Stuju banget bos, kenapa banyak penumpang naik ke atas gerbong karena kapasitas angkut keretanya dan frekuensinya kurang. Sayang lagi2 pemerintah kurang tanggap atau tidak peduli masalah kebutuhan rakyat, pemerintah lebih berpihak ke pengusaha jalan tol & pengusaha automotif (dan menguntungkan si jepang) . ...thanks
(12-05-2010, 10:08 PM)iki.limahiji Wrote: [ -> ]kalo rangkaian ditambah jadi 10 gerbong bisa gag ya masuk sta jakk?
kalo masuknya jalur 9 dan 10 kayaknya bisa. masalahnya ka2 akap yang parkir di beos jalur 9 dan 10 kayak sembrani dan gajayana mau di parkir dimana?
benerin dulu suplay listriknya sama persinyalannya plus penambahan kereta.. saya jamin MRI-BOO lancar jaya.. aminn
hilangkan KRL Express. dijamin lancar karena tidak ada susul2an dan tunggu2an.
intinya, komuter itu dijadikan 1 kelas saja.
uPDATE : Gardu LAA mulai ditambah...Bojonggede sedang dibangun penambahan gardu LAA-nya berarti bisa ada penambahan headway..
(30-04-2010, 06:49 PM)JaY Wrote: [ -> ]Selama ini yang membuat perjalanan KRL Bogor-Jakarta dan sebaliknya sering tersendat diantaranya
1. Ekonomi, ekonomi AC, Ekspress memakai jalur yang sama sehingga tidak efisien.
2. Pengaturan jadwal baru belum pas sesuai kebutuhan sarana yang dipergunakan.
3. Sinyal, LAA, rel, dan wesel sudah lama sehingga sering trouble karena kepadatan keretanya tinggi.
Solusinya tidak lain pembangunan jalur dwiganda ini. Supaya perjalanan lebih cepat dan tepat waktu. Asumsi waktu jika Bogor-Manggarai dwiganda, kreta eko ac menempuh waktu 40 menit dgn v rata2 110 km/jam dan ekspres 20 menit dgn v rata2 120 km/jam.
Jika dibuat bersebelahan tidak memungkinkan maka tidak lain dengan model subway atau flyover.
Kalau model subway sepertinya terlalu rumit untuk membuat terowongan bawah tanah dari jalur yang telah ada, sehingga wacana yang timbul akhir-akhir ini adalah pembuatan overpass/flyover untuk KRL ekspres (atau eko AC bila memungkinkan) yang mana layanan ekspres ini diusahakan untuk tidak melalui perlintasan sebidang antara jalan raya dengan rel agar tidak menimbulkan PLH serius.
Untuk letak jalurnya jika diamati ada sedikit masalah pada petak yang juga memiliki flyover (perlintasan tak sebidang) seperti di sekitar DPB dan TNT, bagaimana operator (KCJ) menyikapi hal ini jika memang DDT tsb akan berbentuk flyover nantinya?
(16-05-2010, 12:56 AM)puthut_error Wrote: [ -> ]hilangkan KRL Express. dijamin lancar karena tidak ada susul2an dan tunggu2an.
intinya, komuter itu dijadikan 1 kelas saja.
idem gan

1 kelas, 1 tarif, 1 rasa, 1 penderitaan

udah nggak jamannya kelas²an di komuter, kalo bisa eko ac semua
(16-05-2010, 12:56 AM)puthut_error Wrote: [ -> ]hilangkan KRL Express. dijamin lancar karena tidak ada susul2an dan tunggu2an.
intinya, komuter itu dijadikan 1 kelas saja.
yang bener aja....

urgensi setiap person dalam menggunakan KRL tu beda-beda...
ada yg pengen cepet n aga manusiawi.. ya naiklah KRL express.. yang pengen aga adem aja n ga tergesa-gesa.. naiknya ekoAC.. n yang naiknya asal sampai aja.. naiknya ekonomi... tinggal sesuaikan ma kepentingan and daya belinya... kalo mahal ya aga cepet.. makin murah ya makin lambat.. itu wajar...
secara gw pikir KRL express itu adalah sarana yg cepat untuk yg bermobilitas tinggi (artinya kerjaannya ga cuman di 1 kantor doank)
selama ini gw uda cukup nyaman dengan Depex yg dari Poc jam 7.20, nyampe Jua jam 7.50... jalan ato ngojek nyampe kantor belum jam 8.. kalo pas pengen brangkat pagi. naek Bojes jam 6.23 dari Poc.. nyampe Jua jam 6.58...
trus Bojes dari Jua 17.10 nyampe Poc. asih 1/2 6 an..
(30-04-2010, 06:49 PM)JaY Wrote: [ -> ]Selama ini yang membuat perjalanan KRL Bogor-Jakarta dan sebaliknya sering tersendat diantaranya
1. Ekonomi, ekonomi AC, Ekspress memakai jalur yang sama sehingga tidak efisien.
2. Pengaturan jadwal baru belum pas sesuai kebutuhan sarana yang dipergunakan.
3. Sinyal, LAA, rel, dan wesel sudah lama sehingga sering trouble karena kepadatan keretanya tinggi.
Solusinya tidak lain pembangunan jalur dwiganda ini. Supaya perjalanan lebih cepat dan tepat waktu. Asumsi waktu jika Bogor-Manggarai dwiganda, kreta eko ac menempuh waktu 40 menit dgn v rata2 110 km/jam dan ekspres 20 menit dgn v rata2 120 km/jam.
Jika dibuat bersebelahan tidak memungkinkan maka tidak lain dengan model subway atau flyover.
wakakak. apa bisa mas? 110 kmh rata2? lha trus v maks nya berapa? 200 kmh? dan berhenti di tiap halte?
kalo ka nya kayak ka2 regional nya amtrak sih mungkin bisa. disini gak mungkin deh kalo gak di ubah gaugenya.
(18-05-2010, 10:55 AM)Bangunkarta Wrote: [ -> ] (16-05-2010, 12:56 AM)puthut_error Wrote: [ -> ]hilangkan KRL Express. dijamin lancar karena tidak ada susul2an dan tunggu2an.
intinya, komuter itu dijadikan 1 kelas saja.
yang bener aja....
urgensi setiap person dalam menggunakan KRL tu beda-beda...
ada yg pengen cepet n aga manusiawi.. ya naiklah KRL express.. yang pengen aga adem aja n ga tergesa-gesa.. naiknya ekoAC.. n yang naiknya asal sampai aja.. naiknya ekonomi... tinggal sesuaikan ma kepentingan and daya belinya... kalo mahal ya aga cepet.. makin murah ya makin lambat.. itu wajar...
secara gw pikir KRL express itu adalah sarana yg cepat untuk yg bermobilitas tinggi (artinya kerjaannya ga cuman di 1 kantor doank)
selama ini gw uda cukup nyaman dengan Depex yg dari Poc jam 7.20, nyampe Jua jam 7.50... jalan ato ngojek nyampe kantor belum jam 8.. kalo pas pengen brangkat pagi. naek Bojes jam 6.23 dari Poc.. nyampe Jua jam 6.58...
trus Bojes dari Jua 17.10 nyampe Poc. asih 1/2 6 an..
IMHO
karena alasan itu pula lah saya punya ide seperti itu. sebenarnya saya juga mau naik KRL Expres. sayangnya KRL expres gak berenti di pasar minggu, kalibata atau tanjung barat. Sementara, nunggu KRL Ekonomi AC atau Ekonomi biasa jadi lambat gara" disusul dan harus ngalah sama yang namanya Express. dan keika saya berkesempatan mencoba KRL Expres, jalannya juga tersendat karena didepannya ada KRL Ekonomi / Ekonomi AC yg berhenti di tiap" stasiun.
karena itulah saya usulkan untuk dibuat 1 kelas saja.