Posts: 1,244
Threads: 0
Joined: Aug 2012
Reputation:
32
Wah sudah bawa 4 livery baru yg ganjil hari ini..
Posisinya K3-2 (sandaran kayu), K3-4, K3-6, K3-7.
Posts: 1,823
Threads: 0
Joined: Sep 2009
Reputation:
21
Matarmaja dari dulu sampai sekarang adalah juara
Posts: 2
Threads: 0
Joined: Jul 2012
Reputation:
0
Tadi saya liat matar pakai livery seperti jayabaya, apakah itu milik jayabaya ? bagaimana dgn seat kursinya ?
Posts: 835
Threads: 0
Joined: Aug 2011
Reputation:
3
(03-05-2015, 08:26 PM)jam3sv4y Wrote: Tadi saya liat matar pakai livery seperti jayabaya, apakah itu milik jayabaya ? bagaimana dgn seat kursinya ?
lebih tepatnya, K3 reguler yg dulunya berwarna kuning selendang milik ML sudah ada yg new livery.
kalau kursinya ya 3-2 wong emang K3 biasa yg waktunya PA trus ganti livery
semoga komuter di Surabaya dan sekitarnya lebih baik lagi 
Posts: 111
Threads: 0
Joined: Jun 2014
Reputation:
4
Halo semuanya. Setelah sekian lama ga nulis TR, saya mau nulis lagi nih. Kali ini saya ingin bercerita tentang pengalaman saya naik KA ekonomi yang sempat mendapat gelar dengan jarak tempuh terjauh dan waktu tempuh terlama di pulau Jawa, yang sekarang gelarnya sudah bergeser ke KA Krakatau. Tak lain dan tak bukan adalah KA Matarmaja.
Langsung saja ya.
Jumat, 29 Januari 2016 lalu saya pergi ke Malang dan Batu untuk berlibur sekaligus berwisata. Apalagi saya terakhir kali ke sana pada kelas XII SMA, dan kebetulan saya lagi seneng2x-nya ikut open trip sehingga ketika searching dan ada oen trip ke Malang-Batu 29-31 Jan, lsg saya ikut. Saya berangkat dengan KA Ekonomi Matarmaja rute PSE-ML yang harganya hanya Rp115.000,00 dengan waktu tempuh 16 jam 35 menit. Sudah lama rasanya tidak melakukan perjalanan KA sejauh dan selama itu, terakhir kali naik KA 32 Gajayana GMR-ML itupun sudah lama sekali saat saya masih kelas IX SMP bersama keluarga saya.
Saya berangkat dari rumah sekitar jam 11.30, padahal KA baru akan berangkat pada pukul 15.15. Mengapa demikian? Karena rumah saya berada di Citra Raya, Cikupa-Tangerang dan jalanannya memang macet apalagi banyak pabrik, belum lagi akses dari perumahan menuju jalan tol tidak dekat. Belum lagi harus berjibaku dengan kemacetan di jalan tol Tangerang-Jakarta dan benar saja selepas Tangerang (di wilayah Alam Sutera) jalanan mulai padat dipenuhi mobil, bus, dan truk dengan kecepatan kateogri nggremet tapi masih bisa jalan (Puji Tuhan masih bisa jalan, tidak (â—£_â—¢)┌∩â”). Alhasil saya pun tiba di Stasiun Pasar Senen pukul 13.40 WIB setelah melalui kemacetan jalan tol dan jalan raya di Jakarta. Oh ya, saya diantar oleh Ayah saya menggunakan mobil pribadi.
Cuaca saat itu cerah dan terik, namun keadaan stasiun tidak seramai yang saya bayangkan. Cukup kondusif dan sepi untuk ukuran Pasar Senen di hari Jumat (atau mungkin belum memasuki jam krusial seperti Jumat sore, petang, dan malam). Penumpang pun tidak banyak berjubel. Saya bertemu dan berkumpul dengan rombongan di depan Alfamart. Ada delapan orang yang berangkat dari Jakarta (sudah termasuk saya dan tour leader), namun posisi tempat duduk kami terpisah. Lima orang di kereta EKO 8, dua orang di kereta EKO 5, sedangkan saya sendiri berada di kereta EKO 2. Ya sudahlah tak apa, yang penting naik kereta dan sampai di Malang juga akan berkumpul kembali bersama-sama.
Saya dan rombongan boarding pada pukul 14.30 WIB dan rangkaian ternyata sudah menunggu di jalur 1 Stasiun PSE. Saya pun menuju ke kereta 2 dan saat masuk saya takjub karena kondisi kereta yang bersih, AC dingin, adem, sejuk, dan tempat duduk pun nyaman tidak keras. Apalagi kondisi kereta saat itu lowong. Saya pun menjadi tambah senang. Singkat cerita, beberapa penumpang pun mulai berdatangan sehingga membuat kondisi kereta pun ramai. Namun, AC masih tetap terasa. Saya duduk di kereta 2 di kursi 16 C (ada di tengah dan dekat dengan AC). Saya duduk di kursi yang konfigurasinya 3(total 6 orang hadap2x-an). Di depan saya ada dua orang wanita (Ibu dan Nenek atau ya bisa disebut anak-ortu) yang akan menuju Blitar. Di sebelah saya, dua orang laki-laki yang akan menuju ke Solo. Kami cukup banyak berbincang2x sepanjang perjalanan apalagi dengan ibu2x dan nenek yang sangat ramah itu.
Cukup lama saya menunggu keberangkatan KA dan beberapa kali saya melihat KA2x yg keluar masuk di PSE, spt KA Sawunggalih Utama Pagi dari KTA, KA Menoreh Pagi dari SMT, KA Barang Petikemas, dan KRL CL. Kemudian tepat pukul 15.15 WIB pun KA Matarmaja diberangkatan dari PSE menuju ML. Yeay! Siap menempuh perjalanan selama 16 jam 35 menit menuju Malang :
Sepanjang perjalanan yang nyaman ini, ternyata KA Matarmaja cukup sering berjalan lambat kemungkinan tunggu aman dan ditahan sinyal masuk. Oh ya, KA Matarmaja ini sudah full new livery dan ditarik loko CC 201 entah nomor seri berapa dan dipo induk mana karena tidak memperhatikan, namun yang pasti suara Semboyan 35-nya cukup serak dan tidak terlalu gagah/nyaring/merdu, tapi masih bisa didengar dan kadang masih enak didengar.
Menjelang JNG, KA Matarmaja sudah ditahan sinyal masuk JNG dan berpapasan dengan rangkain KA full eksekutif dengan loko CC 203 tapi tidak ada plat nama dan pastinya bukan Argo Lawu ataupun Taksaka. Lalu dari arah MRI pun muncul KLB bawa gerbong Parcel ONS yang kemudian disusul oleh KA Matarmaja. Saya yang masih penasaran dengan KA apakah yang tadi berpapasan. sempat mengira Taksaka, tetapi saat melintas langsung di JNG ternyata saya malah berpapasan dengan KA 51 Taksaka Pagi YK-GMR yg tengah berhenti menurunkan penumpang. Lalu, KA apakah itu? yg pasti bukan Argo Lawu.
Selepas JNG, KA Matarmaja pun mulai menaikan kecepatannya dan melintas langsung di stasiun2x yang dilalui. KA Matarmaja juga berpapasan dgn beberapa KA dan KRL. KA Matarmaja baru melambatkan lajunya saat menjelang Kranji, berjalan perlahan antara Kranji hingga Bekasi, bahkan sempat Berhenti alias BLB ketahan sinyal masuk BKS. Saat tertahan itu pula sempat berpapasan KA Ekonomi Lokal Purwakarta PWK-JAKK yg melaju kencang. Selepas itu, baru deh si Matarmaja jalan lagi dan kembali berjalan kencang selepas BKS.
Baru enak-enak ngebut antara Bekasi sampai Klari, tiba2x KA Matarmaja kembali melambat dan berjalan pelan di Kosambi hingga beberapa saat jelang Dawuan. Saya sampai bingung kenapa ya? Semoga tidak ada apa2x deh. Selanjutnya, KA Matarmaja pun menaikkan lajunya dan semakin ngebut selepas Cikampek.
Namun, saya merasa kok KA ini tidak ngebut2x banget ya? Apa karena saya di tengah tempat duduknya sehingga tidak merasakan guncangan roda? Tapi ya entah kenapa merasa kayak kurang maksimal aja di jalur CKP-CNP. Antara CKP-CNP, KA Matarmaja berhenti di Pegaden Baru, Subang; Haurgeulis dan Jatibarang; Indramayu. Ada juga beberapa penumpang yang naik dari stasiun2x tersebut.
Oh ya, selepas Jatibarang ada kejadian yang mungkin menurut saya agak aneh ya. Kan di dekat tempat duduk saya, ada rombongan keluarga (Bapak, Ibu, dan dua anak gadisnya). Mereka main kartu UNO dan tidak ada taruhan. Mereka cukup heboh bermain dan lama bermainnya, kalau tidak salah selepas Bekasi atau Karawang dan masih main sampai selepas Jatibarang. Saya sih biasa saja melihatnya karena toh namanya cuma permainan, saya juga kadang main kartu UNO saat kumpul sama teman2x saya. Namun, tak disangka saat mereka tengah asyik bermain tiba2x ada Polsuska serta Kondektur yang mendatangi mereka. Saya pikir sih cuma iseng atau bercanda atau apa. Eh taunya malah disuruh berhenti main? Lah? Aneh aja gitu lagi main kartu UNO tanpa judi tanpa taruhan dan ga menggangu malah suruh berhenti. Apalagi kata2xnya kurang mengenakkan. Katanya gini,"Permisi maaf bapak ibu mbak sekalian yang lagi main kartu UNO, bisa tolong berhenti main? Pilih berhenti sekarang atau kartunya yang saya buang?" :O Agak menyakitkan sih menurut saya. Orang lain jg pada biasa aja tuh ga keganggu. Dalihnya sih katanya takut dikira yang enggak2x atau dikira judi. duileh, itu mah asal ga negative thinking aja. Lagian masa di tempat umum di kereta malah berjudi? Dosa juga ah. Setelah itu saya hanya bisa bingung geleng2x kepala. Sedih aja gitu kayak terlalu berlebihan menurut saya. Maaf ya kalau ada yg tersinggung, tetapi agak aneh sih kalau kata saya. Dan setelah itu suasana di kereta hening karena ga ada lagi yang main kartu. Huft... :  :'( X_X
Singkat cerita, KA Matarmaja semakin mendekati kota Cirebon. Namun, semakin ketahan sinyal. Di Cangkring berjalan perlahan bahkan hingga masuk Stasiun Cirebon. Saya sampai bingung kenapa coba ini ketahan mulu, jangan sampe telat parah dan disusul KA di belakangnya aja ini mah. Tepat pukul 18.33, KA Matarmaja pun berhenti di Stasiun Cirebon Prujakan. Di sini penumpang berbondong2x turun untuk membeli makanan nasi dan lauk pauk yang dijual di Stasiun CNP. Saya pun ikutan membelinya karena daripada harus beli mahal di KA. Harganya pun tidak mahal sekitaran 12-15 ribu saja, itupun sudah kenyang dan bonus air. Tak perlu berlama-lama, pukul 18.40 pun KA Matarmaja diberangkatkan dari Stasiun CNP dan siap menempuh lintas utara.
Selepas CNP, KA Matarmaja berhenti di Babakan, Tegal, dan Pekalongan. Di sini sempat hujan (di Brebes, Tegal) dan AC di kereta semakin sejuk bahkan dingin. Saya juga merasa di sini KA Matarmaja malah baru beneran ngebut dan berjalan dengan kecepatan tinggi, bukan yg nanggung. Karena di jalur ini sudah jalur ganda, maka perjalanan terasa lebih lancar tanpa perlu bersilang. KA Matarmaja banyak berpapasan dgn KA2x lain spt KA Argo Muria SMT-GMR, KA Kamandaka SMT-PWT, KA Kaligung SMC-TG, KA Jayabaya ML-SGU-SBI-SMC-PSE, KA Brantas KD-PSE, dan KA Gumarang SBI-PSE. Selepas PK, KA berjalan semakin kencang melintas wilayah pesisir pantai utara dengan keadaan yg sangat gelap di luar. Pantas saja jalur PK-WLR-SMT ini terkenal wingit dan seram saat malam hari, terutama selepas Batang hingga Weleri. Gelapnya luar biasa, jauh dari peradaban, dekat dengan hutan, dan berbatasan langsung dengan laut. Padahal kalau siang mah di sini eksotis banget.
Pas lagi enak2x ngebut, eh tiba2x kok jalannya jadi pelan kayak ngerem wah firasat saya bakal ketahan sinyal atau BLB nih. Eh benar saja, di Krengseng pun KA Matarmaja BLB semenit. Saya pikir selepas ini bakal kenceng, tahunya tidak. Malah berjalan tanggung dan nggremet, bahkan sempat BLB selama 3 menit di sinyal muka/masuk Stasiun Weleri. Yaelahhhh... Sampai2x papasan sama KA Harina SBI-SMT-BD. Lalu di Weleri pun sempat BLB kurang dari semenit dan kemudian berangkat lagi. Huft untung ga lama2x BLb atau ketahan sinyalnya. Udah mau Semarang juga, jangan sampe disusul. Antar WLR-KLN berpapasan dengan KA Menoreh Malam SMT-PSE.
Akhirnya KA Matarmaja pun kembali ngebut tanpa harus tertahan sinyal, tetapi ia kembali melambat saat akan melintas langsung di Stasiun Semarang Poncol. Rupanya, ia masuk sepur belok. Saya pikir akan disusul, tahunya tidak. Ia hanya berjalan langsung, tetapi melalui sepur belok. Dan tepat pada pukul 22.00 WIB pun masuk di Stasiun Semarang Tawang (kalo liat GAPEKA sih telat 10 menit). Di SMT, KA Matarmaja juga berhenti cukup lama sekitar 25 menit karena akan mengisi air untuk toilet di masing2x kereta. Lumayan juga ya. Hal ini dimanfaatkan oleh penumpang untuk turun sejenak dan merokok di luar rangkaian. Sekalian meluruskan badan dan merenggangkan kaki juga. Saya pun ke toilet stasiun untuk cuci muka dan gosok gigi mumpung berhentinya lama, hanya saja jarak antara kereta dengan toilet cukup jauh. KA saya di jalur 2, duduk di kereta 2, saya harus berjalan sampai di ujung rangkaian dan ujung peron sebelah barat untuk mencapai toilet. Di SMT, KA Matarmaja juga bersilang dengan dua KA Komersial dari Surabaya yaitu KA 47 Sembrani SBI-GMR dan KA 55 Bangunkarta SGU-GMR. Tak hanya itu, sekitar pukul 22.15 datanglah KA 12 Argo Sindoro GMR-SMT yang jadwal berangkatnya satu jam lebih lambat dari KA 172 Matarmaja PSE-ML. Untung saja tidak sampai disusul Argo Sindoro ataupun Gumarang.
Tepat pukul 22.25, KA Matarmaja diberangkatkan dari SMT dan bersiap meninggalkan lintas utara Jawa di Brumbung. Karena ngantuk, saya pun memutuskan untuk tidur selepas SMT agar saat di Malang nanti badan sudah segar dan nyaman. Cukup lama juga saya tertidur, walaupun beberapa kali terjaga saat KA Matarmaja berhenti di Salem, Solo Jebres, tapi tidak lama. Oh ya, saya juga spt merasa jalur BBG-SK itu tidak berjalan dengan kecepatan maksimal karena saya merasa jalannya agak nggremet. Selepas Solo Jebres, saya menjadi sangat lega dan leluasa untuk tidur karena dua orang penumpang di sebelah saya turun di sini sehingga saya pun akhirnya tidur dengan posisi tidur. Enaknya bisa tidur terlentang seperti ini, apalagi AC-nya dingin. Mantap sekali! Ini baru namanya tidur.
Saat terbangun, rupanya KA Matarmaja sudah ada di wilayah Jawa Timur, tepatnya hampir mencapai Tulungagung. Saya terbangun karena merasa laju KA tidak terlalu kencang, malah cenderung agak lambat. Saya lupa KA Matarmaja berhenti di Tulungagung pukul berapa karena saya masi mengawang2x dan langsung ke toilet untuk cuci muka. Selepas Tulungagung, perlahan-lahan langit yang gelap mulai berkurang dan digantikan oleh pemandangan yang jarang saya saksikan di Tangerang yaitu Kabut. Saya bingung dari mana Kabut ini berasal karena kabutnya sangat tebal, banyak, dan menyelimuti lanskap sepanjang Tulungagung hingga Blitar. Suasana pun terasa sedikit misterius karena kabut tebal tersebut.
Tak perlu waktu lama, pukul 05.30 WIB pun KA Matarmaja tiba di Stasiun Blitar. Di sini, ibu dan nenek depan saya berpamitan turun. Rupanya, cukup banyak penumpang yang turun di Blitar. Selepas Blitar, jumlah penumpang menjadi berkurang setengahnya. Di Blitar, KA Matarmaja berhenti cukup lama hampir selama 15 menit tanpa bersilang ataupun disusul.
Selepas Blitar, matahari pun mulai naik dan terlihatlah pemandangan jalur KA khas Jawa Timur yang masih memiliki persinyalan mekanik, jalur tunggal, dan stasiun yang antik. Rindu rasanya setelah sekian lama tidak naik KA selama dan sejauh ini. Sepertinya setelah Blitar rel dan bantalan banyak diganti karena saya menemui banyak rel dan bantalan di sisi kiri maupun kanan rel KA. Seusai Blitar, KA Matarmaja masih harus berhenti untuk menurunkan penumpang di Wlingi dan Kesamben dan selepas itu pula suasana di dalam KA menjadi sangat sepi. Jumlah penumpang yang tersisa bisa dihitung dengan jari. Kursi samping dan depan saya pun kosong sehingga saya bisa leluasa duduk dengan senyaman saya di situ. AC pun masih tetap terasa sejuk dan adem.
Selepas Kesamben, KA Matarmaja mulai berjalan perlahan alias lambat. Mungkin karena sebentar lagi akan melalui jalur yang berjembatan dan berterowongan. Selepas Pogajih, laju KA semakin lambat bahkan sangat lambat seperti orang yang berjalan kaki tertatih2x. Saya pun teringat, di petak ini sering terjadi anjlokan KA. Apalagi beberapa waktu lalu sempat ada dua kali anjlokan KA Ekonomi Lokal Penataran di petak tersebut setelah adanya penggantian rel dan bantalan. Duh, saya semakin takut. Apalagi jalurnya berliku, menanjak, dan melewati sisi sungai Brantas serta Bendungan Karangkates. Melintasi Jembatan Lahor, laju KA sangatlah lambat. Saya takut kalau tiba2x anjlok di situ (Amit-amit). Pemandangannya sih indah, tapi serem juga kalo tiba2x anjlok di tengah jembatan yang sepanjang dan setinggi Laor. Memasuki Terowongan EBK, kecepatan KA semakin lambat. Saya takut jika lokomotif dan kereta tidak kuat menanjak, apalagi terowongan EBK cukup panjang. Di terowongan DBK pun juga demikian. Laju KA baru dinaikkan selepas petak tersebut mendekati Sumberpucung. Akhirnya lega sekali saat saya melihat plang Stasiun Sumberpucung. Saya takut kenapa2x saat di petak Pogajih-Sumberpucung :S
Kemudian KA Matarmaja pun melanjutkan perjalanannya melintasi hijaunya persawahan yang asri, lalu berhenti di Kepanjen, dan berhenti di Pakisaji untuk bersilang dengan KA Ekonomi Lokal Penataran SB-BL (Hebat juga ya ngalah sama ekonomi lokalan). Di petak Kepanjen hingga menjelang Malang Kota Lama, saya disajikan pemandangan alam Gunung Arjuna/Butak/Kawi di sebelah barat dan pemandangan Gunung Semeru serta Gunung Bromo yang tengah erupsi di sebelah timur. Semuanya terlihat jelas dan saya berkali-kali mengabadikan momen tersebut. Sungguh indah rasanya masih bisa menikmati pemandangan asri seperti itu.
Tak lama kemudian, KA Matarmaja pun berhenti menurunkan penumpang di Stasiun Malang Kota Lama. Yeay! Sudah masuk Kota Malang! Senang sekali rasanya dan saya pun segera bersiap-siap mengemasi barang bawaan saya sebelum memasuki Stasiun Malang. Tanpa berlama-lama, KA Matarmaja melintasi Jembatan KA Sungai Brantas, melewati viaduk Embong Brantas, dan sampai juga akhirnya dengan selamat tanpa kekurangan oleh suatu apapun di Stasiun Malang a.k.a Stasiun Malang Kota Baru pukul 07.56. WOW! Hanya terlambat 6 menit. Saya tidak mempermasalahkan hal itu karena memang beberapa kali tertahan sinyal sehingga wajar jika telat. Namun, untuk KA sekelas, sejauh, dan selama Matarmaja sungguh luar biasa sekali keterlambatannya hanya enam menit. Padahal sudah KA Ekonomi, jarak jauh, waktu tempuh lama, tetapi masih dalam kategori ontime menurut saya. Luar biasa sekali ini Matarmaja. Reccomended lah untuk yang mau ke Malang. Mantap!!!! :  D (Y)
Berikut ini LAPKA-nya
15.15 WIB Berangkat Stasiun Besar KA Pasar Senen
15.25-15.27 WIB Ketahan sinyal masuk Jatinegara (bersilang KA Eksekutif yang tidak diketahui namanya dan menyusul KLB Bawa Gerbong Parcel ONS)
15.28 WIB LS Jatinegara X KA 51 Eksekutif Taksaka Pagi YK-GMR
15.40-15.43 WIB Berjalan perlahan antara Kranji-Bekasi
15.43-15.44 WIB BLB Ketahan sinyal masuk Stasiun Bekasi dan berpapasan KA Ekonomi Lokal Purwakarta PWK-JAKK
16.24-16.26 WIB Berjalan perlahan antara Kosambi-Dawuan
17.05-17.07 WIB Berhenti Pegaden Baru
17.50-17.52 WIB Berhenti Jatibarang
18.16-18.19 WIB Berjalan pelan menjelang Cangkring
18.25-18.28 WIB Berjalan pelan menjelang Cirebon sekaligus papasan KA Ekspress Sore Purwojaya CP-KYA-PWT-GMR selepas Cangkring dan papasan KA Ekonomi AC 165 Krakatau KD-PSE-MER dan KA Tegal Bahari TG-GMR di Stasiun Besar Cirebon
18.33-18.40 WIB Berhenti Cirebon Prujakan
19.00-19.02 WIB Berhenti Babakan
19.42-19.45 WIB Berhenti Tegal x KA Ekonomi Lokal Kamandaka SMT-PWT
20.32-20.36 WIB Berhenti Pekalongan sekaligus papasan KA 175 Ekonomi Brantas KD-PSE saat berangkat dari Pekalongan
21.10-21.11 WIB BLB Krengseng
21.19-21.21 WIB Ketahan sinyal muka/masuk Stasiun Weleri dan papasan KA Ekspress Malam Harina SBI-SMT-BD
21.24-21.25 WIB BLB Weleri
22.00-22.25 WIB Berhenti Semarang Tawang x KA 47 Ekspress Malam Sembrani SBI-GMR X KA 55 Ekspress Malam Bangunkarta SGU-GMR dan isi air toilet kereta serta menunggu masuk KA 12 Eksekutif Argo Sindoro GMR-SMT
Salem X KA 171 Ekonomi Matarmaja ML-PSE
Solo Jebres X KA 149 Ekonomi AC Majapahit ML-PSE
05.30-05.44 WIB Berhenti Blitar
06.09-06.12 WIB Berhenti Wlingi
06.23-06.28 WIB Berhenti Kesamben
07.01-07.04 WIB Berhenti Sumberpucung
07.18-07.20 WIB Berhenti Kepanjen
07.31-07.35 WIB Berhenti Pakisaji X KA Ekonomi Lokal Penataran SB-ML-BL
07.48-07.50 WIB Berhenti Malang Kota Lama
07.56 WIB Tiba di Stasiun Besar Malang a.k.a Malang Kota Baru
Posts: 556
Threads: 0
Joined: Apr 2012
Reputation:
4
(09-02-2016, 01:52 PM)roysatyanusa Wrote: Halo semuanya. Setelah sekian lama ga nulis TR, saya mau nulis lagi nih. Kali ini saya ingin bercerita tentang pengalaman saya naik KA ekonomi yang sempat mendapat gelar dengan jarak tempuh terjauh dan waktu tempuh terlama di pulau Jawa, yang sekarang gelarnya sudah bergeser ke KA Krakatau. Tak lain dan tak bukan adalah KA Matarmaja.
Langsung saja ya.
Jumat, 29 Januari 2016 lalu saya pergi ke Malang dan Batu untuk berlibur sekaligus berwisata. Apalagi saya terakhir kali ke sana pada kelas XII SMA, dan kebetulan saya lagi seneng2x-nya ikut open trip sehingga ketika searching dan ada oen trip ke Malang-Batu 29-31 Jan, lsg saya ikut. Saya berangkat dengan KA Ekonomi Matarmaja rute PSE-ML yang harganya hanya Rp115.000,00 dengan waktu tempuh 16 jam 35 menit. Sudah lama rasanya tidak melakukan perjalanan KA sejauh dan selama itu, terakhir kali naik KA 32 Gajayana GMR-ML itupun sudah lama sekali saat saya masih kelas IX SMP bersama keluarga saya.
Saya berangkat dari rumah sekitar jam 11.30, padahal KA baru akan berangkat pada pukul 15.15. Mengapa demikian? Karena rumah saya berada di Citra Raya, Cikupa-Tangerang dan jalanannya memang macet apalagi banyak pabrik, belum lagi akses dari perumahan menuju jalan tol tidak dekat. Belum lagi harus berjibaku dengan kemacetan di jalan tol Tangerang-Jakarta dan benar saja selepas Tangerang (di wilayah Alam Sutera) jalanan mulai padat dipenuhi mobil, bus, dan truk dengan kecepatan kateogri nggremet tapi masih bisa jalan (Puji Tuhan masih bisa jalan, tidak (â—£_â—¢)┌∩â”). Alhasil saya pun tiba di Stasiun Pasar Senen pukul 13.40 WIB setelah melalui kemacetan jalan tol dan jalan raya di Jakarta. Oh ya, saya diantar oleh Ayah saya menggunakan mobil pribadi.
Cuaca saat itu cerah dan terik, namun keadaan stasiun tidak seramai yang saya bayangkan. Cukup kondusif dan sepi untuk ukuran Pasar Senen di hari Jumat (atau mungkin belum memasuki jam krusial seperti Jumat sore, petang, dan malam). Penumpang pun tidak banyak berjubel. Saya bertemu dan berkumpul dengan rombongan di depan Alfamart. Ada delapan orang yang berangkat dari Jakarta (sudah termasuk saya dan tour leader), namun posisi tempat duduk kami terpisah. Lima orang di kereta EKO 8, dua orang di kereta EKO 5, sedangkan saya sendiri berada di kereta EKO 2. Ya sudahlah tak apa, yang penting naik kereta dan sampai di Malang juga akan berkumpul kembali bersama-sama.
Saya dan rombongan boarding pada pukul 14.30 WIB dan rangkaian ternyata sudah menunggu di jalur 1 Stasiun PSE. Saya pun menuju ke kereta 2 dan saat masuk saya takjub karena kondisi kereta yang bersih, AC dingin, adem, sejuk, dan tempat duduk pun nyaman tidak keras. Apalagi kondisi kereta saat itu lowong. Saya pun menjadi tambah senang. Singkat cerita, beberapa penumpang pun mulai berdatangan sehingga membuat kondisi kereta pun ramai. Namun, AC masih tetap terasa. Saya duduk di kereta 2 di kursi 16 C (ada di tengah dan dekat dengan AC). Saya duduk di kursi yang konfigurasinya 3(total 6 orang hadap2x-an). Di depan saya ada dua orang wanita (Ibu dan Nenek atau ya bisa disebut anak-ortu) yang akan menuju Blitar. Di sebelah saya, dua orang laki-laki yang akan menuju ke Solo. Kami cukup banyak berbincang2x sepanjang perjalanan apalagi dengan ibu2x dan nenek yang sangat ramah itu.
Cukup lama saya menunggu keberangkatan KA dan beberapa kali saya melihat KA2x yg keluar masuk di PSE, spt KA Sawunggalih Utama Pagi dari KTA, KA Menoreh Pagi dari SMT, KA Barang Petikemas, dan KRL CL. Kemudian tepat pukul 15.15 WIB pun KA Matarmaja diberangkatan dari PSE menuju ML. Yeay! Siap menempuh perjalanan selama 16 jam 35 menit menuju Malang :
Sepanjang perjalanan yang nyaman ini, ternyata KA Matarmaja cukup sering berjalan lambat kemungkinan tunggu aman dan ditahan sinyal masuk. Oh ya, KA Matarmaja ini sudah full new livery dan ditarik loko CC 201 entah nomor seri berapa dan dipo induk mana karena tidak memperhatikan, namun yang pasti suara Semboyan 35-nya cukup serak dan tidak terlalu gagah/nyaring/merdu, tapi masih bisa didengar dan kadang masih enak didengar.
Menjelang JNG, KA Matarmaja sudah ditahan sinyal masuk JNG dan berpapasan dengan rangkain KA full eksekutif dengan loko CC 203 tapi tidak ada plat nama dan pastinya bukan Argo Lawu ataupun Taksaka. Lalu dari arah MRI pun muncul KLB bawa gerbong Parcel ONS yang kemudian disusul oleh KA Matarmaja. Saya yang masih penasaran dengan KA apakah yang tadi berpapasan. sempat mengira Taksaka, tetapi saat melintas langsung di JNG ternyata saya malah berpapasan dengan KA 51 Taksaka Pagi YK-GMR yg tengah berhenti menurunkan penumpang. Lalu, KA apakah itu? yg pasti bukan Argo Lawu.
Selepas JNG, KA Matarmaja pun mulai menaikan kecepatannya dan melintas langsung di stasiun2x yang dilalui. KA Matarmaja juga berpapasan dgn beberapa KA dan KRL. KA Matarmaja baru melambatkan lajunya saat menjelang Kranji, berjalan perlahan antara Kranji hingga Bekasi, bahkan sempat Berhenti alias BLB ketahan sinyal masuk BKS. Saat tertahan itu pula sempat berpapasan KA Ekonomi Lokal Purwakarta PWK-JAKK yg melaju kencang. Selepas itu, baru deh si Matarmaja jalan lagi dan kembali berjalan kencang selepas BKS.
Baru enak-enak ngebut antara Bekasi sampai Klari, tiba2x KA Matarmaja kembali melambat dan berjalan pelan di Kosambi hingga beberapa saat jelang Dawuan. Saya sampai bingung kenapa ya? Semoga tidak ada apa2x deh. Selanjutnya, KA Matarmaja pun menaikkan lajunya dan semakin ngebut selepas Cikampek.
Namun, saya merasa kok KA ini tidak ngebut2x banget ya? Apa karena saya di tengah tempat duduknya sehingga tidak merasakan guncangan roda? Tapi ya entah kenapa merasa kayak kurang maksimal aja di jalur CKP-CNP. Antara CKP-CNP, KA Matarmaja berhenti di Pegaden Baru, Subang; Haurgeulis dan Jatibarang; Indramayu. Ada juga beberapa penumpang yang naik dari stasiun2x tersebut.
Oh ya, selepas Jatibarang ada kejadian yang mungkin menurut saya agak aneh ya. Kan di dekat tempat duduk saya, ada rombongan keluarga (Bapak, Ibu, dan dua anak gadisnya). Mereka main kartu UNO dan tidak ada taruhan. Mereka cukup heboh bermain dan lama bermainnya, kalau tidak salah selepas Bekasi atau Karawang dan masih main sampai selepas Jatibarang. Saya sih biasa saja melihatnya karena toh namanya cuma permainan, saya juga kadang main kartu UNO saat kumpul sama teman2x saya. Namun, tak disangka saat mereka tengah asyik bermain tiba2x ada Polsuska serta Kondektur yang mendatangi mereka. Saya pikir sih cuma iseng atau bercanda atau apa. Eh taunya malah disuruh berhenti main? Lah? Aneh aja gitu lagi main kartu UNO tanpa judi tanpa taruhan dan ga menggangu malah suruh berhenti. Apalagi kata2xnya kurang mengenakkan. Katanya gini,"Permisi maaf bapak ibu mbak sekalian yang lagi main kartu UNO, bisa tolong berhenti main? Pilih berhenti sekarang atau kartunya yang saya buang?" :O Agak menyakitkan sih menurut saya. Orang lain jg pada biasa aja tuh ga keganggu. Dalihnya sih katanya takut dikira yang enggak2x atau dikira judi. duileh, itu mah asal ga negative thinking aja. Lagian masa di tempat umum di kereta malah berjudi? Dosa juga ah. Setelah itu saya hanya bisa bingung geleng2x kepala. Sedih aja gitu kayak terlalu berlebihan menurut saya. Maaf ya kalau ada yg tersinggung, tetapi agak aneh sih kalau kata saya. Dan setelah itu suasana di kereta hening karena ga ada lagi yang main kartu. Huft... : :'( X_X
Singkat cerita, KA Matarmaja semakin mendekati kota Cirebon. Namun, semakin ketahan sinyal. Di Cangkring berjalan perlahan bahkan hingga masuk Stasiun Cirebon. Saya sampai bingung kenapa coba ini ketahan mulu, jangan sampe telat parah dan disusul KA di belakangnya aja ini mah. Tepat pukul 18.33, KA Matarmaja pun berhenti di Stasiun Cirebon Prujakan. Di sini penumpang berbondong2x turun untuk membeli makanan nasi dan lauk pauk yang dijual di Stasiun CNP. Saya pun ikutan membelinya karena daripada harus beli mahal di KA. Harganya pun tidak mahal sekitaran 12-15 ribu saja, itupun sudah kenyang dan bonus air. Tak perlu berlama-lama, pukul 18.40 pun KA Matarmaja diberangkatkan dari Stasiun CNP dan siap menempuh lintas utara.
Selepas CNP, KA Matarmaja berhenti di Babakan, Tegal, dan Pekalongan. Di sini sempat hujan (di Brebes, Tegal) dan AC di kereta semakin sejuk bahkan dingin. Saya juga merasa di sini KA Matarmaja malah baru beneran ngebut dan berjalan dengan kecepatan tinggi, bukan yg nanggung. Karena di jalur ini sudah jalur ganda, maka perjalanan terasa lebih lancar tanpa perlu bersilang. KA Matarmaja banyak berpapasan dgn KA2x lain spt KA Argo Muria SMT-GMR, KA Kamandaka SMT-PWT, KA Kaligung SMC-TG, KA Jayabaya ML-SGU-SBI-SMC-PSE, KA Brantas KD-PSE, dan KA Gumarang SBI-PSE. Selepas PK, KA berjalan semakin kencang melintas wilayah pesisir pantai utara dengan keadaan yg sangat gelap di luar. Pantas saja jalur PK-WLR-SMT ini terkenal wingit dan seram saat malam hari, terutama selepas Batang hingga Weleri. Gelapnya luar biasa, jauh dari peradaban, dekat dengan hutan, dan berbatasan langsung dengan laut. Padahal kalau siang mah di sini eksotis banget.
Pas lagi enak2x ngebut, eh tiba2x kok jalannya jadi pelan kayak ngerem wah firasat saya bakal ketahan sinyal atau BLB nih. Eh benar saja, di Krengseng pun KA Matarmaja BLB semenit. Saya pikir selepas ini bakal kenceng, tahunya tidak. Malah berjalan tanggung dan nggremet, bahkan sempat BLB selama 3 menit di sinyal muka/masuk Stasiun Weleri. Yaelahhhh... Sampai2x papasan sama KA Harina SBI-SMT-BD. Lalu di Weleri pun sempat BLB kurang dari semenit dan kemudian berangkat lagi. Huft untung ga lama2x BLb atau ketahan sinyalnya. Udah mau Semarang juga, jangan sampe disusul. Antar WLR-KLN berpapasan dengan KA Menoreh Malam SMT-PSE.
Akhirnya KA Matarmaja pun kembali ngebut tanpa harus tertahan sinyal, tetapi ia kembali melambat saat akan melintas langsung di Stasiun Semarang Poncol. Rupanya, ia masuk sepur belok. Saya pikir akan disusul, tahunya tidak. Ia hanya berjalan langsung, tetapi melalui sepur belok. Dan tepat pada pukul 22.00 WIB pun masuk di Stasiun Semarang Tawang (kalo liat GAPEKA sih telat 10 menit). Di SMT, KA Matarmaja juga berhenti cukup lama sekitar 25 menit karena akan mengisi air untuk toilet di masing2x kereta. Lumayan juga ya. Hal ini dimanfaatkan oleh penumpang untuk turun sejenak dan merokok di luar rangkaian. Sekalian meluruskan badan dan merenggangkan kaki juga. Saya pun ke toilet stasiun untuk cuci muka dan gosok gigi mumpung berhentinya lama, hanya saja jarak antara kereta dengan toilet cukup jauh. KA saya di jalur 2, duduk di kereta 2, saya harus berjalan sampai di ujung rangkaian dan ujung peron sebelah barat untuk mencapai toilet. Di SMT, KA Matarmaja juga bersilang dengan dua KA Komersial dari Surabaya yaitu KA 47 Sembrani SBI-GMR dan KA 55 Bangunkarta SGU-GMR. Tak hanya itu, sekitar pukul 22.15 datanglah KA 12 Argo Sindoro GMR-SMT yang jadwal berangkatnya satu jam lebih lambat dari KA 172 Matarmaja PSE-ML. Untung saja tidak sampai disusul Argo Sindoro ataupun Gumarang.
Tepat pukul 22.25, KA Matarmaja diberangkatkan dari SMT dan bersiap meninggalkan lintas utara Jawa di Brumbung. Karena ngantuk, saya pun memutuskan untuk tidur selepas SMT agar saat di Malang nanti badan sudah segar dan nyaman. Cukup lama juga saya tertidur, walaupun beberapa kali terjaga saat KA Matarmaja berhenti di Salem, Solo Jebres, tapi tidak lama. Oh ya, saya juga spt merasa jalur BBG-SK itu tidak berjalan dengan kecepatan maksimal karena saya merasa jalannya agak nggremet. Selepas Solo Jebres, saya menjadi sangat lega dan leluasa untuk tidur karena dua orang penumpang di sebelah saya turun di sini sehingga saya pun akhirnya tidur dengan posisi tidur. Enaknya bisa tidur terlentang seperti ini, apalagi AC-nya dingin. Mantap sekali! Ini baru namanya tidur.
Saat terbangun, rupanya KA Matarmaja sudah ada di wilayah Jawa Timur, tepatnya hampir mencapai Tulungagung. Saya terbangun karena merasa laju KA tidak terlalu kencang, malah cenderung agak lambat. Saya lupa KA Matarmaja berhenti di Tulungagung pukul berapa karena saya masi mengawang2x dan langsung ke toilet untuk cuci muka. Selepas Tulungagung, perlahan-lahan langit yang gelap mulai berkurang dan digantikan oleh pemandangan yang jarang saya saksikan di Tangerang yaitu Kabut. Saya bingung dari mana Kabut ini berasal karena kabutnya sangat tebal, banyak, dan menyelimuti lanskap sepanjang Tulungagung hingga Blitar. Suasana pun terasa sedikit misterius karena kabut tebal tersebut.
Tak perlu waktu lama, pukul 05.30 WIB pun KA Matarmaja tiba di Stasiun Blitar. Di sini, ibu dan nenek depan saya berpamitan turun. Rupanya, cukup banyak penumpang yang turun di Blitar. Selepas Blitar, jumlah penumpang menjadi berkurang setengahnya. Di Blitar, KA Matarmaja berhenti cukup lama hampir selama 15 menit tanpa bersilang ataupun disusul.
Selepas Blitar, matahari pun mulai naik dan terlihatlah pemandangan jalur KA khas Jawa Timur yang masih memiliki persinyalan mekanik, jalur tunggal, dan stasiun yang antik. Rindu rasanya setelah sekian lama tidak naik KA selama dan sejauh ini. Sepertinya setelah Blitar rel dan bantalan banyak diganti karena saya menemui banyak rel dan bantalan di sisi kiri maupun kanan rel KA. Seusai Blitar, KA Matarmaja masih harus berhenti untuk menurunkan penumpang di Wlingi dan Kesamben dan selepas itu pula suasana di dalam KA menjadi sangat sepi. Jumlah penumpang yang tersisa bisa dihitung dengan jari. Kursi samping dan depan saya pun kosong sehingga saya bisa leluasa duduk dengan senyaman saya di situ. AC pun masih tetap terasa sejuk dan adem.
Selepas Kesamben, KA Matarmaja mulai berjalan perlahan alias lambat. Mungkin karena sebentar lagi akan melalui jalur yang berjembatan dan berterowongan. Selepas Pogajih, laju KA semakin lambat bahkan sangat lambat seperti orang yang berjalan kaki tertatih2x. Saya pun teringat, di petak ini sering terjadi anjlokan KA. Apalagi beberapa waktu lalu sempat ada dua kali anjlokan KA Ekonomi Lokal Penataran di petak tersebut setelah adanya penggantian rel dan bantalan. Duh, saya semakin takut. Apalagi jalurnya berliku, menanjak, dan melewati sisi sungai Brantas serta Bendungan Karangkates. Melintasi Jembatan Lahor, laju KA sangatlah lambat. Saya takut kalau tiba2x anjlok di situ (Amit-amit). Pemandangannya sih indah, tapi serem juga kalo tiba2x anjlok di tengah jembatan yang sepanjang dan setinggi Laor. Memasuki Terowongan EBK, kecepatan KA semakin lambat. Saya takut jika lokomotif dan kereta tidak kuat menanjak, apalagi terowongan EBK cukup panjang. Di terowongan DBK pun juga demikian. Laju KA baru dinaikkan selepas petak tersebut mendekati Sumberpucung. Akhirnya lega sekali saat saya melihat plang Stasiun Sumberpucung. Saya takut kenapa2x saat di petak Pogajih-Sumberpucung :S
Kemudian KA Matarmaja pun melanjutkan perjalanannya melintasi hijaunya persawahan yang asri, lalu berhenti di Kepanjen, dan berhenti di Pakisaji untuk bersilang dengan KA Ekonomi Lokal Penataran SB-BL (Hebat juga ya ngalah sama ekonomi lokalan). Di petak Kepanjen hingga menjelang Malang Kota Lama, saya disajikan pemandangan alam Gunung Arjuna/Butak/Kawi di sebelah barat dan pemandangan Gunung Semeru serta Gunung Bromo yang tengah erupsi di sebelah timur. Semuanya terlihat jelas dan saya berkali-kali mengabadikan momen tersebut. Sungguh indah rasanya masih bisa menikmati pemandangan asri seperti itu.
Tak lama kemudian, KA Matarmaja pun berhenti menurunkan penumpang di Stasiun Malang Kota Lama. Yeay! Sudah masuk Kota Malang! Senang sekali rasanya dan saya pun segera bersiap-siap mengemasi barang bawaan saya sebelum memasuki Stasiun Malang. Tanpa berlama-lama, KA Matarmaja melintasi Jembatan KA Sungai Brantas, melewati viaduk Embong Brantas, dan sampai juga akhirnya dengan selamat tanpa kekurangan oleh suatu apapun di Stasiun Malang a.k.a Stasiun Malang Kota Baru pukul 07.56. WOW! Hanya terlambat 6 menit. Saya tidak mempermasalahkan hal itu karena memang beberapa kali tertahan sinyal sehingga wajar jika telat. Namun, untuk KA sekelas, sejauh, dan selama Matarmaja sungguh luar biasa sekali keterlambatannya hanya enam menit. Padahal sudah KA Ekonomi, jarak jauh, waktu tempuh lama, tetapi masih dalam kategori ontime menurut saya. Luar biasa sekali ini Matarmaja. Reccomended lah untuk yang mau ke Malang. Mantap!!!! : D (Y)
Berikut ini LAPKA-nya
15.15 WIB Berangkat Stasiun Besar KA Pasar Senen
15.25-15.27 WIB Ketahan sinyal masuk Jatinegara (bersilang KA Eksekutif yang tidak diketahui namanya dan menyusul KLB Bawa Gerbong Parcel ONS)
15.28 WIB LS Jatinegara X KA 51 Eksekutif Taksaka Pagi YK-GMR
15.40-15.43 WIB Berjalan perlahan antara Kranji-Bekasi
15.43-15.44 WIB BLB Ketahan sinyal masuk Stasiun Bekasi dan berpapasan KA Ekonomi Lokal Purwakarta PWK-JAKK
16.24-16.26 WIB Berjalan perlahan antara Kosambi-Dawuan
17.05-17.07 WIB Berhenti Pegaden Baru
17.50-17.52 WIB Berhenti Jatibarang
18.16-18.19 WIB Berjalan pelan menjelang Cangkring
18.25-18.28 WIB Berjalan pelan menjelang Cirebon sekaligus papasan KA Ekspress Sore Purwojaya CP-KYA-PWT-GMR selepas Cangkring dan papasan KA Ekonomi AC 165 Krakatau KD-PSE-MER dan KA Tegal Bahari TG-GMR di Stasiun Besar Cirebon
18.33-18.40 WIB Berhenti Cirebon Prujakan
19.00-19.02 WIB Berhenti Babakan
19.42-19.45 WIB Berhenti Tegal x KA Ekonomi Lokal Kamandaka SMT-PWT
20.32-20.36 WIB Berhenti Pekalongan sekaligus papasan KA 175 Ekonomi Brantas KD-PSE saat berangkat dari Pekalongan
21.10-21.11 WIB BLB Krengseng
21.19-21.21 WIB Ketahan sinyal muka/masuk Stasiun Weleri dan papasan KA Ekspress Malam Harina SBI-SMT-BD
21.24-21.25 WIB BLB Weleri
22.00-22.25 WIB Berhenti Semarang Tawang x KA 47 Ekspress Malam Sembrani SBI-GMR X KA 55 Ekspress Malam Bangunkarta SGU-GMR dan isi air toilet kereta serta menunggu masuk KA 12 Eksekutif Argo Sindoro GMR-SMT
Salem X KA 171 Ekonomi Matarmaja ML-PSE
Solo Jebres X KA 149 Ekonomi AC Majapahit ML-PSE
05.30-05.44 WIB Berhenti Blitar
06.09-06.12 WIB Berhenti Wlingi
06.23-06.28 WIB Berhenti Kesamben
07.01-07.04 WIB Berhenti Sumberpucung
07.18-07.20 WIB Berhenti Kepanjen
07.31-07.35 WIB Berhenti Pakisaji X KA Ekonomi Lokal Penataran SB-ML-BL
07.48-07.50 WIB Berhenti Malang Kota Lama
07.56 WIB Tiba di Stasiun Besar Malang a.k.a Malang Kota Baru
Mantaaapp !!!
Cuma alhamdulillah om. sepanjang saya naik Matar dan naik Kereta ke KPN . Saya belum pernah mengalami anjlok (mudah2an seterusnya) tidak ada anjliok lagi pada petak itu. Amiiin
Oiya, Matar berhenti SMT kah ? Bukannya SMC ? CMIIW
[spoiler]
![[Image: 15052012060.jpg]](http://i1245.photobucket.com/albums/gg595/Bimantara10/15052012060.jpg) [/spoiler]
Posts: 2,657
Threads: 0
Joined: Oct 2009
Reputation:
43
(18-05-2016, 06:34 PM)Bimantara Wrote: (09-02-2016, 01:52 PM)roysatyanusa Wrote: Halo semuanya. Setelah sekian lama ga nulis TR, saya mau nulis lagi nih. Kali ini saya ingin bercerita tentang pengalaman saya naik KA ekonomi yang sempat mendapat gelar dengan jarak tempuh terjauh dan waktu tempuh terlama di pulau Jawa, yang sekarang gelarnya sudah bergeser ke KA Krakatau. Tak lain dan tak bukan adalah KA Matarmaja.
Langsung saja ya.
Jumat, 29 Januari 2016 lalu saya pergi ke Malang dan Batu untuk berlibur sekaligus berwisata. Apalagi saya terakhir kali ke sana pada kelas XII SMA, dan kebetulan saya lagi seneng2x-nya ikut open trip sehingga ketika searching dan ada oen trip ke Malang-Batu 29-31 Jan, lsg saya ikut. Saya berangkat dengan KA Ekonomi Matarmaja rute PSE-ML yang harganya hanya Rp115.000,00 dengan waktu tempuh 16 jam 35 menit. Sudah lama rasanya tidak melakukan perjalanan KA sejauh dan selama itu, terakhir kali naik KA 32 Gajayana GMR-ML itupun sudah lama sekali saat saya masih kelas IX SMP bersama keluarga saya.
Saya berangkat dari rumah sekitar jam 11.30, padahal KA baru akan berangkat pada pukul 15.15. Mengapa demikian? Karena rumah saya berada di Citra Raya, Cikupa-Tangerang dan jalanannya memang macet apalagi banyak pabrik, belum lagi akses dari perumahan menuju jalan tol tidak dekat. Belum lagi harus berjibaku dengan kemacetan di jalan tol Tangerang-Jakarta dan benar saja selepas Tangerang (di wilayah Alam Sutera) jalanan mulai padat dipenuhi mobil, bus, dan truk dengan kecepatan kateogri nggremet tapi masih bisa jalan (Puji Tuhan masih bisa jalan, tidak (â—£_â—¢)┌∩â”). Alhasil saya pun tiba di Stasiun Pasar Senen pukul 13.40 WIB setelah melalui kemacetan jalan tol dan jalan raya di Jakarta. Oh ya, saya diantar oleh Ayah saya menggunakan mobil pribadi.
Cuaca saat itu cerah dan terik, namun keadaan stasiun tidak seramai yang saya bayangkan. Cukup kondusif dan sepi untuk ukuran Pasar Senen di hari Jumat (atau mungkin belum memasuki jam krusial seperti Jumat sore, petang, dan malam). Penumpang pun tidak banyak berjubel. Saya bertemu dan berkumpul dengan rombongan di depan Alfamart. Ada delapan orang yang berangkat dari Jakarta (sudah termasuk saya dan tour leader), namun posisi tempat duduk kami terpisah. Lima orang di kereta EKO 8, dua orang di kereta EKO 5, sedangkan saya sendiri berada di kereta EKO 2. Ya sudahlah tak apa, yang penting naik kereta dan sampai di Malang juga akan berkumpul kembali bersama-sama.
Saya dan rombongan boarding pada pukul 14.30 WIB dan rangkaian ternyata sudah menunggu di jalur 1 Stasiun PSE. Saya pun menuju ke kereta 2 dan saat masuk saya takjub karena kondisi kereta yang bersih, AC dingin, adem, sejuk, dan tempat duduk pun nyaman tidak keras. Apalagi kondisi kereta saat itu lowong. Saya pun menjadi tambah senang. Singkat cerita, beberapa penumpang pun mulai berdatangan sehingga membuat kondisi kereta pun ramai. Namun, AC masih tetap terasa. Saya duduk di kereta 2 di kursi 16 C (ada di tengah dan dekat dengan AC). Saya duduk di kursi yang konfigurasinya 3(total 6 orang hadap2x-an). Di depan saya ada dua orang wanita (Ibu dan Nenek atau ya bisa disebut anak-ortu) yang akan menuju Blitar. Di sebelah saya, dua orang laki-laki yang akan menuju ke Solo. Kami cukup banyak berbincang2x sepanjang perjalanan apalagi dengan ibu2x dan nenek yang sangat ramah itu.
Cukup lama saya menunggu keberangkatan KA dan beberapa kali saya melihat KA2x yg keluar masuk di PSE, spt KA Sawunggalih Utama Pagi dari KTA, KA Menoreh Pagi dari SMT, KA Barang Petikemas, dan KRL CL. Kemudian tepat pukul 15.15 WIB pun KA Matarmaja diberangkatan dari PSE menuju ML. Yeay! Siap menempuh perjalanan selama 16 jam 35 menit menuju Malang :
Sepanjang perjalanan yang nyaman ini, ternyata KA Matarmaja cukup sering berjalan lambat kemungkinan tunggu aman dan ditahan sinyal masuk. Oh ya, KA Matarmaja ini sudah full new livery dan ditarik loko CC 201 entah nomor seri berapa dan dipo induk mana karena tidak memperhatikan, namun yang pasti suara Semboyan 35-nya cukup serak dan tidak terlalu gagah/nyaring/merdu, tapi masih bisa didengar dan kadang masih enak didengar.
Menjelang JNG, KA Matarmaja sudah ditahan sinyal masuk JNG dan berpapasan dengan rangkain KA full eksekutif dengan loko CC 203 tapi tidak ada plat nama dan pastinya bukan Argo Lawu ataupun Taksaka. Lalu dari arah MRI pun muncul KLB bawa gerbong Parcel ONS yang kemudian disusul oleh KA Matarmaja. Saya yang masih penasaran dengan KA apakah yang tadi berpapasan. sempat mengira Taksaka, tetapi saat melintas langsung di JNG ternyata saya malah berpapasan dengan KA 51 Taksaka Pagi YK-GMR yg tengah berhenti menurunkan penumpang. Lalu, KA apakah itu? yg pasti bukan Argo Lawu.
Selepas JNG, KA Matarmaja pun mulai menaikan kecepatannya dan melintas langsung di stasiun2x yang dilalui. KA Matarmaja juga berpapasan dgn beberapa KA dan KRL. KA Matarmaja baru melambatkan lajunya saat menjelang Kranji, berjalan perlahan antara Kranji hingga Bekasi, bahkan sempat Berhenti alias BLB ketahan sinyal masuk BKS. Saat tertahan itu pula sempat berpapasan KA Ekonomi Lokal Purwakarta PWK-JAKK yg melaju kencang. Selepas itu, baru deh si Matarmaja jalan lagi dan kembali berjalan kencang selepas BKS.
Baru enak-enak ngebut antara Bekasi sampai Klari, tiba2x KA Matarmaja kembali melambat dan berjalan pelan di Kosambi hingga beberapa saat jelang Dawuan. Saya sampai bingung kenapa ya? Semoga tidak ada apa2x deh. Selanjutnya, KA Matarmaja pun menaikkan lajunya dan semakin ngebut selepas Cikampek.
Namun, saya merasa kok KA ini tidak ngebut2x banget ya? Apa karena saya di tengah tempat duduknya sehingga tidak merasakan guncangan roda? Tapi ya entah kenapa merasa kayak kurang maksimal aja di jalur CKP-CNP. Antara CKP-CNP, KA Matarmaja berhenti di Pegaden Baru, Subang; Haurgeulis dan Jatibarang; Indramayu. Ada juga beberapa penumpang yang naik dari stasiun2x tersebut.
Oh ya, selepas Jatibarang ada kejadian yang mungkin menurut saya agak aneh ya. Kan di dekat tempat duduk saya, ada rombongan keluarga (Bapak, Ibu, dan dua anak gadisnya). Mereka main kartu UNO dan tidak ada taruhan. Mereka cukup heboh bermain dan lama bermainnya, kalau tidak salah selepas Bekasi atau Karawang dan masih main sampai selepas Jatibarang. Saya sih biasa saja melihatnya karena toh namanya cuma permainan, saya juga kadang main kartu UNO saat kumpul sama teman2x saya. Namun, tak disangka saat mereka tengah asyik bermain tiba2x ada Polsuska serta Kondektur yang mendatangi mereka. Saya pikir sih cuma iseng atau bercanda atau apa. Eh taunya malah disuruh berhenti main? Lah? Aneh aja gitu lagi main kartu UNO tanpa judi tanpa taruhan dan ga menggangu malah suruh berhenti. Apalagi kata2xnya kurang mengenakkan. Katanya gini,"Permisi maaf bapak ibu mbak sekalian yang lagi main kartu UNO, bisa tolong berhenti main? Pilih berhenti sekarang atau kartunya yang saya buang?" :O Agak menyakitkan sih menurut saya. Orang lain jg pada biasa aja tuh ga keganggu. Dalihnya sih katanya takut dikira yang enggak2x atau dikira judi. duileh, itu mah asal ga negative thinking aja. Lagian masa di tempat umum di kereta malah berjudi? Dosa juga ah. Setelah itu saya hanya bisa bingung geleng2x kepala. Sedih aja gitu kayak terlalu berlebihan menurut saya. Maaf ya kalau ada yg tersinggung, tetapi agak aneh sih kalau kata saya. Dan setelah itu suasana di kereta hening karena ga ada lagi yang main kartu. Huft... : :'( X_X
Singkat cerita, KA Matarmaja semakin mendekati kota Cirebon. Namun, semakin ketahan sinyal. Di Cangkring berjalan perlahan bahkan hingga masuk Stasiun Cirebon. Saya sampai bingung kenapa coba ini ketahan mulu, jangan sampe telat parah dan disusul KA di belakangnya aja ini mah. Tepat pukul 18.33, KA Matarmaja pun berhenti di Stasiun Cirebon Prujakan. Di sini penumpang berbondong2x turun untuk membeli makanan nasi dan lauk pauk yang dijual di Stasiun CNP. Saya pun ikutan membelinya karena daripada harus beli mahal di KA. Harganya pun tidak mahal sekitaran 12-15 ribu saja, itupun sudah kenyang dan bonus air. Tak perlu berlama-lama, pukul 18.40 pun KA Matarmaja diberangkatkan dari Stasiun CNP dan siap menempuh lintas utara.
Selepas CNP, KA Matarmaja berhenti di Babakan, Tegal, dan Pekalongan. Di sini sempat hujan (di Brebes, Tegal) dan AC di kereta semakin sejuk bahkan dingin. Saya juga merasa di sini KA Matarmaja malah baru beneran ngebut dan berjalan dengan kecepatan tinggi, bukan yg nanggung. Karena di jalur ini sudah jalur ganda, maka perjalanan terasa lebih lancar tanpa perlu bersilang. KA Matarmaja banyak berpapasan dgn KA2x lain spt KA Argo Muria SMT-GMR, KA Kamandaka SMT-PWT, KA Kaligung SMC-TG, KA Jayabaya ML-SGU-SBI-SMC-PSE, KA Brantas KD-PSE, dan KA Gumarang SBI-PSE. Selepas PK, KA berjalan semakin kencang melintas wilayah pesisir pantai utara dengan keadaan yg sangat gelap di luar. Pantas saja jalur PK-WLR-SMT ini terkenal wingit dan seram saat malam hari, terutama selepas Batang hingga Weleri. Gelapnya luar biasa, jauh dari peradaban, dekat dengan hutan, dan berbatasan langsung dengan laut. Padahal kalau siang mah di sini eksotis banget.
Pas lagi enak2x ngebut, eh tiba2x kok jalannya jadi pelan kayak ngerem wah firasat saya bakal ketahan sinyal atau BLB nih. Eh benar saja, di Krengseng pun KA Matarmaja BLB semenit. Saya pikir selepas ini bakal kenceng, tahunya tidak. Malah berjalan tanggung dan nggremet, bahkan sempat BLB selama 3 menit di sinyal muka/masuk Stasiun Weleri. Yaelahhhh... Sampai2x papasan sama KA Harina SBI-SMT-BD. Lalu di Weleri pun sempat BLB kurang dari semenit dan kemudian berangkat lagi. Huft untung ga lama2x BLb atau ketahan sinyalnya. Udah mau Semarang juga, jangan sampe disusul. Antar WLR-KLN berpapasan dengan KA Menoreh Malam SMT-PSE.
Akhirnya KA Matarmaja pun kembali ngebut tanpa harus tertahan sinyal, tetapi ia kembali melambat saat akan melintas langsung di Stasiun Semarang Poncol. Rupanya, ia masuk sepur belok. Saya pikir akan disusul, tahunya tidak. Ia hanya berjalan langsung, tetapi melalui sepur belok. Dan tepat pada pukul 22.00 WIB pun masuk di Stasiun Semarang Tawang (kalo liat GAPEKA sih telat 10 menit). Di SMT, KA Matarmaja juga berhenti cukup lama sekitar 25 menit karena akan mengisi air untuk toilet di masing2x kereta. Lumayan juga ya. Hal ini dimanfaatkan oleh penumpang untuk turun sejenak dan merokok di luar rangkaian. Sekalian meluruskan badan dan merenggangkan kaki juga. Saya pun ke toilet stasiun untuk cuci muka dan gosok gigi mumpung berhentinya lama, hanya saja jarak antara kereta dengan toilet cukup jauh. KA saya di jalur 2, duduk di kereta 2, saya harus berjalan sampai di ujung rangkaian dan ujung peron sebelah barat untuk mencapai toilet. Di SMT, KA Matarmaja juga bersilang dengan dua KA Komersial dari Surabaya yaitu KA 47 Sembrani SBI-GMR dan KA 55 Bangunkarta SGU-GMR. Tak hanya itu, sekitar pukul 22.15 datanglah KA 12 Argo Sindoro GMR-SMT yang jadwal berangkatnya satu jam lebih lambat dari KA 172 Matarmaja PSE-ML. Untung saja tidak sampai disusul Argo Sindoro ataupun Gumarang.
Tepat pukul 22.25, KA Matarmaja diberangkatkan dari SMT dan bersiap meninggalkan lintas utara Jawa di Brumbung. Karena ngantuk, saya pun memutuskan untuk tidur selepas SMT agar saat di Malang nanti badan sudah segar dan nyaman. Cukup lama juga saya tertidur, walaupun beberapa kali terjaga saat KA Matarmaja berhenti di Salem, Solo Jebres, tapi tidak lama. Oh ya, saya juga spt merasa jalur BBG-SK itu tidak berjalan dengan kecepatan maksimal karena saya merasa jalannya agak nggremet. Selepas Solo Jebres, saya menjadi sangat lega dan leluasa untuk tidur karena dua orang penumpang di sebelah saya turun di sini sehingga saya pun akhirnya tidur dengan posisi tidur. Enaknya bisa tidur terlentang seperti ini, apalagi AC-nya dingin. Mantap sekali! Ini baru namanya tidur.
Saat terbangun, rupanya KA Matarmaja sudah ada di wilayah Jawa Timur, tepatnya hampir mencapai Tulungagung. Saya terbangun karena merasa laju KA tidak terlalu kencang, malah cenderung agak lambat. Saya lupa KA Matarmaja berhenti di Tulungagung pukul berapa karena saya masi mengawang2x dan langsung ke toilet untuk cuci muka. Selepas Tulungagung, perlahan-lahan langit yang gelap mulai berkurang dan digantikan oleh pemandangan yang jarang saya saksikan di Tangerang yaitu Kabut. Saya bingung dari mana Kabut ini berasal karena kabutnya sangat tebal, banyak, dan menyelimuti lanskap sepanjang Tulungagung hingga Blitar. Suasana pun terasa sedikit misterius karena kabut tebal tersebut.
Tak perlu waktu lama, pukul 05.30 WIB pun KA Matarmaja tiba di Stasiun Blitar. Di sini, ibu dan nenek depan saya berpamitan turun. Rupanya, cukup banyak penumpang yang turun di Blitar. Selepas Blitar, jumlah penumpang menjadi berkurang setengahnya. Di Blitar, KA Matarmaja berhenti cukup lama hampir selama 15 menit tanpa bersilang ataupun disusul.
Selepas Blitar, matahari pun mulai naik dan terlihatlah pemandangan jalur KA khas Jawa Timur yang masih memiliki persinyalan mekanik, jalur tunggal, dan stasiun yang antik. Rindu rasanya setelah sekian lama tidak naik KA selama dan sejauh ini. Sepertinya setelah Blitar rel dan bantalan banyak diganti karena saya menemui banyak rel dan bantalan di sisi kiri maupun kanan rel KA. Seusai Blitar, KA Matarmaja masih harus berhenti untuk menurunkan penumpang di Wlingi dan Kesamben dan selepas itu pula suasana di dalam KA menjadi sangat sepi. Jumlah penumpang yang tersisa bisa dihitung dengan jari. Kursi samping dan depan saya pun kosong sehingga saya bisa leluasa duduk dengan senyaman saya di situ. AC pun masih tetap terasa sejuk dan adem.
Selepas Kesamben, KA Matarmaja mulai berjalan perlahan alias lambat. Mungkin karena sebentar lagi akan melalui jalur yang berjembatan dan berterowongan. Selepas Pogajih, laju KA semakin lambat bahkan sangat lambat seperti orang yang berjalan kaki tertatih2x. Saya pun teringat, di petak ini sering terjadi anjlokan KA. Apalagi beberapa waktu lalu sempat ada dua kali anjlokan KA Ekonomi Lokal Penataran di petak tersebut setelah adanya penggantian rel dan bantalan. Duh, saya semakin takut. Apalagi jalurnya berliku, menanjak, dan melewati sisi sungai Brantas serta Bendungan Karangkates. Melintasi Jembatan Lahor, laju KA sangatlah lambat. Saya takut kalau tiba2x anjlok di situ (Amit-amit). Pemandangannya sih indah, tapi serem juga kalo tiba2x anjlok di tengah jembatan yang sepanjang dan setinggi Laor. Memasuki Terowongan EBK, kecepatan KA semakin lambat. Saya takut jika lokomotif dan kereta tidak kuat menanjak, apalagi terowongan EBK cukup panjang. Di terowongan DBK pun juga demikian. Laju KA baru dinaikkan selepas petak tersebut mendekati Sumberpucung. Akhirnya lega sekali saat saya melihat plang Stasiun Sumberpucung. Saya takut kenapa2x saat di petak Pogajih-Sumberpucung :S
Kemudian KA Matarmaja pun melanjutkan perjalanannya melintasi hijaunya persawahan yang asri, lalu berhenti di Kepanjen, dan berhenti di Pakisaji untuk bersilang dengan KA Ekonomi Lokal Penataran SB-BL (Hebat juga ya ngalah sama ekonomi lokalan). Di petak Kepanjen hingga menjelang Malang Kota Lama, saya disajikan pemandangan alam Gunung Arjuna/Butak/Kawi di sebelah barat dan pemandangan Gunung Semeru serta Gunung Bromo yang tengah erupsi di sebelah timur. Semuanya terlihat jelas dan saya berkali-kali mengabadikan momen tersebut. Sungguh indah rasanya masih bisa menikmati pemandangan asri seperti itu.
Tak lama kemudian, KA Matarmaja pun berhenti menurunkan penumpang di Stasiun Malang Kota Lama. Yeay! Sudah masuk Kota Malang! Senang sekali rasanya dan saya pun segera bersiap-siap mengemasi barang bawaan saya sebelum memasuki Stasiun Malang. Tanpa berlama-lama, KA Matarmaja melintasi Jembatan KA Sungai Brantas, melewati viaduk Embong Brantas, dan sampai juga akhirnya dengan selamat tanpa kekurangan oleh suatu apapun di Stasiun Malang a.k.a Stasiun Malang Kota Baru pukul 07.56. WOW! Hanya terlambat 6 menit. Saya tidak mempermasalahkan hal itu karena memang beberapa kali tertahan sinyal sehingga wajar jika telat. Namun, untuk KA sekelas, sejauh, dan selama Matarmaja sungguh luar biasa sekali keterlambatannya hanya enam menit. Padahal sudah KA Ekonomi, jarak jauh, waktu tempuh lama, tetapi masih dalam kategori ontime menurut saya. Luar biasa sekali ini Matarmaja. Reccomended lah untuk yang mau ke Malang. Mantap!!!! : D (Y)
Berikut ini LAPKA-nya
15.15 WIB Berangkat Stasiun Besar KA Pasar Senen
15.25-15.27 WIB Ketahan sinyal masuk Jatinegara (bersilang KA Eksekutif yang tidak diketahui namanya dan menyusul KLB Bawa Gerbong Parcel ONS)
15.28 WIB LS Jatinegara X KA 51 Eksekutif Taksaka Pagi YK-GMR
15.40-15.43 WIB Berjalan perlahan antara Kranji-Bekasi
15.43-15.44 WIB BLB Ketahan sinyal masuk Stasiun Bekasi dan berpapasan KA Ekonomi Lokal Purwakarta PWK-JAKK
16.24-16.26 WIB Berjalan perlahan antara Kosambi-Dawuan
17.05-17.07 WIB Berhenti Pegaden Baru
17.50-17.52 WIB Berhenti Jatibarang
18.16-18.19 WIB Berjalan pelan menjelang Cangkring
18.25-18.28 WIB Berjalan pelan menjelang Cirebon sekaligus papasan KA Ekspress Sore Purwojaya CP-KYA-PWT-GMR selepas Cangkring dan papasan KA Ekonomi AC 165 Krakatau KD-PSE-MER dan KA Tegal Bahari TG-GMR di Stasiun Besar Cirebon
18.33-18.40 WIB Berhenti Cirebon Prujakan
19.00-19.02 WIB Berhenti Babakan
19.42-19.45 WIB Berhenti Tegal x KA Ekonomi Lokal Kamandaka SMT-PWT
20.32-20.36 WIB Berhenti Pekalongan sekaligus papasan KA 175 Ekonomi Brantas KD-PSE saat berangkat dari Pekalongan
21.10-21.11 WIB BLB Krengseng
21.19-21.21 WIB Ketahan sinyal muka/masuk Stasiun Weleri dan papasan KA Ekspress Malam Harina SBI-SMT-BD
21.24-21.25 WIB BLB Weleri
22.00-22.25 WIB Berhenti Semarang Tawang x KA 47 Ekspress Malam Sembrani SBI-GMR X KA 55 Ekspress Malam Bangunkarta SGU-GMR dan isi air toilet kereta serta menunggu masuk KA 12 Eksekutif Argo Sindoro GMR-SMT
Salem X KA 171 Ekonomi Matarmaja ML-PSE
Solo Jebres X KA 149 Ekonomi AC Majapahit ML-PSE
05.30-05.44 WIB Berhenti Blitar
06.09-06.12 WIB Berhenti Wlingi
06.23-06.28 WIB Berhenti Kesamben
07.01-07.04 WIB Berhenti Sumberpucung
07.18-07.20 WIB Berhenti Kepanjen
07.31-07.35 WIB Berhenti Pakisaji X KA Ekonomi Lokal Penataran SB-ML-BL
07.48-07.50 WIB Berhenti Malang Kota Lama
07.56 WIB Tiba di Stasiun Besar Malang a.k.a Malang Kota Baru
Mantaaapp !!!
Cuma alhamdulillah om. sepanjang saya naik Matar dan naik Kereta ke KPN . Saya belum pernah mengalami anjlok (mudah2an seterusnya) tidak ada anjliok lagi pada petak itu. Amiiin
Oiya, Matar berhenti SMT kah ? Bukannya SMC ? CMIIW
Sejak GAPEKA 2015 berlaku, seluruh K3 PSO utara dari Jatim pindah pemberhentian ke SMT. Sementara yg dipindah ke SMC itu Jayabaya, xixixi...
BTW, jadi kangen naik Matarmaja lagi, terakhir naik Maret tahun lalu waktu masih pake GAPEKA 2014. Lumayan tepat waktu juga, cuman pas berangkatnya agak apes dapet K3 ex Penateks yg ACnya gak dingin...
Posts: 111
Threads: 0
Joined: Jun 2014
Reputation:
4
(18-05-2016, 06:34 PM)Bimantara Wrote: (09-02-2016, 01:52 PM)roysatyanusa Wrote: Halo semuanya. Setelah sekian lama ga nulis TR, saya mau nulis lagi nih. Kali ini saya ingin bercerita tentang pengalaman saya naik KA ekonomi yang sempat mendapat gelar dengan jarak tempuh terjauh dan waktu tempuh terlama di pulau Jawa, yang sekarang gelarnya sudah bergeser ke KA Krakatau. Tak lain dan tak bukan adalah KA Matarmaja.
Langsung saja ya.
Jumat, 29 Januari 2016 lalu saya pergi ke Malang dan Batu untuk berlibur sekaligus berwisata. Apalagi saya terakhir kali ke sana pada kelas XII SMA, dan kebetulan saya lagi seneng2x-nya ikut open trip sehingga ketika searching dan ada oen trip ke Malang-Batu 29-31 Jan, lsg saya ikut. Saya berangkat dengan KA Ekonomi Matarmaja rute PSE-ML yang harganya hanya Rp115.000,00 dengan waktu tempuh 16 jam 35 menit. Sudah lama rasanya tidak melakukan perjalanan KA sejauh dan selama itu, terakhir kali naik KA 32 Gajayana GMR-ML itupun sudah lama sekali saat saya masih kelas IX SMP bersama keluarga saya.
Saya berangkat dari rumah sekitar jam 11.30, padahal KA baru akan berangkat pada pukul 15.15. Mengapa demikian? Karena rumah saya berada di Citra Raya, Cikupa-Tangerang dan jalanannya memang macet apalagi banyak pabrik, belum lagi akses dari perumahan menuju jalan tol tidak dekat. Belum lagi harus berjibaku dengan kemacetan di jalan tol Tangerang-Jakarta dan benar saja selepas Tangerang (di wilayah Alam Sutera) jalanan mulai padat dipenuhi mobil, bus, dan truk dengan kecepatan kateogri nggremet tapi masih bisa jalan (Puji Tuhan masih bisa jalan, tidak (â—£_â—¢)┌∩â”). Alhasil saya pun tiba di Stasiun Pasar Senen pukul 13.40 WIB setelah melalui kemacetan jalan tol dan jalan raya di Jakarta. Oh ya, saya diantar oleh Ayah saya menggunakan mobil pribadi.
Cuaca saat itu cerah dan terik, namun keadaan stasiun tidak seramai yang saya bayangkan. Cukup kondusif dan sepi untuk ukuran Pasar Senen di hari Jumat (atau mungkin belum memasuki jam krusial seperti Jumat sore, petang, dan malam). Penumpang pun tidak banyak berjubel. Saya bertemu dan berkumpul dengan rombongan di depan Alfamart. Ada delapan orang yang berangkat dari Jakarta (sudah termasuk saya dan tour leader), namun posisi tempat duduk kami terpisah. Lima orang di kereta EKO 8, dua orang di kereta EKO 5, sedangkan saya sendiri berada di kereta EKO 2. Ya sudahlah tak apa, yang penting naik kereta dan sampai di Malang juga akan berkumpul kembali bersama-sama.
Saya dan rombongan boarding pada pukul 14.30 WIB dan rangkaian ternyata sudah menunggu di jalur 1 Stasiun PSE. Saya pun menuju ke kereta 2 dan saat masuk saya takjub karena kondisi kereta yang bersih, AC dingin, adem, sejuk, dan tempat duduk pun nyaman tidak keras. Apalagi kondisi kereta saat itu lowong. Saya pun menjadi tambah senang. Singkat cerita, beberapa penumpang pun mulai berdatangan sehingga membuat kondisi kereta pun ramai. Namun, AC masih tetap terasa. Saya duduk di kereta 2 di kursi 16 C (ada di tengah dan dekat dengan AC). Saya duduk di kursi yang konfigurasinya 3(total 6 orang hadap2x-an). Di depan saya ada dua orang wanita (Ibu dan Nenek atau ya bisa disebut anak-ortu) yang akan menuju Blitar. Di sebelah saya, dua orang laki-laki yang akan menuju ke Solo. Kami cukup banyak berbincang2x sepanjang perjalanan apalagi dengan ibu2x dan nenek yang sangat ramah itu.
Cukup lama saya menunggu keberangkatan KA dan beberapa kali saya melihat KA2x yg keluar masuk di PSE, spt KA Sawunggalih Utama Pagi dari KTA, KA Menoreh Pagi dari SMT, KA Barang Petikemas, dan KRL CL. Kemudian tepat pukul 15.15 WIB pun KA Matarmaja diberangkatan dari PSE menuju ML. Yeay! Siap menempuh perjalanan selama 16 jam 35 menit menuju Malang :
Sepanjang perjalanan yang nyaman ini, ternyata KA Matarmaja cukup sering berjalan lambat kemungkinan tunggu aman dan ditahan sinyal masuk. Oh ya, KA Matarmaja ini sudah full new livery dan ditarik loko CC 201 entah nomor seri berapa dan dipo induk mana karena tidak memperhatikan, namun yang pasti suara Semboyan 35-nya cukup serak dan tidak terlalu gagah/nyaring/merdu, tapi masih bisa didengar dan kadang masih enak didengar.
Menjelang JNG, KA Matarmaja sudah ditahan sinyal masuk JNG dan berpapasan dengan rangkain KA full eksekutif dengan loko CC 203 tapi tidak ada plat nama dan pastinya bukan Argo Lawu ataupun Taksaka. Lalu dari arah MRI pun muncul KLB bawa gerbong Parcel ONS yang kemudian disusul oleh KA Matarmaja. Saya yang masih penasaran dengan KA apakah yang tadi berpapasan. sempat mengira Taksaka, tetapi saat melintas langsung di JNG ternyata saya malah berpapasan dengan KA 51 Taksaka Pagi YK-GMR yg tengah berhenti menurunkan penumpang. Lalu, KA apakah itu? yg pasti bukan Argo Lawu.
Selepas JNG, KA Matarmaja pun mulai menaikan kecepatannya dan melintas langsung di stasiun2x yang dilalui. KA Matarmaja juga berpapasan dgn beberapa KA dan KRL. KA Matarmaja baru melambatkan lajunya saat menjelang Kranji, berjalan perlahan antara Kranji hingga Bekasi, bahkan sempat Berhenti alias BLB ketahan sinyal masuk BKS. Saat tertahan itu pula sempat berpapasan KA Ekonomi Lokal Purwakarta PWK-JAKK yg melaju kencang. Selepas itu, baru deh si Matarmaja jalan lagi dan kembali berjalan kencang selepas BKS.
Baru enak-enak ngebut antara Bekasi sampai Klari, tiba2x KA Matarmaja kembali melambat dan berjalan pelan di Kosambi hingga beberapa saat jelang Dawuan. Saya sampai bingung kenapa ya? Semoga tidak ada apa2x deh. Selanjutnya, KA Matarmaja pun menaikkan lajunya dan semakin ngebut selepas Cikampek.
Namun, saya merasa kok KA ini tidak ngebut2x banget ya? Apa karena saya di tengah tempat duduknya sehingga tidak merasakan guncangan roda? Tapi ya entah kenapa merasa kayak kurang maksimal aja di jalur CKP-CNP. Antara CKP-CNP, KA Matarmaja berhenti di Pegaden Baru, Subang; Haurgeulis dan Jatibarang; Indramayu. Ada juga beberapa penumpang yang naik dari stasiun2x tersebut.
Oh ya, selepas Jatibarang ada kejadian yang mungkin menurut saya agak aneh ya. Kan di dekat tempat duduk saya, ada rombongan keluarga (Bapak, Ibu, dan dua anak gadisnya). Mereka main kartu UNO dan tidak ada taruhan. Mereka cukup heboh bermain dan lama bermainnya, kalau tidak salah selepas Bekasi atau Karawang dan masih main sampai selepas Jatibarang. Saya sih biasa saja melihatnya karena toh namanya cuma permainan, saya juga kadang main kartu UNO saat kumpul sama teman2x saya. Namun, tak disangka saat mereka tengah asyik bermain tiba2x ada Polsuska serta Kondektur yang mendatangi mereka. Saya pikir sih cuma iseng atau bercanda atau apa. Eh taunya malah disuruh berhenti main? Lah? Aneh aja gitu lagi main kartu UNO tanpa judi tanpa taruhan dan ga menggangu malah suruh berhenti. Apalagi kata2xnya kurang mengenakkan. Katanya gini,"Permisi maaf bapak ibu mbak sekalian yang lagi main kartu UNO, bisa tolong berhenti main? Pilih berhenti sekarang atau kartunya yang saya buang?" :O Agak menyakitkan sih menurut saya. Orang lain jg pada biasa aja tuh ga keganggu. Dalihnya sih katanya takut dikira yang enggak2x atau dikira judi. duileh, itu mah asal ga negative thinking aja. Lagian masa di tempat umum di kereta malah berjudi? Dosa juga ah. Setelah itu saya hanya bisa bingung geleng2x kepala. Sedih aja gitu kayak terlalu berlebihan menurut saya. Maaf ya kalau ada yg tersinggung, tetapi agak aneh sih kalau kata saya. Dan setelah itu suasana di kereta hening karena ga ada lagi yang main kartu. Huft... : :'( X_X
Singkat cerita, KA Matarmaja semakin mendekati kota Cirebon. Namun, semakin ketahan sinyal. Di Cangkring berjalan perlahan bahkan hingga masuk Stasiun Cirebon. Saya sampai bingung kenapa coba ini ketahan mulu, jangan sampe telat parah dan disusul KA di belakangnya aja ini mah. Tepat pukul 18.33, KA Matarmaja pun berhenti di Stasiun Cirebon Prujakan. Di sini penumpang berbondong2x turun untuk membeli makanan nasi dan lauk pauk yang dijual di Stasiun CNP. Saya pun ikutan membelinya karena daripada harus beli mahal di KA. Harganya pun tidak mahal sekitaran 12-15 ribu saja, itupun sudah kenyang dan bonus air. Tak perlu berlama-lama, pukul 18.40 pun KA Matarmaja diberangkatkan dari Stasiun CNP dan siap menempuh lintas utara.
Selepas CNP, KA Matarmaja berhenti di Babakan, Tegal, dan Pekalongan. Di sini sempat hujan (di Brebes, Tegal) dan AC di kereta semakin sejuk bahkan dingin. Saya juga merasa di sini KA Matarmaja malah baru beneran ngebut dan berjalan dengan kecepatan tinggi, bukan yg nanggung. Karena di jalur ini sudah jalur ganda, maka perjalanan terasa lebih lancar tanpa perlu bersilang. KA Matarmaja banyak berpapasan dgn KA2x lain spt KA Argo Muria SMT-GMR, KA Kamandaka SMT-PWT, KA Kaligung SMC-TG, KA Jayabaya ML-SGU-SBI-SMC-PSE, KA Brantas KD-PSE, dan KA Gumarang SBI-PSE. Selepas PK, KA berjalan semakin kencang melintas wilayah pesisir pantai utara dengan keadaan yg sangat gelap di luar. Pantas saja jalur PK-WLR-SMT ini terkenal wingit dan seram saat malam hari, terutama selepas Batang hingga Weleri. Gelapnya luar biasa, jauh dari peradaban, dekat dengan hutan, dan berbatasan langsung dengan laut. Padahal kalau siang mah di sini eksotis banget.
Pas lagi enak2x ngebut, eh tiba2x kok jalannya jadi pelan kayak ngerem wah firasat saya bakal ketahan sinyal atau BLB nih. Eh benar saja, di Krengseng pun KA Matarmaja BLB semenit. Saya pikir selepas ini bakal kenceng, tahunya tidak. Malah berjalan tanggung dan nggremet, bahkan sempat BLB selama 3 menit di sinyal muka/masuk Stasiun Weleri. Yaelahhhh... Sampai2x papasan sama KA Harina SBI-SMT-BD. Lalu di Weleri pun sempat BLB kurang dari semenit dan kemudian berangkat lagi. Huft untung ga lama2x BLb atau ketahan sinyalnya. Udah mau Semarang juga, jangan sampe disusul. Antar WLR-KLN berpapasan dengan KA Menoreh Malam SMT-PSE.
Akhirnya KA Matarmaja pun kembali ngebut tanpa harus tertahan sinyal, tetapi ia kembali melambat saat akan melintas langsung di Stasiun Semarang Poncol. Rupanya, ia masuk sepur belok. Saya pikir akan disusul, tahunya tidak. Ia hanya berjalan langsung, tetapi melalui sepur belok. Dan tepat pada pukul 22.00 WIB pun masuk di Stasiun Semarang Tawang (kalo liat GAPEKA sih telat 10 menit). Di SMT, KA Matarmaja juga berhenti cukup lama sekitar 25 menit karena akan mengisi air untuk toilet di masing2x kereta. Lumayan juga ya. Hal ini dimanfaatkan oleh penumpang untuk turun sejenak dan merokok di luar rangkaian. Sekalian meluruskan badan dan merenggangkan kaki juga. Saya pun ke toilet stasiun untuk cuci muka dan gosok gigi mumpung berhentinya lama, hanya saja jarak antara kereta dengan toilet cukup jauh. KA saya di jalur 2, duduk di kereta 2, saya harus berjalan sampai di ujung rangkaian dan ujung peron sebelah barat untuk mencapai toilet. Di SMT, KA Matarmaja juga bersilang dengan dua KA Komersial dari Surabaya yaitu KA 47 Sembrani SBI-GMR dan KA 55 Bangunkarta SGU-GMR. Tak hanya itu, sekitar pukul 22.15 datanglah KA 12 Argo Sindoro GMR-SMT yang jadwal berangkatnya satu jam lebih lambat dari KA 172 Matarmaja PSE-ML. Untung saja tidak sampai disusul Argo Sindoro ataupun Gumarang.
Tepat pukul 22.25, KA Matarmaja diberangkatkan dari SMT dan bersiap meninggalkan lintas utara Jawa di Brumbung. Karena ngantuk, saya pun memutuskan untuk tidur selepas SMT agar saat di Malang nanti badan sudah segar dan nyaman. Cukup lama juga saya tertidur, walaupun beberapa kali terjaga saat KA Matarmaja berhenti di Salem, Solo Jebres, tapi tidak lama. Oh ya, saya juga spt merasa jalur BBG-SK itu tidak berjalan dengan kecepatan maksimal karena saya merasa jalannya agak nggremet. Selepas Solo Jebres, saya menjadi sangat lega dan leluasa untuk tidur karena dua orang penumpang di sebelah saya turun di sini sehingga saya pun akhirnya tidur dengan posisi tidur. Enaknya bisa tidur terlentang seperti ini, apalagi AC-nya dingin. Mantap sekali! Ini baru namanya tidur.
Saat terbangun, rupanya KA Matarmaja sudah ada di wilayah Jawa Timur, tepatnya hampir mencapai Tulungagung. Saya terbangun karena merasa laju KA tidak terlalu kencang, malah cenderung agak lambat. Saya lupa KA Matarmaja berhenti di Tulungagung pukul berapa karena saya masi mengawang2x dan langsung ke toilet untuk cuci muka. Selepas Tulungagung, perlahan-lahan langit yang gelap mulai berkurang dan digantikan oleh pemandangan yang jarang saya saksikan di Tangerang yaitu Kabut. Saya bingung dari mana Kabut ini berasal karena kabutnya sangat tebal, banyak, dan menyelimuti lanskap sepanjang Tulungagung hingga Blitar. Suasana pun terasa sedikit misterius karena kabut tebal tersebut.
Tak perlu waktu lama, pukul 05.30 WIB pun KA Matarmaja tiba di Stasiun Blitar. Di sini, ibu dan nenek depan saya berpamitan turun. Rupanya, cukup banyak penumpang yang turun di Blitar. Selepas Blitar, jumlah penumpang menjadi berkurang setengahnya. Di Blitar, KA Matarmaja berhenti cukup lama hampir selama 15 menit tanpa bersilang ataupun disusul.
Selepas Blitar, matahari pun mulai naik dan terlihatlah pemandangan jalur KA khas Jawa Timur yang masih memiliki persinyalan mekanik, jalur tunggal, dan stasiun yang antik. Rindu rasanya setelah sekian lama tidak naik KA selama dan sejauh ini. Sepertinya setelah Blitar rel dan bantalan banyak diganti karena saya menemui banyak rel dan bantalan di sisi kiri maupun kanan rel KA. Seusai Blitar, KA Matarmaja masih harus berhenti untuk menurunkan penumpang di Wlingi dan Kesamben dan selepas itu pula suasana di dalam KA menjadi sangat sepi. Jumlah penumpang yang tersisa bisa dihitung dengan jari. Kursi samping dan depan saya pun kosong sehingga saya bisa leluasa duduk dengan senyaman saya di situ. AC pun masih tetap terasa sejuk dan adem.
Selepas Kesamben, KA Matarmaja mulai berjalan perlahan alias lambat. Mungkin karena sebentar lagi akan melalui jalur yang berjembatan dan berterowongan. Selepas Pogajih, laju KA semakin lambat bahkan sangat lambat seperti orang yang berjalan kaki tertatih2x. Saya pun teringat, di petak ini sering terjadi anjlokan KA. Apalagi beberapa waktu lalu sempat ada dua kali anjlokan KA Ekonomi Lokal Penataran di petak tersebut setelah adanya penggantian rel dan bantalan. Duh, saya semakin takut. Apalagi jalurnya berliku, menanjak, dan melewati sisi sungai Brantas serta Bendungan Karangkates. Melintasi Jembatan Lahor, laju KA sangatlah lambat. Saya takut kalau tiba2x anjlok di situ (Amit-amit). Pemandangannya sih indah, tapi serem juga kalo tiba2x anjlok di tengah jembatan yang sepanjang dan setinggi Laor. Memasuki Terowongan EBK, kecepatan KA semakin lambat. Saya takut jika lokomotif dan kereta tidak kuat menanjak, apalagi terowongan EBK cukup panjang. Di terowongan DBK pun juga demikian. Laju KA baru dinaikkan selepas petak tersebut mendekati Sumberpucung. Akhirnya lega sekali saat saya melihat plang Stasiun Sumberpucung. Saya takut kenapa2x saat di petak Pogajih-Sumberpucung :S
Kemudian KA Matarmaja pun melanjutkan perjalanannya melintasi hijaunya persawahan yang asri, lalu berhenti di Kepanjen, dan berhenti di Pakisaji untuk bersilang dengan KA Ekonomi Lokal Penataran SB-BL (Hebat juga ya ngalah sama ekonomi lokalan). Di petak Kepanjen hingga menjelang Malang Kota Lama, saya disajikan pemandangan alam Gunung Arjuna/Butak/Kawi di sebelah barat dan pemandangan Gunung Semeru serta Gunung Bromo yang tengah erupsi di sebelah timur. Semuanya terlihat jelas dan saya berkali-kali mengabadikan momen tersebut. Sungguh indah rasanya masih bisa menikmati pemandangan asri seperti itu.
Tak lama kemudian, KA Matarmaja pun berhenti menurunkan penumpang di Stasiun Malang Kota Lama. Yeay! Sudah masuk Kota Malang! Senang sekali rasanya dan saya pun segera bersiap-siap mengemasi barang bawaan saya sebelum memasuki Stasiun Malang. Tanpa berlama-lama, KA Matarmaja melintasi Jembatan KA Sungai Brantas, melewati viaduk Embong Brantas, dan sampai juga akhirnya dengan selamat tanpa kekurangan oleh suatu apapun di Stasiun Malang a.k.a Stasiun Malang Kota Baru pukul 07.56. WOW! Hanya terlambat 6 menit. Saya tidak mempermasalahkan hal itu karena memang beberapa kali tertahan sinyal sehingga wajar jika telat. Namun, untuk KA sekelas, sejauh, dan selama Matarmaja sungguh luar biasa sekali keterlambatannya hanya enam menit. Padahal sudah KA Ekonomi, jarak jauh, waktu tempuh lama, tetapi masih dalam kategori ontime menurut saya. Luar biasa sekali ini Matarmaja. Reccomended lah untuk yang mau ke Malang. Mantap!!!! : D (Y)
Berikut ini LAPKA-nya
15.15 WIB Berangkat Stasiun Besar KA Pasar Senen
15.25-15.27 WIB Ketahan sinyal masuk Jatinegara (bersilang KA Eksekutif yang tidak diketahui namanya dan menyusul KLB Bawa Gerbong Parcel ONS)
15.28 WIB LS Jatinegara X KA 51 Eksekutif Taksaka Pagi YK-GMR
15.40-15.43 WIB Berjalan perlahan antara Kranji-Bekasi
15.43-15.44 WIB BLB Ketahan sinyal masuk Stasiun Bekasi dan berpapasan KA Ekonomi Lokal Purwakarta PWK-JAKK
16.24-16.26 WIB Berjalan perlahan antara Kosambi-Dawuan
17.05-17.07 WIB Berhenti Pegaden Baru
17.50-17.52 WIB Berhenti Jatibarang
18.16-18.19 WIB Berjalan pelan menjelang Cangkring
18.25-18.28 WIB Berjalan pelan menjelang Cirebon sekaligus papasan KA Ekspress Sore Purwojaya CP-KYA-PWT-GMR selepas Cangkring dan papasan KA Ekonomi AC 165 Krakatau KD-PSE-MER dan KA Tegal Bahari TG-GMR di Stasiun Besar Cirebon
18.33-18.40 WIB Berhenti Cirebon Prujakan
19.00-19.02 WIB Berhenti Babakan
19.42-19.45 WIB Berhenti Tegal x KA Ekonomi Lokal Kamandaka SMT-PWT
20.32-20.36 WIB Berhenti Pekalongan sekaligus papasan KA 175 Ekonomi Brantas KD-PSE saat berangkat dari Pekalongan
21.10-21.11 WIB BLB Krengseng
21.19-21.21 WIB Ketahan sinyal muka/masuk Stasiun Weleri dan papasan KA Ekspress Malam Harina SBI-SMT-BD
21.24-21.25 WIB BLB Weleri
22.00-22.25 WIB Berhenti Semarang Tawang x KA 47 Ekspress Malam Sembrani SBI-GMR X KA 55 Ekspress Malam Bangunkarta SGU-GMR dan isi air toilet kereta serta menunggu masuk KA 12 Eksekutif Argo Sindoro GMR-SMT
Salem X KA 171 Ekonomi Matarmaja ML-PSE
Solo Jebres X KA 149 Ekonomi AC Majapahit ML-PSE
05.30-05.44 WIB Berhenti Blitar
06.09-06.12 WIB Berhenti Wlingi
06.23-06.28 WIB Berhenti Kesamben
07.01-07.04 WIB Berhenti Sumberpucung
07.18-07.20 WIB Berhenti Kepanjen
07.31-07.35 WIB Berhenti Pakisaji X KA Ekonomi Lokal Penataran SB-ML-BL
07.48-07.50 WIB Berhenti Malang Kota Lama
07.56 WIB Tiba di Stasiun Besar Malang a.k.a Malang Kota Baru
Mantaaapp !!!
Cuma alhamdulillah om. sepanjang saya naik Matar dan naik Kereta ke KPN . Saya belum pernah mengalami anjlok (mudah2an seterusnya) tidak ada anjliok lagi pada petak itu. Amiiin
Oiya, Matar berhenti SMT kah ? Bukannya SMC ? CMIIW Iya soalnya emang pas banget waktu itu dua kali KA Penataran anjlok di situ beberapa hari sebelum saya naik KA Matarmaja ke Malang. Saya kan jadi takut aja gitu kalo sampe kejadian anjlok. Matarmaja sendiri pernah beberapa kali anjlok di daerah itu kan. Untungnya sih lancar walaupun berjalan lambat sekali. Kalo sekarang pasti udah kembali ke kecepatan semula.
Iya mas. Semenjak GAPEKA 2015 KA2x ekonomi spt Matarmaja, Brantas, dan Kertajaya berhentinya di SMT. Di SMC yg berhenti Jayabaya sama Tawang Jaya.
Posts: 27
Threads: 0
Joined: Jun 2011
Reputation:
0
Matarmaja Gapeka 2019...berangkat ML jam 9:00. Bagus banget untuk yg half riding...sampai Semarang masih sore
Posts: 556
Threads: 0
Joined: Apr 2012
Reputation:
4
(01-11-2019, 02:44 PM)b450ri7 Wrote: Matarmaja Gapeka 2019...berangkat ML jam 9:00. Bagus banget untuk yg half riding...sampai Semarang masih sore
Jadinya GAPEKAnya gimana ya Om? Soalnya saya belum dapet infonya nih yang Matar
[spoiler]
![[Image: 15052012060.jpg]](http://i1245.photobucket.com/albums/gg595/Bimantara10/15052012060.jpg) [/spoiler]
|