Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Kecepatan Lokomotif
#1
KRL Eco 
Bro... sepengatahuan sy kecepatan lokomotif bisa mencapai 100km/jm tp kenyataannya jarang dipacu sampe kecepatan tsb. padahal kalau kecepatan bisa di maksimalkan bisa memperpendek waktu tempuh, shg penumpang senang. ada alasan lain??? Bye Bye
Keep Fighting Never Give
Reply
#2
penjelasan singkatnya begene:
memang dari perusahaan produsen lok (dalam hal ini GE untuk seri lok U atau di sini dikenal dengan lok CC 201-204) telah mendesain agar lok tersebut mampu melaju dengan kecepatan maksimal 120 kpj untuk lintasan sepur sempit 1067mm yang ada di Indonesia. tetapi hal ini (kecepatan maksimal) juga dipengaruhi oleh banyak faktor yang saling berkait erat, yakni:

  1. faktor kondisi prasarana (jalan rel, jembatan, wesel, perlintasan, lengkungan, tanjakan/turunan, dan terowongan) yang belum prima di Indonesia. untuk faktor2 yang terkait geografis seperti tanjakan/turunan mungkin tak bisa dihindari untuk mengurangi kecepatan, tetapi hal tersebut tidak selalu berlaku untuk faktor-faktor lain di atas. untuk kondisi jalan rel, kecepatan akan dapat dicapai secara maksimal jika dimensi rel menjadi semakin besar sehingga tekanan gandar dan sisi gelincirnya menjadi lebih besar yang berujung pada pemaksimalan perputaran adhesi roda yang artinya juga peningkatan kecepatan. berhubung saat ini kondisi rel yang ada masih bervariasi dari R25-R54, kondisi kecepatan ideal juga belum dapat dicapai. selain itu, dalam perawatan jalan rel ada ketentuan-ketentuan yang mengatur hubungan antara jalan rel dan roda kereta/lok yang tidak serta-merta memperbolehkan sebuah kereta dipacu melebihi kecepatan tertentu. hal ini juga terkait erat dengan masalah SDM dan dana. untuk faktor jembatan, terowongan dan perlintasan, ada pembatasan kecepatan karena hal ini berkaitan dengan perencaanan. saat jembatan, terowongan dan sebagian besar perlintasan dibuat, yang menjadi dasar perhitungan adalah perkembangan teknologi yang berkembang saat itu (zaman kolonial) yang tentu saja berbeda jauh dengan kondisi saat ini. dengan begitu tentu teknologi saat ini (kecepatan maksimal) harus tunduk dengan kondisi masa lalu. sederhananya, bayangkanlah terowongan untuk KA-KA super cepat di Jepang/Eropa dengan terowongan untuk KA kita di sini. tentunya dapat anda simpulkan sendiri perbedaannya bukan? wesel dan lengkungan adalah titik-titik mati dalam ilmu jalan rel, karena di titik-titik itulah potensi paling besar bagi kereta untuk dapat terlempar keluar dari lintasannya (derailment/anjlog). jadi jelaslah tentunya mengapa kereta kita di saat-saat tertentu, terutama untuk lintas yang meliuk-liuk dan banyak percabangan rel (wesel) kecepatannya tidak maksimal
  2. faktor keselamatan. hal ini adalah faktor utama dalam sebuah perjalanan KA. apalah artinya kenyamanan bila tidak selamat bukan? berangkat dari hal tersebut, operator KA (dalam hal ini PT. Kereta Api (Persero)) melakukan pembatasan kecepatan yang rata-rata mereduksi kecepatan maksimal menjadi 80-90%nya saja (sekali pun lintas tersebut dapat dilalui dengan kecepatan penuh).
  3. faktor lokomotif dan stamformasi kereta. logikanya, semakin panjang rangkaian kereta, semakin berat pula beban yang harus ditarik oleh lokomotif tersebut. ujung-ujungnya adalah penurunan kecepatan maksimal nya. selain itu, lokomotif kita juga rata-rata dipacu secara terus menerus sehingga adakalanya ngadat dan tidak bisa mencapai kecepatan maksimal yang bisa dicapainya.
  4. faktor lalu lintas. perjalanan KA diatur dalam Gapeka, yang di susun dan direncanakan dengan matang melalui hitungan-hitungan yang cermat sehingga menghasilkan patokan-patokan waktu tertentu yang oleh masinis di konversikan menjadi kecepatan. sehingga seperti yang kita ketahui, tidak selamanya KA-KA tersebut dapat dipacu maksimal.

tentu hal-hal yang sudah saya sebutkan di atas tadi juga mempengaruhi banyak faktor dan menjadi efek domino yang cukup rumit. seperti penurunan kecepatan berimbas pada waktu tempuh dan gapeka, berimbas pada kenyamanan penumpang, pendapatan, dll. tetapi percayalah, bahwa pada dasarnya semua pihak pasti akan mengutamakan keselamatan. dan berhubung keselamatan yang bisa dicapai oleh kita dengan sarana dan prasarana baru sebatas ini, maka rasanya angka 100 kpj sudah bisa kita anggap "maksimal". sekali pun demikian, impian untuk mempunyai KA-KA super cepat bukan khayalan di siang bolong karena masih memungkinkan untuk diwujudkan dikemudian hari

nb: penjelasan lebih lanjut nanti akan saya masukkan dalam materi tulisan-tulisan saya berikutnya
Reply
#3
Betul mas lukman, dgn dasar yg telah mas lukman sebutkan maka taspat (pembatasan kecepatan) kereta di Indonesia maksimal adalah 80 km/jam. Itupun hanya bisa dilakukan pada petak rel yg prasarananya cukup baik misal BKS - CN dan KTA - SLO. Pada petak tertentu terkadang taspatnya lebih kecil drpd 80 km/jam.
Kabarnya terkadang ada bbrp rekan mass yg berjiwa pembalap (kadang mass2 dr JNG) yg kadang suka memacu loknya sedikit diatas 80 km/jam. Selama dlm batas toleransi dan pelanggaran taspat tsb dilakukan pada petak rel yg prima mungkin tdk bermasalah.
Sekedar informasi saat ini PTKA relatif agak mudah memantau pelanggaran taspat karena di bbrp lok telah tersedia GPS.
Jadi meskipun scr teknis lok kita mampu dipacu hingga 120 km/jam tetapi operasionalnya hanya 80 km/jam.
Mohon ralat teman2 jika ada info dr sy yyg tdk akurat.
Tambah kecepatan kereta api agar tdk kalah bersaing setelah Toll Trans-Jawa rampung...
Reply
#4
teknologi KA udh semakin canggih, tp sayangnya tidak dibarengi dengan pembenahan rel nya. alngkah baiknya meminimalkan jumlah lengkungan atw memperbesar radius tikungan.
Keep Fighting Never Give
Reply
#5
kalo meminimalkan lengkungan dan memperbesar radius tikungan berarti jalurnya mesti dirombak dong?
~Because Your Smilling Is Our Happiness~
My Railway Photos
My Video Collection
Reply
#6
kaya'nya trit nya hampir sama dg yg ini
Reply
#7
Sebetulnya jaman belanda (th 1920an) sudah ada beberapa lokomotif uap yg mampu dipacu hingga 100 km/jam. Lok tsb diantaranya C50 dan C53.

Tetapi knp skrg taspat hanya 80 km/jam bahkan pada petak rel yg relatif lurus, seperti BKS - CN dan KTA - SLO. Apakah berarti kumunduran kita dlm perkeretaapian? Silahkan teman2 berpendapat.
Tambah kecepatan kereta api agar tdk kalah bersaing setelah Toll Trans-Jawa rampung...
Reply
#8
(16-08-2009, 09:58 AM)brantas Wrote: Sebetulnya jaman belanda (th 1920an) sudah ada beberapa lokomotif uap yg mampu dipacu hingga 100 km/jam. Lok tsb diantaranya C50 dan C53.

Tetapi knp skrg taspat hanya 80 km/jam bahkan pada petak rel yg relatif lurus, seperti BKS - CN dan KTA - SLO. Apakah berarti kumunduran kita dlm perkeretaapian? Silahkan teman2 berpendapat.

D 52 malah ktanya bisa sampe 140 Km/h
sekarang jumlah kereta tambah banyak, Traffic semakin padat
rel semakin sering di lewatin, jadi semakin cepat rusak ( Wear and Tear)
jadi pembatasan taspat diperlukan demi keamanan
sampai ada sistim baru yang memungkinkan kereta bergerak cepat dengan traffic yang padat, karena sebenarnya saranan kereta dan traksinya sendiri klo mau lari sampai 100 kmh bisa ko

mungkin begitu kira kira
Reply
#9
wah berarti dlm hal kecepatan kereta api Indonesia relatif stagnan...
Tambah kecepatan kereta api agar tdk kalah bersaing setelah Toll Trans-Jawa rampung...
Reply
#10
(16-08-2009, 10:11 AM)WOODWARD Wrote:
(16-08-2009, 09:58 AM)brantas Wrote: Sebetulnya jaman belanda (th 1920an) sudah ada beberapa lokomotif uap yg mampu dipacu hingga 100 km/jam. Lok tsb diantaranya C50 dan C53.

Tetapi knp skrg taspat hanya 80 km/jam bahkan pada petak rel yg relatif lurus, seperti BKS - CN dan KTA - SLO. Apakah berarti kumunduran kita dlm perkeretaapian? Silahkan teman2 berpendapat.



D 52 malah ktanya bisa sampe 140 Km/h
sekarang jumlah kereta tambah banyak, Traffic semakin padat
rel semakin sering di lewatin, jadi semakin cepat rusak ( Wear and Tear)
jadi pembatasan taspat diperlukan demi keamanan
sampai ada sistim baru yang memungkinkan kereta bergerak cepat dengan traffic yang padat, karena sebenarnya saranan kereta dan traksinya sendiri klo mau lari sampai 100 kmh bisa ko

mungkin begitu kira kira



Traffic padat ga selalu bikin lambat, asalkan smua KA melaju dg kcptn tinggi.
bs diilustrasikan begini:
Sebuah mobil A bisa melaju kec 150kpj d jalan tol yg sepi. seandainya ada 26 mobil (A-Z) di jln tsb, bisakah mobil A memacu kec 150kpj? jawab: bisa, asalkan mobil B-Z juga ber kec 150kpj.

utk melaju cepat emg butuh track lurus, jd sebaiknya meminimalkan tikungan (benar kata katsyusha: kalo meminimalkan lengkungan dan memperbesar radius tikungan berarti jalurnya mesti dirombak dong?). Dirombak sedikit demi sedikit lama2 jadi banyak kan, hehehe....
(16-08-2009, 09:58 AM)brantas Wrote: Sebetulnya jaman belanda (th 1920an) sudah ada beberapa lokomotif uap yg mampu dipacu hingga 100 km/jam. Lok tsb diantaranya C50 dan C53.

Tetapi knp skrg taspat hanya 80 km/jam bahkan pada petak rel yg relatif lurus, seperti BKS - CN dan KTA - SLO. Apakah berarti kumunduran kita dlm perkeretaapian? Silahkan teman2 berpendapat.


Seandainya kondisi rel, jalur bagus. knp ada taspat 80kpj? Mungkin krn KA yg di depan speednya 80kpj. Coba aja kl KA di dpn 120kpj, pasti KA yg di belakang speednya juga 120kpj. Tersenyuum
Keep Fighting Never Give
Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 1 Guest(s)