Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Jadual KRL Jabodetabek 2 Juli 2011
#51
@ Mas Masukangin: ternyata emang bener mas perkiraan sampean.... pengguna KRL telah menumpahkan kekesalannya dengan melakukan tindakan vandalisme pas uji coba KRL Single Operation ini sabtu marenBethe

Quote:Jakarta - KRL mania menyesalkan kejadian pengrusakan KRL Commuter Line oleh calon penumpang KRL ekonomi yang marah lantaran lama menunggu kereta yang hendak mereka tumpangi tak kunjung datang. Namun kejadian seperti ini sebenarnya telah diprediksikan sebelumnya.

"KRL Mania menyesalkan kejadian ini, tetapi juga sudah memprediksi bahwa pola operasi baru yang hari ini diujicobakan oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI) dan anak perusahaannya PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Commuter Jabodetabek (KCJ), berisiko menuai protes dari penumpang KRL Ekonomi yang jadwal perjalanannya dikurangi," kata moderator milis KRL Mania Nurcahyo dalam rilis yang diterima detikcom, Sabtu (18/6/2011).

Nurcahyo menengarai ada tiga alasan kenapa calon penumpang KRL Ekonomi melakukan protes dengan cara yang anarkis tersebut. Pertama, menurutnya pelayanan buruk yang tak kunjung diperbaiki oleh PT. Kereta Api Indonesia (Persero). Selama ini pelayanan dari KAI/KCJ tidak memuaskan. Berbagai masalah dari puluhan tahun lalu terus berlangsung, seperti keterlambatan, pembatalan kereta, mogok di tengah jalan, pengumuman yang tidak jelas, fasilitas stasiun yang amburadul, dan sebagainya.

"Kedua, tarif tidak adil. Mulai tanggal 2 Juli 2011, tarif KRL AC Ekonomi akan naik sekitar 70 persen, tetap dengan flat rate/jauh-dekat bayar. Sungguh tidak adil kenaikan tarif ini, karena penumpang KRL AC Ekonomi yang sudah berkontribusi untuk mengurangi kemacetan Jabodetabek, justru dipinalti," paparnya.

Sementara alasan ketiga, menurutnya, pola operasi baru meminggirkan KRL Ekonomi. Berdasarkan jadwal KCJ, perjalanan KRL Ekonomi dikurangi, meski meski tarifnya tetap, yakni Rp 2.000.

"Pada jam sibuk 05.00-08.00, saat ini jumlah perjalanan lintas Bogor/Depok-Tanah Abang/Kota, ada 32 perjalanan (Ekonomi Panas 13 tarif Rp 2.000, Ekonomi AC 4 bertarif Rp 5.500, Ekspres 15 tarif
Rp 11.000)."

Sementara jadwal baru per 2 Juli 2011, total perjalanan ada 29 (ekonomi 9 perjalanan tarif tetap, Commuter Line 20, tarif Rp 9.000).

"Saat ini saja KRL Ekonomi sudah sedemikian padat, sehingga banyak yang naik ke atap. Jika ada gangguan satu gangguan dan perjalanan batal, terjadi kekacauan luar biasa. Apalagi jika berkurang 4 perjalanan," keluh Nurcahyo.

KRL Mania pun mengimbau agar KAI/KCJ dapat menghentikan rencana pola operasi baru dengan tarif naik dan jadwal yang berkurang ini.

"Kami mengimbau agar Kementerian Perhubungan, diawasi oleh UKP4 dapat menghentikan rencana pola operasi KAI/KCJ yang merugikan rakyat kecil ini." katanya.


(anw/adi)
sumber


sangat disayangkan tindakan anarkis dalam mengungkapkan sebuah pendapat publik, padahal akan lebih elegan, lebih bijak dan lebih bisa tepat sasaran apabila sebuah ketidaksetujuan publik atas perilaku salah satu penyelenggara negara yang mengabaikan hak-hak publik, bisa lewat somasi, aksi damai, bahkan bisa lewat gugatan dan class action melalui beberapa jalur.....

bagaimanapun juga tindakan-tindakan vandalisme dengan pengrusakan fasilitas umum dan juga aset2 negara dan masyarakat sangat tidak dibenarkan dengan alasan apa pun, dan harus ditindak tegas... namun di sisi lain, pihak-pihak yang memancing kerusuhan juga harus dikenakan sanksi yang tegas pula.....

hmmm... saya jadi tergelitik nih, apakah yang menjadi penyebab KCJ ngotot memaksakan pola ini????selain jelas2 karena keuntungan yang berlipat dari sistem ini... cuman apakah yang melatar-belakanginya????

apakah karena subsidi dari Pemerintah ngga turun ato jumlahnya kurang??? hmmm.... saya koq jadi tergelitik untuk bertanya, terkait subsidi yang tertunda, apakah laporan penggunaan subsidi yang diberikan juga beres dan tepat sasaran???? dan kemudian, apakah ada perbaikan kinerja yang dapat diukur dengan subsidi yang ada???? kalo tetep ga ada perbaikan dan realitas di lapangan berkata lain.... apakah iya, yang ngasih subsidi mau nambah subsidinya......

kemudian KRL rugi???? koq sebuah pernyataan yang naif ya kalo operator KRL itu bisa rugi... sebuah perusahaan berbentuk PT (yang tentunya isinya adalah orang2 profesional yg terbaik di bidangnya), mendapat hak istimewa dari negara berupa subsidi dan fasilitas istimewa berupa monopoli.... trus dengan fasilitas seadanya, dan jumlah penumpang yang begitu besar... apalagi penumpang express yang tidak pernah saya temui okupansinya 100% (sesuai TD) yang ada jelas2 overload.... selain itu dengan biaya listrik untuk operasional KRL yg ternyata sangat murah (thx to ady_mcady untuk pencerahannya), saya jadi bingung dengan yang disebut-sebut rugi itu...

kebingungan saya, rugi versi KCJ itu apakah kerugian itu adalah karena biaya faktor produksi lebih besar dari income hasil produksi, atu rugi itu karena ada potensi keuntungan yang ngga tercapai.... nah... atau apakah kerugian tersebut emang disebabkan oleh amburadulnya manajerial KRL dan perkeretaapian???? kalo seperti itu, kenapa konsumen yang harus menanggung ketidak-beresan manajerial KRL?????

satu lagi untuk mas Masukangin, mohon jangan menjudge dengan kata korupsi lah mas.... itu belum terbukti dengan putusan yang mempunyai kekuatan hukum tetap... mungkin lebih tepat juka kita mengatakan semrawut ajah..... cuman kesemrawutan BUMN tersebut, mengingat statusnya adalah sebuah PT, Persero lagi.... apakah masih bisa dimasuki oleh pemeriksa keuangan negara, saya tidak tahu... apakah BPK ato bahkan BPKP bisa masuk???? karena di situ terdapat penggunaan salah satu mata anggaran dalam APBN, yakni subsidi... apakah subsidi tersebut sesuai dengan DIPA nya, apakah capaian subsidi nya bisa diukur sesuai target yang terdapat dalam TOR saat pengajuannya, sehingga bisa dievaluasi untuk menambahkan besaran subsidi pada APBN tahun berikutnya, dan apakah laporan penggunaan APBN dalam subsidi tersebut tertib dan transparan?????? Wallahu A'lam.....
"Penipuan Publik atau kebohongan Publik adalah seseorang yang dengan sadar berkata - menyampaikan - melakukan kebohongan dan ungkapan tersebut, tersebar luas dan bisa dipahami sebagai kebenaran atau dipercayai kebenarannya"
~just quote~
#52
halllo oom momod.... isi tritnya sudah banyak salah weselnya... tolong kembalikan ke trit awalnya nih.makasih
RF fahrizal, telah menjadi warga Semboyan35, Indonesian Railfans sejak Jan 2011.
#53
Idealnya :
- 50% ekonomi, 50% non ekonomi;
- pemberangkatan selang-seling;
- tarif non ekonomi Rp.6.000,- = bis kota patas ac di Jakarta.
#54
Haloo, KCJ itu perusahaan masih bayi, jadi siapapun Anda, namanya kalo masih jadi bayi ya wajarlah jalan masih tertatih2. Tapi mana ada sih owner yg pengen perusahaannya bangkrut, samapun seperti para karyawannya. Mereka ingin bayi ini trus tumbuh, ya salah satunya menambah 'asupan' yang banyak.

Message KCJ sudah jelas, pemerintah sebagai ibu, memang tidak mau terlalu pusing tarif. Pemerintah ingin tarif KRL terjangkau, tapi tidak ada kebijakan langsung untuk membuat hal itu terpenuhi. Si ibu pengen anak besar, tapi bilang ke anaknya...cari susunya sendiri aja ya.

Penumpang KRL ekonomi pun sudah lama terjebak dalam comfort zone 'harga'. Saya gak bilang pelayanan KRL yg sekarang itu 'comfort' ya. Maksudnya, dengan tarif yg super duper hemat, angkutan KRL sudah kelewat melawan logika pasar.

Tarif KRL akan murah, kalau memang yg naik KRL sedikit tapi supply jadwalnya buanyak. Tapi yg terjadi kan malah sebaliknya....tarif KRL ekomoni sudah sedemikian murah, supply relatif sangat sedikit, yg mo naik BUANYAAK. Akibatnya ya pemandangan anarkis, penertiban ricuh, kambing di atap, itu hal yg sehari2 ditemui. Ya karena semua orang berebut kue kecil tersebut.

@masukangin: menurut saya anda memang sedang masuk angin, bahkan kelewat masuk angin. Frustasi sih wajar2 saja, tapi janganlah menghasut, memprovokasi, dan memfitnah tanpa bukti2 yg bisa dipertanggungjawabkan. Saya setuju tuh, anda tidak mau disalahkan kalau merusak sarana2 KA. Kalau menurut saya, memang tidak usah disalahkan, tapi dipidanakan (dipenjarakan) saja sekalian.... hehehehe
The only thing necessary for the triumph of evil is for good man to do nothing.
(Edmund Burke 1729-1797)
#55
Wah diskusi jadual menjadi makin seru nih.
Tetap semangat, kepala dan jari tetap dingin.

silahkan dilanjut

#56
cuma mau ngasih informasi..

tanggal 18 kemaren uji coba single operation tarif 9000 perak..
sore2 ke DP liat KRL Toei 6000 yang biasa jadi pakuan dinaiki atapers..

sepertinya mulai 2 juli makin banyak aja atapers di BOO-JAKK, ga peduli sebagus apapun keretanya...
[Image: 9544964954_75d165f289_z.jpg]
#57
TARIF TIKET PERLU DIKAJI
Pola Perjalanan KRL Sudah Benar

Jakarta, Kompas-Perubahan pola perjalanan Kereta Rel Listrik Jabodetabek sudah berada pada jalur yang benar. Hanya, pemangku kebijakan perlu mengkaji ulang tentang penetapan satu tarif untuk setiap rute KRL. Pasalnya, satu tarif ini dianggap masih merugikan penumpang.

Pengamat Perkeretaapian, Taufik Hidayat, Minggu (19/6), mengatakan, perubahan pola opersional KRL ini perlu dilakukan agar setiap kereta berjalan berurutan dan tidak ada saling susul. Kelas kereta disederhanakan dari tiga kelas menjadi dua kelas. Hal ini merupakan prinsip kereta komuter yang mengarah pada kereta dengan satu kelas.

"Kereta komuter sebenarnya dibuat satu kelas. Namun, untuk kondisi di Jakarta, belum bisa diterapkan satu kelas karena ada sebagian penumpang yang masih membutuhkan subsidi tarif," tutur Taufik.

Kereta tanpa penyusulan membuat penumpang leluasa memilih kereta yang diinginkan karena jadwal kedatangan kereta semakin banyak.

Pola perjalanan baru diujicobakan pada 18 Juni membuat setiap KRL berhenti disemua stasiun yang dilewati. Dengan pola ini tidak ada KRL ekspres yang hanya berhenti di stasiun tertentu.

Selain itu, kereta juga dibagi menjadi dua saja, yakni KRL ekonomi dan KRL commuter line. KRL ekonomi masih mendapatkan subsidi dari pemerintah sehingga tarifnya bisa ditekan menjadi Rp 1.500-Rp 2.000.

Sementara itu, KRL commuterline merupakan kereta komersial yang tidak ada subsidi. Besar tarif Rp 8.000-Rp9.000. Tarif commuterline ditetapkan tidak berdasakan jarak tempuh penumpang.

Pola perjalanan baru ini akan berlaku mulai 2 Juli. Salah satu penyebab perubahan pola perjalanan ini karena KRL ekonomi AC sudah tidak ada lagi mendapatkan subsidi lewat public service obligation (PSO). Akibatnya, KRL ekonomi AC dan KRL ekspres dilebur menjadi commuterline.

Kaji Tarif

Persoalan tarif yang bakal diberlakukan, Taufik melihat perlu pengkajian ulang. Tarif kereta komuter seharusnya diberlakukan berdasarkan jarak yang ditempuh setiap penumpang.

"Kalau setiap penumpang dikenai tarif yang sama, juga tidak adil. Masak penumpang jarak dekat disamakan dengan penumpang jarak jauh," ucap Taufik.


Tarif Rp 8.000 dan Rp 9.000 untuk KRL commuterline juga perlu dikaji ulang untuk menyesuaikan tarif dengan kemampuan penumpang. Bisa saja nantinya tarif kereta ekonomi dinaikkan sedikit agar tarif commuterline bisa turun. "Persoalan perubahan pola perjalanan dan tiket KRL ini juga membutuhkan komitmen pemerintah untuk memberikan PSO bagi penumpang kereta, terutama penumpang KRL ekonomi," kata Taufik.

Koordinator Komunitas KRL-mania Nurcahyo mengatakan sebagian penumpang yang mengalami uji coba pola perjalanan baru sempat mengeluhkan harga tiket. Sebagian penumpang menilai, commuter line merupakan KRL ekonomi AC yang dinaikkan harga tiketnya. "Ada penumpang batal membeli commuterline dan memilih KRL ekonomi," kata Nucahyo.

Saat ini KRL masih menjadi tulang punggung transportasi komuter sebagian warga Jabodetabek.(ART)
#58
[Image: spammingsj0.gif]
#59
@ mas masukangin
Mas, saya memahami apa yang dialami rekan2 pengguna KRL, terutama pengguna eko panas. Tapi ya itu mas, tetap ndak bisa dijadikan dasar untuk melakukan aksi vandalisme n aksi anarkis.
Mas, rekan2 krlmania sedang 'berjuang' terkait masalah tarif dan jadwal ini. Jangan sampai usaha ini sia2 karena ada aksi2 seperti ini. Kalau 2 Juli nanti kebijakan berlaku, yang terkena bukan cuma pengguna eko panas saja. Tapi juga eko ac/komuter.
Coba bayangin, jumlah penumpang tetap seperti saat ini. Tapi nanti 2 Juli banyak jadwal yang 'disunat'. Kebayang ndak bakal seperti apa ? Daaaan ... kebayang lagi ndak kalau sudah dengan jadwal yang disunat itu, kereta ndak ada karena kerusakan rangkaian akibat dilempari ... ?
Siapa yang sengsara ... semuaaaa ... !!!
Bagi sebagian orang mungkin mudah, ndak ada kereta tinggal cari alternatif lain. Tapi kalau yang ndak bisa milih alternatif lain karena satu dan lain hal seperti misalnya karena masalah dana ?

@ mas peseg5
Kalau comfort zone ndak juga sih mas. Coba survey para pengguna krl ... banyak lho yang bilang daripada pola seperti 2 juli, mending pola lama tapi tarif naik ... terutama pengguna selain eko panas. Saya ndak menyasar ke eko panas ya, soalnya mereka dapat PSO, beda dengan ekspress yang bisa lebih mudah diobok2.
Nah ini sudah dilakukan belum ? belum kan ... Selama ini yang digembor2kan selalu saj perubahan jadwal. Perihal pengurangan jadwal saja ndak diinfokan, pengguna tahu pengurangan jadwal karena membaca, ndak diworo2 sejak awal. Masalah tarif ? ndak ada kok info sama sekali, kalau yang ndak ikut milis or buka internet, ndak ada kok perihal kenaikan tarif disebutkan atau tertempel, mungkin baru sekarang2 saja.

@all
Seperti dipost saya sebelumnya,
Ini KAI/KCJ sama sekali ndak jelas maunya apa. Maunya itu angkut banyak penumpang sesuai target wapres, atau mau naik harga ?, kok malah kebijakannya berbanding terbalik. Katanya mau mendulang penumpang sebanyak2nya, jadwal kereta di peak hour kok dipotong. Katanya mau mengambil penumpang sebanyak2nya, tarif kok naik hampir 100%.
Fair2an aja maunya apa. Jadi pengguna juga mudah mensiasatinya, apakah akan terus setia dengan KRL atau kembali memenuhi jalan2 ibukota.

Seperti kemarin uji coba dihari libur, apa yang mau dilihat disitu ? kesiapan sarana ? apa iya bisa dilihat tanpa kondisi real dengan jumlah penumpang pada peak hour. Apa iya bisa dilihat ketahanan dari KA2 eks jepang kalau kondisi uji coba kosong, dibanding kemungkinan setelah 2 juli kondisinya akan penuh sesak sampai ke atap ... ?

Ini yang sebenernya dipertanyakan oleh penumpang dari dahulu. Tapi karena pertanyaan2 ndak juga diberi 'jawaban', ya jadinya setiap yang keluar dari mulut KAI/KCJ pengguna sudah antipati dahulu ...


#60
kalo dilihat dari ujicoba kemarin, menurut saya pihak operator sendiri terkesan belum siap menjalankan kebijakannya sendiri.....contohnya gampang aja, masalah ketepatan waktu belom bisa tercapai, tggl 18 ane dri JAKK mw ke BKS naek KRL CL, saya tanya ternyata 2-2nya masih jauh, baik yg via GMR maupun via PSE, dan keterlambatan mencapai 30 menit!!! belum lagi untuk lintas BOO, yang ternyata orang2 memilih berdesakan naek eko panas yg telat dibanding AC CL yg tersedia dan kosong melompong.....tidak sampai disini aja, ketika saya mau pulang saya menanyakan ke loket BKS, apakah masih ada KA ke MRI (posisi waktu itu jam 19.45) kata loket ada jam 19.55 ke MRI-THB, dan ternyata setelah menunggu sampai pukul 20.15 tidak ada KRL AC yg diberangkatkan menuju MRI, Bahkan seluruh KRL dilangsir masuk Dipo, akhirnya saya tergerak untuk menanyakan perihal ini ke PKD, dan ia pun tak bisa memberi jawaban yg jelas dan menyuruh saya ke PAP....jam 20.35 stelah saya k PAP dan menanyakan perihal jadwal ini saya pun kaget karena jawaban yg mereka berikan "Oh, masih ada jadwal yah mas buat ke JAK? maap mas saya LUPA!!!" dan daya pun amat sangat kaget dibuatnya...apa pantas jawaban "LUPA" dilontarkan oleh PAP itu?? (terlepas dari sisi kemanusiawian) saya hanya berfikir dengan nasib para penumpang lain yang telah membayar mahal tiket KRL CL itu,,,,,dan akhirnya saya pun beralih moda karena masalah waktu....bagaimana tanggapan agan2 sekalian??? ini pengalaman saya pribadi di hari ujicoba KRL CL kemarin....mohon maaf kalo ga berkenan....
RF aatea_goparmania, telah menjadi warga Semboyan35, Indonesian Railfans sejak Oct 2010.


Forum Jump:


Users browsing this thread: 2 Guest(s)