Thread Rating:
  • 1 Vote(s) - 5 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Pecinta Gajayana
[quote pid='427955' dateline='1432562734']
Henggar SPApakah Gajayana masij pake KMP3 sbg kereta makan?
[/quote]
Sudah tidak. Berdasarkan video yang saya take ini M1 nya Gajayana yang sudah di PA pasca batik dilepas normal dipakai lagi.
Facebook : Garry RP
Twitter : GarryKAHP
Flickr : GarryKAHP
Youtube : Gerikahp
Majulah Perkeretaapian Indonesia
Reply
KA Gajayana 41
Sabtu, 17 Oktober 2015
Malang - Gambir

Setelah beberapa hari menghabiskan waktu di Malang dan Pasuruan tiba saatnya saya kembali balik ke Jakarta. Awalnya mau berangkat tanggal 14 Oktober 2015, tiket sudah dibeli dan dicetak. Namun karena dirasa urusan belum selesai dan dapat tambahan cuti akhirnya mengajukan reschedule balik tanggal 17 Oktober 2015.

Pada kesempatan kali ini saya mendapat tempat duduk di Eks2 no 2A (subclass I). Berangkat dari rumah sekitar 12.35an wib dan tiba di Stasiun ML pada pkl 12.50an wib. Sekitar 7 menit kemudian saya melakukan boarding dan masuk ke dalam stasiun. Disini saya meluangkan waktu untuk mengamati area stasiun ML sambil menunggu KA 41 dilangsir di jalur 1. Pada saat itu jalur 1 terdapat KA Penataran tujuan SGU, jalur 2 terdapat KA Tawang Alun yang tak lama lagi akan diberangkatkan kembali menuju Stasiun MLK. Sementara di jalur 3 ditempati oleh KA Bima yang akan berangkat 55 menit setelah keberangkatan KA 41.


[Image: DSC_1599.jpg]

Tak lama setelah KA Penataran diberangkatkan kembali menuju Stasiun Blimbing. KA 41 dilangsir dengan membawa 6 K1 batch 2009 asli serta 1 K1 batch 80an dari SDT(kaca lebar) yang menempati K1-7. Saya sendiri naik di KA dengan nomor K1 009 09 ML dengan fasilitas yang masih lengkap seperti meja makan, foot rest, toilet bersih dan terdapat sabun cuci beserta tissue, sementara kursi  menggunakan bahan kain beludru yang masih empuk. Suhu ruangan didalam kereta cukup dingin mencapai 24-25 derajat celcius dan akan terus turun hingga 20an derajat celcius ketika KA 41 nantinya melewati petak CN-GMB.

KA 41 diberangkatkan tepat waktu pkl 13.30wib dari Stasiun ML. Berturut-turut KA 41 singgah di Stasiun Kepanjen pada pkl 13.56wib, Wlingi 14.51wib, Blitar 15.18 wib, Tulungagung 15.53wib, Kertosono 17.20 wib, Kediri 16.42 wib(suhu udara mencapai 23,7 derajat), Madiun 18.32wib(suhu udara mencapai 22,7 derajat), Purwokerto pkl 23.12 wib(beberapa stasiun tak tercatat lapkanya karena ngantuk dan lain hal hehehehe), Jatinegara 04.02 wib, dan Gambir 04.18 wib. Hanya telat 15 menit dari jadwal, TOP lah.


[Image: DSC_1604.jpg]

Sepanjang perjalanan KA 41 nyaman sekali. Bisa buat tidur nyenyak hampir sepanjang perjalanan, guncangan hampir tak kerasa(perbandingannya ketika saya naik KA 56 seminggu sebelumnya seperti meloncat2 5cm, untuk KA 41 hanya separuhnya sekitar 2cm saja).

Fyi, harga nasgor ayam di KA Gajayana rp 30.000,00 dengan lauk sebuah paha ayam goreng. Masih lebih worthed ketika naik KA Bima bulan Juni lalu yang selain ada paha ayam juga terdapat sebutir telur ceplok.


[Image: DSC_1600.jpg]
Reply
Sabtu, 24 Oktober 2015
KA Gajayana (41)
Malang - Jatinegara


Setelah menyelesaikan beberapa urusan di Malang, dan habis waktu cuti saya balik ke Jakarta kembali menggunakan KA Gajayana (41). Urusan pembelian tiket dilakukan oleh calon istri karena ketika saya sampai di Gambir pada 19 Oktober sebelumnya loket pembelian KA non go show sudah tutup. Saya sendiri mendapat tiket KA 41 subclass A, dengan kereta eks1 nomor tempat duduk 5C.

Berangkat ke Stasiun ML sekitar pkl 12.30wib, langsung melakukan boarding. KA 41 langsir di jalur 1 dari arah selatan stasiun (berjalan mundur). KA 41 sendiri pada saat itu membawa 6 K1 batch 2009 rangkaian asli Gajayana beserta 1 K1 jendela lebar K1 080 01 SDT.Saya menempati kereta bernomor K1 009 16 ML.


[Image: IMG_20151024_131925.jpg]

Kondisi interior KA cukup terawat. Pintu otomatis dan TV LED berfungsi, demikian halnya meja makan dan foot rest. Meski papan LED informasi tidak menyala tapi saya bersyukur karena saya mendapat kereta yang menggunakan kursi berbahan kain beludru. Kondisi suhu ruangan didalam KA sendiri cukup dingin dibawah 24 derajat celcius dan akan terus menurun suhunya hingga KA tiba di Jatinegara.


[Image: IMG_20151024_132005.jpg]



[Image: IMG_20151024_151236.jpg]
KA 41 berangkat tepat waktu dari Stasiun ML pada pkl 13.30wib. Berturut-turut KA 41 singgah di Stasiun Kepanjen pada pkl 13.56wib, Wlingi 14.53 wib, Blitar 15.24wib, Tulungagung 16.00wib, Kertosono 17.23wib, Solo (diantara 19.30-20.00wib), Yogyakarta 20.31wib, Purwokerto 23.21wib, dan akhirnya tiba di Stasiun Jatinegara pkl 04.17wib(lapka di Kutoarjo, Cirebon tidak tercatat). 


[Image: DSC_1693.jpg]


Bonus penampakan nasi goreng sea food di KA Gajayana. Harga Rp 30.000,00 namun untuk kualitas sejujurnya masih mending nasi goreng ayam mainstreamnya PT Reska(gak kerasa seafood-nya).

[Image: DSC_1692.jpg]
Reply
Sabtu, 30 Desember 2015
KA Gajayana (41)
Malang - Gambir

K4-2A

Selesai cuti menikah saya memutuskan balik ke Jakarta. Keberangkatan kali ini saya menggunakan KA Gajayana 41 yang telah dipesan 3 bulan sebelumnya. Sebelumnya tak terpikir balik ke Jakarta menggunakan KA Gajayana, inginnya menggunakan KA Bima dengan pertimbangan agar memiliki spare sedikit waktu lagi di Malang. Namun apa daya, tiket KA Bima hanya menyisakan TBA semua. Dari sekitar hampir 350 tiket, hampir seluruhnya tiket subclass A. Dapat KA 41 tak mengapa pikir saya, toh punya keunggulan waktu tempuh meski sampai di Jakarta di waktu subuh.

Skip skip, tibalah hari keberangkatan saya. Berangkat dari rumah pkl 12.30wib, dan sampai di stasiun pkl 12.50an wib. Setelah mengucap selamat tinggal sejenak kepada istri yang baru dinikahi beberapa hari lalu, saya bergegas boarding di stasiun. Suasana stasiun ML kala itu sangat ramai. Momen peak season menjadikan calon penumpang yang berangkat dari stasiun ML melimpah dari biasanya. Perkiraan saya ada sekitar 300 orang yang standby di jalur 1 dan merupakan penumpang dari KA Gajayana saja. Sementara di ruang tunggu VIP, terdapat puluhan calon penumpang KA Bima.

Pkl 13.00wib, rupanya KA 41 masih stabling di jalur 4. Sementara di jalur 1 terdapat KA Penataran tujuan SGU yang masih tertahan dan semestinya berangkat puluhan menit sebelumnya. Sedangkan di jalur 2 terdapat KA Tawang Alun yang akan diberangkatkan kembali ke Stasiun MLK. Hanya beberapa menit saya disana, KA Tawang Alun diberangkatkan kembali ke MLK.


[Image: DSC_0528.jpg]


Lama menunggu akhirnya ada tanda2 pergerakan atau persiapan keberangkatan KA Gajayana. Pkl 13.25wib, KA Penataran di jalur 1 maju ke arah utara dan stabling di jalur 4. Entah mengapa KA Penataran tidak diberangkatkan ke Stasiun Blimbing. Sementara KA Gajayana mengambil posisi di selatan stasiun dan bersiap langsir di jalur 1. Dalam bayangan saya sepertinya KA Gajayana akan mengalami keterlambatan keberangkatannya. Dan memang benar demikian..

KA 41 langsir di jalur 1 tanpa mengalami hambatan. Namun kondisi tak wajar saya rasakan ketika saya masuk ke kereta. Rupanya AC didalam kereta tak menyala, demikian pula dengan penerangan lampu dan TV. Saya tanyakan kepaad prami yang bertugas, dengan agak sedikit panik ia menjawab jika memang ada problem dan akan dibenahi oleh teknisi yang bertugas. OK pikir saya. 

Suasana yang gerah didalam KA membuat saya tak berlama-lama duduk didalamnya. Saya mengambil inisiatif mengambil udara segar dengan berdiri di pintu bordes saja. Sesekali saya melihat beberapa teknisi berlarian di jalur 1, sebagian diantara mereka bukanlah teknisi atau operator yang bertugas didalam KA 41 sendiri rupanya. Ada belasan petugas dan pegawai KAI yang hilir mudik. Menarik pula, ketika saya saksikan di kereta sebelah (K1-3) ternyata mengalami permasalahan serupa. Rupanya problem bukanlah si sistem electrical kereta yang saya naiki. Gerbong Pembangkit menjadi titik utama pemecahan masalah di siang hari itu, tempat dimana belasan pegawai maupun teknisi PT. Kereta Api Indonesia (Persero) hilir mudik kesana.

Cukup lama masalah electrical di KA 41 diperbaiki. Sampai pada pkl 13.50 AC dan penerangan kereta mulai menyala dan KA 41 siap diberangkatan tepat 10 menit kemudian pada pkl 14.00wib. Dari petak ML ke KPJ, kereta berjalan lumayan cepat demi memangkas waktu ketertinggalan. Pkl 14.25 wib KA 41 tiba di Stasiun Kepanjen. Rasanya hanya 2-3 menit disini hingga akhirnya KA 41 diberangkatkan kembali.


[Image: DSC_0529.jpg]


Sejak memasuki petak Sumberpucung-Wlingi laju KA seperti tertahan taspat. KA 41 sendiri baru tiba di Stasiun Blitar pada pkl 16.03 wib(terlambat sekitar 50 menit dari jadwalnya). Selanjutnya KA 41 tiba di Stasiun Tulungagung pada pkl 16.39wib, Stasiun Kediri pkl 17.19wib, Kertosono pkl 18.03wib, Madiun pkl 19.21wib, Yogyakarta 21.45wib,  Jatinegara 06.14 wib, dan tiba di Stasiun Gambir 06.37 wib(telat 2,5 jam dari jadwalnya). Beberapa stasiun tidak sempat saya catat lapkanya karena ketiduran hehehe. Meski sempat mengalami masalah electrical kondisi suhu ruangan didalam KA Gajayana sangat dingin. Awal perjalanan suhu udara berkisar 24 derajat celcius, namun selepas Cirebon menjelang subuh, suhu udara drop hingga 20.5derajat celcius!!!

Pada perjalanan kali ini saya mendapat kereta bernomor K1 009 01 ML. Kondisi kereta masih memakai kursi beludru, TV dan pintu otomatis menyala. Meja lipat masih berfungsi, demikian pula dengan reclinign seat dan foot rest. Sementara kondisi toilet sendiri menggunakan tipe jongkok dan bersih. Hanya papan LED sudah tidak berfungsi. Sepanjang perjalanan KA, kursi sebelah saya tidak ada orangnya, sehingga saya bebas menguasai kedua bangku dari Malang hingga Gambir.


[Image: DSC_0521.jpg]



[Image: DSC_0525_1.jpg]
Reply
^^ Kalau kondisi saat ini sebenarnya lebih efektif naik Bima kang, soalnya sepanjang petak Malang terutama Karangkates hingga Blitar serta Ngadiwulih - Kediri masih berlaku taspat karena ada peningkatan rel kereta dari P38 ke R54. Jadi sudah dipastikan bakal telat sampe Gambir. Bulan Desember kemarin ane ke Jakarta sampe stasiun Gambir juga jam setengah enam pagi.
Reply
(05-01-2016, 10:28 AM)bramoy Wrote: ^^ Kalau kondisi saat ini sebenarnya lebih efektif naik Bima kang, soalnya sepanjang petak Malang terutama Karangkates hingga Blitar serta Ngadiwulih - Kediri masih berlaku taspat karena ada peningkatan rel kereta dari P38 ke R54. Jadi sudah dipastikan bakal telat sampe Gambir. Bulan Desember kemarin ane ke Jakarta sampe stasiun Gambir juga jam setengah enam pagi.

untuk saat ini beberapa petak pengerjaan rel sudah selesai , seperti di lintas nb-sbp sudah bisa lari 60 km/h meskipun masih ada njedul-njedulnya Big Grin

Reply
(05-01-2016, 10:28 AM)bramoy Wrote: ^^ Kalau kondisi saat ini sebenarnya lebih efektif naik Bima kang, soalnya sepanjang petak Malang terutama Karangkates hingga Blitar serta Ngadiwulih - Kediri masih berlaku taspat karena ada peningkatan rel kereta dari P38 ke R54. Jadi sudah dipastikan bakal telat sampe Gambir. Bulan Desember kemarin ane ke Jakarta sampe stasiun Gambir juga jam setengah enam pagi.

Terima kasih. Setuju mas. Apalagi kemarin ada anjlokan di terowokan EBK/DBK yang membuat Gajayana memutar lewat SDA, bikin kepikiran waktu tempuhnya.
Reply
(05-01-2016, 10:28 AM)bramoy Wrote: ^^ Kalau kondisi saat ini sebenarnya lebih efektif naik Bima kang, soalnya sepanjang petak Malang terutama Karangkates hingga Blitar serta Ngadiwulih - Kediri masih berlaku taspat karena ada peningkatan rel kereta dari P38 ke R54. Jadi sudah dipastikan bakal telat sampe Gambir. Bulan Desember kemarin ane ke Jakarta sampe stasiun Gambir juga jam setengah enam pagi.

Saya malah ngalamin kena taspat di petak tsb sejak November lalu, awal mula kena taspat juga pake KA 41 tarip khusus ML-MN. Kalo silangan dg KA 6 skrg normalnya di Babadan, biasanya di MN. Yg jadi pertanyaan, kapan penggantian relnya kelar? Soalnya KA2 dr ML yg lewat BL/KD pada telat terus...
Buah dari perjuangan adalah kebahagiaan
Semakin keras kita berjuang bagi hidup kita, semakin manis pula buahnya
Semakin santai perjuangan kita, semakin pahit pula buahnya


FLICKR Stephanie Anastasia stasiunkastephanie
Reply
Gajayana livery 10 Dulux... sekarang bukan di M1, tapi di 3 K1nya Big Grin
Reply
Gajayana.... biarpun gak pakai embel-embel argo tapi harganya senantiasa yang termahal di jajaran sepur eksekutip reguler di Indonesia Raya wkwkwkwk..... dan sampai saat ini saya masih menempelkan predikat sepur eksekutip reguler terbaik se-Indonesia Raya pada sepur yang satu ini... interiornya (at least sejauh pengalaman saya) senantiasa prima, apa-apanya masih berfungsi baik dan normal...

Semoga terus bertahan dengan kualitasnya Ngiler

Oh iya... Pak Dirut, murahin tiketnya Gajayana dikit boleh lah Paaak #plak
Seperti alunan detak jantungku,
tak bertahan, melawan waktu
dan semua keindahan, yang memudar
atau cinta, yang tlah hilang

==========

My latest TR: here Tawang Alun, 30 Juni 2013

Lok Merah Biru
Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: