Semboyan35 Indonesian Railfans

Full Version: Jalur mati di Jateng Dan DIY akan diaktifkan lagi
You're currently viewing a stripped down version of our content. View the full version with proper formatting.
Pages: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18
Hanya angan-angan saya saya...

Mengingat jalur Bedono-Secang dulunya juga merupakan jalur bergigi...

Kalau Jogja-ABR dihidupkan...ada beberapa kemungkinan...

a.) B2502 dan B2503 tidak bisa naik ke Bedono lagi:

Berhubung banyak BB204 yang nganggur di Sumatera Barat, lokomotif akan didatangkan dari Sumbar untuk jalur ini namun, karena gear ratio yang berbeda, jalur bergigi ke ABR-Bedono-Secang akan diganti dengan yang sama dengan yang di Sumatera Barat.

b.) Dibuka jalur baru:

Akan dibuka jalur, mungkin di sebelah jalur lama, dari Secang-Bedono-ABR (mungkin juga hanya Bedono-Jambu, Bedono-secang menggunakan satu jalur dengan jalur gigi BB204, kecuali trip B2503 dan B2502 hendak diteruskan ke secang) yang dikhususkan untuk BB204 yang akan didatangkan dari Sumbar. Jalur lama dipertahankan untuk keperluan kereta wisata.

c.) Terowongan atau memutar:

Dari Secang ke ABR akan ada jalur baru, tanpa melewati Bedono, bisa dengan jalur memutar, atau membuat terowongan baru(ingat, jalur bergigi ABR-Bedono-Secang dibuat pemerintah Belanda karena saat itu kekurangan dana untuk terowongan).

d.) Lokomotif Baru (BB205 atau semacamnya?)

Kita sebagian besar tahu bahwa jalur ABR-Bedono-Secang merupakan jalur yang dibuat khusus untuk lokomotif B25. Mungkin jalur Bedono-Secang akan diperbaiki seperti semula, dengan gerigi yang sama dengan Jambu-Bedono, sehingga lokomotif bergigi dengan gear ratio yang sama dengan B25.

tapi itu hanya angan-angan saya saja...
^^^
harapan saya juga begitu.....
semoga rel di daerah daop 6 bisa beroperasi semua.... dan seramai jabotabek....
Lanjutan berita:

29 September 2009
Ditjen Perkeretaapian Mulai Lakukan Kajian
MAGELANG -Ditjen Perkeretaapian, Dephub, mulai melakukan kajian terhadap rencana menghidupkan lagi jalur kereta api (KA) Magelang-Yogyakarta.

”Tahap pertama adalah† sosialisasi dengan pemda yang akan dilalui jalur KA tersebut,” kata Dirjen Perkeretaapian, Tunjung Irawan, kemarin.

Dia menerangkan, selain dengan pemda, juga bekerja sama dengan konsultan untuk kajian secara teknis.

”Kajian dilaksanakan secara komprehensif, dan memakan waktu selama setahun. Bila kajian sudah selesai dan hasilnya jalur KA Magelang-Yogjakarta bisa dihidupkan lagi, maka paling lambat† tahun 2011 sudah mulai dibangun jalurnya,” terangnya.

Kajian yang dilakukan, lanjutnya, menyangkut design enginering detail (DED) jembatan dan juga track-track-nya.

”Dana untuk membiayai proyek itu dari APBN. Saya memperkirakan biaya untuk membangun rel KA untuk setiap 1 km antara Rp15 M hingga Rp 20 M.”

Ditanya mengenai banyaknya jalur rel KA yang sudah didirikan rumah, Tunjung menjelaskan, itu merupakan urusan pemda setempat. Makanya, kita meminta bantuan pemda untuk mengatasi masalah itu.

Dia membantah, rumah-rumah yang dibangun di atas tanah rel KA sudah seizin PJKA dengan cara menyewa.

”Kami tidak pernah menyewakan tanah di atas rel KA. Kalau ada yang bilang sudah membayar sewa pasti ke oknum, bukan kepada lembaga,”tegasnya.

Tunjung membenarkan, rencana menghidupkan lagi jalur KA Magelang-Yogyakarta atas permintaan Presiden SBY. ”Beliau ingin ada KA untuk melayani Taruna Akmil seperti dulu lagi. Apalagi sekarang ada SMA Taruna Nusantara. Namun, yang paling utama

untuk melayani masyarakat,íí ungkapnya sambil menambahkan, transportasi KA selain murah dan efisien, juga tidak merusak lingkungan.

Seperti diberitakan (28/9), Presiden SBY meminta Menteri Perhubungan Ir Jusman Safii Djamal untuk menghidupkan lagi jalur KA Magelang-Yogjakarta. Namun, muncul beberapa kendala, seperti Stasiun Muntilan sudah berubah menjadi terminal bus.

Jalur KA Magelang-Yogyakarta ditutup sejak 1977-1978. Dulu, jalur KA itu melayani taruna Akmil ketika berlibur dan masyarakat umum. (P60-50)
30 September 2009
Revitalisasi Jalur KA Magelang-Yogyakarta (1)

Potensi Wisata atau Picu Konflik Warga Tergusur

Apakah mungkin jalur kereta api Magelang-Yogyakarta dihidupkan lagi? Itulah pertanyaan sederhana dan mendasar yang berkembang di masyarakat setelah wacana revitalisasi jalur KA dilontarkan Menteri Perhubungan Ir Jusman Syafei Djamal. Berikut laporan wartawan Suara Merdeka Sholahuddin al-Ahmed seputar wacana tersebut.

WACANA mengembalikan kejayaan moda transportasi kereta api dari Magelang di Provinsi Jateng hingga Yogyakarta bagian dari DIY mungkin bukan hal yang baru lagi. Pada 2006, wacana itu digulirkan oleh pemerintah pusat yang akan menghidupkan lagi sekitar 2.000 jalur KA di Jawa dan Sumatra.

Salah satu yang mendapatkan di sorot serius adalah jalur Bantul-Yogyakarta dan Yogyakarta-Magelang. Kini wacana itu digulirkan lagi, seiring dengan sudah terealisasinya jalur KA yang dahulu mati sudah dioperasikan lagi pada tahun ini, antara lain Sukabumi-Bogor dan Sukabumi-Bandung.

Sejak awal digulirkannya wacana itu Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menyambut positif bahkan siap menganggarkan dana pendampingan melalui APBD dan siap menghimpun investor.

Wacana menghidupkan kembali jalur KA itu akhirnya hilang ditelan angin seiring makin berkembangnya moda transportasi darat bus dan kendaraan bermotor.
Tidak Mudah Tahun ini muncul lagi wacana yang sama terlontar dari Menteri Perhubungan. Kembali ke pertanyaan awal apakah mungkin itu bisa terwujud?

Memang tak mudah menghidupkan kembali jalur KA yang telah lama mati. Jalur Yogyakarta-Magelang ditutup karena banjir lahar Merapi pada Maret 1974, saat itu jembatan Krasak dihantam lahar dingin.

Adapun jalur Palbapang Bantul-Yogyakarta, serta Ambarawa-Semarang ditutup April 1973. Jalur-jalur ini dahulu tak dibuka lagi karena alasan ekonomis serta seiring dengan berkembangkan moda transportasi darat yang lebih efisien.

Jika saja itu terwujud, jalur lama KA dihidupkan kembali ratusan kepala keluarga yang menempati tanah PT. Kereta Api Indonesia (Persero) tergusur. Ini akan menimbulkan persoalan, karena di tanah yang sebagian besar pinggir jalan itu menjadi penopang ekonomi masyarakat. Misalnya saja, sudah tertata apik pertokoan dan warung-warung.

Wacana ini juga langsung mendapatkan sambutan pro dan kontra di tengah masyarakat. Ada sebagian masyarakat yang sepakat dihidupkan lagi jalur KA karena akan meningkatkan daya tarik wisatawan.

”Ini seperti mengingatkan masa lalu, dahulu naik kereta api dari Magelang ke Yogyakarta. Kami rindu akan suasana seperti itu hadir kembali,” kata Narto (48) warga Tidar.

Berbeda yang diungkapkan oleh Sudarmo (30), yang tak rela usaha tambal bannya tergusur karena dihidupkannya lagi jalur KA. (50)
Jalur KA Magelang-Yogya Diharap Memakai Jalur Baru

Jumat, 2 Oktober 2009 | 17:08 WIB
Laporan wartawan KOMPAS Regina Rukmorini

MAGELANG, KOMPAS.com - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Magelang mendukung agar revitalisasi jalur kereta api (KA) Magelang-Yogyakarta dapat segera diwujudkan. Namun, dalam pelaksanaannya, khusus untuk wilayah dari Muntilan ke utara, diharapkan pemerintah pusat membangun jalur KA baru dan tidak lagi memanfaatkan jalur lama.

"Khusus untuk wilayah Muntilan ke arah Kota Magelang, jalur KA lama memang tidak lagi dapat difungsikan karena di sepanjang jalur tersebut sudah padat dengan rumah-rumah penduduk, toko, dan warung makan," ujar Bupati Magelang Singgih Sanyoto, saat ditemui di sela-sela pelantikan sekretaris daerah di Pendopo Kabupaten Magelang, Jumat (2/10).

Singgih mengatakan, jalur KA baru tersebut nantinya diharapkan juga tidak menganggu kepadatan bangunan yang sudah ada. "Kalau bisa, jalur KA tersebut dibangun dengan model monorel di atas kepadatan bangunan dan rumah-rumah yang sudah ada sekarang," ujarnya.

Seperti sempat diberitakan sebelumnya, Departemen Perhubungan berencana untuk melaksanakan revitalisasu jalur-jalur KA lama yang sudah tidak difungsikan lagi. Jalur yang dipertimbangkan untuk direvitalisasi adalah jalur Ambarawa-Yogyakarta, dan Magelang-Yogyakarta. Saat ini, pihak Departemen Perhubungan tengah mengkaji mana diantara dua jalur tersebut yang paling layak dan menguntungkan untuk dibangun.

Singgih mengatakan, dihidupkannya kembali jalur KA akan memberikan variasi, alternatif sarana transportasi baru bagi masyarakat untuk menempuh perjalanan Magelang-Yogyakarta. Hal ini pun sangat diperlukan mengingat, Yogyakarta diungkinkan berkembang menjadi kota metropolitan dan Magelang berkembang menjadi daerah hinterland atau daerah pendukungnya.

"Jika Yogyakarta menjadi metropolitan dan Magelang menjadi pendukungnya, maka aktivitas masyarakat untuk bepergian Magelang-Yogyakarta, dipastikan juga akan semakin meningkat," ujarnya.

Selain revitalisasi jalur KA, di Kabupaten Magelang juga akan dilaksanakan proyek pelebaran jalan Keprekan-Palbapa ng. Jika sudah dilaksanakan, Singgih optimis, dua proyek ini akan saling mendukung pengembangan transportasi di Kabupaten Magelang.

sumber
Nambah lagi: Bye Bye
02 Oktober 2009
Revitalisasi Jalur KA Magelang-Yogyakarta (3-Habis)
Becermin dari Keberhasilan Prameks
SEBELUM dioperasikannya KA Prambanan Ekspres (Prameks) banyak kalangan yang pesimistis.

Tapi di luar dugaan setelah sebulan berjalan, jalur Kutoarjo-Yogyakarta-Solo okupansinya mencapai 70%. Bahkan untuk akhir pekan mencapai 100%.

Okupansi Prameks dikatakan 100% jika dihitung dari posisi semua tempat duduk (270 kursi) terisi. Dengan perhitungan itu, Prameks reguler Senin-Kamis sudah mencapai okupansi lebih 100% dengan total penumpang 6.000-8.000/hari.

Dari data itu setidaknya menunjukkan masih tingginya minat masyarakat menggunakan moda transportasi KA yang relatif murah dan aman.

Bahkan Prameks wisata atau biasa disebut kereta luar biasa (KLB) yang melayani penumpang akhirnya pekan juga diminati masyarakat.

Nah, kalau begitu tak ada salahnya berpikir positif atas wacana dibukanya jalur KA Magelang-Yogyakarta. Apalagi banyak kalangan yang optimistis akan meramaikan arus wisatawan dari Yogyakarta ke Magelang.

Dirjen Perhubungan Darat menganalisis, dalam revitalisasi jalur itu nantinya dimungkinkan pihak swasta bisa dirangkul asalkan biayanya murah dan menguntungkan. Misalnya saja, BUMD dapat juga membangun dan mengoperasikannya.

Contohnya jalur KA Banjar-Cijulang di Jabar sepanjang 83 km potensial dilirik swasta jika pemda setempat sudah melaksanakan studi kelayakan.

Ruas tersebut diproyeksikan menguntungkan karena merupakan akses wisata ke Pantai Pangandaran.
Biaya Dapat Ditekan Untuk percepatan program KA Magelang-Yogyakarta, juga ditawarkan model light train atau kereta berbobot ringan atau railbus agar investasi dan biaya perawatannya lebih ringan. Sebab, jika masih menggunakan model heavy train seperti sekarang, dapat dipastikan sulit untuk mendorong partisipasi swasta.

Selain itu kebutuhan konstruksi dan perawatan light train bisa lebih rendah 50% dibanding heavy train. Light train mempunyai tekanan gandar (jarak ruang roda) yang ringan sehingga biaya untuk membangun prasarana dan penyediaan sarana jadi dapat ditekan.

Berdasarkan pengamatan Dirjen Perhubungan Darat Dephub, selain menunjang potensi daerah, revitalisasi jalur KA yang mati diharapkan dapat meningkatkan peran KA sebagai sarana transportasi massal.

Berdasarkan catatan Dephub, hingga kini pangsa pasar KA untuk angkutan barang baru 0,7% dan penumpang 7,3% dari total 6.482 km jaringan KA di Jawa, Madura, dan Sumatera dengan 2.122 km di antaranya tidak beroperasi.

Di Jawa dan Madura, rel KA yang tidak beroperasi sepanjang 1.060 km meliputi Jabar 410 km, Jateng-DIY 585 km, dan Jatim serta Madura 615 km.

Jika memang benar hal itu terwujud maka akan mengulang kejayaan jalur Magelang-Yogyakarta yang dahulu juga digunakan SBY pelesir ke Kota Pelajar saat menjadi taruna Akmil di Kota Magelang. Keterlibatan pemda setempat juga turut mendorong percepatan program tersebut.

“Pemda setempat sudah selayaknya terlibat aktif dalam kajian dan perencanaanya. Karena hal itu juga demi kesejahteraan masyarakat setempat yang turut menikmati dampak sosial, ekonomi, dan pariwisata,” tandas Koordinator Kota Toea, Bagus Priyana, kemarin. (Sholahuddin al-Ahmed-70)
Saturday, 03 October 2009
Jika jalur KA difungsikan
Magelang akan jadi ’hinterland’ Yogya

SAWITAN - Bupati Magelang Ir H Singgih Sanyoto menilai, rencana menghidupkan kembali jalur kereta api (KA) Magelang-Yogyakarta sebagai wacana yang bagus dan perlu didukung. Bila hal itu terwujud berarti sarana transporasi masa depan di jalur itu menjadi semakin variatif. “Ke depan, sangat memungkinkan, Yogyakarta akan menjadi Kota Metropolitan. Dalam perkembangannya nanti, Magelang akan menjadi hinterland (wilayah penopang),” katanya, kemarin.
Dia mengakui, untuk merealisasikan rencana itu bukan pekerjaan mudah. Terutama pada jalur rel KA Magelang-Muntilan yang sekarang ini telah di-penuhi berbagai bangunan rumah hunian dan pertokoan. Kemudian lahan bekas stasiun KA di Muntilan telah berubah menjadi terminal bus.

Karena itu, menurut dia, perlu membangun jalur baru di sepanjang Mage-lang-Muntilan tanpa harus memanfaat-kan terminal bus Muntilan. “Tetapi jalur KA Muntilan-Yogyakarta yang lama masih dapat dimanfaatkan,” ujar-nya.
Mendukung
Terkait dengan rencana pelebaran jalan Keprekan-Magelang yang saat ini memasuki tahap lelang, kata Singgih, nantinya akan menjadi jalur transpor-tasi darat yang saling mendukung. Ma-syarakat bisa memilih untuk menfaatkan jasa angkutan KA atau bus dan sejenisnya.

“Dua jalur transportasi itu harus saling mendukung dan bersinergi. Ka-rena sebagian tanah jalur KA lama telah terkena proyek pelebaran jalan, sehingga PT. Kereta Api Indonesia (Persero) (Kereta Api Indonesia) harus membuat jalur monorel (tunggal) antara Magelang-Muntilan,” kata bupati.

Menyinggung manfaat dari rencana menghidupkan kembali jalur KA yang ditutup sejak 1977. menurut dia, antara lain dapat mengatasi kepadatan arus lalu lintas (lalin) di jalur Magelang-Yogyakarta yang dari tahun ke tahun cenderung meningkat.

Arus lalu lintas Magelang-Magelang sekitar 25 tahun ke depan, lanjut bupati, mungkin akan seperti di Jakarta saat ini, sering macet. “Asal PT. Kereta Api Indonesia (Persero) bisa memberikan layanan yang bagus, tentu tetap bisa menarik minat masyarakat,” tukasnya. TB-skh
02 Oktober 2009 | 12:58 wib | Daerah
KA Magelang-Yogyakarta Sangat Mungkin Terealisasi
Magelang, CyberNews, Wacana untuk menghidupkan lagi jalur KA Magelang-Yogyakarta dipandang sebagai rencana yang masuk akal dan mungkin terealisasi. Hal itu diungkapkan Koordinator Kota Toea Magelang, Bagus Priyana.

Dia mencontohkan, jembatan Suramadu awalnya adalah proyek yang tak mungkin dan memakan dana besar juga waktu yang lama. Akhirnya bangunan itu bisa terwujud, padahal banyak kalangan yang menganggap hal mustahil. "Setidaknya pemerintah secepatnya mengkaji kelayakan moda transportasi darat kereta api. Karena semakin ke depan tuntutan pelayanan dan kebutuhan transportasi meningkat, khususnya angkutan massal yang murah," katanya.

Menurutnya, jika revitalisasi jalur lama sudah tak memungkingkan bisa saja membuat jalur baru. Dia juga menyadari aset PT. Kereta Api Indonesia (Persero) yang sekarang ini sudah berubah menjadi pemukiman dan pertokoan. Lahan di Kabupaten Magelang masih luas, lanjut dia, ini bisa dikembangkan untuk menjadi jalur dan stasiun KA. Jika di Kota Magelang kemungkinan menggunakan monorel atau hanya sampai dipinggiran kota saja.

Organisasi pecinta bangunan tua peninggalan Belanda yang dipimpinnya menyambut positif keinginan pemerintah untuk merevitalisasi jalur KA yang ditutup 1974 akibat banjir lahar dingin Gunung Merapi. Karena hematnya, itu akan mendorong potensi wisata di Magelang dan sekitarnya.

"Kereta tak hanya moda trasportasi darat tapi juga potensi wisata. Kereta uap dari Ambarawa-Bedono banyak digemari, ini nanti juga akan menjadi jalur wisata Yogyakarta-Magelang," katanya.

Menurutnya, pecinta bangunan tua dan bekas situs kereta api zaman Belanda semakin banyak dan tersebar di berbagai belahan dunia. Dia optimistis bisa diminati para wisatawan domestik dan mancanegara.

Dia berharap kajian yang dilakukan waktu dekat ini akan bisa mengungkapkan potensi yang terpendam. Kenangan masa lalu akan hadir lagi bersama dengan dibukanya kembali jalur kereta Magelang-Yogyakarta.
( Sholahuddin Al-Ahmed / CN13 )
(04-10-2009, 05:48 PM)Narendro Anindito Wrote: [ -> ]Terkait dengan rencana pelebaran jalan Keprekan-Magelang yang saat ini memasuki tahap lelang, kata Singgih, nantinya akan menjadi jalur transpor-tasi darat yang saling mendukung. Ma-syarakat bisa memilih untuk menfaatkan jasa angkutan KA atau bus dan sejenisnya.

“Dua jalur transportasi itu harus saling mendukung dan bersinergi. Ka-rena sebagian tanah jalur KA lama telah terkena proyek pelebaran jalan, sehingga PT. Kereta Api (Persero) (Kereta Api Indonesia) harus membuat jalur monorel (tunggal) antara Magelang-Muntilan,” kata bupati.

ini baru adil. soanya dibeberapa daerah yang lain, yang terjadi adalah ketidakadilan, dimana jalan raya di anak emaskan. sementara rel ka justru malah dikorbankan untuk ditutup.

tapi kok monorel ya?
YA karena pelebaran jalan itu bro yang membuat rel haru tunggal,kalo anda liat sekarang antara lintas Muntilan dan Magelang yang jalannya sudah lebar banget.
barangkali ini salah persepsi saja tentang monorel dan jalur tunggal. terus terang kalo monorel yang seperti di kl itu saya kurang setuju. karena pasti muahal. dan tidak tersambung dengan moda ka konvensional.

tapi kalo monorel nya seperti aeromovel nya tmii, saja masih setuju. karena gaugenya masih sama dengan lebar gauge di indonesia (1067 mm). untuk rangkaian ka nya bisa digunakan railbus buatan pt. inka.
(05-10-2009, 05:48 AM)ady_mcady Wrote: [ -> ]tapi kok monorel ya?

mungkin maksudnya monorel itu single track.....(cmiiw)
Pages: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18