Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
[Ask] Gerbong double decker di MRI
#21
(15-12-2009, 12:44 PM)bagus70 Wrote: Ini cuman gerbong experimental buatan BY Manggarai dan nggak pernah masuk dinas. Alasan dia tidak pernah masuk dinas operasional adalah karena titik beratnya yang terlalu tinggi, sehingga oleng di tikungan. Selain itu ruang penumpang di dalamnya terlalu sempit. Memang untuk mengoperasikan gerbong tingkat butuh rel 1435mm.

Tidak juga, KRL JR E230/1-1000 dan E530/1 yang punya gerbong DD mirip dengan yang ada di BY MRI (DD di tengah, di ujungnya seperti gerbong biasa) gaugenya 1067 mm.
Bisa dijelaskan tidak spesifikasi gerbongnya jika memang di tikungan dia oleng?
Tokyo Metro 05-108F|Sora Naegi
[Image: 2r56iya.jpg]
Jabodetabek no Tsuukin Dentetsu (KCJ)
Reply
#22
(15-12-2009, 01:48 PM)Charles Wrote:
(15-12-2009, 12:44 PM)bagus70 Wrote: Ini cuman gerbong experimental buatan BY Manggarai dan nggak pernah masuk dinas. Alasan dia tidak pernah masuk dinas operasional adalah karena titik beratnya yang terlalu tinggi, sehingga oleng di tikungan. Selain itu ruang penumpang di dalamnya terlalu sempit. Memang untuk mengoperasikan gerbong tingkat butuh rel 1435mm.

Tidak juga, KRL JR E230/1-1000 dan E530/1 yang punya gerbong DD mirip dengan yang ada di BY MRI (DD di tengah, di ujungnya seperti gerbong biasa) gaugenya 1067 mm.
Bisa dijelaskan tidak spesifikasi gerbongnya jika memang di tikungan dia oleng?

Kereta Setrum JR E230/1-1000 dan E530/1 pakai bogie macam apa ?
bentuk bogie juga termasuk salah satu faktor kestabilan gerbong saat melibas trek lurus dan menikung
Ngikik

Reply
#23
(15-12-2009, 01:56 PM)eling Wrote:
(15-12-2009, 01:48 PM)Charles Wrote:
(15-12-2009, 12:44 PM)bagus70 Wrote: Ini cuman gerbong experimental buatan BY Manggarai dan nggak pernah masuk dinas. Alasan dia tidak pernah masuk dinas operasional adalah karena titik beratnya yang terlalu tinggi, sehingga oleng di tikungan. Selain itu ruang penumpang di dalamnya terlalu sempit. Memang untuk mengoperasikan gerbong tingkat butuh rel 1435mm.

Tidak juga, KRL JR E230/1-1000 dan E530/1 yang punya gerbong DD mirip dengan yang ada di BY MRI (DD di tengah, di ujungnya seperti gerbong biasa) gaugenya 1067 mm.
Bisa dijelaskan tidak spesifikasi gerbongnya jika memang di tikungan dia oleng?

Kereta Setrum JR E230/1-1000 dan E530/1 pakai bogie macam apa ?
bentuk bogie juga termasuk salah satu faktor kestabilan gerbong saat melibas trek lurus dan menikung
Ngikik

Bogienya KRL JR E230/1-1000 dan E530/1 yang DD (Green Car) itu kurang lebih setara dengan bogie K2 yang ada di KRD Shinko, bandingkan dengan bogie K5 yang biasa digunakan di gerbong-gerbong KA jarak jauh.
Bentuk bogienya sendiri tentunya sudah menggunakan bogie standar KRL-KRL di Jepang yang mirip dengan bogienya KRL JR 103/Tokyu yang fleksibel.

Pertanyaan lagi:
Berapa panjang dan lebar gerbong DD biru yang ada di BY MRI tsb, serta apa tipe bogienya (untuk dibandingkan dengan gerbong DDnya KRL JR yang sudah saya sebut di atas)?
Tokyo Metro 05-108F|Sora Naegi
[Image: 2r56iya.jpg]
Jabodetabek no Tsuukin Dentetsu (KCJ)
Reply
#24
Quote:keliatannya kok dek2nya rendah bgt yaa.. mungkin orang harus agak nunduk..
deck bawah yang rendah tersebut memang mamanfaatkan ruang kosong antara 2 bogie.jadi deck nya agak rendah dan hampir menyentuh rel makanya tangga menuju ke deck atas berada di ujung ujung gerbongnya.kalau melihat fisiknya kayanya gaugenya 1067 juga ko. coba bandingkan dengan deck kereta sekarang yang kira kira ada 1 meteran dari atas rel,hanya mungkin atapnya saja yang agak tinggi sedikit.
tahun 1996 saya pkl di balai yasa manggarai melihat dengan mata kepala saya sendiri dan melihat bagian dalamnya.namun sekarang entah masih ada atau tidak gerbong tersebut.namun sayang belum punya kamera
tidak terbayangkan keindahan trem uap ketika lalu lalang di bawah jembatan kereta api jatinegara
foto ane yang lainnya ada disini kang !
https://www.flickr.com/photos/36503981@N02/
Reply
#25
(11-12-2009, 01:59 PM)jokotingkir Wrote:
(11-12-2009, 11:02 AM)Taufik GM-MarKA Wrote: Ini gambar'a biar gak repot ke TKP
[Image: CIMG2333.JPG]

kok kayak yg di link ini ya
http://geoff-plumb.fotopic.net/p60294132.html
[Image: ?iid=yzvbcy&outx=0&quality=100&noresize=1]
tapi kelas ekonominya.

sepertinya yg kereta Double Decker tuh hasil retrofit dari kereta CL yg dibawah,, tapi atapnya aga ditinggiin lagi..
[CL: Kereta kelas 3 dengan rem vakum]
Dengan ponsel Samsung GT-S5233S + IM3, ditambah juga Telkom Speedy tetep bisa buka Semboyan35.com meskipun dengan penuh kesabaran.


[Image: v7sagz.jpg]
My Name in QR-Code
Reply
#26
(15-12-2009, 01:48 PM)Charles Wrote: Tidak juga, KRL JR E230/1-1000 dan E530/1 yang punya gerbong DD mirip dengan yang ada di BY MRI (DD di tengah, di ujungnya seperti gerbong biasa) gaugenya 1067 mm.
Bisa dijelaskan tidak spesifikasi gerbongnya jika memang di tikungan dia oleng?

Tapi KRL yang di Jepang itu double decker tanggung yah. Kapasitas double decekrnya terbatas sekali. (Image pleas).

Beda dengan KRL komuter di Sydney atau KA komuter di Amerika serikat yang double decker.

Justru yang dibutuhkan di Indonesia adalah seperti KRL di Sydney atau KA komuter di Amerika, karena kapasitasnya didesain untuk angkutan di daerah berpenduduk padat.
Reply
#27
Ini buat mas Bagus
[Image: s33-0-047_e231kotsu2.jpg]

Gerbong DD'a ada di tengah

Atau yang kayak begini, tp cuma beda gauge'a
[Image: JR_East_max_yamabiko_train.jpg]
[Image: 21kkvba.jpg]
Reply
#28
(16-12-2009, 12:16 PM)bagus70 Wrote:
(15-12-2009, 01:48 PM)Charles Wrote: Tidak juga, KRL JR E230/1-1000 dan E530/1 yang punya gerbong DD mirip dengan yang ada di BY MRI (DD di tengah, di ujungnya seperti gerbong biasa) gaugenya 1067 mm.
Bisa dijelaskan tidak spesifikasi gerbongnya jika memang di tikungan dia oleng?

Tapi KRL yang di Jepang itu double decker tanggung yah. Kapasitas double decekrnya terbatas sekali. (Image pleas).

Beda dengan KRL komuter di Sydney atau KA komuter di Amerika serikat yang double decker.

Justru yang dibutuhkan di Indonesia adalah seperti KRL di Sydney atau KA komuter di Amerika, karena kapasitasnya didesain untuk angkutan di daerah berpenduduk padat.

Maksudnya setiap gerbong itu sudah DD kan?
Kalau seperti itu axle load relnya tentu saja harus ditambah, dan pakai gauge yang lebih lebar dari yang dipakai saat ini (rekomendasi gauge standar int'l 1435 mm).
Kembali ke masalah gerbong DD di MRI, menurut saya gerbong itu hanya eksperimen saja karena ruang gerak penumpangnya terlalu sempit sehingga perlu dibuat versi yang ruang bebasnya lebih lebar.
Tokyo Metro 05-108F|Sora Naegi
[Image: 2r56iya.jpg]
Jabodetabek no Tsuukin Dentetsu (KCJ)
Reply
#29
penasaran nih pengen liat DD....tp mungkin gak buat saat ini di buat kereta DD....tanpa merubah lebar sepur....selain bisa menambah kapasitas angkut...????
Reply
#30
(19-12-2009, 12:55 AM)payzo_bangunkarta Wrote: penasaran nih pengen liat DD....tp mungkin gak buat saat ini di buat kereta DD....tanpa merubah lebar sepur....selain bisa menambah kapasitas angkut...????

apasih yg gak bisa sekarang ini,teknologi sdh ada, mau riset sendiri atau beli lisensi dari negara lain juga bisa....
Tersenyuum

Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 1 Guest(s)