26-03-2010, 01:37 PM
ANE TAMBAH LAGI INFONYA DARI MEDIA LAIN....
KA Parahyangan Anjlok, Diduga Satu Orang Tewas
Aprizal Rahmatullah - detikNews
Jakarta - KA Parahyangan jurusan Jakarta-Bandung mengalami anjlok, Kamis (25/3/2010) malam. Satu orang diduga tewas karena tergencet.
Kejadian tersebut terjadi sekitar pukul 19.30 WIB di sekitar perbatasan Cigania-Sukatani Purwakarta. Salah seorang penumpang menceritakan kepada detikcom bahwa kejadian tersebut sempat membuat trauma.
"Kita kaget karena anjloknya sangat terasa. Kipas angin pada jatuh," kata Abban kepada detikcom melalui telepon, Jumat (26/3/2010).
Menurut Abban, anjloknya kereta karena roda di gerbong bisnis 3 terlepas. Akibatnya, kereta menjadi oleng dan berhenti mendadak.
"Saya duduk di gerbong 4. Saya lihat roda di gerbong 3 malah ada di gerbong 4," jelasnya.
Akhirnya, seluruh penumpang gerbong bisnis 3 dan 4 dievakuasi menuju gerbong bisnis 2 dan 1. Sebagian juga ada yang diarahkan menuju gerbong eksekutif.
Abban menjelaskan, dirinya tidak mengetahui ada korban dalam kejadian ini. Namun diduga ada satu orang yang tewas akibat tergencet.
"Saya kurang tahu jelasnya, karena saat itu keadaannya gelap. Mungkin saja ada orang yang sedang duduk dan berdiri di perbatasan gerbong jatuh," ungkap Abban.
Kejadian tersebut tidak berlangsung lama. Sekitar 30 menit kemudian, KA Parahyangan kembali berjalan. Sementara gerbong bisnis 3 dan 4 ditinggalkan oleh petugas.
"Kalau tidak salah kereta di belakang terhalang dan belum jalan," pungkasnya.
Kereta cargo (pengangkut barang) mengalami anjlok di kilometer 112+4/5 antara Ciganeah-Sukatani Purwakarta sekitar pukul 08.52 WIB pagi tadi. Akibatnya kereta yang melintas di jalur ini pun terhambat.
"Keretanya meluncur dari Tanjung Priok menuju Gedebage," tutur KA Humas PT KA Daop II Bandung Bambang S Prayitno ketika dihubungi detikbandung melalui telepon selular Kamis (25/3/2010).
Kereta yang terdiri dari 14 rangkaian gerbong itu anjlok di gerbong yang ada di belakang lokomotif. "1 bogie dan 3 as anjlok. Gerbongnya di belakang loko," jelasnya.
Namun, kereta sudah berhasil dievakuasi dengan menggunakan dongkrak hidrolik sekitar pukul 12.00 WIB tadi siang. "Kalau keretanya sudah diangkat. Tapi jalur di sana masih dikuatkan dan terus dipantau. Penguatan sendiri masih berlangsung," imbuhnya.
Akibat penguatan jalur ini, kereta yang melintas di jalur ini harus melaju perlahan. "Kereta yang melintas harus melaju pada kecepatan 5 km per jam padahal normalnya 50 km per jam," tutur Bambang.
Selain itu, beberapa kereta juga mengalami keterlambatan. "Kereta yang mengalami keberangkatan ada 2. KA Parahyangan dan Argo Gede jurusan Jakarta Bandung dan sebaliknya. "Keterlambatannya sekitar 2 sampai 3 jam," ujarnya.
Bandung-Purwakarta Tersendat
Jalur Ciganea-Sukatani Termasuk Pengawasan Khusus
Tya Eka Yulianti - detikBandung
ilustrasi
Bandung - Jalur Ciganea-Sukatani KM 114+4/5 yang menghubungkan Bandung-Purawakarta ternyata memang masuk dalam jalur pengawasan PT KA Daop II Bandung. Jalur tersebut merupakan 1 di antara 9 jalur yang masuk kategori rawan longsor dan berstruktur labil.
Hal itu dikatakan Kepala Humas PT KA Daop II Bandung, Bambang S. Prayitno, saat dihubungi detikbandung, Rabu (17/2/2010).
"Jalur tersebut memang masuk jalur pengawasan khusus kami, karena kondisi tersebut sudah ada sejak lama," ujar Bambang.
Karena masuk dalam titik rawan, petugas pun disiapkan untuk selalu siaga memeriksa kondisi rel secara rutin dan pada saat terjadi hujan. "Cuaca sulit diprediksi, kita mengantisipasi," tambahnya.
Dituturkan Bambang, kondisi geografis di wilayah Daop II Bandung berpotensi membuat jalur kereta api labil. "Faktor geografis yang bergunung-gunung, ditambah kondisi lingkungan yang berubah mempengaruhi kondisi rel," papar Bambang.
Bambang menyebut, ada sekitar 9 titik rawan longsor dan tanah labil di Daop II. Di antaranya Ciganea, Bumi Waluya, dan Cipendeuy. "Jangankan beberapa meter yang labil, hanya semeter saja rel ditemukan labil, kami tak berani melewatkan kereta," tutupnya.
KA Parahyangan Anjlok, Diduga Satu Orang Tewas
Aprizal Rahmatullah - detikNews
Jakarta - KA Parahyangan jurusan Jakarta-Bandung mengalami anjlok, Kamis (25/3/2010) malam. Satu orang diduga tewas karena tergencet.
Kejadian tersebut terjadi sekitar pukul 19.30 WIB di sekitar perbatasan Cigania-Sukatani Purwakarta. Salah seorang penumpang menceritakan kepada detikcom bahwa kejadian tersebut sempat membuat trauma.
"Kita kaget karena anjloknya sangat terasa. Kipas angin pada jatuh," kata Abban kepada detikcom melalui telepon, Jumat (26/3/2010).
Menurut Abban, anjloknya kereta karena roda di gerbong bisnis 3 terlepas. Akibatnya, kereta menjadi oleng dan berhenti mendadak.
"Saya duduk di gerbong 4. Saya lihat roda di gerbong 3 malah ada di gerbong 4," jelasnya.
Akhirnya, seluruh penumpang gerbong bisnis 3 dan 4 dievakuasi menuju gerbong bisnis 2 dan 1. Sebagian juga ada yang diarahkan menuju gerbong eksekutif.
Abban menjelaskan, dirinya tidak mengetahui ada korban dalam kejadian ini. Namun diduga ada satu orang yang tewas akibat tergencet.
"Saya kurang tahu jelasnya, karena saat itu keadaannya gelap. Mungkin saja ada orang yang sedang duduk dan berdiri di perbatasan gerbong jatuh," ungkap Abban.
Kejadian tersebut tidak berlangsung lama. Sekitar 30 menit kemudian, KA Parahyangan kembali berjalan. Sementara gerbong bisnis 3 dan 4 ditinggalkan oleh petugas.
"Kalau tidak salah kereta di belakang terhalang dan belum jalan," pungkasnya.
Kereta cargo (pengangkut barang) mengalami anjlok di kilometer 112+4/5 antara Ciganeah-Sukatani Purwakarta sekitar pukul 08.52 WIB pagi tadi. Akibatnya kereta yang melintas di jalur ini pun terhambat.
"Keretanya meluncur dari Tanjung Priok menuju Gedebage," tutur KA Humas PT KA Daop II Bandung Bambang S Prayitno ketika dihubungi detikbandung melalui telepon selular Kamis (25/3/2010).
Kereta yang terdiri dari 14 rangkaian gerbong itu anjlok di gerbong yang ada di belakang lokomotif. "1 bogie dan 3 as anjlok. Gerbongnya di belakang loko," jelasnya.
Namun, kereta sudah berhasil dievakuasi dengan menggunakan dongkrak hidrolik sekitar pukul 12.00 WIB tadi siang. "Kalau keretanya sudah diangkat. Tapi jalur di sana masih dikuatkan dan terus dipantau. Penguatan sendiri masih berlangsung," imbuhnya.
Akibat penguatan jalur ini, kereta yang melintas di jalur ini harus melaju perlahan. "Kereta yang melintas harus melaju pada kecepatan 5 km per jam padahal normalnya 50 km per jam," tutur Bambang.
Selain itu, beberapa kereta juga mengalami keterlambatan. "Kereta yang mengalami keberangkatan ada 2. KA Parahyangan dan Argo Gede jurusan Jakarta Bandung dan sebaliknya. "Keterlambatannya sekitar 2 sampai 3 jam," ujarnya.
Bandung-Purwakarta Tersendat
Jalur Ciganea-Sukatani Termasuk Pengawasan Khusus
Tya Eka Yulianti - detikBandung
ilustrasi
Bandung - Jalur Ciganea-Sukatani KM 114+4/5 yang menghubungkan Bandung-Purawakarta ternyata memang masuk dalam jalur pengawasan PT KA Daop II Bandung. Jalur tersebut merupakan 1 di antara 9 jalur yang masuk kategori rawan longsor dan berstruktur labil.
Hal itu dikatakan Kepala Humas PT KA Daop II Bandung, Bambang S. Prayitno, saat dihubungi detikbandung, Rabu (17/2/2010).
"Jalur tersebut memang masuk jalur pengawasan khusus kami, karena kondisi tersebut sudah ada sejak lama," ujar Bambang.
Karena masuk dalam titik rawan, petugas pun disiapkan untuk selalu siaga memeriksa kondisi rel secara rutin dan pada saat terjadi hujan. "Cuaca sulit diprediksi, kita mengantisipasi," tambahnya.
Dituturkan Bambang, kondisi geografis di wilayah Daop II Bandung berpotensi membuat jalur kereta api labil. "Faktor geografis yang bergunung-gunung, ditambah kondisi lingkungan yang berubah mempengaruhi kondisi rel," papar Bambang.
Bambang menyebut, ada sekitar 9 titik rawan longsor dan tanah labil di Daop II. Di antaranya Ciganea, Bumi Waluya, dan Cipendeuy. "Jangankan beberapa meter yang labil, hanya semeter saja rel ditemukan labil, kami tak berani melewatkan kereta," tutupnya.

![[Image: kaatapcopy.jpg]](http://i684.photobucket.com/albums/vv204/chidzir/kaatapcopy.jpg)