03-12-2010, 09:47 PM
(This post was last modified: 04-12-2010, 07:09 AM by Ryzky_Widi.)
Kebahagian Seorang Penjaga Lintasan (Part 4)
* Cerita fiksi, nama, tempat, dan kejadian, hanya karangan belaka
Malam pun tiba. Pukul 20.05, Ridwan dan Sherly pun pulang. Petugas jaga lintasan malam ini hingga esok pagi diserahkan pada pak Wijiono yang sudah datang lebih awal. Karena mobil Sherly sudah hancur, maka Sherly dan Ridwan pulang dengan menggunakan Angkodes yang masih ada ketika malam hari, menuju rumah Sherly yang berada di pusat Kota Jember. Perjalanan dari daerah Gurah Sari menuju kota Jember ditempuh selama 1 jam. Di dalam Angkodes, mereka hanya berdua saja, mengingat malam hari, yang jarang ada penumpang.
Sesampainya di rumah Sherly, Ridwan dijamu oleh kedua orang tuanya dengan makan malam berupa nasi goreng dengan ayam panggang buatan ibu Sherly. Setelah makan malam, Ridwan menginap dikamar khusus tamu yang berada di lantai satu.
---------------------------------
Keesokan harinya ....
Karena Ridwan bertugas jaga perlintasan pada malam hari, maka dia menyempatkan diri untuk pulang dulu ke rumahnya di daerah Ledokombo. Ridwan diantar Sherly sampai rumah dengan sepeda motor, sekalian Sherly juga akan kuliah di Universitas Jember.
Singkat cerita ... Menjelang pukul 20.40. Ridwan dijemput Sherly kembali dengan sepeda motor untuk menuju pos perlintasan jalan Dahlia. Di pos itu ternyata ada Yusuf, 30 tahun, rekan Ridwan sesama profesi penjaga lintasan. Sementara, perlintasan jalan Mawar di handle oleh pak Syamsuri, dan perlintasan jalan Anggrek oleh pak Wijiono. Setelah bersalaman, Yusuf akhirnya pamit pulang dengan mengonthel sepeda, karena rumahnya memang tidak jauh dari perlintasan Dahlia. Karena malam hari selepas pukul 21.00 hingga sekitar pukul 01.00 dini hari, di wilayah Jember, tidak ada kereta api yang lewat, maka Ridwan dan Sherly pun mencoba istirahat di dalam rumah perlintasan. Sherly sengaja 'menginap' di rumah sangat - sangat sederhana itu untuk menemani Ridwan serta ingin merasakan menjadi penjaga lintasan pada malam hari.
"Tidurlah Sherly, malam sudah larut," kata Ridwan sambil menutup pintu rumah perlintasan.
"Aku tidak ngantuk. Aku akan menemanimu berjaga," balas Sherly.
"Tapi, apa kamu tidak dimarahi kedua orang tuamu, kalau kamu ikut berjaga di sini sampai besok pagi. Lagipula di sini dingin kalau malam."
"Tidak apa - apa, orang tuaku sudah mengizinkan aku. Dan, aku tahan dingin kok, jadi tidak masalah."
Tengah malam pun lewat, Ridwan terbangun karena digigiti nyamuk. Melihat Ridwan yang sibuk mengusir nyamuk - nyamuk nakal, Sherly membuka tas-nya.
"Nich, pakailah Lotion ini, biar nggak digigit nyamuk," kata Sherly sambil memberikan sebuah Lotion anti nyamuk kepada Ridwan.
"Terima kasih Sherly."
"Cepat oleskan di tanganmu."
Sesudah mengoleskan Lotion itu, Ridwan melihat sebuah jam dinding, dan jarum jam menunjukkan pukul 00.40.
"Syukurlah ..."
"Kenapa Ridwan ...?" tanya Sherly terheran - heran.
"Aku bangun tepat pada waktunya, dimana sebentar lagi kereta api akan melintas. Ternyata nyamuk - nyamuk tadi sengaja membangunkan aku," tandasnya sembari tersenyum simpul.
"Kamu ini aneh ih," canda Sherly sambil ikut tersenyum.
Ting Tong Ting Tong ...
Genta perlintasan berbunyi 10x, dimana kereta api akan melintas keluar dari Stasiun Kalisat, dan akan menuju ke arah barat. Setelah menjawab dering telepon, 2 menit kemudian, pintu perlintasan pun tertutup, sementara sirine perlintasan pun memecah keheningan tengah malam nan sunyi. Sekali lagi, sebuah KA Mutiara Timur malam dari arah Banyuwangi menuju Surabaya melintas dengan cepat.
-------------------------
Di saat subuh menjelang, pukul 04.30. Ridwan mencoba keluar untuk menyalakan kran air yang berada di samping rumah perlintasan untuk melaksanakan Sholat Subuh di dalam rumah perlintasan, sementara si Sherly berada di luar, duduk - duduk sambil menikmati udara dan embun pagi hari. Fajar pagi mulai muncul, Ridwan mencoba keluar untuk membeli sarapan, sementara Sherly tetap menunggu di luar rumah perlintasan. Kemudian, ketika Ridwan sedang pergi itulah, genta perlintasan berbunyi 5x disertai dering telepon. Mendengar itu, Sherly yang gugup, segera masuk ke dalam rumah perlintasan, dan langsung menuju meja layanan persinyalan. Sherly lantas mengangkat telepon itu ...
"Kereta api Pertamina sebentar lagi akan melintas ...," kata seseorang di telepon itu.
Akhirnya, Sherly yang kebingungan mencoba menenangkan diri, dan mencoba melihat tombol - tombol di meja persinyalan, sementara KA Pertamina 1 menit lagi melintas, dan jalan raya Dahlia sudah mulai ramai akan kendaraan. Sementara, sorot lampu lokomotif sudah terlihat di kejauhan ...
* Cerita fiksi, nama, tempat, dan kejadian, hanya karangan belaka
Malam pun tiba. Pukul 20.05, Ridwan dan Sherly pun pulang. Petugas jaga lintasan malam ini hingga esok pagi diserahkan pada pak Wijiono yang sudah datang lebih awal. Karena mobil Sherly sudah hancur, maka Sherly dan Ridwan pulang dengan menggunakan Angkodes yang masih ada ketika malam hari, menuju rumah Sherly yang berada di pusat Kota Jember. Perjalanan dari daerah Gurah Sari menuju kota Jember ditempuh selama 1 jam. Di dalam Angkodes, mereka hanya berdua saja, mengingat malam hari, yang jarang ada penumpang.
Sesampainya di rumah Sherly, Ridwan dijamu oleh kedua orang tuanya dengan makan malam berupa nasi goreng dengan ayam panggang buatan ibu Sherly. Setelah makan malam, Ridwan menginap dikamar khusus tamu yang berada di lantai satu.
---------------------------------
Keesokan harinya ....
Karena Ridwan bertugas jaga perlintasan pada malam hari, maka dia menyempatkan diri untuk pulang dulu ke rumahnya di daerah Ledokombo. Ridwan diantar Sherly sampai rumah dengan sepeda motor, sekalian Sherly juga akan kuliah di Universitas Jember.
Singkat cerita ... Menjelang pukul 20.40. Ridwan dijemput Sherly kembali dengan sepeda motor untuk menuju pos perlintasan jalan Dahlia. Di pos itu ternyata ada Yusuf, 30 tahun, rekan Ridwan sesama profesi penjaga lintasan. Sementara, perlintasan jalan Mawar di handle oleh pak Syamsuri, dan perlintasan jalan Anggrek oleh pak Wijiono. Setelah bersalaman, Yusuf akhirnya pamit pulang dengan mengonthel sepeda, karena rumahnya memang tidak jauh dari perlintasan Dahlia. Karena malam hari selepas pukul 21.00 hingga sekitar pukul 01.00 dini hari, di wilayah Jember, tidak ada kereta api yang lewat, maka Ridwan dan Sherly pun mencoba istirahat di dalam rumah perlintasan. Sherly sengaja 'menginap' di rumah sangat - sangat sederhana itu untuk menemani Ridwan serta ingin merasakan menjadi penjaga lintasan pada malam hari.
"Tidurlah Sherly, malam sudah larut," kata Ridwan sambil menutup pintu rumah perlintasan.
"Aku tidak ngantuk. Aku akan menemanimu berjaga," balas Sherly.
"Tapi, apa kamu tidak dimarahi kedua orang tuamu, kalau kamu ikut berjaga di sini sampai besok pagi. Lagipula di sini dingin kalau malam."
"Tidak apa - apa, orang tuaku sudah mengizinkan aku. Dan, aku tahan dingin kok, jadi tidak masalah."
Tengah malam pun lewat, Ridwan terbangun karena digigiti nyamuk. Melihat Ridwan yang sibuk mengusir nyamuk - nyamuk nakal, Sherly membuka tas-nya.
"Nich, pakailah Lotion ini, biar nggak digigit nyamuk," kata Sherly sambil memberikan sebuah Lotion anti nyamuk kepada Ridwan.
"Terima kasih Sherly."
"Cepat oleskan di tanganmu."
Sesudah mengoleskan Lotion itu, Ridwan melihat sebuah jam dinding, dan jarum jam menunjukkan pukul 00.40.
"Syukurlah ..."
"Kenapa Ridwan ...?" tanya Sherly terheran - heran.
"Aku bangun tepat pada waktunya, dimana sebentar lagi kereta api akan melintas. Ternyata nyamuk - nyamuk tadi sengaja membangunkan aku," tandasnya sembari tersenyum simpul.
"Kamu ini aneh ih," canda Sherly sambil ikut tersenyum.
Ting Tong Ting Tong ...
Genta perlintasan berbunyi 10x, dimana kereta api akan melintas keluar dari Stasiun Kalisat, dan akan menuju ke arah barat. Setelah menjawab dering telepon, 2 menit kemudian, pintu perlintasan pun tertutup, sementara sirine perlintasan pun memecah keheningan tengah malam nan sunyi. Sekali lagi, sebuah KA Mutiara Timur malam dari arah Banyuwangi menuju Surabaya melintas dengan cepat.
-------------------------
Di saat subuh menjelang, pukul 04.30. Ridwan mencoba keluar untuk menyalakan kran air yang berada di samping rumah perlintasan untuk melaksanakan Sholat Subuh di dalam rumah perlintasan, sementara si Sherly berada di luar, duduk - duduk sambil menikmati udara dan embun pagi hari. Fajar pagi mulai muncul, Ridwan mencoba keluar untuk membeli sarapan, sementara Sherly tetap menunggu di luar rumah perlintasan. Kemudian, ketika Ridwan sedang pergi itulah, genta perlintasan berbunyi 5x disertai dering telepon. Mendengar itu, Sherly yang gugup, segera masuk ke dalam rumah perlintasan, dan langsung menuju meja layanan persinyalan. Sherly lantas mengangkat telepon itu ...
"Kereta api Pertamina sebentar lagi akan melintas ...," kata seseorang di telepon itu.
Akhirnya, Sherly yang kebingungan mencoba menenangkan diri, dan mencoba melihat tombol - tombol di meja persinyalan, sementara KA Pertamina 1 menit lagi melintas, dan jalan raya Dahlia sudah mulai ramai akan kendaraan. Sementara, sorot lampu lokomotif sudah terlihat di kejauhan ...
Be continued ...
- R y z k y W i d i A T m a j a -


kereta bunyi )...(*situasi kereta ekonomi lewatin pjl)
(*maklum deh Sri mulat mania ketawanya reflek) sampe penumpang semua pada bangun .(*dlm hati ane sukur dilirik judes banget sekarang dicium ayam lo..)... dan akhirnyee tuh ayam ditaruh dibawah kursi truss ane tertidur...
liat dia karena senyumnya dia dimata ane udah berganti sama "patoknye ayam
" Ckckckckk... ekonomi2 ada2 aja dipelihara banyak yg komplain dibuang sayang....