Posts: 114
Threads: 0
Joined: Jun 2012
Reputation:
1
bising bgt itu dri arah SGU ke WO
Posts: 460
Threads: 0
Joined: Sep 2011
Reputation:
11
(27-04-2012, 11:07 AM)bramoy Wrote: Teman - teman, saya mau tanya nih tentang jalan rel khususnya di Pulau Jawa karena saya sedikit curiga dengan kondisi yang ada di lapangan.
Kan seperti diketahu bahwa jalan rel di Pulau Jawa khususnya di lintasan utara dan selatan ini didominasi oleh jalan rel R54 dan R42. Kiranya temen2 tahulah dimana letak perbedaannya. Kalau kita melihat langsung ke arah relnya mungkin tahu lah kalau R54 itu relnya lebih besar. Nah, bagaimana kalau kita didalam kereta ? Dari waktu kecil saat naek kreta, saya sebenarnya sudah penasaran bagaimana bisa kereta yang jalan suaranya bising dan gemuruh tiba-tiba langsung menjadi hening dan sunyi. Saya ambil contoh, ketika naek Jatayu dulu, di petak Malang - Bangil, ampun deh suaranya bikin telinga sakit, meskipun waktu itu KA Jatayu yang eksa masih ada karpet setidaknya bisa meredam dikit, bagaimana kalau yang ekonomi, tapi setelah di jalur Sidoarjo - Gubeng tiba-tiba jadi hening, kereta terasa nyaman sekali.
Dan semakin lama saya sadar bahwa yang bikin kereta bising dan gemuruh itu karena melalui rel yang kecil ditambah pula bantalan besi atau kayu. Saya sempet berpikir setelah diganti beton maka suara bising itu hilang tapi ternyata tidak, seperti contoh petak Malang - Bangil yang sudah diganti beton tapi masih R42 tapi tetap tidak sehening petak Kertosono - Nganjuk yang R54.
Nah, yang saya curiga itu adalah lintas utama seperti di Jalur ganda Jakarta - Cirebon, sebenarnya bingung sih, seperti diketahui kalau lintas ini sebenarnya sudah memakai rel R54 tetapi ada yang aneh terhadap suara di gerbong. Setelah diamati, ternyata rel R54 di Jakarta - Cikampek dan Cikampek - Cirebon berbeda jenis. Mengapa di Jakarta - Cikampek itu lebih bagus dan tidak berisik dibandingkan Cikampek - Cirebon. Beberapa kali naek kreta, selalu setelah Cikampek ke arah Cirebon, gemuruhnya minta ampun deh, ada petak sepanjang 4 km, tiba-tiba suara menjadi hening mirip sepeti Jalur Kertosono - Nganjuk itu, tetapi saat kemudian berisik lagi. Saya curiga, ini permasalahan ada dimananya ? Kalau menurut saya ini adalah persoalan yang ga boleh disepelekan karena menyangkut kenyamanan dan kecepatan kereta itu sendiri.. Noise rel disebabkan oleh getaran rel dan roda. Getaran ini mencakup frekwentie dari rendah sampai tinggi. Getaran ini diteruskan oleh tanah sekeliling rel. Kalau tanah lembut yang diteruskan terutama frekwentie rendah. Kalau tanah keras, condong frekwentie tinggi. Yang terdengar didalam kereta terutama yang frekwentie rendah. Jadi kalau tanah keras, terutama getaran frekwentie tinggi yang diteruskan tetapi ini kurang terdengar didalam kereta. Kalau tanah lembut, getaran frekwentie rendah yang diteruskan dan terdengar bising.
Posts: 1,059
Threads: 0
Joined: Jan 2009
Reputation:
1
(20-01-2013, 04:40 AM)antonius_123 Wrote: (27-04-2012, 11:07 AM)bramoy Wrote: Teman - teman, saya mau tanya nih tentang jalan rel khususnya di Pulau Jawa karena saya sedikit curiga dengan kondisi yang ada di lapangan.
Kan seperti diketahu bahwa jalan rel di Pulau Jawa khususnya di lintasan utara dan selatan ini didominasi oleh jalan rel R54 dan R42. Kiranya temen2 tahulah dimana letak perbedaannya. Kalau kita melihat langsung ke arah relnya mungkin tahu lah kalau R54 itu relnya lebih besar. Nah, bagaimana kalau kita didalam kereta ? Dari waktu kecil saat naek kreta, saya sebenarnya sudah penasaran bagaimana bisa kereta yang jalan suaranya bising dan gemuruh tiba-tiba langsung menjadi hening dan sunyi. Saya ambil contoh, ketika naek Jatayu dulu, di petak Malang - Bangil, ampun deh suaranya bikin telinga sakit, meskipun waktu itu KA Jatayu yang eksa masih ada karpet setidaknya bisa meredam dikit, bagaimana kalau yang ekonomi, tapi setelah di jalur Sidoarjo - Gubeng tiba-tiba jadi hening, kereta terasa nyaman sekali.
Dan semakin lama saya sadar bahwa yang bikin kereta bising dan gemuruh itu karena melalui rel yang kecil ditambah pula bantalan besi atau kayu. Saya sempet berpikir setelah diganti beton maka suara bising itu hilang tapi ternyata tidak, seperti contoh petak Malang - Bangil yang sudah diganti beton tapi masih R42 tapi tetap tidak sehening petak Kertosono - Nganjuk yang R54.
Nah, yang saya curiga itu adalah lintas utama seperti di Jalur ganda Jakarta - Cirebon, sebenarnya bingung sih, seperti diketahui kalau lintas ini sebenarnya sudah memakai rel R54 tetapi ada yang aneh terhadap suara di gerbong. Setelah diamati, ternyata rel R54 di Jakarta - Cikampek dan Cikampek - Cirebon berbeda jenis. Mengapa di Jakarta - Cikampek itu lebih bagus dan tidak berisik dibandingkan Cikampek - Cirebon. Beberapa kali naek kreta, selalu setelah Cikampek ke arah Cirebon, gemuruhnya minta ampun deh, ada petak sepanjang 4 km, tiba-tiba suara menjadi hening mirip sepeti Jalur Kertosono - Nganjuk itu, tetapi saat kemudian berisik lagi. Saya curiga, ini permasalahan ada dimananya ? Kalau menurut saya ini adalah persoalan yang ga boleh disepelekan karena menyangkut kenyamanan dan kecepatan kereta itu sendiri.. Noise rel disebabkan oleh getaran rel dan roda. Getaran ini mencakup frekwentie dari rendah sampai tinggi. Getaran ini diteruskan oleh tanah sekeliling rel. Kalau tanah lembut yang diteruskan terutama frekwentie rendah. Kalau tanah keras, condong frekwentie tinggi. Yang terdengar didalam kereta terutama yang frekwentie rendah. Jadi kalau tanah keras, terutama getaran frekwentie tinggi yang diteruskan tetapi ini kurang terdengar didalam kereta. Kalau tanah lembut, getaran frekwentie rendah yang diteruskan dan terdengar bising.
Suara gemuruh juga ane rasakan kalo melintas setelah KTA sampe Prembun. Setelah Prembun tidak gemuruh. Tadinya ane kira gemuruh disebabkan oleh angin karena lintas KTA sampe Prembun khan kanan -kirinya sawah terbuka.
Posts: 179
Threads: 0
Joined: Jul 2012
(20-01-2013, 11:39 PM)aditnugie Wrote: (20-01-2013, 04:40 AM)antonius_123 Wrote: (27-04-2012, 11:07 AM)bramoy Wrote: Teman - teman, saya mau tanya nih tentang jalan rel khususnya di Pulau Jawa karena saya sedikit curiga dengan kondisi yang ada di lapangan.
Kan seperti diketahu bahwa jalan rel di Pulau Jawa khususnya di lintasan utara dan selatan ini didominasi oleh jalan rel R54 dan R42. Kiranya temen2 tahulah dimana letak perbedaannya. Kalau kita melihat langsung ke arah relnya mungkin tahu lah kalau R54 itu relnya lebih besar. Nah, bagaimana kalau kita didalam kereta ? Dari waktu kecil saat naek kreta, saya sebenarnya sudah penasaran bagaimana bisa kereta yang jalan suaranya bising dan gemuruh tiba-tiba langsung menjadi hening dan sunyi. Saya ambil contoh, ketika naek Jatayu dulu, di petak Malang - Bangil, ampun deh suaranya bikin telinga sakit, meskipun waktu itu KA Jatayu yang eksa masih ada karpet setidaknya bisa meredam dikit, bagaimana kalau yang ekonomi, tapi setelah di jalur Sidoarjo - Gubeng tiba-tiba jadi hening, kereta terasa nyaman sekali.
Dan semakin lama saya sadar bahwa yang bikin kereta bising dan gemuruh itu karena melalui rel yang kecil ditambah pula bantalan besi atau kayu. Saya sempet berpikir setelah diganti beton maka suara bising itu hilang tapi ternyata tidak, seperti contoh petak Malang - Bangil yang sudah diganti beton tapi masih R42 tapi tetap tidak sehening petak Kertosono - Nganjuk yang R54.
Nah, yang saya curiga itu adalah lintas utama seperti di Jalur ganda Jakarta - Cirebon, sebenarnya bingung sih, seperti diketahui kalau lintas ini sebenarnya sudah memakai rel R54 tetapi ada yang aneh terhadap suara di gerbong. Setelah diamati, ternyata rel R54 di Jakarta - Cikampek dan Cikampek - Cirebon berbeda jenis. Mengapa di Jakarta - Cikampek itu lebih bagus dan tidak berisik dibandingkan Cikampek - Cirebon. Beberapa kali naek kreta, selalu setelah Cikampek ke arah Cirebon, gemuruhnya minta ampun deh, ada petak sepanjang 4 km, tiba-tiba suara menjadi hening mirip sepeti Jalur Kertosono - Nganjuk itu, tetapi saat kemudian berisik lagi. Saya curiga, ini permasalahan ada dimananya ? Kalau menurut saya ini adalah persoalan yang ga boleh disepelekan karena menyangkut kenyamanan dan kecepatan kereta itu sendiri.. Noise rel disebabkan oleh getaran rel dan roda. Getaran ini mencakup frekwentie dari rendah sampai tinggi. Getaran ini diteruskan oleh tanah sekeliling rel. Kalau tanah lembut yang diteruskan terutama frekwentie rendah. Kalau tanah keras, condong frekwentie tinggi. Yang terdengar didalam kereta terutama yang frekwentie rendah. Jadi kalau tanah keras, terutama getaran frekwentie tinggi yang diteruskan tetapi ini kurang terdengar didalam kereta. Kalau tanah lembut, getaran frekwentie rendah yang diteruskan dan terdengar bising.
Suara gemuruh juga ane rasakan kalo melintas setelah KTA sampe Prembun. Setelah Prembun tidak gemuruh. Tadinya ane kira gemuruh disebabkan oleh angin karena lintas KTA sampe Prembun khan kanan -kirinya sawah terbuka.
Taspat disitu 50-60km/jam, gak tau kenapa padahal udah R54 bantalan beton. Tapi emang bener disitu gemuruh, tadinya tak pikir karena ballast yg belum diratakan, gak taunya ternyata bukan karena itu
kalo petak yang gemuruh suara angin ada diantara Lebeng-Gandrungmangun, tiap lewat situ pasti kedengeran banget suara angin beradu sama alang2
Posts: 38
Threads: 0
Joined: Nov 2012
Reputation:
0
(19-12-2008, 04:45 PM)dedy vh Wrote: mas totok kalau setahu saya bantalan rel yang terbuat dari beton itu sangat sangat tahan lama ya. tapi sering saya lihat di track antara jatinegara - manggarai . sudah pada di ganti. padahal masih bagus bagus loh. sehingga banyak orang orang yang tidak bertanggung jawab yang mengambil plat besi yang menyatu dengan bantalan beton. caranya dengan menghancurkan bahan yang terbuat dari beton lalu tinggal mengambil platnya.alasan apa yang mendasari bantalan beton itu di ganti.? 
(26-12-2008, 01:04 PM)Agus Budhy Nugroho Wrote: ngeri mas.... takut ada "kasus"...
karena pernah ada juga ada kasus, nampung "gumoh"-nya HSD meskipun 'dah "kehitung" takaran. Heran juga sih... khan sudah melalui takaran alias 'dah kehitung... kalau mau malah dibuat sedemikian rupa seperti yang di SPBU, otomatis bila sudah penuh atawa bila ada "gumoh" dari alat, maka alatnya diperbaiki... lumayan loh mas kalaw dihitung-hitung sebulan mah bisa 100 liter kaleeeeeee....
dulu di tahun 1989 banyak "lalat hijau" yang kalaw pagi-pagi pada "ngerebutin" HSD, minta jatah... tapi sekarang 'dah nggak kemungkinan karena sarang "lalat hijau"-nya 'dah pindah....
kemarin saja saya lihat dan saya sangat sayang sekali.... pernah sewaktu itu "rangkaian kecil" dirumah lihat "gumoh"-nya, dasar memang "rangkaian kecil" eh langsung dicari botol minuman kemasan 'trus di tampung...
hasilnya.....
"pah, nih bensin solar, masukin ke mobil eyang ya.... tadi aku tampung dari bocoran selang" katanya ambil tunjuk ujung selang HSD yang masih nempel di "mulut" tangki HSD lok....
wahhhhh, memalukan saya saja... (tapi ada benarnya juga ya ?...sayang kalaw terbuang percuma...)
ada saran mungkin dari rekan-rekan lainnya....
(16-01-2009, 03:30 AM)big bro Wrote: Agus Budhy Nugroho Wrote:"pah, nih bensin solar, masukin ke mobil eyang ya.... tadi aku tampung dari bocoran selang" katanya ambil tunjuk ujung selang HSD yang masih nempel di "mulut" tangki HSD lok....
wahhhhh, memalukan saya saja... (tapi ada benarnya juga ya ?...sayang kalaw terbuang percuma...)
ada saran mungkin dari rekan-rekan lainnya....
bener juga nih mas ABN>...
kalo diitung itung...
berapa liter aja yang kebuang tiap hari???
mana bocornya bukan setetes2..
tapi ngalir...... 
(16-01-2009, 03:30 AM)big bro Wrote: Agus Budhy Nugroho Wrote:"pah, nih bensin solar, masukin ke mobil eyang ya.... tadi aku tampung dari bocoran selang" katanya ambil tunjuk ujung selang HSD yang masih nempel di "mulut" tangki HSD lok....
wahhhhh, memalukan saya saja... (tapi ada benarnya juga ya ?...sayang kalaw terbuang percuma...)
ada saran mungkin dari rekan-rekan lainnya....
bener juga nih mas ABN>...
kalo diitung itung...
berapa liter aja yang kebuang tiap hari???
mana bocornya bukan setetes2..
tapi ngalir...... 
Apakah jenis solar HSD yang digunakan di loko bisa juga digunakan di mobil yang menggunakan solar (bus, truk, dll)?
Kalau memang bisa, bisa gawat, bisa di embat sama oknum nih
Posts: 1
Threads: 0
Joined: Feb 2013
Reputation:
0
05-02-2013, 09:55 AM
(This post was last modified: 05-02-2013, 10:19 AM by bruno_saurus.)
Permisi suhu2 sekalian, maaf kalo salah kamar, mau tanya mengenai info penjualan rail & rail clip wilayah jakarta dimana yahh??
saya kemarin beli rail JIS 22kg/m cuma tanpa accesories pendukung, saya agak kesulitan mencari , mohon infonya , tengkiuuu
Permisi suhu2 sekalian, maaf kalo salah kamar, mau tanya mengenai info penjualan rail & rail clip wilayah jakarta dimana yahh??
saya kemarin beli rail JIS 22kg/m cuma tanpa accesories pendukung, saya agak kesulitan mencari , mohon infonya , tengkiuuu
Permisi suhu2 sekalian, maaf kalo salah kamar, mau tanya mengenai info penjualan rail & rail clip wilayah jakarta dimana yahh??
saya kemarin beli rail JIS 22kg/m cuma tanpa accesories pendukung, saya agak kesulitan mencari , mohon infonya , tengkiuuu
Permisi suhu2 sekalian, maaf kalo salah kamar, mau tanya mengenai info penjualan rail & rail clip wilayah jakarta dimana yahh??
saya kemarin beli rail JIS 22kg/m cuma tanpa accesories pendukung, saya agak kesulitan mencari , mohon infonya , tengkiuuu
Permisi suhu2 sekalian, maaf kalo salah kamar, mau tanya mengenai info penjualan rail & rail clip wilayah jakarta dimana yahh??
saya kemarin beli rail JIS 22kg/m cuma tanpa accesories pendukung, saya agak kesulitan mencari , mohon infonya , tengkiuuu
Permisi suhu2 sekalian, maaf kalo salah kamar, mau tanya mengenai info penjualan rail & rail clip wilayah jakarta dimana yahh??
saya kemarin beli rail JIS 22kg/m cuma tanpa accesories pendukung, saya agak kesulitan mencari , mohon infonya , tengkiuuu
Posts: 2,236
Threads: 0
Joined: Dec 2008
Reputation:
14
lagi mberesin rel di arjawinangun, jalur 3 sampe ditutup
[spoiler]
![[Image: dscn5494k.jpg]](http://img32.imageshack.us/img32/7457/dscn5494k.jpg) [/spoiler]
jerit peluit iringi putaran cakram membelai batang baja
. . . . .
Posts: 30
Threads: 0
Joined: Mar 2013
Reputation:
0
Kenapa tuh di arjawinangun?
Posts: 30
Threads: 0
Joined: Mar 2013
Reputation:
0
Kalau misalnya mau buat track baru or double track, itu urutan pembuatannya gimana? Apa langsung dikasih balst&bantalan terus dipasangin rel?
Posts: 3
Threads: 0
Joined: Jun 2012
Reputation:
0
Permisi para suhu sekalian
ane mw nanya nih ttg TQI (Track quality index) untuk mengetahui kualitas rel kereta api
ada yg tau gak gmn cara ngitung'a atau gak formula'a kya apa?
klo ada yg tau tolong dshare dmari donk
thanks
|