya sangat2 ngaret pada saat libur lebaran. Smp kota nyambung lagi naik angkutan ke terminal bis, terus smp terminal cari bis ke Cilacap. Kebayang kan ribetnya.
Nah apakah pengalaman pribadi seperti yg saya alami juga telah melalui riset bagi PT KA pada saat meluncurkan KA Maguwo Ekspress???
Saya rasa tidak sedikit warga Cilacap dan sekitarnya yang punya sanak keluarga di Purwokerto dan sebaliknya.
Lalu bagaimanakah mahasiswa yang berkuliah di UNSOED menyikapi keberadaan KA Maguwo Ekspress???
Segini aja pertanyaan saya, mohon maaf kalo super OOT. Semoga kawa2 RF bisa memberikan saya pencerahan.
Murtini
Lahir: Purwokerto, 12 Desember 1950
Wafat: Jakarta, 17 Juli 2012
Selamat jalan mama. Kelak kita akan bertemu kembali.
(21-09-2012, 01:41 PM)rapih_dhoho Wrote: Kayaknya PT. Kereta Api Indonesia (Persero) perlu coba cara ini untuk pemasaran Mageks:
- Sebar aja leaflet, ga perlu bagus2, cukup leaflet berwarna dicetak di kertas HVS yg dipotong jadi 4 bagian. Isinya tentang jadwal dan tarif KA Mageks serta keunggulan pelayanannya, serta keunggulan dibanding moda tranportasi lain. Sebarkan di stasiun, tempat keramaian (termasuk termasuk terminal, hehehe), dan jangan lupa sebar juga di dalam kereta yg ada potensi penumpang Mageks (Contohnya Prameks, Kutojaya, Logawa, Sri Tanjung, Senja/Fajar YK dsb)
- Selain bentuk leaflet juga bisa pake poster dan spanduk lalu ditempatkan di area2 seperti di atas.
Tap tergantung niat PT. Kereta Api Indonesia (Persero) sendiri se. Jangan mentang2 memonopoli terus ga mikirin pemasaran.
Monopoli...? Saya rasa nggak juga tuch...
Bukti nyatanya, di stasiun2 banyak kios2 & lapak dr pihak swasta yg mau buka usaha di sana. Kalo monopoli pasti setiap usaha jualan di stasiun akan dikuasai PT Reska Multi Usaha, baik dr dagangan jajan pasar, snack, minuman atau makanan... :p
Selain itu jargon PT. Kereta Api Indonesia (Persero) yg berbunyi "Silakan menggunakan moda transportasi yg lain", berarti nggak ada unsur monopoli. Kalo iya pasti harga tiketnya lebih murah ketimbang moda transportasi darat yg lain, sehingga calon penumpang beralih menggunakan KA.
Sebenarnya KA ini melayani 2 Daop kan...? Sdh seharusnya Daop V & VI gencar dlm berpromosi. Kalo target pasarnya calon penumpang yg mau ke Bandara di Jogja, usul saya Daop V mencoba membuat brosur, pamlet atau leaflet yg bekerjasama dgn pihak2 hotel di PWT yg menginformasikan ada angkutan KA yg langsung sampai di depan Bandara.
(21-09-2012, 09:41 PM)POERWOKERTO +75M Wrote: [spoiler=Pak de saya yg tinggal di Cilacap adalah pengguna sepur dari djaman mbiyen.]
Pernah beberapa kali mengalami naik KA dari Jakarta smp di Purwokerto pada malam, tengah malam dan subuh. Kemudian menunggu smp langit terang untuk melanjutkan perjalanan ke Cilacap menggunakan bus. Jika naik KA ekonomi biasanya beliau turun di Kroya. Pernah juga dijemput anaknya dengan mobil di Setasiu Purwokerto kemudian melanjutkan perjalanan ke Cilacap.
Begitu juga dari Cilacap, sewaktu belum ada Purwojaya, biasanya pak de ke Kroya dulu untuk naik KA ke Jkt baik itu yg ke melalui lintas selatan atau utara. Pada jamannya Purwojaya, jika pak de tidak sempat naik KA tersebut, biasanya beliau pasti akan ke Purwokerto untuk naik kereta malam ato pagi hari (non ekonomi)
Yang jadi pertanyaan saya terkait dengan keberadaan KA Maguwo Ekspress adalah:
1. Apakah contoh pengalaman berkereta api yang dialami pak de saya sudah dijadikan riset atau pertimbangan saat menentukan rute KA. Maguwo Ekspress pada awal peluncuran dan pada perkembangannya saat ini????
2. Apakah ada penumpang2 lain yang mengalami kesulitan yang sama dengan yang dialami pak de saya, kalo ada apakah presentasenya tidak cukup signifikan untuk membuat jadwal KA komuter Cilacap-Kroya-Purwokerto atau Cilacap-Kroya-Kutoarjo????
3. Apakah masyarakat di daerah Cilacap dan sekitarnya tau akan keberadaan KA Maguwo Ekspress????
4. Dan apakah masyarakat di daerah Cilacap dan sekitarnya lebih memlih angkutan roda 4 dan 2 ketimbang KA. Komuter???
Kalo dari pengalaman saya pribadi??? Setiap lebaran kalo mau bertamu ke Cilacap, biasanya orangtua saya pasti akan carter mobil milik tetangga (koperades atau mobil pribadi jenis carry/colt). Tarifnya (walau milik tetangga) biasanya PP sekitar 250 ribu, sopir ditanggung makan dan bensin plus jajanan ditambah lagi ada oleh2. Mengingat rumah saya di Baturraden, kalo kita mau ke Cilacap tanpa mencarter mobil, ya harus ke kota dulu naik Koperades yg jadwalnya sangat2 ngaret pada saat libur lebaran. Smp kota nyambung lagi naik angkutan ke terminal bis, terus smp terminal cari bis ke Cilacap. Kebayang kan ribetnya.
Nah apakah pengalaman pribadi seperti yg saya alami juga telah melalui riset bagi PT KA pada saat meluncurkan KA Maguwo Ekspress???
Saya rasa tidak sedikit warga Cilacap dan sekitarnya yang punya sanak keluarga di Purwokerto dan sebaliknya.
Lalu bagaimanakah mahasiswa yang berkuliah di UNSOED menyikapi keberadaan KA Maguwo Ekspress???
Segini aja pertanyaan saya, mohon maaf kalo super OOT. Semoga kawa2 RF bisa memberikan saya pencerahan.[/spoiler]
Saya rasa tergantung target pasar yg dibidik, Kang... Apakah calon penumpang yg mau ke Bandara, pelajar, mahasiswa/i atau pekerja yg bekerja di YK. Pas angkutan Lebaran bukannya Maguwo Xpress melayani trayek sampai CP ya...? Coba saja diusulkan Daop V agar punya bis setara Jetbus atau Elf buat jd feeder PWT - KYA - CP.
(21-09-2012, 01:41 PM)rapih_dhoho Wrote: Kayaknya PT. Kereta Api Indonesia (Persero) perlu coba cara ini untuk pemasaran Mageks:
- Sebar aja leaflet, ga perlu bagus2, cukup leaflet berwarna dicetak di kertas HVS yg dipotong jadi 4 bagian. Isinya tentang jadwal dan tarif KA Mageks serta keunggulan pelayanannya, serta keunggulan dibanding moda tranportasi lain. Sebarkan di stasiun, tempat keramaian (termasuk termasuk terminal, hehehe), dan jangan lupa sebar juga di dalam kereta yg ada potensi penumpang Mageks (Contohnya Prameks, Kutojaya, Logawa, Sri Tanjung, Senja/Fajar YK dsb)
- Selain bentuk leaflet juga bisa pake poster dan spanduk lalu ditempatkan di area2 seperti di atas.
Tap tergantung niat PT. Kereta Api Indonesia (Persero) sendiri se. Jangan mentang2 memonopoli terus ga mikirin pemasaran.
Monopoli...? Saya rasa nggak juga tuch...
Bukti nyatanya, di stasiun2 banyak kios2 & lapak dr pihak swasta yg mau buka usaha di sana. Kalo monopoli pasti setiap usaha jualan di stasiun akan dikuasai PT Reska Multi Usaha, baik dr dagangan jajan pasar, snack, minuman atau makanan... :p
Selain itu jargon PT. Kereta Api Indonesia (Persero) yg berbunyi "Silakan menggunakan moda transportasi yg lain", berarti nggak ada unsur monopoli. Kalo iya pasti harga tiketnya lebih murah ketimbang moda transportasi darat yg lain, sehingga calon penumpang beralih menggunakan KA.
Sebenarnya KA ini melayani 2 Daop kan...? Sdh seharusnya Daop V & VI gencar dlm berpromosi. Kalo target pasarnya calon penumpang yg mau ke Bandara di Jogja, usul saya Daop V mencoba membuat brosur, pamlet atau leaflet yg bekerjasama dgn pihak2 hotel di PWT yg menginformasikan ada angkutan KA yg langsung sampai di depan Bandara.
(21-09-2012, 09:41 PM)POERWOKERTO +75M Wrote: [spoiler=Pak de saya yg tinggal di Cilacap adalah pengguna sepur dari djaman mbiyen.]
Pernah beberapa kali mengalami naik KA dari Jakarta smp di Purwokerto pada malam, tengah malam dan subuh. Kemudian menunggu smp langit terang untuk melanjutkan perjalanan ke Cilacap menggunakan bus. Jika naik KA ekonomi biasanya beliau turun di Kroya. Pernah juga dijemput anaknya dengan mobil di Setasiu Purwokerto kemudian melanjutkan perjalanan ke Cilacap.
Begitu juga dari Cilacap, sewaktu belum ada Purwojaya, biasanya pak de ke Kroya dulu untuk naik KA ke Jkt baik itu yg ke melalui lintas selatan atau utara. Pada jamannya Purwojaya, jika pak de tidak sempat naik KA tersebut, biasanya beliau pasti akan ke Purwokerto untuk naik kereta malam ato pagi hari (non ekonomi)
Yang jadi pertanyaan saya terkait dengan keberadaan KA Maguwo Ekspress adalah:
1. Apakah contoh pengalaman berkereta api yang dialami pak de saya sudah dijadikan riset atau pertimbangan saat menentukan rute KA. Maguwo Ekspress pada awal peluncuran dan pada perkembangannya saat ini????
2. Apakah ada penumpang2 lain yang mengalami kesulitan yang sama dengan yang dialami pak de saya, kalo ada apakah presentasenya tidak cukup signifikan untuk membuat jadwal KA komuter Cilacap-Kroya-Purwokerto atau Cilacap-Kroya-Kutoarjo????
3. Apakah masyarakat di daerah Cilacap dan sekitarnya tau akan keberadaan KA Maguwo Ekspress????
4. Dan apakah masyarakat di daerah Cilacap dan sekitarnya lebih memlih angkutan roda 4 dan 2 ketimbang KA. Komuter???
Kalo dari pengalaman saya pribadi??? Setiap lebaran kalo mau bertamu ke Cilacap, biasanya orangtua saya pasti akan carter mobil milik tetangga (koperades atau mobil pribadi jenis carry/colt). Tarifnya (walau milik tetangga) biasanya PP sekitar 250 ribu, sopir ditanggung makan dan bensin plus jajanan ditambah lagi ada oleh2. Mengingat rumah saya di Baturraden, kalo kita mau ke Cilacap tanpa mencarter mobil, ya harus ke kota dulu naik Koperades yg jadwalnya sangat2 ngaret pada saat libur lebaran. Smp kota nyambung lagi naik angkutan ke terminal bis, terus smp terminal cari bis ke Cilacap. Kebayang kan ribetnya.
Nah apakah pengalaman pribadi seperti yg saya alami juga telah melalui riset bagi PT KA pada saat meluncurkan KA Maguwo Ekspress???
Saya rasa tidak sedikit warga Cilacap dan sekitarnya yang punya sanak keluarga di Purwokerto dan sebaliknya.
Lalu bagaimanakah mahasiswa yang berkuliah di UNSOED menyikapi keberadaan KA Maguwo Ekspress???
Segini aja pertanyaan saya, mohon maaf kalo super OOT. Semoga kawa2 RF bisa memberikan saya pencerahan.[/spoiler]
Saya rasa tergantung target pasar yg dibidik, Kang... Apakah calon penumpang yg mau ke Bandara, pelajar, mahasiswa/i atau pekerja yg bekerja di YK. Pas angkutan Lebaran bukannya Maguwo Xpress melayani trayek sampai CP ya...? Coba saja diusulkan Daop V agar punya bis setara Jetbus atau Elf buat jd feeder PWT - KYA - CP.
Pas lebaran kemaren saya ndak mudik bung, jadi saya ndak tau. Kalo pake feeder macam bis bukannya jadi nambah cost lagi bagi PT KA?
Dulu kakak saya, sm istrinya sm 4 anaknya mau ke Cilacap dari Purwokerto pake K1 Purwojaya, saking dia malesnya musti ke terminal bis, pengen cepet sampe tanpa ngetem2.
Di bayangan saya dulu kalo ada komuter punya DAOP 5 rangkaian KA nya pake K3 + lok, ternyata jadinya seperti Maguwo Ekspress. Kecewa sih gak, malah penasaran pengen coba
Murtini
Lahir: Purwokerto, 12 Desember 1950
Wafat: Jakarta, 17 Juli 2012
Selamat jalan mama. Kelak kita akan bertemu kembali.
(21-09-2012, 01:41 PM)rapih_dhoho Wrote: Kayaknya PT. Kereta Api Indonesia (Persero) perlu coba cara ini untuk pemasaran Mageks:
- Sebar aja leaflet, ga perlu bagus2, cukup leaflet berwarna dicetak di kertas HVS yg dipotong jadi 4 bagian. Isinya tentang jadwal dan tarif KA Mageks serta keunggulan pelayanannya, serta keunggulan dibanding moda tranportasi lain. Sebarkan di stasiun, tempat keramaian (termasuk termasuk terminal, hehehe), dan jangan lupa sebar juga di dalam kereta yg ada potensi penumpang Mageks (Contohnya Prameks, Kutojaya, Logawa, Sri Tanjung, Senja/Fajar YK dsb)
- Selain bentuk leaflet juga bisa pake poster dan spanduk lalu ditempatkan di area2 seperti di atas.
Tap tergantung niat PT. Kereta Api Indonesia (Persero) sendiri se. Jangan mentang2 memonopoli terus ga mikirin pemasaran.
Monopoli...? Saya rasa nggak juga tuch...
Bukti nyatanya, di stasiun2 banyak kios2 & lapak dr pihak swasta yg mau buka usaha di sana. Kalo monopoli pasti setiap usaha jualan di stasiun akan dikuasai PT Reska Multi Usaha, baik dr dagangan jajan pasar, snack, minuman atau makanan... :p
Selain itu jargon PT. Kereta Api Indonesia (Persero) yg berbunyi "Silakan menggunakan moda transportasi yg lain", berarti nggak ada unsur monopoli. Kalo iya pasti harga tiketnya lebih murah ketimbang moda transportasi darat yg lain, sehingga calon penumpang beralih menggunakan KA.
Sebenarnya KA ini melayani 2 Daop kan...? Sdh seharusnya Daop V & VI gencar dlm berpromosi. Kalo target pasarnya calon penumpang yg mau ke Bandara di Jogja, usul saya Daop V mencoba membuat brosur, pamlet atau leaflet yg bekerjasama dgn pihak2 hotel di PWT yg menginformasikan ada angkutan KA yg langsung sampai di depan Bandara.
(21-09-2012, 09:41 PM)POERWOKERTO +75M Wrote: [spoiler=Pak de saya yg tinggal di Cilacap adalah pengguna sepur dari djaman mbiyen.]
Pernah beberapa kali mengalami naik KA dari Jakarta smp di Purwokerto pada malam, tengah malam dan subuh. Kemudian menunggu smp langit terang untuk melanjutkan perjalanan ke Cilacap menggunakan bus. Jika naik KA ekonomi biasanya beliau turun di Kroya. Pernah juga dijemput anaknya dengan mobil di Setasiu Purwokerto kemudian melanjutkan perjalanan ke Cilacap.
Begitu juga dari Cilacap, sewaktu belum ada Purwojaya, biasanya pak de ke Kroya dulu untuk naik KA ke Jkt baik itu yg ke melalui lintas selatan atau utara. Pada jamannya Purwojaya, jika pak de tidak sempat naik KA tersebut, biasanya beliau pasti akan ke Purwokerto untuk naik kereta malam ato pagi hari (non ekonomi)
Yang jadi pertanyaan saya terkait dengan keberadaan KA Maguwo Ekspress adalah:
1. Apakah contoh pengalaman berkereta api yang dialami pak de saya sudah dijadikan riset atau pertimbangan saat menentukan rute KA. Maguwo Ekspress pada awal peluncuran dan pada perkembangannya saat ini????
2. Apakah ada penumpang2 lain yang mengalami kesulitan yang sama dengan yang dialami pak de saya, kalo ada apakah presentasenya tidak cukup signifikan untuk membuat jadwal KA komuter Cilacap-Kroya-Purwokerto atau Cilacap-Kroya-Kutoarjo????
3. Apakah masyarakat di daerah Cilacap dan sekitarnya tau akan keberadaan KA Maguwo Ekspress????
4. Dan apakah masyarakat di daerah Cilacap dan sekitarnya lebih memlih angkutan roda 4 dan 2 ketimbang KA. Komuter???
Kalo dari pengalaman saya pribadi??? Setiap lebaran kalo mau bertamu ke Cilacap, biasanya orangtua saya pasti akan carter mobil milik tetangga (koperades atau mobil pribadi jenis carry/colt). Tarifnya (walau milik tetangga) biasanya PP sekitar 250 ribu, sopir ditanggung makan dan bensin plus jajanan ditambah lagi ada oleh2. Mengingat rumah saya di Baturraden, kalo kita mau ke Cilacap tanpa mencarter mobil, ya harus ke kota dulu naik Koperades yg jadwalnya sangat2 ngaret pada saat libur lebaran. Smp kota nyambung lagi naik angkutan ke terminal bis, terus smp terminal cari bis ke Cilacap. Kebayang kan ribetnya.
Nah apakah pengalaman pribadi seperti yg saya alami juga telah melalui riset bagi PT KA pada saat meluncurkan KA Maguwo Ekspress???
Saya rasa tidak sedikit warga Cilacap dan sekitarnya yang punya sanak keluarga di Purwokerto dan sebaliknya.
Lalu bagaimanakah mahasiswa yang berkuliah di UNSOED menyikapi keberadaan KA Maguwo Ekspress???
Segini aja pertanyaan saya, mohon maaf kalo super OOT. Semoga kawa2 RF bisa memberikan saya pencerahan.[/spoiler]
Saya rasa tergantung target pasar yg dibidik, Kang... Apakah calon penumpang yg mau ke Bandara, pelajar, mahasiswa/i atau pekerja yg bekerja di YK. Pas angkutan Lebaran bukannya Maguwo Xpress melayani trayek sampai CP ya...? Coba saja diusulkan Daop V agar punya bis setara Jetbus atau Elf buat jd feeder PWT - KYA - CP.
Pas lebaran kemaren saya ndak mudik bung, jadi saya ndak tau. Kalo pake feeder macam bis bukannya jadi nambah cost lagi bagi PT KA?
Dulu kakak saya, sm istrinya sm 4 anaknya mau ke Cilacap dari Purwokerto pake K1 Purwojaya, saking dia malesnya musti ke terminal bis, pengen cepet sampe tanpa ngetem2.
Di bayangan saya dulu kalo ada komuter punya DAOP 5 rangkaian KA nya pake K3 + lok, ternyata jadinya seperti Maguwo Ekspress. Kecewa sih gak, malah penasaran pengen coba
kalo memang banyak warga Cilacap yang berminat naik KA ke PWT mungkin bisa diusulkan lokalan (KRDE) PWT - KYA -CP. Mudah2an PT. Kereta Api Indonesia (Persero) bisa membaca potensi pasar di Cilacap sehingga bisa diluncurkan komuter tersebut.
kalo jalur PWT-CP jelas rame, kalo ngeliat bus trayek itu sliwar-sliwer, jumlah penumpangnya juga lumayan, yang lewat rawalo-maos maupun kroya, masalahnya sama kaya maguwo ekspress, karcisnya mo dibandrol harga berapaan???
(23-09-2012, 08:37 AM)nino Wrote: kalo jalur PWT-CP jelas rame, kalo ngeliat bus trayek itu sliwar-sliwer, jumlah penumpangnya juga lumayan, yang lewat rawalo-maos maupun kroya, masalahnya sama kaya maguwo ekspress, karcisnya mo dibandrol harga berapaan???
Tapi menurut postingan di atas, katanya PT KA yg "basah" justru di rute PWT-KTA dan PWT-YK. Apa kurang sosialisasi ke masyarakat ya bahwa sudah ada komuter Maguwo Ekspress??? Kalo soal harga karcis, saya awam dengan kalkulasinya. Tapi jika umpamanya disamakan dengan tarip bus PWT-CP pp ditambah 10 persen mungkin ndak?
Murtini
Lahir: Purwokerto, 12 Desember 1950
Wafat: Jakarta, 17 Juli 2012
Selamat jalan mama. Kelak kita akan bertemu kembali.
saya mewakili suara dari (segelintir) mahasiswa, karena saya pernah nanya2 ke teman2 saya, hasilnya menurut saya mageks ini memang pangsa pasarnya bukan ditujukan ke mahasiswa, simpelnya dari sisi harga kayanya terlampau tinggi. maaf memang bukan hal yang bisa dibandingkan antara roda karet dan roda besi, tapi dengan harga segitu kayanya mahasiswa (apalagi mahasiswa perantauan dengan kantong pas2an) lebih milih tante efi aja deh, kenyamanan hampir setara mungkin mageks ini menang di jarak tempuh. andai harganya diturunin sedikit lagi, disetarakan jeng efi kayanya mahasiswa mulai melirik mageks.