(08-01-2011, 02:44 PM)CC 203 Wrote:Pada hari-hari biasa, harga tiket sudah termasuk tempat duduk bernomor. Masalahnya tiket tanpa tempat duduk dijual tanpa batas. Bagaimana dengan penambahan frekwensi perjalanan? Misalnya ada KA Progo Malam ada KA Progo Pagi.(08-01-2011, 10:51 AM)pardjono Wrote: Sesuai dengan judul thread ini, Solusi Pelayanan Kereta Api Ekonomi, saya punya pemikiran begini :
Pengguna jasa sedapat mungkin harus siap mental dan tahan banting atas kondisi yang ada karena PT. Kereta Api (Persero) punya posisi tawar yang kuat dalam menentukan kebijakan dan pelaksanaannya.
Dengan segala konsekwensinya, kalau memungkinkan, PT. Kereta Api (Persero) dapat mengubah tempat duduk K3 murni (khususnya jarak jauh) dari 2-3 menjadi 2-2 dan menambah frekwensi perjalanannya serta menegakkan disiplin baik kepada SDMnya maupun penggunanya.
Monggo.
Semua pengguna K3 rata - rata sudah terbiasa dengan kondisi susah, jadi dapet pelayanan seburuk apapun yang penting bisa sampai tujuan itu sudah bagus menurut masyarakat kelas bawah...
Kalau tempat duduk diubah jadi 2-2 nanti malah banyak yang berdiri, kecuali jika gerbong diperpanjang... Lebih baik konfigurasi tetap hanya saja perlu diberi nomor tempat duduk...

|
08-01-2011, 11:50 PM
1.Menurutku pengemis, pengamen dan orang2 lain yang tidak berkepentingan harus secara tegas
ditertibkan kalo perlu represif..untuk apa kita bayar polisi, TNI pake pajak klo bisanya cuma ngasarin mahasiswa sama buruh???? yang tentunya mengajak instansi terkait...misalnya Polisi Militer untuk menertibkan para kambing yang kepalanya kotak... 2. Khusus untuk pedagang..penangananya sedikit berbeda dari orang2 di atas. Lebih persuasif dan mengedepankan dialog coz bagaimanapun mereka cari uang dengan cara yang lebih baik dan dibutuhkan sebagian besar penumpang KA (Beda dengan pengemis, copet, penodong, preman yang cari rejeki secara HARAM dan pengamen yang mengganggu kenyamanan penumpang) dengan mengedepankan proses dialogis maka akan meminimalisasi konflik antara pedagang dengan PT KA dan disediakan lapak2 khusus di stasiun secara GRATIS (minimal disubsidi oleh Kemenhub dan atau PT KA). Sebagai studi kasus, hal ini pernah diterapkan walikota Surakarta untuk menertibkan PKL tanpa kekerasan dan bertahan sampai sekarang. 3. Menambah rangkaian KA terutama K3 jarak menengah dan jauh. 4. Otomatisasi pintu kereta semua kelas (kya model2 KRDI yang dikasih bunyi peringatan ketika pintu akan menutup) untuk meminimalisasi orang untuk "nggandul" ketika kereta berjalan pelan ketika berangkat ato masuk stasiun disamping penempatan petugas keamanan di tiap kereta.
09-01-2011, 04:21 AM
ada sedikit keuntungan yg didapat ketika pedagang masuk ke dalam k3,
jajanan nya yang murah meriah, semua jajanan komplit loch !!! nah pelayanan makanan RESKA mestinya di adakan dan ga bersifat nyari untung gede2an...
09-01-2011, 06:26 AM
ane dr dulu merasa nyman naik KA kalo ga ada:
pengamen, pengemis, sama tukang sapu bete jd ny kalo KA banyak 3 tipe org itu
09-01-2011, 07:01 AM
(08-01-2011, 03:16 PM)pardjono Wrote:(08-01-2011, 02:44 PM)CC 203 Wrote:Pada hari-hari biasa, harga tiket sudah termasuk tempat duduk bernomor. Masalahnya tiket tanpa tempat duduk dijual tanpa batas. Bagaimana dengan penambahan frekwensi perjalanan? Misalnya ada KA Progo Malam ada KA Progo Pagi.(08-01-2011, 10:51 AM)pardjono Wrote: Sesuai dengan judul thread ini, Solusi Pelayanan Kereta Api Ekonomi, saya punya pemikiran begini : Mungkin perlu ada batasan mengenai tiket tanpa tempat duduk, maksimal 20% dari kapasitas gerbong... Kondektur juga harus tegas terhadap pemilik tiket berdiri yang menyerobot kursi penumpang yang punya tiket duduk, kemarin teman saya naik KA, waktu dia kembali dari toilet, tempat duduknya diambil sama orang... (08-01-2011, 11:50 PM)spoorboedeg Wrote: 1.Menurutku pengemis, pengamen dan orang2 lain yang tidak berkepentingan harus secara tegas Penempatan petugas keamanan juga harus diimbangi dengan pelatihan dan pendisiplinan petugas yang bersangkutan, percuma kalau KA diisi banyak PKD tapi mereka cuma ngumpul plus ngobrol di gerbong belakang...
Purwojaya mahal... Kutojaya tiketnya habis... Yo wes lah Sinar Jaya ae...
09-01-2011, 10:56 PM
(This post was last modified: 09-01-2011, 11:24 PM by nikmuracell.)
Kalo saya mempunyai gambaran begini nih, untuk menangani masuknya asongan di KA Ekonomi dan Kambing2 dan meningkatkan pelayanan di segala aspek, semua stasiun ditambah check pointnya :
misalnya saya asumsikan stasiun ini menghadap utara - selatan (bisa disesuaikan di stasiun masing2) (Skala by feeling aja) 1.Pintu masuk adalah pintu utama untuk masuk para penumpang KA dan tempat membeli tiket (Menghadap Selatan) 2.Adalah peron dimana para "pengantar" penumpang harus membeli karcis masuk stasiun kecuali penumpang dengan menunjukan tiketnya (sama seperti saat sekarang di stasiun2), Setelah memasuki peron ini akan ada ruang tunggu KA, termasuk "penghantar hanya bisa masuk sampai sini", dan kasih dah pedagang asongan jualan disini yg dikelola oleh stasiun ybs 3.Adalah last Check point, para penumpang saja dan karyawan PT KA yg boleh keluar masuk dengan menunjukan tiketnya (bagi penumpang dan di jaga petugas), atau menggesekan kartu pegawai karyawan PT KA, untuk karyawanya supaya pintu bisa dibuka (Pintu ini dibikin modern, system geseklah (tidak otomatis kayak di mall ya) for "staff only",petugas yg dipintu ini berjaga hanya saat penumpang masuk ..., pintu ini dibuat beberapa unit ditiap stasiun di sesuaikan dengan bayaknya penumpang yg biasa naik dari stasiun tersebut 5.Untuk penumpang yg keluar semua lewat utara, jadi berlawanan dimana fungsinya akan menjadi pintu keluar (Exit only): (Saat keluar penumpang akan melewati pintu 3 , dimana petugas akan meminta semua karcis bekas penumpang tersebut).dan menangkap penumpang yg kedapatan tidak memiliki tiket "kambing", pintu ini jumlahnya jg beberapa ya biar cepat pada turunnya 6.Pintu No2 akan menjadi ajang para penjemput penumpang(tetep harus beli karcis peron yg fasilitasnya juga dibikin oke kan bayar..) dan Kantor kecil untuk mencatat data base "kambing" yg ketangkap base on KTP orang tersebut (biasalah sosialisasi kasih dulu warning 1-2 ketiga masih ketangkep baru proses) Data base ini On Line ya diseluruh stasiun pemberangkatan dan penurunan penumpang se-Indonesia 7.Pintu no1. Hanya untuk para penjual jasa seperti taksi yg bekerja sama dengan Stasiun yg tidak sih silahkan diluar aja. Catatan kecil : Kalau harus menunggu silang dengan kereta lain yg harus berhenti di stasiun tersebut, dan stasiun ini tdk mempunyai kepentingan menaikan penumpang (bukan trayeknya) atau kereta ini harus menurunkan penumpang maka pada pintu masuk No3, harus dalam keadaan tertutup juga pintu keluarnya... Ada baiknya juga sih diterapkan pintu otomatis yg bisa di kontrol dmasinis untuk semua Gerbong KA jd kalo bukan trayeknya di tutup aja pintunya. eh iya ini ceritanya no.3 itu pintu akses utama masuk kereta dan disisi lainnya no.3 sebagai pintu utama keluar selain lewat situ tdk ada akses untuk penumpang / asongan naik ke kereta tsb. Supaya saat Masuk dan keluar gak terkesan kumuh "berdesakan" Dengan di buat demikian effeknya lambat laun akan berkurang dan pelayanan di KA ekonomi serta yg lainnya pun akan lebih baik, walo gak semudah membalikan telapak tangan Kira-2 gimana nih berkurang gak asongan sama pengamennya yg masuk ke gerbong penumpang untuk jualan? ...and sorry berat gambarnya jelek.... Tapi kelemahan dari system modern seperti ini adalah ketika semua berjalan dengan baik dan sempurna ada "oknum", yg mau menerima Ampauw dari kambing2 dan menggunakan "Jabatan" maka akan rusak dan sia2 seberapa hebatpun khayalan kita untuk PT KA dan mahalnya biaya yg dikeluarkan untuk mewujudkannya "keep it yr mind"
[spoiler=BRAKE.Emergency use only]
YAHOO! nikimura.cellular
10-01-2011, 04:02 PM
RE: Solusi Pelayanan Kereta Api Ekonomi ?? - CC 203 - Kemarin 07:01 AM
(08-Jan-2011 03:16 PM)pardjono Wrote: (08-Jan-2011 02:44 PM)CC 203 Wrote: (08-Jan-2011 10:51 AM)pardjono Wrote: Sesuai dengan judul thread ini, Solusi Pelayanan Kereta Api Ekonomi, saya punya pemikiran begini : Pengguna jasa sedapat mungkin harus siap mental dan tahan banting atas kondisi yang ada karena PT. Kereta Api (Persero) punya posisi tawar yang kuat dalam menentukan kebijakan dan pelaksanaannya. Dengan segala konsekwensinya, kalau memungkinkan, PT. Kereta Api (Persero) dapat mengubah tempat duduk K3 murni (khususnya jarak jauh) dari 2-3 menjadi 2-2 dan menambah frekwensi perjalanannya serta menegakkan disiplin baik kepada SDMnya maupun penggunanya. Monggo. Semua pengguna K3 rata - rata sudah terbiasa dengan kondisi susah, jadi dapet pelayanan seburuk apapun yang penting bisa sampai tujuan itu sudah bagus menurut masyarakat kelas bawah... Kalau tempat duduk diubah jadi 2-2 nanti malah banyak yang berdiri, kecuali jika gerbong diperpanjang... Lebih baik konfigurasi tetap hanya saja perlu diberi nomor tempat duduk... Pada hari-hari biasa, harga tiket sudah termasuk tempat duduk bernomor. Masalahnya tiket tanpa tempat duduk dijual tanpa batas. Bagaimana dengan penambahan frekwensi perjalanan? Misalnya ada KA Progo Malam ada KA Progo Pagi. Mungkin perlu ada batasan mengenai tiket tanpa tempat duduk, maksimal 20% dari kapasitas gerbong... Kondektur juga harus tegas terhadap pemilik tiket berdiri yang menyerobot kursi penumpang yang punya tiket duduk, kemarin teman saya naik KA, waktu dia kembali dari toilet, tempat duduknya diambil sama orang... (08-Jan-2011 11:50 PM)spoorboedeg Wrote: 1.Menurutku pengemis, pengamen dan orang2 lain yang tidak berkepentingan harus secara tegas ditertibkan kalo perlu represif..untuk apa kita bayar polisi, TNI pake pajak klo bisanya cuma ngasarin mahasiswa sama buruh???? yang tentunya mengajak instansi terkait...misalnya Polisi Militer untuk menertibkan para kambing yang kepalanya kotak... 2. Khusus untuk pedagang..penangananya sedikit berbeda dari orang2 di atas. Lebih persuasif dan mengedepankan dialog coz bagaimanapun mereka cari uang dengan cara yang lebih baik dan dibutuhkan sebagian besar penumpang KA (Beda dengan pengemis, copet, penodong, preman yang cari rejeki secara HARAM dan pengamen yang mengganggu kenyamanan penumpang) dengan mengedepankan proses dialogis maka akan meminimalisasi konflik antara pedagang dengan PT KA dan disediakan lapak2 khusus di stasiun secara GRATIS (minimal disubsidi oleh Kemenhub dan atau PT KA). Sebagai studi kasus, hal ini pernah diterapkan walikota Surakarta untuk menertibkan PKL tanpa kekerasan dan bertahan sampai sekarang. 3. Menambah rangkaian KA terutama K3 jarak menengah dan jauh. 4. Otomatisasi pintu kereta semua kelas (kya model2 KRDI yang dikasih bunyi peringatan ketika pintu akan menutup) untuk meminimalisasi orang untuk "nggandul" ketika kereta berjalan pelan ketika berangkat ato masuk stasiun disamping penempatan petugas keamanan di tiap kereta. Penempatan petugas keamanan juga harus diimbangi dengan pelatihan dan pendisiplinan petugas yang bersangkutan, percuma kalau KA diisi banyak PKD tapi mereka cuma ngumpul plus ngobrol di gerbong belakang... Pengawasan terutama dalam hal ini petugas keamanan harus diperketat.. Maaf, yg berlaku di negri kita masih budaya inlander yg harus selalu diawasi oleh petugas yang diatasnya.. baik secara hierarkis maupun uang pangkatnya sama tetapi punya wewenang untuk menindak.
10-01-2011, 04:32 PM
jangan-jangan, kondisi K3 yang memprihatinkan ini memang sengaja dibuat demikian agar menjadi pembeda dengan kereta komersial (K2 dan K3). dengan demikian, diharapkan penumpang akan malas naik K3 dan beralih ke K2/K1.
KA Sumber Kentjono
10-01-2011, 05:51 PM
(This post was last modified: 10-01-2011, 05:58 PM by nikmuracell.)
(10-01-2011, 04:02 PM)spoorboedeg Wrote: RE: Solusi Pelayanan Kereta Api Ekonomi ?? - CC 203 - Kemarin 07:01 AMIni emang penyakit kronis yg susah diobatinnya makanya gini2 aja KA dan kasihan generasi muda yg memang mempunyai cita2 lpengabdian yg tulus di KA ke ganjel orang2 macam ini ![]() ![]() (10-01-2011, 04:32 PM)eri4nto Wrote: jangan-jangan, kondisi K3 yang memprihatinkan ini memang sengaja dibuat demikian agar menjadi pembeda dengan kereta komersial (K2 dan K3). dengan demikian, diharapkan penumpang akan malas naik K3 dan beralih ke K2/K1.Gak juga sih kalo menurutku, karena k3 adalah tulang punggung dari keberlangsungan kelas2 lain, Coba deh lihat K3 dimana-mana di vosir dgn penumpang yg Overload dari mulai KRD sampai k3 ekonomi jarak jauh, mau mengadalkan K1-K2 aja PT KA salah besar otomatis penumpang KA akan beralih ke bus yg jelas2 harganya dibawah KA dan gak sepanjang jalan ada asongannya
[spoiler=BRAKE.Emergency use only]
YAHOO! nikimura.cellular
10-01-2011, 10:36 PM
(10-01-2011, 04:32 PM)eri4nto Wrote: jangan-jangan, kondisi K3 yang memprihatinkan ini memang sengaja dibuat demikian agar menjadi pembeda dengan kereta komersial (K2 dan K3). dengan demikian, diharapkan penumpang akan malas naik K3 dan beralih ke K2/K1. Iya kalau penumpang malas naik K3 terus beralih ke K2 atau K1, lha sekarang bagaimana kalau mereka pada beralih ke bus ??? Jika diperhatikan, bus menawarkan perjalanan yang lebih baik daripada K1 atau K2, sebagai perbandingan adalah KA Mutiara Timur dibanding Bus, KA Mutiara Timur Rp. 85.000, sementara bus tujuan SBY - Banyuwangi hanya Rp. 70.000 sudah termasuk makan dan waktu tempuh selama 5 jam 30 menit, lebih cepat dari KA Mutiara Timur dengan waktu tempuh sekitar 6 jam 30 menit... Tarif bus hanya bisa dikalahkan oleh KA Sri Tanjung dan Logawa dengan tarif sekitar Rp 27.000...
Purwojaya mahal... Kutojaya tiketnya habis... Yo wes lah Sinar Jaya ae...
|
|
|

![[Image: overstappen.png]](https://www.semboyan35.com/images/overstappen.png)