Railway Trackers Wrote:Lha sampeyan kepribhen..... selaen faktor biaya, N wktu, juga emang peruntukanny bukan untuk itu...
Jembatan Kereta dibuat untuk perjalanan kereta. bukan untuk nyebrangin kambing, orang, dsb.
kecuali beberapa jembatan tertentu.
Untuk biaya okelah.... Tapi kaitan dengan "aspek kemanusiaan" jika mengingat di jalur kereta sering banyak petani/ penduduk setempat yang mungkin perlu melintas lewat jembatan itu. Selain itu, penduduk setempat tak kecil jasanya turut menjaga jalur rel dengan satu dan lain cara, misalnya mengamankan rel dari perusakan.
Di banyak tempat di Australia yang jarang penduduknya, jembatan dibangun dengan memberi ruang jalan setapak yang cukup bagi pejalan kaki. Saya tak tahu apa gunanya. Apalagi di sana jika ketahuan jalan di atas rel bisa dikenai denda

Sayang dulu ketika di sana saya tak sempat memotret jembatan2 itu.
Salam,
Toto Wrote:Railway Trackers Wrote:Lha sampeyan kepribhen..... selaen faktor biaya, N wktu, juga emang peruntukanny bukan untuk itu...
Jembatan Kereta dibuat untuk perjalanan kereta. bukan untuk nyebrangin kambing, orang, dsb.
kecuali beberapa jembatan tertentu.
Untuk biaya okelah.... Tapi kaitan dengan "aspek kemanusiaan" jika mengingat di jalur kereta sering banyak petani/ penduduk setempat yang mungkin perlu melintas lewat jembatan itu. Selain itu, penduduk setempat tak kecil jasanya turut menjaga jalur rel dengan satu dan lain cara, misalnya mengamankan rel dari perusakan.
Di banyak tempat di Australia yang jarang penduduknya, jembatan dibangun dengan memberi ruang jalan setapak yang cukup bagi pejalan kaki. Saya tak tahu apa gunanya. Apalagi di sana jika ketahuan jalan di atas rel bisa dikenai denda
Sayang dulu ketika di sana saya tak sempat memotret jembatan2 itu.
Salam,
Kang Saiki kenen baelah :
yang mandorin khan BELANDA, Konsepnya BELANDA, Manajemen Saat Itu juga BELANDA, sedangkan B E L A N D A di Indonesia itu lagi M E N J A J A H, Bukan lagi nyumbang/hibah/sawer, dll.
Kalopun ada yang terpaksa dibangun Double Decker, itupun atas desakan dari orang-orang PRIBUMI yang saat itu dianggap punya KUASA/KEKUATAN/PENGARUH dll. Contohnya Jembatan Cirahong. Belanda terpaksa membuat jembatan ini (juga konsep Double Deckernya) karena saat itu ada desakan dari Bupati Galuh Ciamis ke XVI Kanjeng Prabu RAA Kusumahdiningrat yang memerintah antara tahun 1839 1886. beliau meminta (tepatnya mendesak) pihak Belanda agar pembangunan Jalur Tasikmalaya - Banjar (yang semestinya lewat jalur LURUS Awipari - Manonjaya - Cilangkap - Cimaragas - Banjar) dihentikan sampai Manonjaya dan dibelokkan Ke Utara kearah Panyingkiran dan rutenya menjadi seperti sekarang Manonjaya - Cirahong - Ciamis - Pamalayan - Bojong - Karangpucung sampe Banjar.
Yahhh untuk jalur ini Belanda memang harus membangun dua jembatan yang rada panjang yakni Cirahong dan di Karangpucung. Belanda juga mesti ikhlas membangun double decker yang dipesan "Khusus" oleh Sang Prabu agar Beliau bisa melintasi Citanduy dengan Kereta Kencananya secara nyaman dalam rangka turun gunung melihat kondisi rakyatnya. selain Tentu saja hal ini dimaksudkan Sang Prabu agar jalur Kereta Api melalui Pusat Kota Ciamis (beliau saat itu sedang giat-giatnya membangun ciamis). Beliau Paham benar jika Perkeretaapian merupakan salah satu aspek penting dalam Perkembangan Kemajuan sebuah Kota. Tidak sepeti bupati sekarang yang malah memberi ijin dibangunnya Ruko-ruko (atau lainnya) yang jelas-jelas dulunya bekas Jalur KA. Ada gula ada semut, Ada ijin maka ada duit mengalir ke "KAS", Lihat Saja Petak Cirebon - Kadipaten, Kejaksan - Kegiren - Pelabuhan, Parujakan - Kegiren - Pelabuhan, Jatibarang - Indramayu, da kota - kota lain disekitar Anda yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu. (yang penting khan intinya, lainnya kembangkan sendiri). begitulah kira-kira.
Maaf kalo saya kasih contoh Cirebon, abisnya Kota ini mengenaskan banget dibanding kota lainnya dalam hal kepedulian dengan perkeretaapian. jangankan Pemerintahannya, masyarakatnya pun kurang respek. tanya aja om totok, ada berapa jumlah RF di CN, bisa dihitung jari CUY ....
itu sebabnya sebagai wong Cherbon saya

sssstttt... maaf kembali ke uji nyali on the train bridge okeh.....
denzuko Wrote:emang sih nonjol2, klo mau lewat plat besi spt itu mesti pake sepatu off road spt sepatu PDLnya tentara. jd yg nonjol2 itu g terlalu terasa.
kalau telanjang kaki gimana tuh mas? biar jadi terapi buat rematik xiixi, nyebrangin cikubang ? hmm... saya nyebrangnya diatas kereeta aja deh..

Ada yang lebih BERANI selain berlari dan memanjat Jembatan Cikubang Dan Cirangrang ?
Memanjat dan Menyeberang dengan "muatan Penuh" (dengan membawa serta Tas Berisi Perlengkapan Tempur)
Cirangrang Episode 1
Memanjat Cirangrang Episode 2
Ancang-Ancang
Meski ada tangga tapi tetep milih untuk manjat....
Hanya Bermodal Sarung Tangan (Jangan Meniru adegan Santai ini)
Nyebrangin Cikubang dengan Muatan Penuh
Berlari di Cikubang (demi mengejar gambar Mandra yang mo nyebrang Cikubang)
Take On Position Sesaat sebelum Mandra Lewat
Ini dia Mandranya...
Tokoh dibalik Layar aksi-aksi The Railway Trackers
(Luqman Supriyatna Sang Kameramen)
hal tersulit bukanlah naklukin jembatannya. melainkan menaiki Pondasi beton Dasarnya. Lihat aja berapa tinggi beton tsb dari dasar sungai, bandingkan dg tinggi badan Q, jauh khan? Tapi q punya trik khusus untuk ini. Tips hanya u/ yang berani aja....
wuah artist jembatan neh....
walah untung ga ada kameramen tv, klo ada bisa masuk berita percobaan bunuh diri tuh kang....

...tapi salut uey....

