28-04-2010, 09:58 AM
Yang jelas sekarang sudah tidak ada lagi #parahyangan dan tidak ada lagi #argogede. btw kemarin gak ada yang bikin acara joyride terakhir Argo Gede ya he he he
|
Parahiyangan BUBAR..???
|
|
28-04-2010, 09:58 AM
Yang jelas sekarang sudah tidak ada lagi #parahyangan dan tidak ada lagi #argogede. btw kemarin gak ada yang bikin acara joyride terakhir Argo Gede ya he he he
28-04-2010, 11:00 AM
Ternyata di tengah hingar bingar penutupan KA PArahyangan, ternyata KA Argo Gede diam-diam juga ikut dilikuidasi.
28-04-2010, 02:04 PM
(28-04-2010, 09:58 AM)hedwigus Wrote: Yang jelas sekarang sudah tidak ada lagi #parahyangan dan tidak ada lagi #argogede. btw kemarin gak ada yang bikin acara joyride terakhir Argo Gede ya he he helha wong tahunya parahyangan yg hilang om ..... he...he... (28-04-2010, 11:00 AM)bagus70 Wrote: Ternyata di tengah hingar bingar penutupan KA PArahyangan, ternyata KA Argo Gede diam-diam juga ikut dilikuidasi. malah mungkin jadi korban turut dihilangkan di luar rencana .... (27-04-2010, 05:21 PM)Agung Wrote: ya....saya terima usulan anda.......sangat bagus sekali menurut saya............. OK my bro. Saya dah kirim surat via pos ke kantor pusat KAI sekitar sebulan lalu, terus ke surat pembaca kompas walau blm dimuat. Saya gak cuma berkoar, tapi berkoar dgn logika. Ya, kita sama2 peduli, tapi jgn terhenti dgn pembiaran. Piss bro Agung!
wah, koq kang 'sepurku' tiba2 panas bgini toh?
mbok klo berpemdapet sdikit lebi tenang lagi ![]() alasan knapa gw mengatakan bgitu, slane memank menerjemahkan maksud dari quotation itu adalah berdasarkan jumlah berita yg tersiar lewat media masa (koran, berita on line, TV) & tinjauan dari tmen2 RF sndiri d TKP karna memank blakangan petak ciganea-sukatani kan blakangan ini sering ambles, padahal baru aja d rapiin, tau2 uda ambles lagi. tapi gw ga pernah denger ato baca petak PPK-BMA-PWT ada kena longsor slama gw mulai mengerti kereta, jadi isa d bilang jumlah berita itu suda menjadi bukti yg cukup kuat kan sbnernya. sisanya dari itu sperti yg uda d jlasin sama agung, karna memank d petak itu yg berdiri bukan gunung biasa, tapi kapur, jadi memank lebi lemah struktur tanahnya (suda jadi logika yg sangat jlas terbukti) gw akuin juga jalur selatan BD d petak TSM-BD sbnernya rawan longsor juga tuh & terbukti waktu kmaren lodaya tersendat karna tiba2 d daerah LBJ longsor, tapi frekuensinya cukup jarang kan, bisa d liat dari berita yg tersiar, klo bicara soal geografis asli dengan ukuran kelembekan tanah, dll pastinya d sini ga da yg bisa bner2 paparin kcuali ada anak jurusan geografi, ato JPJ yg pengalaman dengan daerah2 itu
(27-04-2010, 05:21 PM)Agung Wrote: ya....saya terima usulan anda.......sangat bagus sekali menurut saya............. Ok my bro. Maunya sih demo ke KAI pusat d bdg, tp karena waktu yg gak memungkinkan, saya dah kirim surat serupa ke sana sekitar sebulan lalu, n k surat pembaca kompas, walau belum dimuat. Walau usul saya mungkin gak diterima (atau gak dibaca ya?), Tapi moga2 suara koar-koar saya yg agak urakan dan ngeyel itu cukup memerahkan kuping mereka. Tapi gak cuma sekedar berkoar, tapi berkoar yg pake logika. Ya, kita sama2 peduli n meyesali, tp jgn dibiarkan kasus Parahyangan terulang lagi ke depan. Piss bro Agung! (28-04-2010, 09:42 PM)Andrew_CN Wrote: wah, koq kang 'sepurku' tiba2 panas bgini toh? Walah, maaf ya bro Andrew, jadi bikin panas ya. Lupa kalo ini bukan di ruang rapat or kuliah. Tp terus terang hati sy jd panas, sepanas loko Parahyangan (alm) ![]() Oya, soal longsor d PWT-BMA, awal april lau saya dari YK k JKT pake fajar utama, sesudah stasiun PWT terlihat jelas beberapa bekas longsoran kecil yg sudah dibereskan. Mungkin gak diekspos media, jd gak diketahui umum. Thnx bro, sy akan lebih sabaaaar.
28-04-2010, 09:57 PM
(28-04-2010, 09:43 PM)sepurku Wrote: Walah, maaf ya bro Andrew, jadi bikin panas ya. Lupa kalo ini bukan di ruang rapat or kuliah. itu longsor kcil bner, bukan pahatan yg sngaja d buat d jalur pembangunan DT kang? ![]() soalnya ada sdikit pahatan klo ga salah d petak itu buat pembangunan jalur DT, mengingat d sana jalurnya agak menyempit
29-04-2010, 09:22 AM
Nih saya nemu artikel yang membahas dihapusnya KA Parahiangan, yang ditulis oleh Hak HARYO DAMARDONO di harian Kompas.
Kereta Api Parahyangan "Dimatikan"
Kamis, 29 April 2010 OLEH HARYO DAMARDONO Kereta Api Parahyangan sudah selesai. Tamat riwayatnya pada pekan ini. Menjelang ajalnya, pencinta kereta ramai-ramai naik dari Bandung ke Jakarta. Namun, jangan terjebak pada â€Âromantika†belaka karena sekarang saat terbaik untuk berefleksi. Ada apa dengan kereta api dan transportasi massal? Salah satu alasan terkuat penutupan layanan kereta itu adalah KA Parahyangan merugi. KA Parahyangan merugi Rp 36 miliar per tahun. Di tengah resistensi terhadap penutupan Parahyangan, Taufik Hidayat dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) justru berani â€Âmelawan arusâ€Â. Menurut Taufik, â€ÂTutup kalau merugi. Pikirkan juga sisi komersial kereta api yang harus dijaga untuk keberlangsungan kereta api.†Taufik menjelaskan, bila keuangan Parahyangan yang â€Âmerah†atau bahkan â€Âmerah membara†dibiarkan, malah mengancam keseluruhan hidup PT Kereta Api (PT KA). Alhasil, mempertahankan Parahyangan hanya memperkeruh kondisi dan masa depan perkeretaapian kita. Memang terkesan PT Kereta Api hanya menimbang sisi bisnis saat menutup Parahyangan. Namun, ingat, pergeseran PT KA dari pelayan publik ke perusahaan profit merupakan kehendak pemerintah, yang mengubah menjadi perusahaan perseroan. Jika pemerintah serius menangani perkeretaapian, mengapa tidak membentuk Kementerian Perkeretaapian. Toh, India dan China, dengan Menteri Kereta Api-nya, berhasil membangun puluhan ribu kilometer jalur rel. Tanpa liberalisasi perkeretaapian, dua negara itu pun berhasil. Pemicu awal kematian KA Parahyangan adalah beroperasinya Jalan Tol Cikampek-Padalarang penghubung Jakarta dan Bandung, tahun 2005. Melalui jalan tol, waktu tempuh dua kota itu (180 kilometer) terpangkas dari 4-5 jam menjadi 2-2,5 jam. Kalah kompetisi Daya saing KA Parahyangan, yang menembus Jakarta-Bandung dalam tiga jam, pun melemah. Parahyangan makin â€Âterpukul†saat Kementerian Perhubungan mengizinkan lebih banyak travel, tidak lagi hanya travel â€Â4848â€Â. Pertanyaannya, mengapa travel? Tidakkah lebih baik mengandalkan bus daripada travel untuk mengurangi macet dan emisi buang? Bila travel boleh berangkat dari Jalan Sudirman, Jakarta, mengapa bus tidak? Di kota-kota besar dunia, seperti Tokyo, Kuala Lumpur, dan Stockholm, bus juga berangkat dari tengah kota. Tentu sah-sah saja ada kompetisi antara kereta dan travel. Kompetisi adalah sebuah kewajaran. Harus diakui, travel Jakarta-Bandung memudahkan konsumen di Depok, Bintaro, atau Rawamangun yang jauh dari Stasiun Gambir. Saat pemerintah membiarkan kompetisi terbuka antara kereta dan travel, itu sama saja dengan menunjukkan ketidakadilan dan ketidakberpihakan. Atau memang tidak ada arah dalam pembangunan transportasi massal? Ketidakadilan pertama adalah membiarkan kereta menggunakan bahan bakar minyak tarif industri, sedangkan angkutan darat (travel) memakai BBM bersubsidi. Jika ingin tiket kereta lebih murah sehingga rakyat tertarik, mengapa solar kereta tak disubsidi?
â€ÂMatinya Parahyangan menunjukkan pemerintah omong kosong dalam mewujudkan angkutan massal yang efisien dan ramah lingkungan. Dengan kebijakan yang tak protransportasi massal, Parahyangan seolah dimatikan perlahan-lahan,†kata ahli transportasi Universitas Katolik Soegijapranata, Djoko Setijowarno.
Jika direnungkan, kematian KA Parahyangan mungkin juga disumbang oleh buruknya sistem transfer antartransportasi massal di negara ini. Bila travel memanjakan penumpang dengan perjalanan dari titik ke titik, sebaliknya penumpang KA Parahyangan direpotkan saat harus berpindah moda. Misalnya, Anda mau ke Bandung naik KA Parahyangan dari Kalibata, bila naik kereta ekonomi, Anda harus turun di Stasiun Gondangdia, naik bajaj ke Stasiun Gambir, baru naik KA Parahyangan ke Bandung. Setibanya di Bandung, Anda masih harus berpikir keras sebab tak mudah, misalnya, untuk menuju Jalan Hegarmanah. Di Stasiun Bandung tak tersedia transportasi massal seperti jaringan bus rapid transit yang andal. Alhasil, penumpang harus naik taksi, yang parahnya tidak semua taksi di Bandung resmi. Ada pula yang menyebut dirinya taksi, tetapi ternyata minibus tanpa argometer. Tak jarang pula penumpang dari Stasiun KA Bandung harus membayar tarif taksi hingga Rp 50.000, yang ironisnya lebih mahal dari tarif kereta itu. Sebenarnya tak perlu mengambil contoh terlalu jauh. Penempatan halte busway Gambir I yang jauh di sisi utara Stasiun Gambir saja telah menunjukkan ketidakberpihakan pemerintah terhadap masyarakat pengguna transportasi massal. Apa susahnya membangun halte busway sejajar sisi timur Stasiun Gambir? Arahkan busway masuk ke areal Stasiun Gambir supaya penumpang kereta langsung naik busway. Kadang-kadang kita jadi bertanya-tanya. Apakah pemerintah tak punya hati, melihat rakyatnya berjalan kaki sambil memanggul tas? Mengapa di Stasiun Gambir, misalnya, lokasi parkir mobil paling dekat pintu stasiun, sebaliknya Bus Damri diparkir jauh? Begitu KA Parahyangan ditutup, pemerintah malah menawarkan kepada investor swasta untuk menjalankan kereta itu. Undang-Undang Perkeretaapian Nomor 23 Tahun 2007 memang memperbolehkan investor swasta untuk menjadi operator. Pertanyaannya, mungkinkah ada investor swasta yang mau menjalankan kereta api di tengah kebijakan-kebijakan yang lebih ramah bagi kendaraan pribadi? Belum lagi ada Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 219 Tahun 2010, yang intinya â€Âmenyerahkan†prasarana (rel, stasiun, fasilitas operasi) kepada PT KA. Maka, jangan-jangan, bila menjalankan KA Parahyangan, investor swasta selalu â€Âdikalahkan†oleh perjalanan Argo Gede. Sebagai manusia, bernostalgia mengenang masa lalu, meratapi ditutupnya Parahyangan, memang tidak dilarang. Apalagi, dulu, antrean panjang di loket KA Parahyangan menjadi pemandangan setiap akhir pekan. Sangat boleh jadi, jika Tol Cikampek-Palimanan selesai, KA Argo Jati Jakarta-Cirebon akan ditutup. Demikian juga jika Tol Ciawi-Sukabumi selesai, KA Bogor-Sukabumi pun mungkin ditutup. Sumber: Kompas ![]() Pengin naik kereta ke Pangandaran lagi Jalur hidup bisa mati, tapi jalur yang mati lebih baik dihidupkan lagi
02-05-2010, 11:19 AM
harus kita akui bahwa infrastruktur kereta api saat ini hanya cocok buat ka komuter dan ka barang saja.
sementara untuk ka intercity/akap, selama tidak dilakukan standarisasi gauge, sampai apophis menumbuk bumi sekalipun gak bakalan bisa ka2 gauge sempit mengalahkan jalan tol. apalagi kalo jaraknya kurang dari 200 km, paling tidak ka nya harus bisa lari diatas 150 km/h.
"Train approaching! Please remain behind yellow line!"
|
|
« Next Oldest | Next Newest »
|