Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
PT KA akan tutup 3 jalur KA yang merugi
#81
saya rasa di sini kita harus ber-optimis dulu, tentu ada sebab-akibat dari semua ini, kita juga khan belum tahu/pengen tahu.Umpamanya KA Canex di hapus sudah barang tentu PT KA pasti ada maksud tertentu semisal ada kereta baru atau KA lama diperpanjang (denger berita Sancaka nyampe JR atau Bima kayak Harina/Rajawali) Kita ndak usah mempersoalkan asal kereta tersebut dari "DAOP" mana yang penting KA tersebut melayani penumpang di jalur tersebut. Kasus dulu Daop 3 dan Daop 4 ribut-ribut soal trayek Cireks ama Kaligung, Daop 3 pengen Cireks nyampe TG tapi Daop 4 waktu itu ndak mau alasannya takut Penumpang dari seputaran TG (TG, Pemalang) kesedot KA ini, sampai akhirnya Daop 3 memutuskan hanya sampai Brebes. Hasilnya tetap saja penumpang dari TG dan Pemalang naik KA Cireks, mereka rela naik angkutan darat lain (elf, minibus) dari daerah masing-masing hanya untuk naik KA Cireks. Sampai akhirnya sekarang kedua Daop itu "AKUR" Cireks sekarang nyampe TG kendati sekarang pendapatan Daop 3 menurun.


maaf bukan menggurui tapi ini fakta dilapangan
asep tea

Reply
#82
Diskusi mulai menarik buat sayah....

(05-11-2009, 05:28 PM)oechoep_galuh Wrote: Maaf bung Gege, data di lapangan memang penting tetapi menurut saya bukan satu-satunya alasan bagi PT KA dalam mengambil keputusan. Seorang businessman sejati adalah dia mampu menciptakan pangsa pasar, ketika suatu KA penumpang sepi, seharusnya dia tertantang untuk membuat suatu inovasi yang menarik calon penumpang. Kalo hanya bersandar pada data semata, maka kategori untuk Kereta Api akan terbagi rata dengan angkutan massa lainnya contohnya bis, dan kapal terbang. Maka tindakan PT KA seharusnya adalah bagaimana cara menarik calon penumpang yang dengan inovasi-inovasinya yang jitu!

Kang Oecoep (bukan Kang Oeroeg pan? heheheh...)
Mengenai statement anda yang dibold itu, sayah rasa ada sedikit tambahan...
Menurut sayah, yang bukan ahli manajemen dan bisnis, sebelum melakukan sesuatu kegiatan, harus ada kejelian, masukan dan tindakan dalam mengolah data. Terlebih lagi kita berbicara organisasi yang besar seperti BUMN.

Menciptakan pasar darimana kalau ia tidak tahu pangsa pasar yang ada membutuhkan apa??
Menciptakan pasar darimana kalau ia tidak tahu investasi awal yang dibutuhkan untuk itu?
Menciptakan pasar darimana kalau ia tidak tahu BEPnya kapan dan berapa?
Menciptakan pasar darimana kalau ia tidak tahu besarnya profit yang akan dicanangkan dan dicapai??
Semua itu dari data dilapangan, Mas...

Contoh kasus :
Quote:Seperti halnya marketing suatu produk jasa...
Seorang manajer marketing akan melemparkan suatu produk jasa ke masyarakat, ia ingin tahu pangsa pasar yang akan menjadi sasaran produk jasanya, berapa sering masyarakat akan menggunakan produk tersebut, bagaimana perilaku masyarakat bila produk jasa tersebut ada di lapangan (dengan petisi/isian), berapa lama produk jasanya akan bertahan, berapa biaya dalam menciptakan dan mempertahankan produk jasanya tersebut selama kurun waktu tertentu, berapa profitnya, kapan BEP, esetra.....esetra....

Kompleks dan data yang berbicara Mas....
Minimal waktu yang dibutuhkan untuk melakukan pengumpulan data dan melakukan riset di lapangan adalah satu tahun!!!!

Ada pertimbangan, keputusan, pengelolaan, feedback dan finalisasi dari beberapa data yang ada dilapangan termasuk di dalamnya adalah suara-suara pengguna jasa, masukan dari pegawai di DAOP tersebut (seperti kasusnya yang diceritakan Kang Asep), untuk kemudian dijadikan acuan dalam mengambil suatu keputusan yang diperlukan.

Dan top level management Operator KA paham mengenai hal ini!

So...
Buat apa diperdebatkan mengenai apa yang terbaik buat operator kereta api kita kalau kita tidak memberikan masukan yang nyata, data-data yang valid, dan suara-suara pengguna jasa yang membutuhkan angkutan tersebut kepada mereka???

Toh, kita hanya penikmat kereta api, bukan masuk dalam jajaran pegawai atau malah jajaran top level management operator kereta api.

Maka dari itu alangkah baiknya kita berikan masukan yang berarti untuk mereka yang duduk sebagai top level management agar bisa berfikir kembali mengenai keputusan-keputusan yang akan dan telah diambil dengan kenyataan yang ada di lapangan....


NB : Saya tidak membela keputusan negatip atau positif operator kereta api sebagai institusi, namun sayah hanya penikmat kereta api dan peduli terhadap alat angkut masal ini.
[Image: spammingsj0.gif]
Reply
#83
ada sedih ada gembira nyasih

ini sudut pandang ane yah Tersenyuum

sedih nya subject kereta yg di potrk kalo pas blusukan jadi sedikit berkurang

gembiranya

walopun berkurang subject potrek jadi nambah variasinya gak cuma KA penumpang 3 kelas ajah

lucu kan nanti dapet subjek KA baja, KA aqua, ato mungkin Ka ternak ...:p

maap saya gak pinter soal manajemen de el el tapi saya memandang cuma dari opical lens kamera saya ajah Big Grin
koleksi jepretan ane
http://www.flickr.com/photos/jhon_ipenk/

[Image: meshoostggyt-1.jpg]
me whit ss-2v5 PInDAD
Reply
#84
komentar Maleks aja dah.....kalo Maleks dihapus, ga kaget, K2 emang mau dihapus kan? lagian desas-desusnya ada KA relasi ML-BD, mungkin Wilis diperpanjang sampe Malang...so anggep aja gantinya Maleks Wek
dugaan kedua, Maleks dihapus karena kurang armada? (lok & rangkaian)
entahlah....hanya Tuhan yang tau....(wek......) Tersenyuum
[Image: 4465346396_1def117691_o.jpg]
Reply
#85
(05-11-2009, 04:43 PM)Gege Wrote: Baik Mas Toto...

Untuk tindakan konkretnya dan membantu masukan data yang relevan, real dan memnag ada di lapangan, alangkah baiknya kita :
Quote:coba jepret / photo setiap kali jam tsb penuh laris manis, lalu kirim langsung (lewat e-mail atau snail-mail) ke Dir Ut PTKA yg (katanya) mantan orang business, termasuk laporan singkat estimasi penumpang per kereta kali jumlah kereta, ketemu estimasi total penumpang. Bikin ber-seri untuk beberapa kali perjalanan / per minggu. Mirip gaya/style Konsultan Marketing dalam laporan pangsa pasar. Atau sekalian buat tulisan di Media Massa

Jangan sampai pak DirUt diberi informasi yn menyesatkan dari staf nya, karena maksud2 pribadi, yg gak karuan.
Susanto



Ada yang mau???

Sebagai railfan, saya rasa kita memang punya kapasitas dan komitmen tertentu dalam permasalahan seperti ini. Namun hemat saya, rekan-rekan yang menjadi staf PT KA lebih memiliki akses, kewenangan maupun legalitas dalam melakukan penelitian semacam ini. Siapa yang menjamin "orang luar" seperti saya bisa masuk stasiun dan melakukan dan melakukan hal seperti itu dengan bebas? Saya bukan staf PT KA dan bukan pegawai Dephub.

Salam,
(06-11-2009, 10:45 AM)Gege Wrote: Diskusi mulai menarik buat sayah....

(05-11-2009, 05:28 PM)oechoep_galuh Wrote: Maaf bung Gege, data di lapangan memang penting tetapi menurut saya bukan satu-satunya alasan bagi PT KA dalam mengambil keputusan. Seorang businessman sejati adalah dia mampu menciptakan pangsa pasar, ketika suatu KA penumpang sepi, seharusnya dia tertantang untuk membuat suatu inovasi yang menarik calon penumpang. Kalo hanya bersandar pada data semata, maka kategori untuk Kereta Api akan terbagi rata dengan angkutan massa lainnya contohnya bis, dan kapal terbang. Maka tindakan PT KA seharusnya adalah bagaimana cara menarik calon penumpang yang dengan inovasi-inovasinya yang jitu!

Kang Oecoep (bukan Kang Oeroeg pan? heheheh...)
Mengenai statement anda yang dibold itu, sayah rasa ada sedikit tambahan...
Menurut sayah, yang bukan ahli manajemen dan bisnis, sebelum melakukan sesuatu kegiatan, harus ada kejelian, masukan dan tindakan dalam mengolah data. Terlebih lagi kita berbicara organisasi yang besar seperti BUMN.

Menciptakan pasar darimana kalau ia tidak tahu pangsa pasar yang ada membutuhkan apa??
Menciptakan pasar darimana kalau ia tidak tahu investasi awal yang dibutuhkan untuk itu?
Menciptakan pasar darimana kalau ia tidak tahu BEPnya kapan dan berapa?
Menciptakan pasar darimana kalau ia tidak tahu besarnya profit yang akan dicanangkan dan dicapai??
Semua itu dari data dilapangan, Mas...

Contoh kasus :
Quote:Seperti halnya marketing suatu produk jasa...
Seorang manajer marketing akan melemparkan suatu produk jasa ke masyarakat, ia ingin tahu pangsa pasar yang akan menjadi sasaran produk jasanya, berapa sering masyarakat akan menggunakan produk tersebut, bagaimana perilaku masyarakat bila produk jasa tersebut ada di lapangan (dengan petisi/isian), berapa lama produk jasanya akan bertahan, berapa biaya dalam menciptakan dan mempertahankan produk jasanya tersebut selama kurun waktu tertentu, berapa profitnya, kapan BEP, esetra.....esetra....

Kompleks dan data yang berbicara Mas....
Minimal waktu yang dibutuhkan untuk melakukan pengumpulan data dan melakukan riset di lapangan adalah satu tahun!!!!

Ada pertimbangan, keputusan, pengelolaan, feedback dan finalisasi dari beberapa data yang ada dilapangan termasuk di dalamnya adalah suara-suara pengguna jasa, masukan dari pegawai di DAOP tersebut (seperti kasusnya yang diceritakan Kang Asep), untuk kemudian dijadikan acuan dalam mengambil suatu keputusan yang diperlukan.

Dan top level management Operator KA paham mengenai hal ini!

So...
Buat apa diperdebatkan mengenai apa yang terbaik buat operator kereta api kita kalau kita tidak memberikan masukan yang nyata, data-data yang valid, dan suara-suara pengguna jasa yang membutuhkan angkutan tersebut kepada mereka???

Toh, kita hanya penikmat kereta api, bukan masuk dalam jajaran pegawai atau malah jajaran top level management operator kereta api.

Maka dari itu alangkah baiknya kita berikan masukan yang berarti untuk mereka yang duduk sebagai top level management agar bisa berfikir kembali mengenai keputusan-keputusan yang akan dan telah diambil dengan kenyataan yang ada di lapangan....


NB : Saya tidak membela keputusan negatip atau positif operator kereta api sebagai institusi, namun sayah hanya penikmat kereta api dan peduli terhadap alat angkut masal ini.

Saudara-saudaraku,
Semakin seru saja perbincangan mengenai topik ini dan semoga pandangan saudara-saudara dari berbagai sudut pandang bisa sampai ke meja para pimpinan PT KA.
Baik pandangan Kang Gege maupun Kang Oechoep berisi wacana-wacana yang menarik dan menambah pengetahuan. Begitupula pendapat saudara-saudaraku yang lain.
Sejauh ini nampaknya tercipta suatu dialektika yang hangat dan sportif terkait topik penutupan tiga jalur KA ini. Oleh karena itu seyogyanya dialektika ini bisa difasilitasi oleh para Bravo untuk selanjutnya disalurkan kepada para pimpinan PT KA.
Sungguh sayang jika visi-visi saudara-saudaraku hanya berhenti sampai di sini tanpa ada proses mediasi dengan operator penyelenggara angkutan KA. Bagaimana ini para Bravo?

Salam dari rakyat S 35,
Reply
#86
(07-11-2009, 01:01 AM)Toto Wrote:
(05-11-2009, 04:43 PM)Gege Wrote: Baik Mas Toto...

Untuk tindakan konkretnya dan membantu masukan data yang relevan, real dan memnag ada di lapangan, alangkah baiknya kita :
Quote:coba jepret / photo setiap kali jam tsb penuh laris manis, lalu kirim langsung (lewat e-mail atau snail-mail) ke Dir Ut PTKA yg (katanya) mantan orang business, termasuk laporan singkat estimasi penumpang per kereta kali jumlah kereta, ketemu estimasi total penumpang. Bikin ber-seri untuk beberapa kali perjalanan / per minggu. Mirip gaya/style Konsultan Marketing dalam laporan pangsa pasar. Atau sekalian buat tulisan di Media Massa

Jangan sampai pak DirUt diberi informasi yn menyesatkan dari staf nya, karena maksud2 pribadi, yg gak karuan.
Susanto



Ada yang mau???

Sebagai railfan, saya rasa kita memang punya kapasitas dan komitmen tertentu dalam permasalahan seperti ini. Namun hemat saya, rekan-rekan yang menjadi staf PT KA lebih memiliki akses, kewenangan maupun legalitas dalam melakukan penelitian semacam ini. Siapa yang menjamin "orang luar" seperti saya bisa masuk stasiun dan melakukan dan melakukan hal seperti itu dengan bebas? Saya bukan staf PT KA dan bukan pegawai Dephub.

Salam,
(06-11-2009, 10:45 AM)Gege Wrote: Diskusi mulai menarik buat sayah....

(05-11-2009, 05:28 PM)oechoep_galuh Wrote: Maaf bung Gege, data di lapangan memang penting tetapi menurut saya bukan satu-satunya alasan bagi PT KA dalam mengambil keputusan. Seorang businessman sejati adalah dia mampu menciptakan pangsa pasar, ketika suatu KA penumpang sepi, seharusnya dia tertantang untuk membuat suatu inovasi yang menarik calon penumpang. Kalo hanya bersandar pada data semata, maka kategori untuk Kereta Api akan terbagi rata dengan angkutan massa lainnya contohnya bis, dan kapal terbang. Maka tindakan PT KA seharusnya adalah bagaimana cara menarik calon penumpang yang dengan inovasi-inovasinya yang jitu!

Kang Oecoep (bukan Kang Oeroeg pan? heheheh...)
Mengenai statement anda yang dibold itu, sayah rasa ada sedikit tambahan...
Menurut sayah, yang bukan ahli manajemen dan bisnis, sebelum melakukan sesuatu kegiatan, harus ada kejelian, masukan dan tindakan dalam mengolah data. Terlebih lagi kita berbicara organisasi yang besar seperti BUMN.

Menciptakan pasar darimana kalau ia tidak tahu pangsa pasar yang ada membutuhkan apa??
Menciptakan pasar darimana kalau ia tidak tahu investasi awal yang dibutuhkan untuk itu?
Menciptakan pasar darimana kalau ia tidak tahu BEPnya kapan dan berapa?
Menciptakan pasar darimana kalau ia tidak tahu besarnya profit yang akan dicanangkan dan dicapai??
Semua itu dari data dilapangan, Mas...

Contoh kasus :
Quote:Seperti halnya marketing suatu produk jasa...
Seorang manajer marketing akan melemparkan suatu produk jasa ke masyarakat, ia ingin tahu pangsa pasar yang akan menjadi sasaran produk jasanya, berapa sering masyarakat akan menggunakan produk tersebut, bagaimana perilaku masyarakat bila produk jasa tersebut ada di lapangan (dengan petisi/isian), berapa lama produk jasanya akan bertahan, berapa biaya dalam menciptakan dan mempertahankan produk jasanya tersebut selama kurun waktu tertentu, berapa profitnya, kapan BEP, esetra.....esetra....

Kompleks dan data yang berbicara Mas....
Minimal waktu yang dibutuhkan untuk melakukan pengumpulan data dan melakukan riset di lapangan adalah satu tahun!!!!

Ada pertimbangan, keputusan, pengelolaan, feedback dan finalisasi dari beberapa data yang ada dilapangan termasuk di dalamnya adalah suara-suara pengguna jasa, masukan dari pegawai di DAOP tersebut (seperti kasusnya yang diceritakan Kang Asep), untuk kemudian dijadikan acuan dalam mengambil suatu keputusan yang diperlukan.

Dan top level management Operator KA paham mengenai hal ini!

So...
Buat apa diperdebatkan mengenai apa yang terbaik buat operator kereta api kita kalau kita tidak memberikan masukan yang nyata, data-data yang valid, dan suara-suara pengguna jasa yang membutuhkan angkutan tersebut kepada mereka???

Toh, kita hanya penikmat kereta api, bukan masuk dalam jajaran pegawai atau malah jajaran top level management operator kereta api.

Maka dari itu alangkah baiknya kita berikan masukan yang berarti untuk mereka yang duduk sebagai top level management agar bisa berfikir kembali mengenai keputusan-keputusan yang akan dan telah diambil dengan kenyataan yang ada di lapangan....


NB : Saya tidak membela keputusan negatip atau positif operator kereta api sebagai institusi, namun sayah hanya penikmat kereta api dan peduli terhadap alat angkut masal ini.

Saudara-saudaraku,
Semakin seru saja perbincangan mengenai topik ini dan semoga pandangan saudara-saudara dari berbagai sudut pandang bisa sampai ke meja para pimpinan PT KA.
Baik pandangan Kang Gege maupun Kang Oechoep berisi wacana-wacana yang menarik dan menambah pengetahuan. Begitupula pendapat saudara-saudaraku yang lain.
Sejauh ini nampaknya tercipta suatu dialektika yang hangat dan sportif terkait topik penutupan tiga jalur KA ini. Oleh karena itu seyogyanya dialektika ini bisa difasilitasi oleh para Bravo untuk selanjutnya disalurkan kepada para pimpinan PT KA.
Sungguh sayang jika visi-visi saudara-saudaraku hanya berhenti sampai di sini tanpa ada proses mediasi dengan operator penyelenggara angkutan KA. Bagaimana ini para Bravo?

Salam dari rakyat S 35,
upin ipin say: betul..betul..betul..Xie Xie
[Image: a2vric.jpg]
Reply
#87
waaahhh..gak nyangka dapet sambutan yang cukup hangatXie XieXie Xie

@ bung Gege : weeeddeeehh..panjang dan lengkap sekali, sya juga senang!! Sya juga bukan seorang ahli ekonomi ataupun manajemen hanya berdasarkan logika dan intuisi pribadi saya. Contohnya, pada jaman PJKA dan PERUMKA dulu KA merupakan alat transportasi yang cukup favorit, karena pesawat mahal dan jalan tol belum banyak!! Sekarang kondisinya ketika telah menjadi PT KA malah justru lebih berat, pesawat harganya murah dan jalan tol telah banyak..artinya butuh seseorang yang benar2 pintar, inovatif, kreatif, pokoknya..tif..tif lah! untuk menyelamatkan PT KA agar tidak merugi. Saya tidak mengatakan bahwa data tidak penting, tetapi kadang-kadang manajemen harus dapat mengambil suatu keputusan walaupun datanya belum benar-benar valid, sepanjang itu bisa dipertanggungjawabkan demi kebutuhan jangka panjang..untuk itu maka PT KA benar2 membutuhkan ciri2 orang diatas tadi! Secara jujur saya sangat terpukul jika dibilang PT KA merugi, apalagi jika ada penutupan jalur akibat persaingan bisnis, karena saya telah menganggap kereta api merupakan simbol mobilisasi saya kemanapun saya pergi...
Akhir kata, terima kasih atas masukkannya..saya yakin tidak hanya bung gege saja yang peduli, semua anggota forum Semboyan 35 ini pasti peduli, sehingga pasti secara langsung ato tidak langsung apapun kebijakan PT KA harus kita support. Bentuk dukungan pun beragam tidak hanya pujian, usulan, dan lain-lain bahkan cacian, makian, sindiran pun sebenarnya merupakan dukungan..
Semoga kereta api kita tetap jaya

Salam Semboyan 35..
Reply
#88
akhirnya...........di "dipo" khan juga, priangan exspres. mulai tgl 1 des 2009..... ;(
Reply
#89
(25-11-2009, 11:48 AM)aagoeng Wrote: akhirnya...........di "dipo" khan juga, priangan exspres. mulai tgl 1 des 2009..... ;(

Wah, kalo jadi tgl. 1 Des 09 Priangan Express di "dipo" kan, saya kalo pulang ke Banjar tidak bisa naik lagi deh, mesti naik yang lain...padahal pas banget, kalo pulang Jum'at sore dari Bandung naik Priek ke Banjar nyampenya malam, Jum'at lalu aja hampir ketinggalan karena kejebak macet mo masuk stasiun nya, eh masih sempat deh dan masih dapat duduk di kelas Exe (memang sih katanya selalu kosong), tapi Jum'at lalu cukup penuh juga dan kebanyakan turun Tasikmalaya....
Reply
#90
(03-11-2009, 11:51 PM)oechoep_galuh Wrote:
(03-11-2009, 11:41 PM)Toto Wrote: Kalau penutupan semacam ini tanpa dilandasi oleh suatu evaluasi yang transparan dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah kepada publik, kapan PT KA akan maju? Asal jalur sepi, langsung ditutup. Ini ibarat memotong gunung es tapi dasarnya masih ada. Pasti gunung es itu tumbuh lagi.
Masalah sepi penumpang, hanya merupakan suatu puncak dari gunung es. Tapi apakah yang menjadi penyebab sepi seperti itu? Saya rasa, inilah yang mesti dievaluasi dan dikaji serta selanjutnya dirumuskan dalam suatu kebijakan yang tepat.

Jika asal tutup saja, lama-lama KA tidak maju-maju. Keputusan-keputusan kurang tepat seperti penutupan jalur-jalur trem tanpa alasan yang lebih bisa diterima mestinya jangan diulangi lagi. Jangan bikin para edan spoor menangis hanya karena PT KA selalu jatuh pada lubang yang sama.

Salam Spoor,
Toto
yup,ini yg mesti dicek ulang
Sya setuju dengan mas Toto! Seakan-akan PT KA mengambil suatu keputusan bisnis berdasarkan spekulasi semata, tanpa perhitungan yang matang, serta rencana jangka panjangnya.Tampaknya para pejabat PT KA harus mempunyai mental enterpreneurship, seperti para pengusaha. Ini rasanya yang tak dimiliki oleh pejabat PT KA!!!

kupikir mereka hanya memiliki mental pegawai saja
Fanboys are people who are willing to defend and promote the object of their affection. They are rarely objective and disregard facts that contradict their opinions.
Facebook BB: 55FFFBE5
Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 1 Guest(s)