28-12-2011, 09:33 AM
satenya kyaknya maknyus tuh
..
..
Silence Is Golden
But My Eyes Still See
But My Eyes Still See
|
Railfanning di Semenanjung Malaya.
|
|
28-12-2011, 12:55 PM
(This post was last modified: 28-12-2011, 12:57 PM by mas_bagus_ajah.)
(28-12-2011, 06:51 AM)mdnboy Wrote: railfanning plus wisata kuliner ya mas? hehehehe Padahal operasi monorail KL itu "berdarah-darah" alias banyak ruginya. Sampai-sampai bolah-balik masuk headline koran dulu karena antara biaya operasional dan pemasukan tidak sebanding. ![]() (28-12-2011, 09:33 AM)Adolph Wrote: satenya kyaknya maknyus tuh Itu satenya asli mantap jaya! ![]() Saya awalnya ya kaget, kok satenya besar-besar, tapi lontongnya kecil. Eh ternyata kenyang juga makannya. Dia main rasa daging mas (jadi dagingnya direndam bumbu selama sehari sebelum dibakar), karena bumbunya masih kalah sama bumbu sate MAdura.
28-12-2011, 02:38 PM
wah bisa CR (bukan kali yak, kan ga ada kabin masinisnya ya) di sana.. asik..
mas, itu rute LRT lewat jalur bawah tanah ya??
28-12-2011, 03:44 PM
Ada 2 perushaan LRT yang sekarang jadi satu. Yang eks Putra yang nggak ada masinisnya.
28-12-2011, 06:05 PM
(This post was last modified: 28-12-2011, 06:10 PM by mas_bagus_ajah.)
Tanggal: 3 November 2011.
KA: Express Sinaran Selatan. Rute: Kuala Lumpur KL Sentral-Johor Bahru. Sebenarnya matahari belum benar-benar terbit. Tapi kami sudah check out duluan dari hotel. Takut kalau saja ketinggalan kereta. Namun sebenarnya ketakutan ini berlebihan, karena pas kami sampai di stasiun KL Sentral, toko-toko masih pada tutup. Sementara kereta masih baru berangkat dua jam kemudian. Gedung-gedung di daerah PWTC Kuala Lumpur masih belum buka. Sebenarnya warna mereka putih, tapi karena masih agak gelap jadi kelihatan kebiruan. ![]() Jalan kaki sambil menggeret koper-koper dari Wira hotel ke stasiun Putra memang berat. Tapi agak ketolong dengan hawa pagi yang nggak terlalu panas, serta jalanan yang masih sepi sehingga mudah menyeberang. Tidak lama kemudian, kami sampai ke hentian Putra. KRL ini dulu adalah KRL favorit saya karena interiornya mirip kereta jarak jauh, bukan KA komuter, jadi nyaman sekali. ![]() Karena kereta tujuan KL Sentral lewat peron sebelah (peron yang dilewati KRL tadi), maka kami menyeberang keatas. Tak lama kemudian datanglah kereta ke KL Sentral. Wah, ternyata yang datang KRL super cepat dari Ipoh! ![]() He..he..he...akhirnya kesampaian juga niat pingin naik KRL yang satu ini. Ah, sayang fotonya agak kabur. ![]() Interior dalam KRL ETS. Sebenarnya ini KA jarak jauh (lihat konfigurasi tempat duduknya). Tapi karena dia berhenti di beberapa stasiun KRL, maka banyak penglaju komuter yang ikut nebeng di KA ini. ![]() Dan karena ini KA jarak jauh, maka ada TV nya. ![]() ![]() Oh ya, kita mungkin boleh agak berbangga, karena Malaysia memasang TV di kereta antar kota mereka, ternyata karena terinspirasi oleh TV di KA jarak jauh di Indonesia. Tak lama kemudian, kami sampai di KL Sentral. Sayangnya, toko-toko masih tutup semua. Mereka baru buka jam 9 (persis dengan jam keberangkatan kereta saya). Jadi niatan saya untuk makan Subway batal deh.... ![]() Dulu sewaktu saya tinggal di Malaysia tahun 2004 (dan Singapore tahun 2005) saya cuman bisa memble aja kalau lihat kereta antar kota KTM. Saya dulu membayangkan kapan yah saya bisa naik...? ![]() Ternyata impian itu kesampaian sekarang! Suasana peron di bawah. ![]() Salah satu gerbong dengan warna scheme khusus. ![]() Exterior gerbong yang saya naiki. ![]() Yesss! Akhirnya keinginan untuk bisa naik KA tidur kesampaian juga! ![]() ![]() Dulu saya cuman bisa membayang-bayangkan seperti apa naik KA tidur. Sekarang akhirnya bisa merasakan sendiri seperti apa, walaupun naiknya siang hari, dan naiknya KA tidur kelas 2. ![]() Memang asli nyaman banget. ![]() Leg room? Plooong kaya ranjang di rumah! ![]() Narsis dikit ah. ![]() Well, walaupun begitu sebenarnya leg roomnya tidaklah selega yang diharapkan, karena kayaknya masih kurang sedit. Tak lama kemudian datanglah kondektur yang memeriksa karcis kita. ![]() Negeri boleh beda. KA boleh beda. Tapi metode pengecekan karcis, serta tugasnya dia diatas KA ternyata mirip dengan di Indonesia. Bahkan alat untuk menâ€jepret†karcis juga sama! Bisa dibilang, kereta ini sepi sekali. Nggak banyak penumpang di gerbong ini selain rombongan saya. ![]() ![]() Walaupun kereta saya masih di jalur komuter, tapi pemandangan di luar sudah bernuansa hutan lebat. ![]() Tak lama kemudian, kami sampai di stasiun Seremban. Stasiun akhir KTM Komuter. ![]() Walaupun jauh dari KL, tapi di Seremban masih ada beberapa gedung pencakar langit. ![]() Tidak seperti di Jakarta, dimana anda tidak akan menemui pencakar langit di Bogor atau Bekasi. Poster yang mempromosikan wisata dengan kereta. ![]() Walaupun begitu, KA wisata di Malaysia itu sedikit sekali, dan tidak ada yang diorganisir KTM. Kontras dengan di Indonesia yang seabreg. Karena berhentinya lama, saya sempatkan keluar sebentar. ![]() Suasana di pelataran Seremban. Sayang areal di kiri sekarang sudah dipagari. Padahal dulu di situ ada pelataran/yard yang gede banget. ![]() ![]() Ternyata ETS yang saya tumpangi tadi pagi lagi idle di Seremban. ![]() Rangkaian ETS di peron pulau di Seremban. ![]() Sebenarnya waktu berhenti pingin beli makan, tapi takut ketinggalan. Padahal belum sarapan. Parahnya di KA kita nggak ada gerbong makan. Kawan saya yang pernah naik KA jarak jauh di Malaysia pernah berkata ke saya, kalau naik KA jarak jauh di Malaysia usahakan bawa bekal, karena di stasiun-stasiun kecil nggak ada pedagang makanannya. Harusnya saya ikut nasehat dia.... Walaupun stasiun besarnya kaya KL Sentral megah kaya pusat perbelanjaan elit, tapi stasiun kecilnya kualitasnya memble kalau dibandingkan stasiun kecil di Indonesia. Benar juga, ternyata tak lama kemudian kereta berangkat lagi. Selepas seremban, saya melihat awal jalur cabang ke Port Dickson. ![]() Di sebelahnya ternyata ada yard baru yang menggantikan yard lama di sebelah stasiun Seremban. Nuansa luar kota mulai kelihatan sedikit. ![]() Sekolah Tamil yang pemandangannya asli keren. ![]() Perkebunan kelapa sawit. ![]() ![]() Pemandangan perbukitan (bukan pegunungan). ![]() ![]() Sebenarnya, antara Seremban-Gemas sedang ada proyek pembangunan jalur KA baru, jadi pemandangannya agak rusak oleh proyek ini. Rencananya nanti akan dilewati KA seperti ETS ke Ipoh itu. ![]() ![]() Tak lama kemudian kereta kami kemudian berhanti di stasiun Tampin. Stasiun ini katanya adalah stasiun terdekat ke kota Malaka yang terkenal itu. ![]() ![]() Sebelum Jepang datang, katanya dulu ada jalur cabang dari Tampin ke Melaka. Tapi begitu Jepang menduduki Malaya, jalur ini dicabut dan dibawa ke Burma untuk pembangunan “Death Railway†Thai-Burma. Dan begitu Inggris kembali menduduki Malaya, jalur ini sayangnya tidak dibangun ulang lagi. Mumpung kereta lagi berhenti, saya mempraktekan ilmu yang saya pelajari di Indonesia, yaitu lari ke depan untuk potret lokomotif. Dan ini hasilnya: ![]() ![]() Foto nomor lokomotif. Tak seperti di Indonesia, masinis Malaysia agak malu untuk dipotret. ![]() Ballast hopper (sama railfans Indonesia suka disebut KKBW). ![]() Sepur pengisian semen. ![]() Karena saya masuk balik lewat gerbong pertama (padahal gerbong saya di belakang), maka saya menyempatkan untuk memotret gerbong kelas lain. Seperti gerbong kelas 2. ![]() ![]() Sayang sekali bahwa perawatannya kurang. Perhatikan meja-meja lipatnya yang sudah hilang sebagian. ![]() Gerbong duduk kelas 1. ![]() Gang di gerbong tidur kelas 1. Mungkin lain kali harus nyoba yang ini. ![]() Tak lama setelah berangkat dari stasiun Tampin, ada penjual makanan yang pakai trolley keliling rangkaian KA. Otomatis langsung diserbu sama rombongan kami sampai habis dagangannya! Untung trolley sama penjualnya nggak ikut kita makan! Saya beli satu nasi lemak. ![]() ![]() Harganya kalau dirupiahkan, sekitar Rp 10.000,- ![]() Di tengah jalan, kereta kami berhenti di stasiun kecil. ![]() Kelihatan kalau gunungan di sisi rel sudah mulai digali untuk bakal rel baru. ![]() Bangunan stasiunnya. ![]() Selepas berangkat dari stasiun ini, saya tertidur pulas menikmati tempat tidur KA ini, dan merasakan seperti apa berbaring diatas KA itu. BERSAMBUNG.
28-12-2011, 07:02 PM
jadi kereta yang dilengkapi kasur itu berjalan di gauge 1000 mm ya mas?
tapi jujur saja bagus banget lho pedagang makanannya petugas restorasi ka pastinya? usul mas, selain foto-foto kereta jangan lupakan tambahin terus foto-foto makanan, hehehehe
yg gk habis pikir makanannya kok murah sekali ya, 10 rebu,, jauh lebih murah ketimbang yg di KA2 eksekutif indonesia,,
![]() btw mas suara loko yg kayak cc 201 itu apakah sama dngan cc 201/203 yg di indonesia?
Silence Is Golden
But My Eyes Still See
28-12-2011, 09:01 PM
Kaya CC202 mas. Itu loko EMD.
28-12-2011, 09:52 PM
mas, kalo boleh tahu, KTM komuter itu melayani jalur mana saja ya sampai mau berinvestasi dengan KRL supercepat??
keren KRLnya..
28-12-2011, 10:03 PM
Kalau dulu jaman saya masih kerja disana, jalur KTM komuter itu membentuk huruf "X". Yang ke tenggara ke Seremban, yang kalau terus bisa sampai Singapore. Yang ke barat ke Pelabuhan Klang via Shah Alam (Shah Alam itu tempat kedudukan Raja Malaysia).
Yang ke Utara ada dua. Yang ke utara ada yang ke Sentul (di tahun 2007 diperpanjang sampai Batu Caves), dan yang satu ke Rawang (yang juga bisa tembus sampai Thailand). Ditahun 2009, LAA dari Rawang diperpanjang hingga Ipoh, dan jalur KA di double track serta dibuat lebih lurus untuk melayani KRL super cepat. Sejak akhir tahun 2010 jalur KA dari Seremban hingga Gemas (tempat dimana jalur dari Singapore bercabang, yang ke kiri ke Kuala Lumpur, yang satu ke pantai timur hingga Kelantan) juga dibuat seperti yang ke Ipoh. PAs saya ke sana kemarin November, penggarapan DT Seremban-Gemas lagi digarap, dan katanya akan selesai tahun 2012. Bahkan beberapa alignment lama ada yang sudah dibongkar. |
|
« Next Oldest | Next Newest »
|