(27-09-2010, 05:12 PM)eko winarno Wrote: [ -> ] (27-09-2010, 02:15 PM)Dj_Dj_300791 Wrote: [ -> ]Peron solobalapan apakah cuma peron jalur 1 sama 5 doang yang ditinggikan? Memang untuk jalur 2,3,dan 4 sulit, tapi apakah jalur 6 tidak ada rencana untuk ditinggikan. Kasian penumpang jalur 6 yang akan naik senjut agak kesulitan...
Belum ada wacana untuk menaikkan peron di jalur 6..karena peron itu sendiri sudah di naikkan seperempat tinggi..
Peron cuma dinaikkan sedikit saja, lagipula tdk memengaruhi penumpang karena masih bisa naik tnp perlu dibantu. Kalo utk orang tua ya perlu perhatian khusus

Mau tanya, apakah di SLO terlebih juga sedikit OOT di Jebres ada atau mungkin banyak restoran yang buka 24 jam? Mengingat kedua stasiun ini jadi stasiun pertengahan bagi perjalanan dari keberangkatan awal di Bandung dan Jakarta ke tujuan akhir di Surabaya, Malang, Kediri, Jember dan Banyuwangi. Begitu pun sebaliknya. Bahkan termasuk juga awal dan akhir di kedua stasiun ini baik itu ke Jakarta, Bandung, Surabaya, dll dan sebaliknya.
Tapi umumnya kalau rangkaian KA yang singgah sekalipun itu tengah malem kayak Gayabaru Malam Selatan, Matarmaja, Bima dan masih banyak lagi tetap saja yang namanya singgah dibatasin yah waktunya. Gak mungkin misal dikasih jeda waktu 1/2 jam sekalipun para penumpang turun dulu ke restoran di sekitar stasiun Solo Balapan dan Jebres juga yah... Tapi apa emang ada yah yg buka 24 jam?
Trus mengomentarin soal peron2 tinggi koq aku sendiri agaknya enggak setuju yah? Sebab :
1. Perjalanan KA komuternya gak sepadat Jabodetabek.
2. Akan semakin sempit dan keramaian untuk ukuran Solo Balapan.
3. Kesan kolonialnya semakin luntur saja. Ada baiknya peninggiannya cuma beberapa cm aja. Kalau mau naik - turun kembali ke no. 1 karena gak terlalu padat jadinya nampaknya yang naik - turun KRD dalam hal ini Prameks, Banyu Biru dan Pandanwangi gak terlalu padat.
4. Dikuatirin mereka yang backpacker bisa nabrak - nabrak dan nyenggol para calon penumpang KA jarak menengah dan jauh di sekitarnya masing2 karena tas berat yang mereka (â€¢ï¸¡ç›Šï¸ â€¢) itu. Untungnya setau aku Solo bukan kota wisata yang sepadat Yogyakarta.
Semuanya antara no. 1 - 4 kalau salah tolong diralat yah...
(23-10-2010, 10:33 PM)Dana Komuter Wrote: [ -> ]Mau tanya, apakah di SLO terlebih juga sedikit OOT di Jebres ada atau mungkin banyak restoran yang buka 24 jam? Mengingat kedua stasiun ini jadi stasiun pertengahan bagi perjalanan dari keberangkatan awal di Bandung dan Jakarta ke tujuan akhir di Surabaya, Malang, Kediri, Jember dan Banyuwangi. Begitu pun sebaliknya. Bahkan termasuk juga awal dan akhir di kedua stasiun ini baik itu ke Jakarta, Bandung, Surabaya, dll dan sebaliknya.
Tapi umumnya kalau rangkaian KA yang singgah sekalipun itu tengah malem kayak Gayabaru Malam Selatan, Matarmaja, Bima dan masih banyak lagi tetap saja yang namanya singgah dibatasin yah waktunya. Gak mungkin misal dikasih jeda waktu 1/2 jam sekalipun para penumpang turun dulu ke restoran di sekitar stasiun Solo Balapan dan Jebres juga yah... Tapi apa emang ada yah yg buka 24 jam?
Trus mengomentarin soal peron2 tinggi koq aku sendiri agaknya enggak setuju yah? Sebab :
1. Perjalanan KA komuternya gak sepadat Jabodetabek.
2. Akan semakin sempit dan keramaian untuk ukuran Solo Balapan.
3. Kesan kolonialnya semakin luntur saja. Ada baiknya peninggiannya cuma beberapa cm aja. Kalau mau naik - turun kembali ke no. 1 karena gak terlalu padat jadinya nampaknya yang naik - turun KRD dalam hal ini Prameks, Banyu Biru dan Pandanwangi gak terlalu padat.
4. Dikuatirin mereka yang backpacker bisa nabrak - nabrak dan nyenggol para calon penumpang KA jarak menengah dan jauh di sekitarnya masing2 karena tas berat yang mereka (â€¢ï¸¡ç›Šï¸ â€¢) itu. Untungnya setau aku Solo bukan kota wisata yang sepadat Yogyakarta.
Semuanya antara no. 1 - 4 kalau salah tolong diralat yah...
hmmm, dibuat peron tinggi setau saya karena standar. supaya para difabel dapat naik KA dg mudah.... coba kalau peronnya rendah semua, para difabel kesulitan naik KA kan....
CMIIW
(24-10-2010, 05:57 AM)Narendro Anindito Wrote: [ -> ][spoiler]
(23-10-2010, 10:33 PM)Dana Komuter Wrote: [ -> ]Mau tanya, apakah di SLO terlebih juga sedikit OOT di Jebres ada atau mungkin banyak restoran yang buka 24 jam? Mengingat kedua stasiun ini jadi stasiun pertengahan bagi perjalanan dari keberangkatan awal di Bandung dan Jakarta ke tujuan akhir di Surabaya, Malang, Kediri, Jember dan Banyuwangi. Begitu pun sebaliknya. Bahkan termasuk juga awal dan akhir di kedua stasiun ini baik itu ke Jakarta, Bandung, Surabaya, dll dan sebaliknya.
Tapi umumnya kalau rangkaian KA yang singgah sekalipun itu tengah malem kayak Gayabaru Malam Selatan, Matarmaja, Bima dan masih banyak lagi tetap saja yang namanya singgah dibatasin yah waktunya. Gak mungkin misal dikasih jeda waktu 1/2 jam sekalipun para penumpang turun dulu ke restoran di sekitar stasiun Solo Balapan dan Jebres juga yah... Tapi apa emang ada yah yg buka 24 jam?
Trus mengomentarin soal peron2 tinggi koq aku sendiri agaknya enggak setuju yah? Sebab :
1. Perjalanan KA komuternya gak sepadat Jabodetabek.
2. Akan semakin sempit dan keramaian untuk ukuran Solo Balapan.
3. Kesan kolonialnya semakin luntur saja. Ada baiknya peninggiannya cuma beberapa cm aja. Kalau mau naik - turun kembali ke no. 1 karena gak terlalu padat jadinya nampaknya yang naik - turun KRD dalam hal ini Prameks, Banyu Biru dan Pandanwangi gak terlalu padat.
4. Dikuatirin mereka yang backpacker bisa nabrak - nabrak dan nyenggol para calon penumpang KA jarak menengah dan jauh di sekitarnya masing2 karena tas berat yang mereka (â€¢ï¸¡ç›Šï¸ â€¢) itu. Untungnya setau aku Solo bukan kota wisata yang sepadat Yogyakarta.
Semuanya antara no. 1 - 4 kalau salah tolong diralat yah...
[/spoiler]
hmmm, dibuat peron tinggi setau saya karena standar. supaya para difabel dapat naik KA dg mudah.... coba kalau peronnya rendah semua, para difabel kesulitan naik KA kan....

CMIIW
Selain soal difabel, peron tinggi di stasiun-stasiun pernah menjadi tuntutan peningkatan pelayanan selain keamanan, ketepatan waktu, kebersihan kereta oleh pengguna Prameks ketika tarif Prameks dinaikkan dalam beberapa periode.
tentang difabel buka spoiler ini
[spoiler]
Undang-Undang RI No. 14 tahun 1997 tentang penyandang cacat pasal 9 dan 10 menjamin bahwa setiap penyandang cacat mempunyai kesamaan kesempatan dalam segala aspek kehidupan dan penghidupan melalui penyediaan aksesibilitas untuk menciptakan keadaan dan lingkungan yang lebih menunjang difabel agar dapat sepenuhnya hidup bermasyarakat.
Lebih lanjut Departement Pekerjaan Umum sebenarnya telah menerbitkan keputusan tentang Persyaratan Teknis Aksesibilitas pada Bangunan Umum dan Lingkungan pada tanggal 1 Desember 1998, yang didalamnya tercantum bahwa pembangunan wajib memenuhi persyaratan teknis bangunan umum dan lingkungan sehingga dapat dicapai oleh semua orang termasuk penyandang cacat. Persyaratan teknis ini mengacu pada prinsip desain universal (universal design) yang berkembang pada tahun 1997 yang memuat tujuh prinsip rancangan, yaitu: 1) dapat digunakan oleh orang dengan berbagai kekurangan fisik atau kecacatan; 2) dapat mengakomodasi berbagai pilihan dan kemampuan orang; 3) dapat dipakai dengan mudah tanpa didahului oleh pengalaman dan pengetahuan tertentu; 4) meminimalkan bahaya dan menghindarkan hal-hal yang tidak diinginkan; 5) dapat dipakai secara efisien dan nyaman disertai tingkat kelelahan yang minimum; 6) informasi yang ada mudah dimengerti; 7) ukuran dan ruang yang dirancang mudah diakses. [/spoiler]
(01-12-2009, 09:07 PM)Agus_Faisal Wrote: [ -> ]Stasiun Solo Balapan terletak di daerah Banjarsari, Solo. Banjarsari dulu dinamakan Kampung Balapan, sebab daerah tersebut (sebelah Utara Pasar Legi, lokasi Monumen ‘ 45 Banjarsari sekarang) pada zaman Mangkunegara IV diperintahkan untuk jadikan pacuan kuda. Kemudian dibangun pula tribune (panggung) tempat duduk para pembesar kerajaan (Mangkunegran) yang menyaksikan pacuan kuda.
Jadi begitu...
ooo baru tau saya sejarah nama stasiun Solo Balapan, saya kira dulu disana tempat balapan kereta

makasih buat infonya
Halaman Parkir Stasiun Solo Balapan tadi saya masuk banyak yang berlubang, tarif keluar Mobil Rp 3000 per ... jam (disebut tarif keluar karena menaikkan-menurunkan penumpang dalam waktu kurang 10 menit disuruh bayar penuh Rp 3000) cukup gelap, minim lampu penerangan.
Memang, Stasiun Solo Balapan adalah stasiun termenarik !!!
buktinya Penyanyi kebanggaan saya, Didi Kempot menciptakan lagu khusus Untuk Stasiun Balapan......
Ning setasiun Balapan
Kuta Solo sing dadi kenangan
Kowe karo aku
naliko Ngeterke lungamu.........


