17-05-2010, 12:02 PM
tdk setuju krn KRD perawatannya malah lebih ribet dari KRL....

|
17-05-2010, 12:13 PM
Wah...koq malah mengalami kemunduran ya...dari KRL ke KRD...gini aja...logikanya...yang TS sebutkan itu semua bisa terjadi di semua jenis KA.
1. Seringkali trouble macker di Manggarai yg menjadi sentra perjalanan KRL yang mana kalo keganggu maka seJakarta Bogor bahkan Jabodetabek juga gangguan listrik. (Pertama, KRD akselerasi lebih lambat daripada KRL, padahal di Jakarta semua dituntut serba cepat, lagian jarak stasiunnya berdekatan, apalagi Bogor dan jalur menanjak menuju elevated rail di Jakarta, kalo pake KRD, sering mogoknya coz mesin jebol dibuat menanjak. Kedua, KRL lebih ramah lingkungan daripada KRD, kalo semua dibuat KRD, akan bertambah buruk polusi udara di Jakarta. Solusinya ya terus dilakukan perbaikan LAA) 2. KRL AC dan Ekonomi AC yg seringkali ACnya kurang dingin dg alasan klise yaitu Ekonomi AC khyan berhenti di tiap stasiun... aku rasa cocok di kawasan dg iklim sejuk spt Bandung. Gak menutup kemungkinan juga semisal Yogya - Solo krn tracknya datar. (Kalo pake KRD apa menjamin AC akan dinyalakan terus walaupun berhenti di setiap stasiun? engga kan? Lagian kalo disesuaikan dengan kondisi iklim di Bandung, kenapa harus menggunakan KRL AC ato ekonomi AC di Bandung? Ya ini harus membutuhkan perhatian khusus dari DAOP terkait agar semua fasilitas bisa difungsikan dengan baik) 3. Utk rangkaian membeludak hingga ke atap sulit diberantas cocoknya yah dg KRD spt odong2 Langsam Rangkas - Jakarta pp. Tapi kita tetep harus berjuang agar tiada yg naik ke atap lagi meski 200% sangat sulit. (Pertanyaan yang sama dengan di atas...apa kalo pake KRD bisa menjamin penumpang tidak akan naek ke atap? Menurut ane tambah parah karena keamanan duduk di atap kereta sedikit meningkat, karena tidak ada kabel listrik, sehingga mereka tidak khawatir kesetrum) 4. Daops 2 Bandung cenderung gapeka-nya gak terlalu padat ketimbang Jabodetabek. Jadi, bila si Holec tiba2 mogok, maka masih ada loko penolong seenggaknya di dipo Bandung yg kalo dijangkau antara Padalarang - Bandung dan Bandung - Cicalengka gak terlalu jauh. (GAPEKA ga bisa dibuat alasan suatu lintasan tertentu menggunakan KRL ato KRD, justru malah rugi kalo GAPEKAnya gak terlalu padat dikasi KRL, rugi listriknya kang) ![]()
17-05-2010, 12:41 PM
lha???
jaringan LAA kan udah dibangun dimana-mana, apa ngga sayang tuh?? bener kata temen2 masa kembali ke tahun 70/80-an?? ( jadi inget KA 220,225 bintaro ) kalo dikasih KRD sih bisa aja..asal dia masih baru dan fit....KRDI dan KRDE akselerasinya lumayan dan asapnya ga terlalu banyak...tapi apa mau beli KRD baru lagi dengan jumlah banyak?? hehehe solusi transportasi untuk jabodetabek saat ini ya subway atau MRT...coz lahan tanah sudah menipis....penambahan armada juga percuma jika tidak diimbangi track yang cukup....seharusnya di jabodetabek itu sudah double-double track...hehehe Maaf kalo ada yang salah...ehehehe
17-05-2010, 12:53 PM
Apakah ini maksutnya adalah memindahkan LAA dari Jabodetabek ke Bandung ?
Jika iya, apakah sampean pernah membuat studi biaya mencopoti tiang listrik, melepas kabel, membawa trafo dari Jabodetabek ke Bandung ? Coba deh buat hitungannya dahulu, baru buat usulan ke PTKA atau Jabotabek.
17-05-2010, 01:04 PM
Kalo KRD masalah'a itu akselerasi lambat, jadi bisa2 malah telat dari jadwal, dan juga malah menambah polusi di jakarta
![]()
17-05-2010, 01:44 PM
(17-05-2010, 12:53 PM)indoloko Wrote: Apakah ini maksutnya adalah memindahkan LAA dari Jabodetabek ke Bandung ? ini ditujukan ke siapa ya kang??? hehehe
17-05-2010, 02:31 PM
(This post was last modified: 17-05-2010, 02:32 PM by Dana Komuter.)
@ CC 201 64 PWT : Aku sih gak sampe ngarepin dicabut, tapi paling enggak diaktifin buat hari2 libur kerja dan tanggal2 merah aja. Jadi khan enak tuh bisa buat wisata dalam kota. Yg di Tn. Abang ke pabrik (≖᷆︵︣≖), ke Beos bisa jd batu loncatan ke museum Fatahillah, Bank Mandirin, dll. Yg di Cikini bisa ke Planetarium dan Joeang 45. Yg di Juanda bisa ke Istiqlal, Katedral dan museum Perangko. Dan masih banyak lagi wisata dalam kota lainnya.
![]() Tapi yah kalau alasan jarak antar stasiun persinggahan terlalu dekat dan sudah dipasanginya LAA di seantero Jabodetabek OK juga sih... Asalkan yah... jangan ada lagi tumbuh perkampungan di pinggir rel KA selain diberi beton yang amat tinggi.
17-05-2010, 02:48 PM
emm.. malahan saya berpikiran bagaimana kalo seluruh Pulau Jawa terhubung LAA semua, jadi Kereta yg tersebar di Pulau jawa semua menggunakan Listrik. yang jelas dengan Listrik itu lebih ramah lingkungan... mengingat pada 2040 klo ga salah seumber minyak bumi didunia akan habis.
Antara Cinta dan Obsesi...
![]()
17-05-2010, 03:29 PM
(17-05-2010, 01:04 PM)Taufik GM-MarKA Wrote: Kalo KRD masalah'a itu akselerasi lambat, jadi bisa2 malah telat dari jadwal, dan juga malah menambah polusi di jakarta Mungkin Gapeka kalau pakai KRD malah lebih parah waktunya daripada pakai KRL, secara dipo BOO sudah tidak lagi melakukan pengisian HSD (jadi KRD-nya pun kalau ada pasti milik dipo THB atau BUD)... KRD yang ada pun rata-rata adalah KRD Shinko MCW 302 yang tidak lagi secepat dulu karena faktor usia, dan mahalnya biaya BBM untuk sekali perjalanan (sehingga dianggap tidak efisien untuk okupansi yang tinggi) adalah dua faktor yang mempengaruhi penggantian armada KRD di Jabotabek menjadi KRL dengan elektrifikasi. Selain itu, biaya maintenance dan operasional KRL pun jika dirata-rata secara keseluruhan lebih murah daripada KRD. CMIIW.
17-05-2010, 03:34 PM
(This post was last modified: 17-05-2010, 03:39 PM by Agus Riyanto.)
Jabodetabek pake KRD ? ....
Jawabnya : NGGA SETUJU !!!!! Kalo pake KRD kan perlu HSD. HSD itu asalnya dari fosil yang mana hasil pembakarannya itu menghasilkan polusi udara & pemanasan global. Titik segede kelapa !!!!! Tapi tetep Pis ngga' pake anarkis
Ku mau terbang dan tenggelam, menjalani semua ini .....
"Terbang Tenggelam" ~ song by NETRAL |