(03-11-2010, 09:57 PM)ghazbhuld Wrote: [ -> ]Wah, klo semua kereta berhenti di semua stasiun, bukannya bakal bikin pelanggan kelas atas kabur. Masalahnya, orang2 kelas inilah yg suka naik kereta ekspres karena kecepatan waktu tempuhnya. Klo pelanggan kelas atas kabur, maka mereka akan beralih kembali menggunakan mobil pribadi. Dan hasilnya yang ada jalanan di Jakarta malah tambah macet
Pengalaman di luar negeri, biasanya 40% dari jadwal KA komuter (seperti KRL) adalah KA komuter limited stop. Sisanya adalah all stop yang berperan sebagai feeder.
Tapi kenyamanannya sama: ber-AC, aman, dan malah pakai lantai karpet.
Kalau di KRL Jabodetabek, mayoritas KRL AC adalah limited stop, yang kalau saya bilang "ridiculously limited"

.
Dan saya tambahkan sedikit, ada pakem bodoh di operator KRL bahwa KA full stop tak berhenti di Gambir. Sungguh bodoh....

mestinya digambir itu dibuatkan loket dan jalur khusus komuter. Kereta komuter berhentinya cuma sebentar udah cukup untuk naik turun penumpang.
Tapi mungkin juga ada survey internal, mayoritas penumpang KA jarak jauh, bukan pemakai KRL.. ?
Sebenarnya KRL sangat diperlukan di Gambir. Untuk feeder kereta jarak jauh. daripada musti nyari taksi ato busway mendingan langsung ajah naik KRL sampe stasiun tujuan akhir yang deket dengan rumah. Tapi yaitu KRL harus bersih, rapi, murah dan terawat serta pelayanan yang memuaskan.
(03-11-2010, 09:02 PM)B 30 S Wrote: [ -> ]Klo kata saya sih, klo kereta komuter di Indonesia ngga ada yang statusnya anak emas atw anak tiri.
Justru saya lebih suka klo kelas ekonomi itu yang namanya anak tiri. bayar murah ya dapet fasilitas seadanya. klo mw fasilitas mewah ya naek yg anak emas bayar mahal.
Ah, nggak peduli mau naik murah atau mahal, terkadang bisa sama. Kelas tak bisa menjamin dianak emaskan atau dianak tirikan.
Saya bolak-balik naik KA Turangga atau Argo Wilis, kesannya seperti dianak tirikan jika dibandingkan dengan Lodaya atau Argo Gede/Argo Parahyangan....
Back to topic.
@ bagus70 : Gak salah tuh Rp 17ribu? Maksudnya Rp 11ribu yah?
@ B 30 S : Akh... Tergantung juga, dg bayar mahallll tau2 yah itu dia... hari2 ada aja gangguan perjalanan. Entah pantograf, mogok, AC gak dingin, blm yg pada (kata para KRL Mania sih...) duduk lesehan pake kursi lipet gitu, de el el...
@ Charles : Ada 1 lagi di mana lints Serpong / green line juga demikian dianak tirikan. Sudah jadwalnya dikit, KRLnya slalu bermasalah. Jadi, ibarat makanan, para komuter Serpong dan sekitarnya itu sering dapet sisa makanannya aja lho... Maksudnya kalau ada KRL yang rada rusak, maka dialah yang bakal kedapetan jatahnya. Inget, aku ketiknya sering lho, bukan selalu...
Trus utk komuter luar Jabodetabek mungkin (mungkin yah...) KD3 Cainjuran dan KRD Rencang Geulis. Ironisnya aku sering denger (ralat kalo salah) kalau si Rencang Geulis udah cuma Padalarang - Bandung, gak sampe Cicalengka, sering mogok pula lagi... Trus si Cianjuran dah penumpangnya membludak, jumlah K3nya cuma 2 selalu...
![[Image: overstappen.png]](http://www.semboyan35.com/images/overstappen.png)
Nyinggung soal ketidak singgahan KRL Ekonomi dan Ekonomi AC di Gambir, aku sih sangat berharap kalau perjalanan KA lintas jarak menengah dan jauh juga pada singgah di stasiun Manggarai. Gunanya mengangkut para penumpang hendak melanjutkan perjalanan ke Bogor dengan KRL non AC seperti Ekonomi dan Ekonomi AC. Begitu pun arah sebaliknya, yg baru dateng dari lintas Bogor hendak naik KA jarak menengah dan jauh. Tapi apa bisa yah?
Dari tahun 93 saya naik KRL Bogor Jakarta. Dalam interval waktu tersebut sekali2 saya coba naik Bis Bekasi via UKI ( sekarang via Rambutan). Perjalanan Baranangsiang-UKI rata-rata ditempuh 45 menit ( kalau hari Senin lebih lama. Di UKI rata2 butuh waktu 30 menit untuk mendapatkan Bis Kota kearah Kuningan ( dg lama tempuh sekitar 1 jam). Jadi total waktu naik bis via uki 2 jam 15 menit.
Saya coba lagi naik Bis Bogor- Lebakbulus waktu tempuh 1 jam. Nah dari Lebakbulus menuju kuningan bisa memakan waktu 1jam 15 menit. Total waktu tempuh 2 jam 15 menit.
Sekarang saya naik Pakuan 7.18 tiba di Gondangdia 8.15 naik P 20 = 20 menit.
Total waktu hanya 1 jam 20 menit dg KA Pakuan. Jika naik KRL Ekonomi tambah 25 menit.
Jadi puluhan tahun saya tetap naik KRL.
TERIMAKASIH PT KAC JABODETABEK....
(04-11-2010, 03:17 PM)g10d Wrote: [ -> ]Sebenarnya KRL sangat diperlukan di Gambir. Untuk feeder kereta jarak jauh. daripada musti nyari taksi ato busway mendingan langsung ajah naik KRL sampe stasiun tujuan akhir yang deket dengan rumah. Tapi yaitu KRL harus bersih, rapi, murah dan terawat serta pelayanan yang memuaskan.
Dan beginilah idealnya KRL itu beroperasi.
Jangan seperti yang selama ini saya alami kalau saya menggunakan KRL. Contohnya, kalau dari Pasar Minggu mau ke Gambir, susahnya minta ampun!
Jadi dari Pasar Minggu saya harus ke Gondangdia atau Juanda dulu, lalu dari situ saya harus menunggu lama untuk connecting train. Atau malah harus naik ojek atau bajaj.
Padahal kereta ini lewat jalur yang sama dengan jalur yang di stasiun Gambir.
Sungguh pengoperasian KA yang bodoh!

stop penggunaan kata "BODOH"
manajemen KRL kita emang masih buruk, tp ga akan maju kalo kita cuma menjelek2an dan menyalahkan operator.
koridor bogor bukan dimanja, tapi memang penumpangnya buanyak banget. barangkali koridor bekasi bakal diperbanyak armadanya kalo ddt nya rampung.
Maaf kalau ucapan saya kasar, tapi itu sebagai "tumpahan perasaan" kekecewaan menggunakan KRL di Jakarta. Isinya sakit hati terus....