Posts: 2,344
Threads: 0
Joined: Dec 2008
Reputation:
8
masih belum dapat jawaban juga postingan #167 ...
"Apa ini juga bagian dari Rekomendasi KNKT akibat kejadian-kejadian PLH sebelumnya ???"
Terdampar di Purwokerto setahun gara-gara proyek fiber optik Jateng ga kelar
Posts: 4,757
Threads: 0
Joined: Sep 2008
Reputation:
0
(07-10-2011, 09:11 PM)bonbon Wrote: bisa jadi para petinggi PT. Kereta Api (Persero) bisa jadi ter inspirasi dari logo barunya yg seperti kapal laut dimana penumpang atau barang benar2 sangat perhatikan kapasitas muat dan bobotnya, bila melebihi dari "manual book" tersebut, siap2 celaka lah...
Apa ini juga bagian dari Rekomendasi KNKT akibat kejadian-kejadian PLH sebelumnya ???
Mohon dibantu jawabannya, masih nubie soal gini'an. terima kasih
Yo wes, saya coba menjawabnya....
Saya rasa ini jg nggak terlepas dr rekomendasi2 yg diberikan KNKT ke pihak operator berkenaan PLH2 sebelumnya. Tp di lain hal menurut analisa saya ada keinginan2 dr pihak regulator tp nggak ngelihat kondisi di lapangan kyk apa.
Sebagaimana contoh kyk gini, pihak regulator menyatakan KA di Indonesia harus AMAN, operator langsung kasih gerbong aling2 (cukup murah ketimbang pasang ATS (Automatic Train System)).
Trus tambah lagi keinginan agar KA di Indonesia bs NYAMAN, ya udah dr pihak operator bikin kebijakan okupansi tdk lebih dr 100%. Masuk akal kan...?
"Everyone can train..." #sloganoperatorsepoertempodoeloe
Posts: 2,344
Threads: 0
Joined: Dec 2008
Reputation:
8
(11-10-2011, 01:29 PM)see_204XX Wrote: (07-10-2011, 09:11 PM)bonbon Wrote: bisa jadi para petinggi PT. Kereta Api (Persero) bisa jadi ter inspirasi dari logo barunya yg seperti kapal laut dimana penumpang atau barang benar2 sangat perhatikan kapasitas muat dan bobotnya, bila melebihi dari "manual book" tersebut, siap2 celaka lah...
Apa ini juga bagian dari Rekomendasi KNKT akibat kejadian-kejadian PLH sebelumnya ???
Mohon dibantu jawabannya, masih nubie soal gini'an. terima kasih
Yo wes, saya coba menjawabnya....
Saya rasa ini jg nggak terlepas dr rekomendasi2 yg diberikan KNKT ke pihak operator berkenaan PLH2 sebelumnya. Tp di lain hal menurut analisa saya ada keinginan2 dr pihak regulator tp nggak ngelihat kondisi di lapangan kyk apa.
Sebagaimana contoh kyk gini, pihak regulator menyatakan KA di Indonesia harus AMAN, operator langsung kasih gerbong aling2 (cukup murah ketimbang pasang ATS (Automatic Train System)).
Trus tambah lagi keinginan agar KA di Indonesia bs NYAMAN, ya udah dr pihak operator bikin kebijakan okupansi tdk lebih dr 100%. Masuk akal kan...? 
Untuk yg NYAMAN sayah setujuh dan "tepat sasaran", tapi kalo yg AMAN itu gimana gitu ya
Terdampar di Purwokerto setahun gara-gara proyek fiber optik Jateng ga kelar
Posts: 779
Threads: 0
Joined: Jun 2011
Reputation:
5
(11-10-2011, 12:19 PM)love_alisa Wrote: bagus juga sih kalo nama tiket harus sesuai KTP...
gak enaknya, saya jadi gak bisa minta orang pesenin tiket buat saya pulang dari luar kota dong... kayak saya kemaren pulang dari SGU, minta temen saya beliin, supaya gak kehabisan...
kalo sistem tiket pake nama penumpang ya harus di ikuti dengan sistem pemesanan tiket yang bisa dibeli PP to K3
Posts: 909
Threads: 0
Joined: Mar 2009
Reputation:
3
(11-10-2011, 12:19 PM)love_alisa Wrote: bagus juga sih kalo nama tiket harus sesuai KTP...
gak enaknya, saya jadi gak bisa minta orang pesenin tiket buat saya pulang dari luar kota dong... kayak saya kemaren pulang dari SGU, minta temen saya beliin, supaya gak kehabisan...
KTP diperiksanya ketika masuk peron.
(11-10-2011, 02:57 PM)dany cristian Wrote: kalo sistem tiket pake nama penumpang ya harus di ikuti dengan sistem pemesanan tiket yang bisa dibeli PP to K3 bukannya sekarang udah bisa PP ?
Posts: 4,757
Threads: 0
Joined: Sep 2008
Reputation:
0
(11-10-2011, 12:19 PM)love_alisa Wrote: bagus juga sih kalo nama tiket harus sesuai KTP...
gak enaknya, saya jadi gak bisa minta orang pesenin tiket buat saya pulang dari luar kota dong... kayak saya kemaren pulang dari SGU, minta temen saya beliin, supaya gak kehabisan...
Ya tetep bs dong... KTP-nya difotokopi dl kalo takut ntar di jalan kena operasi yustisi. 
Ntar kalo dah mau berangkat KTP yg asli ditunjukin ke petugas peronnya.
"Everyone can train..." #sloganoperatorsepoertempodoeloe
Posts: 436
Threads: 0
Joined: May 2009
Reputation:
7
(11-10-2011, 11:54 AM)pardjono Wrote: (11-10-2011, 11:16 AM)see_204XX Wrote: (11-10-2011, 10:58 AM)rapih_dhoho Wrote: Beberapa dampat dari diperlakukannya "kebijakan" ini:
- Penumpang dari stasiun tengah (stasiun yg ga dapaet quote karcis, atau yg belum onlen) tidak kebagian karcis, jika dari stasiun awal2 sudah penuh tempat duduknya. Contoh: Ane mau naek Logawa tujuan Klakah dari Mojokerto, eh ternyata tempat duduk udah penuh jadi ane ga kebagian karcis. Ironisnya banyak penumpang yg turun di Surabaya, dan setelah Surabaya otomatis tempat duduk banyak yg kosong. Masak ane kudu naek di Surabaya???
- Penumpang ga bisa mendadak naek KA Ekonomi. Contohnya: Ane mau beliin tiket Brantas buat Bu Dhe ane, relasi Kediri-Paron. Berhubung emang ada keperluan mendadak jadi ga kepikiran sampai harus pesan dari H-7. Karena hari weekend yg agak ramai otomatis ane ga kebagian, tiket tanpa tempat duduk pun juga ga dijual. Padahal ane yakin antara KD-MN tempat duduk penumpang belum terisi semua, mungkin baru benar penuh kalo sudah lewat Walikukun. Toh seumpama Bu Dhe ane dapat tiket tampa tempat duduk, beliaupun ane yakin masih dapat duduk kira2 sampai Madiun atau bahkan Paron.
Sekarang mau naek KA Ekonomi aja koq rasanya dipersulit. Mau naek bus pun juga mahal dan semua orang ga bisa naek bus kalo gampang mabuk perjalanan. Memang sih tujuannya baik, tapi ya mbok dipikir ulang kalo ternyata juga menimbulkan dampak2 lainnya yg menyusahkan masyarakat.
Monggo, mulailah belajar utk mengkritisi setiap kebijakan yg dikeluarkan PT. Kereta Api (Persero) terutama utk K3, Om... Saya rasa kalo nyalahin operator kurang tepat, masih ada yg lebih tepat lho ... 
Lebih tepatnya ya regulator, badan pemerintah yang ngatur persepuran.
Selain punya inovasi sendiri, PT Kereta Api Indonesia (Persero) kan harus nurut sama yang ngatur.
Lha emang sipa yg bikin peraturan?? Dirjen KA ato PT. Kereta Api Indonesia (Persero)?? Kayak aling2 kemarin ada yg bilang dari dirjen ada yg bilang dari PT. KAI
Posts: 2,477
Threads: 0
Joined: Jul 2010
Reputation:
25
(11-10-2011, 03:46 PM)rapih_dhoho Wrote: (11-10-2011, 11:54 AM)pardjono Wrote: (11-10-2011, 11:16 AM)see_204XX Wrote: Monggo, mulailah belajar utk mengkritisi setiap kebijakan yg dikeluarkan PT. Kereta Api (Persero) terutama utk K3, Om... Saya rasa kalo nyalahin operator kurang tepat, masih ada yg lebih tepat lho ... 
Lebih tepatnya ya regulator, badan pemerintah yang ngatur persepuran.
Selain punya inovasi sendiri, PT Kereta Api Indonesia (Persero) kan harus nurut sama yang ngatur.
Lha emang siapa yg bikin peraturan? Dirjen KA ato PT. Kereta Api (Persero)? Kayak aling2 kemarin ada yg bilang dari dirjen ada yg bilang dari PT. KAI.
Siapapun yang bikin peraturan, sebaiknya ikuti saja deh. Yang menang kan yang punya dan yang ngatur sepur. Konsumen sebaiknya berinovasi untuk dapat memenuhi kepentingannya, jangan tergantung sama kemampuan PT Kereta Api Indonesia (Persero) dan/atau Pemerintah cq Kemenhub dalam hal menyediakan sarana perkeretaapian yang cukup memadai.
Posts: 179
Threads: 0
Joined: Feb 2011
Reputation:
6
(11-10-2011, 03:04 PM)m_ilhami Wrote: bukannya sekarang udah bisa PP ? belum... baru bisa pesan dari stasiun keberangkatan saja...
lagian saya kemaren itu gak PP sih... rutenya Jakarta-Malang-Surabaya-Jakarta...
MY DREAMS:
- All STD gauge & electrified Sumatera-Java-Bali, Trans-Asian, Pan-African, Pan-American Railways
- Bridges of Bali, Sunda, Malacca, Gibraltar, and Bering Straits
Mau beli tiket KA??? Klik di sini
Posts: 2,477
Threads: 0
Joined: Jul 2010
Reputation:
25
Quote:
![[Image: banner_cp.jpg]](http://www.kereta-api.co.id/images/banner/banner_cp.jpg)
|