Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Parahiyangan BUBAR..???
akhirnya setelah sekian lama menderita dan sekarat,,PT KA akhirnya memeberikan "coup de grace" pada parahyangan..SedihSedih
Silence Is Golden

But My Eyes Still SeeNgeledek
(02-05-2010, 11:19 AM)ady_mcady Wrote: sementara untuk ka intercity/akap, selama tidak dilakukan standarisasi gauge, sampai apophis menumbuk bumi sekalipun gak bakalan bisa ka2 gauge sempit mengalahkan jalan tol. apalagi kalo jaraknya kurang dari 200 km, paling tidak ka nya harus bisa lari diatas 150 km/h.

Ini untuk KA super cepat maksudnya?
Kalo memenag betul demikian, sedih banget dengernya.
Selamat Tinggal Kereta Api
Minggu, 2 Mei 2010
KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO
KOMPAS.com — Tamatnya riwayat Kereta Api Parahyangan bukan hanya memupus kenangan pada kereta itu, melainkan juga memberikan pelajaran tentang kegagalan negara menyediakan transportasi publik yang murah dan ramah lingkungan.

”Selamat tinggal kereta api, selamat datang jalan tol,” kata Yayat Supriatna, pengajar Tata Kota di Fakultas Teknik Universitas Trisakti, menyikapi dihentikannya operasi KA Parahyangan. ”Ini baru awal dari kematian kereta api di Jawa. Setelah jalan tol lintas Jawa selesai, kereta api di Jawa pasti akan senasib dengan KA Parahyangan,” kata Yayat.

Padahal, kematian kereta, kata Yayat, bisa diartikan dengan matinya angkutan massal yang murah sehingga terjangkau rakyat dan hemat bahan bakar sehingga ramah lingkungan.

Di mata Yayat, matinya KA Parahyangan oleh Tol Cipularang tak bisa dimungkiri lagi. Melalui jalan tol yang dioperasikan tahun 2005 itu, waktu tempuh Jakarta-Bandung sejauh 180 kilometer terpangkas dari empat jam menjadi dua jam. Kereta yang tidak didukung akses dari dan ke stasiun yang baik akhirnya tersisih. Dampaknya, KA Parahyangan terus merugi karena sepi penumpang. Vice President Pemasaran Angkutan Penumpang PT Kereta Api (KA) Husein Nurroni, Jumat (16/4/2010) di Bandung, menyebutkan, kerugian PT KA dalam pengoperasian KA Parahyangan pada tahun 2009 mencapai Rp 36 miliar.

Berbagai cara untuk mempertahankan KA Parahyangan telah dilakukan, termasuk dengan potongan tarif. Sejak Maret 2008, misalnya, tarif diturunkan hingga 59 persen. Tiket KA Parahyangan kelas eksekutif turun dari Rp 50.000 menjadi Rp 35.000, kelas bisnis dewasa dari Rp 30.000 menjadi Rp 20.000, dan kelas bisnis anak dari Rp 24.000 menjadi Rp 16.000. Namun, penumpang kereta tetap sepi.
Tol, tol, tol
Menurut Prof Kusbiantoro, ahli Tata Kota dan Transportasi Institut Teknologi Bandung, kematian KA Parahyangan bukanlah karena persaingan yang wajar, melainkan kematian yang direncanakan. ”Karena pemerintah lebih menganakemaskan transportasi bertumpu mobil pribadi,” katanya.

Kusbiantoro mengatakan, tak pernah ada persaingan sehat antara KA Parahyangan dan Jalan Tol Cipularang. ”Bagaimana kereta tua yang dipaksa menggunakan bahan bakar dengan harga industri disuruh bersaing dengan mobil-mobil baru yang memakai bahan bakar bersubsidi?” ujarnya.

Yayat mengatakan, keberpihakan kepada jalan tol didasarkan pada kegagalan pemerintah dalam membangun infrastruktur yang baik untuk rakyat. ”Seharusnya infrastruktur itu menjadi tanggung jawab negara untuk publik yang dibangun dari pajak,” katanya.

Namun, dengan dalih keterbatasan anggaran, pemerintah akhirnya melelang ”kewajiban” itu kepada swasta. ”Mulai dari air, energi, hingga transportasi diprivatisasi. Akhirnya, rakyat yang dibebani. Anda boleh pilih: jalan biasa yang macet atau pilih bayar tol,” ujarnya.

Padahal, pembangunan jalan tol dengan meminggirkan kereta api, menurut Kusbiantoro, adalah pilihan keliru. ”Pilihan itu hanya didasarkan pertimbangan jangka pendek. Ini hanya menunda masalah lebih besar ke depannya seperti kemacetan dan polusi,” katanya. (AHMAD ARIF)

sumber: Kompas
[Image: 5147433576_a332603046.jpg]
Pengin naik kereta ke Pangandaran lagi
Jalur hidup bisa mati, tapi jalur yang mati lebih baik dihidupkan lagi
(02-05-2010, 12:17 PM)bagus70 Wrote:
(02-05-2010, 11:19 AM)ady_mcady Wrote: sementara untuk ka intercity/akap, selama tidak dilakukan standarisasi gauge, sampai apophis menumbuk bumi sekalipun gak bakalan bisa ka2 gauge sempit mengalahkan jalan tol. apalagi kalo jaraknya kurang dari 200 km, paling tidak ka nya harus bisa lari diatas 150 km/h.

Ini untuk KA super cepat maksudnya?

bisa ya, bisa pula tidak. ka supercepat barangkali adalah idealnya. tapi yang saya maksud disini bukan ka supercepat, tapi hanya ka biasa tetapi sanggup melahap track sampai 90 mph kayak ka2 regional di amrik sana cak bagus.

itu hanya ka regional lho, bukan ka2 sekelas acela, tgv yang operasionalnya bisa diatas 200 km/h.

jalan tol lawannya harus ka cepat. Ngeledek
"Train approaching! Please remain behind yellow line!"
Tapi kalau rute gunung yang ke Bandung ternyata agak repot untuk jalur 1435mm. Radius beloknya jadi terlalu tajam. Harus buat jalur baru. Dan toh, walaupun dibuat jalur 1435mm, tetap tak menjamin akan bisa dibuat KA super cepat ke Bandung.

Saya pernah naik KA super cepat TGV yang terkenal itu. Biarpun dia bisa ngebut 300 km/jam, tapi begitu memasuki rute pegunungan di Swiss, jalannya paling 60 km/jam!

Back to topic.
ya, memang jalur gunung agak sulit buat ngebut. tapi paling tidak petak jakk-pwk bisa habis2an disini. juga di pdl-bd.

Back on Topic,

denger2 pt. kai menawarkan swasta ambil alih slot parahiyangan yang kosong, bagaimana kelanjutannya? apakah ada swasta yang berani ambil?

sepertinya tidak ya?
"Train approaching! Please remain behind yellow line!"


Forum Jump:


Users browsing this thread: 1 Guest(s)