Semboyan35 Indonesian Railfans

Full Version: KA Komuter Mana Yang Slalu Dimanjain dan Dianak Tiriin?
You're currently viewing a stripped down version of our content. View the full version with proper formatting.
Pages: 1 2 3 4 5
semoga saja dengan revitalisasi jalur boo-si-cj bs menmbh rangkaian yg lewat jalur ini...
klo kurang rangkaian kykna gak deh
kan serepna ada banyak
yg bener masinis thb yg mau bawa BuGe cm dikit
cmiiw

krd nambo juga padahal penumpangna banyak tuh....tpi malah dimatiin....T-T
klo luar jabotabek kykna krd pandanwangi ma kaligung bisnis yg pke krd deh

cmiiw
(07-12-2010, 08:01 PM)bagus70 Wrote: [ -> ]Tapi kenapa nggak pakai rangkain gerbong saja? Kan BB304 di THB bisa dikaryakan untuk ini...

Sebetulnya untuk rangkaian tambahan bagi lintas BOO-SI bisa pakai rangkaian kereta K2 atau K3 milik JAKK dengan ditarik BB 304, tetapi karena masalah penyesuaian Gapeka dengan KRL lintas BOO maka untuk sementara ini lintas BOO-SI baru dilayani KRD Bu-Ge saja.

(07-12-2010, 08:36 PM)aatea_goparmania Wrote: [ -> ]semoga saja dengan revitalisasi jalur boo-si-cj bs menmbh rangkaian yg lewat jalur ini...
klo kurang rangkaian kykna gak deh
kan serepna ada banyak
yg bener masinis thb yg mau bawa BuGe cm dikit
cmiiw

krd nambo juga padahal penumpangna banyak tuh....tpi malah dimatiin....T-T
klo luar jabotabek kykna krd pandanwangi ma kaligung bisnis yg pke krd deh

cmiiw

KRD Nambo dengan stamformasi 2 kereta dalam 1 set itu sebenarnya dioperasikan agar PT. KAI dapat memperoleh pendapatan dari jalur tersebut karena pada awalnya jalur NMO direncanakan untuk angkutan barang, namun selama 4 tahun pengoperasiannya (2000-2004) justru okupansinya membludak dan sayangnya penambahan armada saat itu tidak dilakukan (saya kurang mengerti mengapa tidak dilakukan penambahan kereta dalam rangkaian tersebut), sehingga KRD tersebut selalu kelebihan muatan dan akhirnya mangkrak karena kerusakan di sistem transmisinya.

Untuk lintas lainnya, saya rasa komuter yang juga agaknya dianaktirikan adalah KRD Pandanwangi, karena sampai saat ini masih menggunakan 2 kereta per setnya dan pernah juga memakai stamformasi BB 200 + 2-3 KRDH yang sudah nonaktif mesinnya.
(07-12-2010, 08:36 PM)aatea_goparmania Wrote: [ -> ]semoga saja dengan revitalisasi jalur boo-si-cj bs menmbh rangkaian yg lewat jalur ini...
klo kurang rangkaian kykna gak deh
kan serepna ada banyak
yg bener masinis thb yg mau bawa BuGe cm dikit
cmiiw

Itu kan alasan mereka, tapi menurut saya alasannya kurang masuk akal.
Dulu jaman KRD BOO-SI masih ekonomi rangkaiannya cuma punya 5 tanpa cadangan, yang beroperasi tergantung yang SO di Dipo BOO ada berapa. Paling parah dulu pernah cuma 3 KRD, sisanya 2 sedang sakit di Dipo BOO. Ditambah tripnya masih sehari 2X PP BOO-SI. Coba dibandingkan dengan sekarang eranya Bumi Geulis. Berbanding terbalik.

Kalau mass THB, memang sedikit yang mau bawa Bumi Geulis kecuali mass THB yang domisili di SI. Apalagi nanti setelah Bumi Geulis diperpanjang sampai LPG, tambah males. Kemarin-kemarin waktu (Pak Ade) mass yang biasa bawa Bumi Geulis sakit, bingung cari gantinya. Tapi bagian Bumi Geulis pulang ke THB, pada rebutan, gak ada yang mau nolak. Mungkin karena bisa ngarit,, Ngikik Ngikik

Mungkin Daop lain menurut saya KRD Patas BD-CCL, layanan yang semakin menurun. Pintu banyak yang terbuka, ditambah rangkaiannya sekarang semakin pendek.
Dulu sekitar tahun 2000 an, masih jaya-jayanya KRD Patas.Pintu semua tertutup rapat. 1 rangkaian terdiri dari 5 KRD, makin gagah kalau pagi atau sore stampformasinya 2 rangkaian, 5 set KRD alias 10 gerbong. KRL Jabotabek saja kalah panjang.
Sebentar, di thread ini, banyak yang bilang, KRD Nambo dan jalur Nambo itu berpotensi baik, tetapi, di thread Jalur Nambo, KRD Nambo tidak berpotensi baik karena para penumpang KRD hanya memanfaatkan status "ekspress" KRD yang berjalan langsung dari MRI-DP-CTA (lupa, berhenti DP atau tidak) dan lanjut ke NMO. Pertanyaan saya, yang mana yang benar? Apakah KRD Nambo yang berokupansi baik, atau, Jalur Nambo yang berpotensi baik? Terima kasih Xie Xie
(03-11-2010, 08:06 PM)bagus70 Wrote: [ -> ]Walaupun tadinya saya menganggap judul thread ini terkesan konyol, tapi sebenarnya relevan dengan kenyataan KRL di Jakarta sana. Bahwa di sana ada KRL yang dianak tirikan dan dianak emaskan menunjukkan bahwa KRL gagal menjadi transportasi alternatif untuk menghindari kemacetan.

Bagaimana tidak, di KRL Jabodetabek ada segregasi kelas. Dan antara kelas satu dengan lain bagaikan bumi dan langit.
KRL ekonomi itu bagaikan pasar kumuh diatas rel dengan tarif yang sangat (maaf) tolol sekali murahnya. Masak jauh atau dekat (termasuk Jakarta-Bogor) hanya Rp 2.000an???

Sementara yang KRL ekspress AC sudah tarifnya mahal sekali, yaitu Rp 17.000an, entah jauh atau dekat, dan parahnya lagi tidak berhenti di setiap stasiun.

Kalau itu kurang, rata-rata stasiun KRL di Jakarta adalah kantung kekumuhan. Malah ada satu atau dua stasiun KRL di jalur Jakarta-Bogor yang, walaupun disekelilingnya adalah daerah mewah dan rapi, tapi stasiun itu kumuhnya minta ampun.

KAlau mau benar, namanya KA komuter (dalam hal ini KRL) harusnya:
-stasiun bersih dan steril.
-semua KA ber-AC.
-berhenti di tiap stasiun.
-harga tarif berdasar jarak, bukan kelas.


Dengan begitu KRL Jabodetabek akan berperan besar mengurangi kemacetan di Jakarta dsk.

dan keinginan anda itu (khususnya di point ke 3 & 4), sudah terwujud mulai di pertengahan tahun kemarin atau tepat setelah 32 bulan kemudian, dari anda berkomentar.. Ngakak
Pages: 1 2 3 4 5