22-10-2011, 10:09 AM
Betul pendapat di atas tol trans jawa adalah early warning system bagi PT. KAI, sehingga mereka harus secepat mungkin berbenah, untuk membuat rencana-rencana yang komprehensif, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Memang jika kebijaksaan pembangunan tetap di Jawa, pastilah semua infrastruktur akan berkembang pesat untuk mencukupinya, karena arus massa dari luar jawa tersedot, membuat pulau ini semakin padat, sehingga membutuhkan pelayanan ekstra. Tol sangat menghasilkan, sehingga banyak investor yang pasti tertarik, selain itu pembangunan tol juga menyerap industri otomotif secara tidak langsung, baik produsen kendaraan, produsen suku cadang, jasa bengkel menjamur, dan masih banyak lagi, paling tidak terjadi multipliyer effect yang begitu besar, dan berakhir pada kemacetan. Berbeda dengan pembangunan perkeretapian , mungkin penyerapannya lebih sedikit, paling tidak laju pertumbuhan kendaaraan melambat, dan hal-hal lain tidak secepat tol, katakanla mungkin hanya sedikit pihak terlibat, pandangan saya sebagai orang awam itu. Pemindahan ibukota, sebenarnya tidak terlalu berdampak, jika konsepnya ada pembatasan kegiatan pada kota tersebut, misal tidak boleh ada industri, kantor-kantor tertentu yang diperbolehkan, mungkin konsepnya kayak kota Canberra, ibukota Australia, berdasar informasi kota tersebut malah kota kecil, penduduk sedikit, berbeda dengan Sydney atau Melbourne, atau mungkin Brasilia? Ibukota Brasil, di pindah ke pedalaman ketika Rio de Janeiro tidak kondusif untuk pemerintahan. Semua berawal dari pemegang kebijaksanaan, dan masalah tersebut berkaitan erat dengan Politik, ternyata politik adalah Panglima kayaknya. Semoga tetap ada apalah yang terbaik dalam pelayanan PT.KAI, mohon koreksi.



