Semboyan35 Indonesian Railfans

Full Version: Kalau Petak Rel Manggarai - Bogor Dwiganda
You're currently viewing a stripped down version of our content. View the full version with proper formatting.
Pages: 1 2 3 4 5
Sangat super duper setuju. Hari Senin ini, setelah saya melihat KA Parahyangan terakhir di Gambir, saya balik ke Bogor dengan Pakuan, awalnya dari Gambir g da masalah, bru sampai stasiun UI-Bogor, doh, lemotnya minta ampun, sering ditahan, berhenti g jelaz, udah panas, oalah tmbah lama tmbh gila, ancur deh PUK Manggarai, gmana sih ngatur kereta yang baik, blum lagi tdi ada rel patah petak Tebet-Manggarai, blum org2 dah byar 11 rbu, mahal, jkt-bgor ditempuh hampir 2 jam, pada cape plng kerja, yang duduk, yang berdiri (apalagi), stres, ngomel, dll.
Sebelumnya saya mohon maaf, saya bicara seperti karena sedang mengalaminya. Kejadian ini hampir tiap hari mengintai orang2 yang tidak beruntung dalam memilih jadwal, kebetulan yang sedang saya naiki adalah KRL jam 6 sore, saat jam pulang kantor. Kita tahu, disini banyak orang yang capai, lelah, pusing, harus mengalami nasib diatas, saya sebenarnya nggak mau menyalahkan siapapun yang jelaz hal ini sangat merugikan karena khusus para komuter karena mereka juga salah satu pilar pembangunan nasional.
Para pejabat perkeretaapian selama ini hanya mengadakan diskusi publik terbuka seperti kemarin itu, tapi hasilnya hanya sebatas wacana saja tanpa ada realisasi. Karena selama ini yang dipandang hanya secara generalisasi saja tanpa melihat spesialisasi.
Saya sependat bahwa jalur MRI-BOO sudah saatnya dibuat DDT tapi untuk saat ini sampai Depok Lama sudah cukup, bagaimanapun sudah harus dibuat, cuma permasalahannya tahu sendiri kan, sudah saatnya ganti generasi sekarang, generasi lama suka menunda terus, generasi baru siap menggantikannya.
untuk jangka panjang kayaknya perlu. tapi untuk jangka pendek, kenapa tak dicoba triple track? jadi jalur tengah bisa bolak-balik dan tergantung trafiknya. kalo pagi, jalur tengah mengarah ke jakarta, sementara kalo sore kebalikannya.

kalo sudah ada pemisahan antara trek ekspres dan non ekspres, pengaturan sistem e-ticket bisa lebih mudah.
@ Bangunkarta : Kalau ngomongin sedikit OOT petak rel Gambir - Manggarai sih aku masih gak setuju sebelum stasiun Gambir ditambah menjadi 8 jalur entah bagaimana caranya. Soalnya percuma saja mau dibangun 8 jalur sekalipun antara kedua stasiun tersebut dengan 2 stasiun persinggahan yg ada (Cikini dan Gondangdia) enggak akan mampu mengatasi problem Gapeka / grafik perjalanan KA jika di Gambir sendiri masih terbilang 4 jalur. Dengan dihentikannya KA Parahyangan dan akan dibuahnya KA Argo Gede dengan nama Argo Parahyangan sudah +Bisnis-nya, maka aku rasa Gapeka-nya enggak sepadat sewaktu masih ada alm. Parahyangan. Karena perjalanan KA luar kota jarak jauh cenderung padat di pagi hari saling berdatangan ke Jakarta dan sore harinya saling berangkat meninggalkan Jakarta.

Kembali ke topik :
Kalau soal penambahan wesel di beberapa stasiun persinggahan antara Manggarai - Depok Lama saya setuju banget. Tapi aku pribadi tidak setuju dengan triple track karena akan nanggung apabila dengan cuma katakanlah rel darurat cuma 1 itu pun untuk 2 arah sekaligus. Bukan berarti ngebayangin akan terjadi PLH / peristiwa luar biasa hebat yah... tapi khan ada kemungkinan2 dampak mubazir di mana umumnya umat manusia Indonesia itu :
1. Enggak merawat rel. Jika digunain sebagai rel darurat dan dalam hal ini jarang dilaluin KA kalau tiada KA Inspeksi seperti Wijaya Kusumah atau pun Rail One akan ditumbuhi rerumputan.
2. Yang sangat tidak kita mauin yaitu semakin bertambahnya perumahan warga yang manfaatin rel yang langka dilalui KA itu.
3. Makin banyak perumahan warga, maka akan tambah banyak warga yang seenggaknya yang pengangguran pada bersantai di pinggir rel dan duduk2 di rel darurat tersebut.
setuju tuh buat nambahin jumlah gerbong biar semua yang ada bisa sebagian terangkut (tergantung perbandingan jumlah penumpang dan kapasitas juga), dan otomatis tambah panjangin peron. paling ngga jangan sampe ada lagi yang namanya "konser" itu... kasian, kalo selamat sih gpp nah kalo kesetrum?? mati dan keluarga drmh bisa stress.. intinya jalur DDT emang belum perlu lahannya juga terbatas kan... jadi tambahin dulu panjang peron dan jumlah gerbongnya...

Xie Xie
wah, belum waktunya untuk Double-Double Track...

1. tambah armada KRL
2. headway pada saat rush hour 2-4 menit
3. panjangkan peron (agar bisa 10 kereta)
4. perbaiki persinyalan dan aliran listrik
(28-04-2010, 02:55 PM)ajuy Wrote: [ -> ]wah, belum waktunya untuk Double-Double Track...

1. tambah armada KRL
2. headway pada saat rush hour 2-4 menit
3. panjangkan peron (agar bisa 10 kereta)
4. perbaiki persinyalan dan aliran listrik

Usulan ini menurut saya lebih logis karena KCJ perlu memprioritaskan pengoptimalan sarana dan armada lebih dahulu (metode intensifikasi) baru menambah jalur ganda lagi untuk jalur yang sudah ada.

Satu lagi, untuk menerapkan rangkaian 10 kereta perlu dibangun gardu listrik baru di wilayah Jabotabek, karena daya total dari gardu listrik yang ada saat ini belum mencukupi untuk kebutuhan listrik 10 kereta penumpang dalam 1 rangkaian KRL.
(28-04-2010, 03:31 PM)Charles Wrote: [ -> ]
(28-04-2010, 02:55 PM)ajuy Wrote: [ -> ]wah, belum waktunya untuk Double-Double Track...

1. tambah armada KRL
2. headway pada saat rush hour 2-4 menit
3. panjangkan peron (agar bisa 10 kereta)
4. perbaiki persinyalan dan aliran listrik

Usulan ini menurut saya lebih logis karena KCJ perlu memprioritaskan pengoptimalan sarana dan armada lebih dahulu (metode intensifikasi) baru menambah jalur ganda lagi untuk jalur yang sudah ada.

Satu lagi, untuk menerapkan rangkaian 10 kereta perlu dibangun gardu listrik baru di wilayah Jabotabek, karena daya total dari gardu listrik yang ada saat ini belum mencukupi untuk kebutuhan listrik 10 kereta penumpang dalam 1 rangkaian KRL.

wahh ternyata total suplai listrik skrg itu belum cukup buat mengakomodir 10 rangkaian ya, kirain c berapapun rangkaiannya bisa... wahh tambah ilmu lagi nih...

makasih mas....
(28-04-2010, 10:16 PM)dimasfaiz Wrote: [ -> ]
(28-04-2010, 03:31 PM)Charles Wrote: [ -> ]Usulan ini menurut saya lebih logis karena KCJ perlu memprioritaskan pengoptimalan sarana dan armada lebih dahulu (metode intensifikasi) baru menambah jalur ganda lagi untuk jalur yang sudah ada.

Satu lagi, untuk menerapkan rangkaian 10 kereta perlu dibangun gardu listrik baru di wilayah Jabotabek, karena daya total dari gardu listrik yang ada saat ini belum mencukupi untuk kebutuhan listrik 10 kereta penumpang dalam 1 rangkaian KRL.

wahh ternyata total suplai listrik skrg itu belum cukup buat mengakomodir 10 rangkaian ya, kirain c berapapun rangkaiannya bisa... wahh tambah ilmu lagi nih...

makasih mas....
kalo 10 kereta itu bukan karena aliran listriknya, melainkan panjang peron
Perlu diketahui sebagian besar gardu di koridor Manggarai - Depok - Bogor dibangun antara tahun 1977 s/d awal 1990 bersamaan dengan pengoperasian KRL pertama dan Pembangunan Double Track MRI-Depok dan Depok - Bogor.

Pada saat itu masih sangat jarang KRL AC yg beroperasi kecuali Pakuan Eksekutif. Maka kejadian meledaknya Trafo di gardu UI bisa terjadi karena beban yang berlebihan.

Jadi untuk meningkatkan kapasitas angkut maka yang paling perlu ditambah yaitu prasarana gardu listrik, selain penambahan sarana KRL. Tanpa itu mustahil bisa memperpendek headway pada jam sibuk. Itu juga tergantung dari kesiapan PLN untuk mensuplai listrik ke KCJ lah wong sekarang aja PLN minta supaya KCJ mengurangi penggunaan listrik krn mereka defisit daya.

Salah satu hal mengapa pengoperasian KRL sampai Maja tertunda karena itu PLN belum sanggup mensuplai daya buat gardu Cilejit dan Maja.
nah. ini dia yang jadi masalah...
Pages: 1 2 3 4 5