Sekarang sudah nggak ada sisa bangunannya sama sekali??
Trenyuh saya..
Waktu Rapih Dhoho baru diresmikan, stasiun ini masih beroperasi.
Waktu itu seingat saya kereta api selalu lewat di Jalur 2, sedang jalur 1-nya memang dari dulu seperti nggak pernah dipakai. Sejak dulu memang KA sampai yang sepur kluthuk juga tidak berhenti, tetapi stasiun Bendo masih dijaga dan pemindah wesel lama di stasiun Blitar masih bertulisan: dari BD masuk sp.... (perhatikan singkatannya: BD!!!) Tapi tulisan ini berganti pada saat lok BB301 bisa merambah Blitar.
Terakhir merasakan BLB di stasiun ini waktu tahun 1982. Saya ingat betul, itulah hari saya meninggalkan kampung halaman tercinta. Rapih Dhoho sampai Bendo disorot senter, digoyang atas bawah sampai KA berhenti. Masuklah beberapa penumpang. Tahun-tahun sesudahnya tidak pernah lagi peristiwa ini saya alami. Kalau lewat Bendo dengan Rapih Dhoho paling pagi, terihat kegelapan di sekitarnya... (waktu itu belum ada listrik).
Bagi teman-teman yang belum mengenal lintas ini, stasiun Bendo letaknya di sebelah barat stasiun Blitar, lokasinya mirip dengan Stasiun NOTOG. Jadi jalan rayanya belok patah dari timur ke utara, terus ada jalan lebih kecil yang lurus ke barat, nah disitulah letak stasiun Bendo. Seperti juga Notog, stasiun ini juga menghadap ke utara. Tikungan tajam di lokasi stasiun Bendo biasa disebut TUGURANTE.
Mas Gajayana, coba kapan-kapan teruskan trackingnya ke arah barat stasiun Bando, ke arah Selokajang. Disitu ada TIKUNGAN yang paling unik se Indonesia: belokan relnya membentuk sudut putar lebih dari 90 derajat!!!! Jadi kalau ditelusuri dari stasiun bendo, pertama-tama rel mengarah ke barat, memasuki tikungan belok ke kiri sedikit demi sedikit mengarah ke selatan, di akhir tikungan rel mengarah ke tenggara hampir ke timur alias balik lagi!!! Setelah itu barulah belok ke kanan, mengarah selatan dan memasuki jembatan Sungai Brantas.
Coba tolong rekan-rekan cari tahu, kenapa rel KA di daerah bendo mesti dibuat berbalik arah, padahal lokasinya 100% datar sama sekali tidak mengitari bukit. Sampai sekarang hal ini menjadi pertanyaan dalam diri saya.
Ah, kapan ya kita bisa sama2 menyusuri tempat yang indah dan penuh kenangan ini??
Warning!!!
Bagi teman-teman yang tracking dari arah Blitar, kalau sudah selesai cepat balik lagi ke arah Blitar lagi. Ngak usah diterusin kemana-mana. Gawat!!!
Salam kami
Nurcahyo
*******
Desa Ngalik-Selokajang-Nguri Pak Nur, saya hunting disitu wah memang tikungannya tajam. Yang Pak Nur bilang 90' tikungannya. Dari Eks St. Bendo lurus kurang lebih 2 km, lalu menikung busur panjang ke arah kiri (kalo dari St.BL) hingga Desa Selokajang. Lalu kurang lebih 500M belok kanan busur panjang hingga persawahan Desa Nguri. Setelah itu sampailah di jembatan Nguri. Tapi jangan harap mendapat view foto high angle. Soalnya kereta berada diatas, mungkin untuk menyesuaikan tinggi jembatan Nguri
Masalah gawatnya yang bercetak tebal warna merah, maaf akan coba saya jawab Pak Nur, mungkin waktu hunting disekitar Selokajang-Nguri apalagi mendekati mahgrib, jalanya sangat membingungkan kalo tidak terbiasa bisa tersesat. Lewat jalan A, kembali jalan A. Selain itu arahnya pun kadang membingungkan kita merasa ke timur, padahal itu ke selatan. Selain itu jalan masih gelap, penerangan sedikit dan rumah jarang, perkebunan masih banyak dan gelap. Lebih baik spontan 'kulonuwun". Waktu hunting foto ke 4 dijembatan yang saya lewati ada tulisan "dhemit nguri(setan/hantu nguri)" disitu ada sumur tua tidak terpakai yang sangat angker kelihatannya. Dan setelah itu melewati perkebunan yang sekitar pukul setengah 5 sudah mulai gelap. Saya sarankan teman-teman untuk hunting siang saja.
Saya coba sharekan foto tikungan-tikungannya
[Spoiler] 1. Saat Mulai Masuk Tikungan Selokajang [/Spoiler]
[Spoiler]2. Dari mulai tikungan pertama akan menikung terus.Ini foto KA Gajayana di ahkir tikungan. Untuk sore susah dapat foto bagus, karena berlawanan arah matahari[/Spoiler]
[Spoiler]3. Setelah ahkir tikungan tadi kereta akan melaju di trek lurus kurang lebih 500M. Ini Foto KA Gajayana saat melintas di trek lurusnya[/Spoiler]
[Spoiler]3. Dari trek lurus kurang lebih 500M tadi akan masuk tikungan kurang lebih 90' seperti yang Pak Nur bilang. Ini Foto KA Gajayana saat menikung di tikungan 90' kedua. Coba kalo tidak ada pohon gerbong bisa terlihat semua[/Spoiler]
[Spoiler]4. Setelah itu tetap menikung melewati persawahan yang lumayan luas dengan beraneka ragam tanaman. Ini kereta tampak dari samping[/Spoiler]
[Spoiler]5.Setelah itu kereta akan berjalan lurus sampai di jembatan Nguri. Ini foto salah satu trek lurus sebelum jembatan Nguri. Kita hanya bisa memotret dari bawah,kalopun dari dekat bisa. Cuma agak susah[/Spoiler]
Memang lepas St. Bendo atau orang sekitar menyebut St. Bendo Sendung lalu ke Desa Ngaglik, lalu Desa Selokajang rel berbelok ke kiri 90'. lalu lurus ke Desa Nguri, dari sini rel berbelok kanan kurang lebih 90'. Hingga lurus 300M ke jembatan nguri. Demikian share saya,semoga berkenan. Matur nuwun
(11-07-2012, 12:31 AM)Bimantara Wrote: Wah seru nih om , bisa dicoba buat mblusukan .
Ya seru.
Untuk menggambarkan serunya jalur ini, coba saya tunjukkan peta wilayah sekitar ini dari Google Map.
Dari gambar di atas terlihat kalau dari arah Blitar jalur KA mengarah ke barat, selepas Bendo akan berbelok membentuk kurva U sehingga kereta api akan berbalik ke arah timur!!!
Aneh kan? Kenapa bisa begitu ya?
Padahal daerah ini sangat datar, tidak ada bukit yang musti dihindari.
(11-07-2012, 12:31 AM)Bimantara Wrote: Wah seru nih om , bisa dicoba buat mblusukan .
[/Spoiler]
Ya seru.
Untuk menggambarkan serunya jalur ini, coba saya tunjukkan peta wilayah sekitar ini dari Google Map.
Dari gambar di atas terlihat kalau dari arah Blitar jalur KA mengarah ke barat, selepas Bendo akan berbelok membentuk kurva U sehingga kereta api akan berbalik ke arah timur!!!
Aneh kan? Kenapa bisa begitu ya?
Padahal daerah ini sangat datar, tidak ada bukit yang musti dihindari.
Salam kami
Nurcahyo
*******
Yang saya heran Belanda bisa membuat gundukan rel setinggi hampir 3M Pak Nur, seperti pada foto saya. Tidak pernah longsor sekalipun.
(23-05-2011, 10:45 AM)nurcahyoms Wrote: Warning!!!
Bagi teman-teman yang tracking dari arah Blitar, kalau sudah selesai cepat balik lagi ke arah Blitar lagi. Ngak usah diterusin kemana-mana. Gawat!!!
Salam kami
Nurcahyo
*******
Masalah gawatnya yang bercetak tebal warna merah, maaf akan coba saya jawab Pak Nur, mungkin waktu hunting disekitar Selokajang-Nguri apalagi mendekati mahgrib, jalanya sangat membingungkan kalo tidak terbiasa bisa tersesat. Lewat jalan A, kembali jalan A. Selain itu arahnya pun kadang membingungkan kita merasa ke timur, padahal itu ke selatan. Selain itu jalan masih gelap, penerangan sedikit dan rumah jarang, perkebunan masih banyak dan gelap. Lebih baik spontan 'kulonuwun". Waktu hunting foto ke 4 dijembatan yang saya lewati ada tulisan "dhemit nguri(setan/hantu nguri)" disitu ada sumur tua tidak terpakai yang sangat angker kelihatannya. Dan setelah itu melewati perkebunan yang sekitar pukul setengah 5 sudah mulai gelap. Saya sarankan teman-teman untuk hunting siang saja.
Sobat Nicodio dan rekan-rekan railfan dari Blitar tentu maklum kalau stasiun Bendo hanya berjarak 5 km atau kurang dari Poluan, sebuah desa yang letaknya di utara Tugurante. Desa ini dulunya habis diterjang lahar G. Kelud pada tahun 1966, sehingga menjadi daerah kosong. Nah, pada tahun 70an lokasi tadi menjadi tempat lokalisasi bagi WTS. Makanya jaman saya blusukan di sekitar Bendo, kalau cerita ke teman lain selalu ditanya: "Bendonya sampai mana? Nyasar ke utara apa enggak?" Makanya saya bilang kalau sudah sampai Bendo musti balik lagi pulang ke Blitar, gak usah "blasakan" ke desa tetangganya di utara.
Oh ya.
Terimakasih atas gambar-gambar yang indah di sekitar U-turn Selokajang. Saya sampai trenyuh melihat kampung halaman saya yang permai dan masih asri sampai sekarang. Disamping itu juga senang melihat kondisi rel di daerah ini sekarang sudah bagus, tidak seperti dulu yang cuma R-25 dengan bantalan kayu. Kalau gundukan rel memang membuktikan kecanggihan desain Belanda. Saya menduga rancangan seperti ini untuk menghindari banjir lahar, tidak sekedar untuk menyiasati kontur tanah. Tetapi di jalur KA bergerigi Ambara-Bedono tepat di samping jalan raya Magelang, ada gundukan yang cukup dahsyat, tingginya ada kalau 20 meter. Antara Ciawi-Rajapolah juga ada gundukan rel yang cukup panjang dengan ketinggian 10 meter-an.
(23-05-2011, 10:45 AM)nurcahyoms Wrote: Warning!!!
Bagi teman-teman yang tracking dari arah Blitar, kalau sudah selesai cepat balik lagi ke arah Blitar lagi. Ngak usah diterusin kemana-mana. Gawat!!!
Salam kami
Nurcahyo
*******
Masalah gawatnya yang bercetak tebal warna merah, maaf akan coba saya jawab Pak Nur, mungkin waktu hunting disekitar Selokajang-Nguri apalagi mendekati mahgrib, jalanya sangat membingungkan kalo tidak terbiasa bisa tersesat. Lewat jalan A, kembali jalan A. Selain itu arahnya pun kadang membingungkan kita merasa ke timur, padahal itu ke selatan. Selain itu jalan masih gelap, penerangan sedikit dan rumah jarang, perkebunan masih banyak dan gelap. Lebih baik spontan 'kulonuwun". Waktu hunting foto ke 4 dijembatan yang saya lewati ada tulisan "dhemit nguri(setan/hantu nguri)" disitu ada sumur tua tidak terpakai yang sangat angker kelihatannya. Dan setelah itu melewati perkebunan yang sekitar pukul setengah 5 sudah mulai gelap. Saya sarankan teman-teman untuk hunting siang saja.
[/Spoiler]
Sobat Nicodio dan rekan-rekan railfan dari Blitar tentu maklum kalau stasiun Bendo hanya berjarak 5 km atau kurang dari Poluan, sebuah desa yang letaknya di utara Tugurante. Desa ini dulunya habis diterjang lahar G. Kelud pada tahun 1966, sehingga menjadi daerah kosong. Nah, pada tahun 70an lokasi tadi menjadi tempat lokalisasi bagi WTS. Makanya jaman saya blusukan di sekitar Bendo, kalau cerita ke teman lain selalu ditanya: "Bendonya sampai mana? Nyasar ke utara apa enggak?" Makanya saya bilang kalau sudah sampai Bendo musti balik lagi pulang ke Blitar, gak usah "blasakan" ke desa tetangganya di utara.
Oh ya.
Terimakasih atas gambar-gambar yang indah di sekitar U-turn Selokajang. Saya sampai trenyuh melihat kampung halaman saya yang permai dan masih asri sampai sekarang. Disamping itu juga senang melihat kondisi rel di daerah ini sekarang sudah bagus, tidak seperti dulu yang cuma R-25 dengan bantalan kayu. Kalau gundukan rel memang membuktikan kecanggihan desain Belanda. Saya menduga rancangan seperti ini untuk menghindari banjir lahar, tidak sekedar untuk menyiasati kontur tanah. Tetapi di jalur KA bergerigi Ambara-Bedono tepat di samping jalan raya Magelang, ada gundukan yang cukup dahsyat, tingginya ada kalau 20 meter. Antara Ciawi-Rajapolah juga ada gundukan rel yang cukup panjang dengan ketinggian 10 meter-an.
Salam kami
Nurcahyo
*******
Saya tadi sengaja bertanya kepada warga disekitar rel Pak Nur, kenapa dibuat gundukan seperti itu. Padahal dari St.Blitar hingga St Bendo tidak ada gundukan, baru dari Selokajang hingga jembatan Nguri ada gundukan. Ternyata mereka tidak tahu.
Ada sedikit sumber info tentang St Bendo Pak Nur, mantan pegawai St Bendo, Pak Suwito sayang beliau sudah meninggal. Tp saya sudah dikasih tahu rumahnya, saya berharap istri atau anaknya bisa menceritakan sedikit sejarah tentang St Bendo. Rumah dinas disebelah barat St.Bendo juga dipakai pegawai PT. Kereta Api Indonesia (Persero) tetapi katanya dinas di Madura. Rumahnya angker kelihatannya
(23-05-2011, 10:45 AM)nurcahyoms Wrote: Warning!!!
Bagi teman-teman yang tracking dari arah Blitar, kalau sudah selesai cepat balik lagi ke arah Blitar lagi. Ngak usah diterusin kemana-mana. Gawat!!!
Salam kami
Nurcahyo
*******
Masalah gawatnya yang bercetak tebal warna merah, maaf akan coba saya jawab Pak Nur, mungkin waktu hunting disekitar Selokajang-Nguri apalagi mendekati mahgrib, jalanya sangat membingungkan kalo tidak terbiasa bisa tersesat. Lewat jalan A, kembali jalan A. Selain itu arahnya pun kadang membingungkan kita merasa ke timur, padahal itu ke selatan. Selain itu jalan masih gelap, penerangan sedikit dan rumah jarang, perkebunan masih banyak dan gelap. Lebih baik spontan 'kulonuwun". Waktu hunting foto ke 4 dijembatan yang saya lewati ada tulisan "dhemit nguri(setan/hantu nguri)" disitu ada sumur tua tidak terpakai yang sangat angker kelihatannya. Dan setelah itu melewati perkebunan yang sekitar pukul setengah 5 sudah mulai gelap. Saya sarankan teman-teman untuk hunting siang saja.
[/Spoiler]
Sobat Nicodio dan rekan-rekan railfan dari Blitar tentu maklum kalau stasiun Bendo hanya berjarak 5 km atau kurang dari Poluan, sebuah desa yang letaknya di utara Tugurante. Desa ini dulunya habis diterjang lahar G. Kelud pada tahun 1966, sehingga menjadi daerah kosong. Nah, pada tahun 70an lokasi tadi menjadi tempat lokalisasi bagi WTS. Makanya jaman saya blusukan di sekitar Bendo, kalau cerita ke teman lain selalu ditanya: "Bendonya sampai mana? Nyasar ke utara apa enggak?" Makanya saya bilang kalau sudah sampai Bendo musti balik lagi pulang ke Blitar, gak usah "blasakan" ke desa tetangganya di utara.
Oh ya.
Terimakasih atas gambar-gambar yang indah di sekitar U-turn Selokajang. Saya sampai trenyuh melihat kampung halaman saya yang permai dan masih asri sampai sekarang. Disamping itu juga senang melihat kondisi rel di daerah ini sekarang sudah bagus, tidak seperti dulu yang cuma R-25 dengan bantalan kayu. Kalau gundukan rel memang membuktikan kecanggihan desain Belanda. Saya menduga rancangan seperti ini untuk menghindari banjir lahar, tidak sekedar untuk menyiasati kontur tanah. Tetapi di jalur KA bergerigi Ambara-Bedono tepat di samping jalan raya Magelang, ada gundukan yang cukup dahsyat, tingginya ada kalau 20 meter. Antara Ciawi-Rajapolah juga ada gundukan rel yang cukup panjang dengan ketinggian 10 meter-an.
Salam kami
Nurcahyo
*******
Saya tadi sengaja bertanya kepada warga disekitar rel Pak Nur, kenapa dibuat gundukan seperti itu. Padahal dari St.Blitar hingga St Bendo tidak ada gundukan, baru dari Selokajang hingga jembatan Nguri ada gundukan. Ternyata mereka tidak tahu.
Ada sedikit sumber info tentang St Bendo Pak Nur, mantan pegawai St Bendo, Pak Suwito sayang beliau sudah meninggal. Tp saya sudah dikasih tahu rumahnya, saya berharap istri atau anaknya bisa menceritakan sedikit sejarah tentang St Bendo. Rumah dinas disebelah barat St.Bendo juga dipakai pegawai PT. Kereta Api Indonesia (Persero) tetapi katanya dinas di Madura. Rumahnya angker kelihatannya
kalo gundukan tsb mungkin fungsi nya untuk menghindari pasir dan abu letusan gunung kelud,,
tapi untuk tikungan U kurv,,belum tau sejarahnya,,,hehehe,,
(23-05-2011, 10:45 AM)nurcahyoms Wrote: Warning!!!
Bagi teman-teman yang tracking dari arah Blitar, kalau sudah selesai cepat balik lagi ke arah Blitar lagi. Ngak usah diterusin kemana-mana. Gawat!!!
Salam kami
Nurcahyo
*******
Masalah gawatnya yang bercetak tebal warna merah, maaf akan coba saya jawab Pak Nur, mungkin waktu hunting disekitar Selokajang-Nguri apalagi mendekati mahgrib, jalanya sangat membingungkan kalo tidak terbiasa bisa tersesat. Lewat jalan A, kembali jalan A. Selain itu arahnya pun kadang membingungkan kita merasa ke timur, padahal itu ke selatan. Selain itu jalan masih gelap, penerangan sedikit dan rumah jarang, perkebunan masih banyak dan gelap. Lebih baik spontan 'kulonuwun". Waktu hunting foto ke 4 dijembatan yang saya lewati ada tulisan "dhemit nguri(setan/hantu nguri)" disitu ada sumur tua tidak terpakai yang sangat angker kelihatannya. Dan setelah itu melewati perkebunan yang sekitar pukul setengah 5 sudah mulai gelap. Saya sarankan teman-teman untuk hunting siang saja.
[/Spoiler]
Sobat Nicodio dan rekan-rekan railfan dari Blitar tentu maklum kalau stasiun Bendo hanya berjarak 5 km atau kurang dari Poluan, sebuah desa yang letaknya di utara Tugurante. Desa ini dulunya habis diterjang lahar G. Kelud pada tahun 1966, sehingga menjadi daerah kosong. Nah, pada tahun 70an lokasi tadi menjadi tempat lokalisasi bagi WTS. Makanya jaman saya blusukan di sekitar Bendo, kalau cerita ke teman lain selalu ditanya: "Bendonya sampai mana? Nyasar ke utara apa enggak?" Makanya saya bilang kalau sudah sampai Bendo musti balik lagi pulang ke Blitar, gak usah "blasakan" ke desa tetangganya di utara.
Oh ya.
Terimakasih atas gambar-gambar yang indah di sekitar U-turn Selokajang. Saya sampai trenyuh melihat kampung halaman saya yang permai dan masih asri sampai sekarang. Disamping itu juga senang melihat kondisi rel di daerah ini sekarang sudah bagus, tidak seperti dulu yang cuma R-25 dengan bantalan kayu. Kalau gundukan rel memang membuktikan kecanggihan desain Belanda. Saya menduga rancangan seperti ini untuk menghindari banjir lahar, tidak sekedar untuk menyiasati kontur tanah. Tetapi di jalur KA bergerigi Ambara-Bedono tepat di samping jalan raya Magelang, ada gundukan yang cukup dahsyat, tingginya ada kalau 20 meter. Antara Ciawi-Rajapolah juga ada gundukan rel yang cukup panjang dengan ketinggian 10 meter-an.
Salam kami
Nurcahyo
*******
Saya tadi sengaja bertanya kepada warga disekitar rel Pak Nur, kenapa dibuat gundukan seperti itu. Padahal dari St.Blitar hingga St Bendo tidak ada gundukan, baru dari Selokajang hingga jembatan Nguri ada gundukan. Ternyata mereka tidak tahu.
Ada sedikit sumber info tentang St Bendo Pak Nur, mantan pegawai St Bendo, Pak Suwito sayang beliau sudah meninggal. Tp saya sudah dikasih tahu rumahnya, saya berharap istri atau anaknya bisa menceritakan sedikit sejarah tentang St Bendo. Rumah dinas disebelah barat St.Bendo juga dipakai pegawai PT. Kereta Api Indonesia (Persero) tetapi katanya dinas di Madura. Rumahnya angker kelihatannya
[/Spoiler]
kalo gundukan tsb mungkin fungsi nya untuk menghindari pasir dan abu letusan gunung kelud,,
tapi untuk tikungan U kurv,,belum tau sejarahnya,,,hehehe,,
Padahal kalo lurus itu jalur malah lebih dekat dengan St Rejotangan(RJ), dengan memutar jarak menjadi 13 km antara St Blitar dengan St Rejotangan. Herannya itu tadi mas fian, kenapa kok dibuat tikungan seperti huruf U,lurus belok lagi seperti U dan lurus sampai jembatan nguri, lepas jembatan belok lagi agak menikung sampai St Rejotangan
[Spoiler][/Spoiler]1. Jalur mulai tikungan U Desa Selokajang, mulai menikung dengan gundukan tanahnya
[Spoiler][/Spoiler]2. Terusan foto jalur U dari foto yang pertama tikungan tajam,seperti huruf U, dengan gundukan yang tinggi. Hebat memang Belanda ini, tidak pernah longsor ini gundukan, apalagi kereta anjlok disini. Luar Biasa