Posts: 2,344
Threads: 0
Joined: Dec 2008
Reputation:
8
diluar urusan calo, kalau udah gini kan PT. Kereta Api Indonesia (Persero) bisa minta nambah kereta-kereta baru ke pemerintah, kan okupansi bagus 100 % tempat duduk terjual sedangkan calon penumpang masih banyak yg tidak terangkut...
oh ya sistim tiket dengan nama penumpang (sesuai katepe) juga bagus tuh untuk memberantas calo, untuk masuknya di cek sesuai katepe sekalian di lihat mukanya sama nggak  , jgn2 calonya malah minjemin katepenya
Terdampar di Purwokerto setahun gara-gara proyek fiber optik Jateng ga kelar
Posts: 2,477
Threads: 0
Joined: Jul 2010
Reputation:
25
(11-10-2011, 10:30 AM)bonbon Wrote: diluar urusan calo, kalau udah gini kan PT. Kereta Api (Persero) bisa minta nambah kereta-kereta baru ke pemerintah, kan okupansi bagus 100 % tempat duduk terjual sedangkan calon penumpang masih banyak yg tidak terangkut ...
oh ya sistim tiket dengan nama penumpang (sesuai katepe) juga bagus tuh untuk memberantas calo, untuk masuknya di cek sesuai katepe sekalian di lihat mukanya sama nggak , jgn2 calonya malah minjemin katepenya 
Posts: 8
Threads: 0
Joined: Oct 2011
Reputation:
0
apakah dengan ditiadakannya tiket berdiri, kereta2 yg sudah lama 'tertidur' akan dijalankan lagi ? ? seperti Gaya Baru Malam Utara, Jayabaya Utara & Selatan, Kamandanu dsb?
Posts: 436
Threads: 0
Joined: May 2009
Reputation:
7
Beberapa dampat dari diperlakukannya "kebijakan" ini:
- Penumpang dari stasiun tengah (stasiun yg ga dapaet quote karcis, atau yg belum onlen) tidak kebagian karcis, jika dari stasiun awal2 sudah penuh tempat duduknya. Contoh: Ane mau naek Logawa tujuan Klakah dari Mojokerto, eh ternyata tempat duduk udah penuh jadi ane ga kebagian karcis. Ironisnya banyak penumpang yg turun di Surabaya, dan setelah Surabaya otomatis tempat duduk banyak yg kosong. Masak ane kudu naek di Surabaya???
- Penumpang ga bisa mendadak naek KA Ekonomi. Contohnya: Ane mau beliin tiket Brantas buat Bu Dhe ane, relasi Kediri-Paron. Berhubung emang ada keperluan mendadak jadi ga kepikiran sampai harus pesan dari H-7. Karena hari weekend yg agak ramai otomatis ane ga kebagian, tiket tanpa tempat duduk pun juga ga dijual. Padahal ane yakin antara KD-MN tempat duduk penumpang belum terisi semua, mungkin baru benar penuh kalo sudah lewat Walikukun. Toh seumpama Bu Dhe ane dapat tiket tampa tempat duduk, beliaupun ane yakin masih dapat duduk kira2 sampai Madiun atau bahkan Paron.
Sekarang mau naek KA Ekonomi aja koq rasanya dipersulit. Mau naek bus pun juga mahal dan semua orang ga bisa naek bus kalo gampang mabuk perjalanan. Memang sih tujuannya baik, tapi ya mbok dipikir ulang kalo ternyata juga menimbulkan dampak2 lainnya yg menyusahkan masyarakat.
Posts: 2,344
Threads: 0
Joined: Dec 2008
Reputation:
8
Terdampar di Purwokerto setahun gara-gara proyek fiber optik Jateng ga kelar
Posts: 4,757
Threads: 0
Joined: Sep 2008
Reputation:
0
(11-10-2011, 10:30 AM)bonbon Wrote: diluar urusan calo, kalau udah gini kan PT. Kereta Api (Persero) bisa minta nambah kereta-kereta baru ke pemerintah, kan okupansi bagus 100 % tempat duduk terjual sedangkan calon penumpang masih banyak yg tidak terangkut...
oh ya sistim tiket dengan nama penumpang (sesuai katepe) juga bagus tuh untuk memberantas calo, untuk masuknya di cek sesuai katepe sekalian di lihat mukanya sama nggak , jgn2 calonya malah minjemin katepenya 
Di Bank ajah kalo ambil jumlah besar lewat Teller dimintain KTP buat nyocokin tanda tangan nasabahnya jg nggak keberatan koq...
Kalo calo bs pinjem KTP calon penumpang kyknya praktek2 di lingkungan GMR bs dilakukan dech.
(11-10-2011, 10:58 AM)rapih_dhoho Wrote: Beberapa dampat dari diperlakukannya "kebijakan" ini:
- Penumpang dari stasiun tengah (stasiun yg ga dapaet quote karcis, atau yg belum onlen) tidak kebagian karcis, jika dari stasiun awal2 sudah penuh tempat duduknya. Contoh: Ane mau naek Logawa tujuan Klakah dari Mojokerto, eh ternyata tempat duduk udah penuh jadi ane ga kebagian karcis. Ironisnya banyak penumpang yg turun di Surabaya, dan setelah Surabaya otomatis tempat duduk banyak yg kosong. Masak ane kudu naek di Surabaya???
- Penumpang ga bisa mendadak naek KA Ekonomi. Contohnya: Ane mau beliin tiket Brantas buat Bu Dhe ane, relasi Kediri-Paron. Berhubung emang ada keperluan mendadak jadi ga kepikiran sampai harus pesan dari H-7. Karena hari weekend yg agak ramai otomatis ane ga kebagian, tiket tanpa tempat duduk pun juga ga dijual. Padahal ane yakin antara KD-MN tempat duduk penumpang belum terisi semua, mungkin baru benar penuh kalo sudah lewat Walikukun. Toh seumpama Bu Dhe ane dapat tiket tampa tempat duduk, beliaupun ane yakin masih dapat duduk kira2 sampai Madiun atau bahkan Paron.
Sekarang mau naek KA Ekonomi aja koq rasanya dipersulit. Mau naek bus pun juga mahal dan semua orang ga bisa naek bus kalo gampang mabuk perjalanan. Memang sih tujuannya baik, tapi ya mbok dipikir ulang kalo ternyata juga menimbulkan dampak2 lainnya yg menyusahkan masyarakat.
Monggo, mulailah belajar utk mengkritisi setiap kebijakan yg dikeluarkan PT. Kereta Api Indonesia (Persero) terutama utk K3, Om... Saya rasa kalo nyalahin operator kurang tepat, masih ada yg lebih tepat lho...
"Everyone can train..." #sloganoperatorsepoertempodoeloe
Posts: 779
Threads: 0
Joined: Jun 2011
Reputation:
5
(11-10-2011, 10:48 AM)andy_123 Wrote: apakah dengan ditiadakannya tiket berdiri, kereta2 yg sudah lama 'tertidur' akan dijalankan lagi ? ? seperti Gaya Baru Malam Utara, Jayabaya Utara & Selatan, Kamandanu dsb?
Posts: 2,477
Threads: 0
Joined: Jul 2010
Reputation:
25
(11-10-2011, 11:16 AM)see_204XX Wrote: (11-10-2011, 10:58 AM)rapih_dhoho Wrote: Beberapa dampat dari diperlakukannya "kebijakan" ini:
- Penumpang dari stasiun tengah (stasiun yg ga dapaet quote karcis, atau yg belum onlen) tidak kebagian karcis, jika dari stasiun awal2 sudah penuh tempat duduknya. Contoh: Ane mau naek Logawa tujuan Klakah dari Mojokerto, eh ternyata tempat duduk udah penuh jadi ane ga kebagian karcis. Ironisnya banyak penumpang yg turun di Surabaya, dan setelah Surabaya otomatis tempat duduk banyak yg kosong. Masak ane kudu naek di Surabaya???
- Penumpang ga bisa mendadak naek KA Ekonomi. Contohnya: Ane mau beliin tiket Brantas buat Bu Dhe ane, relasi Kediri-Paron. Berhubung emang ada keperluan mendadak jadi ga kepikiran sampai harus pesan dari H-7. Karena hari weekend yg agak ramai otomatis ane ga kebagian, tiket tanpa tempat duduk pun juga ga dijual. Padahal ane yakin antara KD-MN tempat duduk penumpang belum terisi semua, mungkin baru benar penuh kalo sudah lewat Walikukun. Toh seumpama Bu Dhe ane dapat tiket tampa tempat duduk, beliaupun ane yakin masih dapat duduk kira2 sampai Madiun atau bahkan Paron.
Sekarang mau naek KA Ekonomi aja koq rasanya dipersulit. Mau naek bus pun juga mahal dan semua orang ga bisa naek bus kalo gampang mabuk perjalanan. Memang sih tujuannya baik, tapi ya mbok dipikir ulang kalo ternyata juga menimbulkan dampak2 lainnya yg menyusahkan masyarakat.
Monggo, mulailah belajar utk mengkritisi setiap kebijakan yg dikeluarkan PT. Kereta Api (Persero) terutama utk K3, Om... Saya rasa kalo nyalahin operator kurang tepat, masih ada yg lebih tepat lho ... 
Lebih tepatnya ya regulator, badan pemerintah yang ngatur persepuran.
Selain punya inovasi sendiri, PT Kereta Api Indonesia (Persero) kan harus nurut sama yang ngatur.
Posts: 179
Threads: 0
Joined: Feb 2011
Reputation:
6
bagus juga sih kalo nama tiket harus sesuai KTP...
gak enaknya, saya jadi gak bisa minta orang pesenin tiket buat saya pulang dari luar kota dong... kayak saya kemaren pulang dari SGU, minta temen saya beliin, supaya gak kehabisan...
MY DREAMS:
- All STD gauge & electrified Sumatera-Java-Bali, Trans-Asian, Pan-African, Pan-American Railways
- Bridges of Bali, Sunda, Malacca, Gibraltar, and Bering Straits
Mau beli tiket KA??? Klik di sini
Posts: 2,477
Threads: 0
Joined: Jul 2010
Reputation:
25
|