Posts: 121
Threads: 0
Joined: Sep 2014
Reputation:
2
(18-09-2014, 09:45 PM)Ardhani Muhad Wrote: Coba saya membandingkan transportasi massal darat yang beroperasi di Yogyakarta, yaitu kereta dan bis. Khusus kali ini yang melayani relasi Jogja-Jakarta karena di trayek tersebut pada moda transportasi bis tersedia kelas yang lengkap mulai dari kelas ekonomi hingga super eksekutif. Mirip dengan kelas kereta milik Daop VI yang juga tersedia lengkap mulai dari ekonomi PSO hingga eksekutif:
A. Waktu tempuh
1. Kereta:
- Eksekutif/K1: 7 jam 30 menit -8 jam 30 menit
- Bisnis/K2 : 7 jam 30 menit- 9 jam
- Ekonomi AC Komersil/K3AC (biru) : 8-10 jam
- Ekonomi PSO/K3AC : 8-10 jam
2. Bis
All class: normal 12-14 jam, tergantung kondisi lalu lintas dan kaki kanan driver hehe 
B. Fasilitas, Harga tiket, & Kapasitas Angkut
1. Kereta
a. Eksekutif:
- Konfigurasi seat 2-2, jumlah 50-52 seat
- AC central
- Reclining seat
- Seat bisa dirotasi
- Free selimut-bantal
- Leg rest
- Toilet
- Socket plug
- Entertainment (TV, video music)
- Lampu baca
- Meja lipat
- Harga tiket: Rp.275.000-Rp.390.000, tentatif
b. Bisnis
- Konfigurasi seat 2-2, jumlah 64 seat
- AC split
- Seat bisa dirotasi
- Toilet
- Socket plug
- Entertainment (audio music)
- Harga tiket: Rp. 170.000-Rp. 270.000, tentatif
c. Ekonomi Komersil (biru)
- Konfigurasi seat 2-2 berhadapan, jumlah 80 seat
- AC central
- Toilet
- Socket plug
- Entertainment (??) *baru naik 2 kali dan ga dapet hiburan
- Harga tiket: Rp. 150.000-Rp.225.000, tentatif
d. Ekonomi PSO
- Konfigurasi seat 2-3 berhadapan, jumlah 106 seat
- AC split
- Toilet
- Socket plug
- Harga tiket: Rp.50.000
Harga tiket bulan september
2. Bis
Jika dibandingkan dengan bis, variabel yang dibandingkan bergantung dari perusahaan otobus (PO) karena beda PO, beda pula fasilitas dan harga tiketnya. Misal di PO.X konfigurasi seat 2-2 dengan jumlah total 38-40 seat digolongkan kelas VIP, sedangkan di PO.Y konfigurasi seat tersebut digolongkan kelas eksekutif.
Dari pengalaman bis yang pernah saya naiki dan hasil ngobrol dengan sesama penumpang & kru bis, kategori bis bisa dibagi ke beberapa kelas:
(Untuk nama PO, saya cantumkan dengan inisial)
a. Super Eksekutif (PO. RI & SDR)
- Konfigurasi seat 2-1, jumlah seat 22-24 (untuk yang tinggi badan 170an cm, ujung kaki tidak menyentuh seat didepannya)
- Reclining seat
- Toilet
- Socket Plug
- Free makan malam & snack
- Free selimut-bantal
- Foot rest (RI), leg rest (RI&SDR)
- Layanan antar sampai rumah/tujuan (SDR), handuk hangat (RI)
- Entertainment (TV, video/audio music)
- Harga berkisar Rp.235.000-Rp.260.000
b. Eksekutif (PO. Rmy, MI, ML, PK, SDR, RI)
- Konfigurasi seat 2-2, jumlah seat berkisar 28-34/36
- Reclining seat
- Toilet
- Socket Plug
- Free makan malam & snack
- Free selimut-bantal
- Leg rest (Rmy, MI, ML, PK, SDR), Foot rest (RI)
- Entertainment (TV, video/audio music)
- Wifi (ML)
- Harga berkisar Rp. 180.000-Rp. 220.000
c. VIP, Eksekutif Muda (PO.SA, RI, LP, MI, Rmy, Sts, ML, SA, Hdy, PK)
- Konfigurasi seat 2-2, jumlah seat berkisar 34-40/42
- Reclining seat
- Toilet
- Socket Plug
- Free makan malam (RI, LP, MI, PK), snack (Rmy, Sts, ML, SA), air minum 600 mL (RI), hot tea/coffe on the bus (ML)
- Free selimut-bantal
- Foot rest (RI, LP)
- Entertainment (TV, video/audio music)
- Harga berkisar Rp.130.000-Rp.160.000
d. Patas AC (PO. SJ, DI, Pyg, WS, Hdy, GI, MJ)
- Konfigurasi seat 2-2, jumlah seat berkisar 38-44/46
- Reclining seat
- Foot rest (RI)
- Selimut (DI)
- Air minum 600 mL (RI)
- Toilet (WS, DI, SJ)
- Entertainment (TV, video/audio music)
- Harga berkisar Rp. 95.000-Rp.140.000
e. Sebenarnya ada kelas Bisnis AC, Bisnis non AC, Ekonomi AC dan Ekonomi non AC. Pada kelas bisnis, ada yang menggunakan konfigurasi seat 2-2 dan ada pula yang memakai konfigurasi seat 2-3. Lagi lagi hal tersebut bergantung dari kebijakan PO. Yang pasti seat pitch pada kelas ini jelas lebih sempit dibandingkan kelas diatasnya. Mengenai fasilitas yang lain, mohon maaf saya tidak bisa menjelaskan karena saya belum pernah naik bis di kelas tersebut.
Untuk Fasilitas entertainment kadang dinyalain kadang engga. Pernah naik hingga sampai tujuan, TV & music ga dinyalain, pernah pula berangkat jam 3 sore sampai tol Kanci (jam 1 malem) full music. Kalo TV dinyalain, yang disuguhin kadang film jadul ato film tahun 2000an. Kalo musik mah bisa disetelin lagu lintas genre dan generasi 
Harga tiket yang saya cantumin itu untuk harga normal, beda dengan harga pas musim lebaran. Momen liburan, harga tiket Trayek Jogja-Jakarta biasanya engga naik. Jika naik, kenaikannya
berkisar 5-15rb. Sedangkan untuk kapasitas bis, bergantung dari chassis yang dipakai.
[spoiler]
Untuk saya pribadi, mau naik moda transportasi apapun ga masalah karena syukur saya ga punya keluhan mabok. Pertimbangannya jika butuh ketepatan waktu, saya memilih naik kereta. Kalo pas lagi nyantai dan melakukan perjalanan di malam hari, saya memilih bis karena klo di pas dalam perjalanan saya punya kebiasaan susah tidur. Nah pas naik bis bisa sambil liat pemandangan di luar, sedangkan kalo naik kereta kan pandangan di luar gelap dan KATV tayangnya terbatas. Dan kalo saya memang pas dalam keadaan urgent dan diburu waktu, saya milih naik ban karet. Maksudnya ban karet yang bisa terbang alias pesawat [/spoiler]
Btw, mohon koreksinya klo saya salah nulis. Mengingat sekarang udah ga terlalu sering naik bis dan kereta jadinya kurang update 
Saya berharap trit ini tidak menjadi brand war ataupun transport war. Lagipula kereta dan bis sama-sama transportasi massal yang berperan dalam pengurangan emisi dan beban jalan 
Ya benar, ini bukan untuk brand war atau tranport war, tapi untuk mengetahui lebih dalam tentang perkereta apian, untuk menunjukkan bahwa kereta api lebih efektif untuk angkutan darat jarak jauh dan atau masal, yg tidak hanya berdasar perkiraan saja.
Karena selama ini kita tahu kereta api lebih efektif utk angkutan masal dan atau jarak jauh, tapi hamya sebatas perkiraan, dan kenyataanlain:
- pemerintah kurang memprioritaskan mengembangkan moda transportasi
- kalau mmemang kereta lebih hemat untuk biaya operasional kenapa tarifnya tidak lebih murah?
Posts: 359
Threads: 0
Joined: May 2008
Reputation:
4
(19-09-2014, 06:02 AM)pws1996 Wrote: Ya benar, ini bukan untuk brand war atau tranport war, tapi untuk mengetahui lebih dalam tentang perkereta apian, untuk menunjukkan bahwa kereta api lebih efektif untuk angkutan darat jarak jauh dan atau masal, yg tidak hanya berdasar perkiraan saja.
Karena selama ini kita tahu kereta api lebih efektif utk angkutan masal dan atau jarak jauh, tapi hamya sebatas perkiraan, dan kenyataanlain:
- pemerintah kurang memprioritaskan mengembangkan moda transportasi
- kalau mmemang kereta lebih hemat untuk biaya operasional kenapa tarifnya tidak lebih murah?
Setahu saya (CMIIW) kereta api tidak lebih hemat untuk biaya operasional karena bahan bakar lokomotif memakai bahan bakar non subsidi (HSD), beda dengan bis yang pakai premium bersubsidi. Perlu diingat juga bahwa PT. Kereta Api Indonesia (Persero) dalam mengoperasikan kereta api harus membayar TAC (Track Access Charge/ Biaya melewati jalur), bandingkan dengan bis yang tidak membayar (kecuali lewat jalan tol tapi tentu saja tidak seberapa dibandingkan TAC). Belum lagi komponen kereta api yang lebih susah dicari dan mahal daripada bus, pelemparan batu dan sabotase jalur juga menambah biaya perbaikan. Ini benar-benar perlu dukungan pemerintah agar biaya2 tersebut ditekan, tapi sayangnya pemerintahan baru periode selanjutnya fokusnya transportasi laut, terpaksa harus bersabar dan gigit 2 jari dulu
Posts: 121
Threads: 0
Joined: Sep 2014
Reputation:
2
(19-09-2014, 06:09 PM)dixtra Wrote: Setahu saya (CMIIW) kereta api tidak lebih hemat untuk biaya operasional karena bahan bakar lokomotif memakai bahan bakar non subsidi (HSD), beda dengan bis yang pakai premium bersubsidi. Perlu diingat juga bahwa PT. Kereta Api Indonesia (Persero) dalam mengoperasikan kereta api harus membayar TAC (Track Access Charge/ Biaya melewati jalur), bandingkan dengan bis yang tidak membayar (kecuali lewat jalan tol tapi tentu saja tidak seberapa dibandingkan TAC). Belum lagi komponen kereta api yang lebih susah dicari dan mahal daripada bus, pelemparan batu dan sabotase jalur juga menambah biaya perbaikan. Ini benar-benar perlu dukungan pemerintah agar biaya2 tersebut ditekan, tapi sayangnya pemerintahan baru periode selanjutnya fokusnya transportasi laut, terpaksa harus bersabar dan gigit 2 jari dulu 
Akhirnya ketahuan juga kenapa tarif dasar kereta lebih mahal daripada tarif dasar bis,
Kata kuncinya ada pada PEMERINTAH.
Seharusnya pemerintah memberlakukan hal yg sama antara kereta dan bis, kalau memang ingin mengurangi beban jalan raya yg makin hari makin padat
Posts: 605
Threads: 0
Joined: Mar 2014
Reputation:
4
Jika berbicara soal efektifitas, belum tentu moda transportasi kereta api lebih efektif lho di sisi penumpang dan pengampu kebijakan. Coba bandingkan jumlah kota/kabupaten yang tercover kereta dan kota/kabupaten yang tidak tercover jalur kereta. Penduduk yang ibukota propinsinya tercover jalur kereta pun belum tentu merasa lebih efektif dan efisien menggunakan kereta, seperti di kabupaten Gunung Kidul. Penduduknya yang mau ke Jakarta/luar kota harus datang ke sta.Tugu, sta.Lempuyangan atau sta.Klaten. Perjalanan untuk ke stasiun tersebut dengan kendaraan pribadi memakan waktu setidaknya 2-3 jam, belum lagi kalo naik transportasi umum yang bisa menghabiskan waktu 3-4 jam serta harus oper setidaknya 3 kali. Biaya yang dikeluarkan pun seharga tiket ekonomi PSO. Di sisi penumpang, ngapain harus susah-susah kalo bisa naik kendaraan 1 kali saja dan bisa naik dari depan rumah. Dari sisi pengampu kebijakan, mungkin saja ngapain ngasih subsidi jika yang menerima & memakai hanya masyarakat dan sekitar yang dilalui jalur kereta. Toh sarana dan prasarana di luar pulau Jawa yang perlu pembangunan & perbaikan memiliki prioritas yang lebih tinggi.
Kemudian jika terjadi PLB di jalur kereta dimana transportasi sebagian bertumpu di jalur kereta, bayangkan apa yang terjadi? Jadwal kereta penumpang jadi kacau, ditambah gimana kabarnya kereta yang tidak punya rangkaian cadangan jika rangkaian utamanya tertahan. Kemudian angkutan barang menjadi terlambat sampai di tujuan yang berimbas bisa diberlakukan pinalti ke operator. Btw konon karena dimensi angkut kereta barang lebih kecil daripada truk, pengusaha lebih memilih angkutan darat lainnya.
Menurut saya, subsidi (PSO) untuk KAJJ kelas ekonomi dan kommuter saat ini sudah tepat sasaran walaupun belum sempurna. Mengingat kereta Ekonomi lebih banyak digunakan oleh masyarakat kelas bawah. Sedangkan kelas diatasnya lebih banyak digunakan oleh kalangan menengah keatas, kalo KAJJ diatas kelas Ekonomi diberi subsidi bisa bisa ga tepat sasaran. Lagipula kecuali pada masa lebaran, apakah setiap orang yang berpergian jarak jauh selalu menggunakan kendaraan pribadi?
Kemudian subsidi untuk kereta kommuter justru yang paling tepat sasaran untuk mengurangi beban jalan. Masyarakat yang hendak berpergian jarak dekat dan menengah yang menggunakan kendaraan pribadi bisa dipindahkan ke kereta kommuter, untuk itu ada baiknya frekuensi kereta kommuter ditambah lagi
[spoiler]
Ngomongin soal solar subsidi, (pernah saya lontarkan pertanyaan di trit sebelah) saya malah menemukan artikel di majalah berita mingguan "Tempo" edisi 25-31 Agustus 2014 halaman 12 yang memuat PT.KAI adalah salah satu pengguna solar subsidi. Berikut saya naikin gambarnya:
![[Image: cTAo96.jpg]](http://imagizer.imageshack.us/v2/280x200q90/674/cTAo96.jpg)
[/spoiler]
Regards,
Public Transportation Enthusiast
Posts: 7,452
Threads: 0
Joined: Apr 2010
Reputation:
62
Transportasi Kereta Api memiliki daya angkut lebih besar, komsumsi bahan bakar lebih rendah, dan polutan lebih rendah dibanding moda transportasi lain
UTAMAKAN KESELAMATAN..........!
Keluarga Anda Menanti di Rumah !
![[Image: warteg.png]](http://img832.imageshack.us/img832/6434/warteg.png)
Juragan Warteg yang Juga Seorang Aktivis KA
Posts: 25
Threads: 0
Joined: Dec 2013
Reputation:
0
(18-09-2014, 06:15 PM)Bayyu kurniawan Wrote: yg jelas kalo RF sensasinya jelas kemana2 maunya naik KA 
Setuju Bro
Posts: 279
Threads: 0
Joined: Feb 2014
Reputation:
0
(30-09-2014, 06:12 PM)Aruna Kuwat Wrote: (18-09-2014, 06:15 PM)Bayyu kurniawan Wrote: yg jelas kalo RF sensasinya jelas kemana2 maunya naik KA 
Setuju Bro 
Tapi di Jawa aja banyak tempat yang tidak dapat dan tidak dapat lagi dijangkau pakai kereta : Pacitan, Magelang, Salatiga, Wonosobo, Pangandaran, Magetan, dll., dsb., dst.
Posts: 394
Threads: 0
Joined: Jul 2014
Reputation:
1
(01-10-2014, 03:03 PM)bhaskara Wrote: (30-09-2014, 06:12 PM)Aruna Kuwat Wrote: (18-09-2014, 06:15 PM)Bayyu kurniawan Wrote: yg jelas kalo RF sensasinya jelas kemana2 maunya naik KA 
Setuju Bro 
Tapi di Jawa aja banyak tempat yang tidak dapat dan tidak dapat lagi dijangkau pakai kereta : Pacitan, Magelang, Salatiga, Wonosobo, Pangandaran, Magetan, dll., dsb., dst.
kembali lagi soal okupansi nya gan
Posts: 121
Threads: 0
Joined: Sep 2014
Reputation:
2
sekarang perbandingan kereta api dg bis untuk urusan tarif mulai januari 2015 bis kalah jauh mahalnya.
(asumsi tarif bis naik tidak lebih 10%, atau malah tidak naik)
Posts: 425
Threads: 0
Joined: Nov 2013
Reputation:
3
(30-09-2014, 05:41 PM)Warteg Wrote: Transportasi Kereta Api memiliki daya angkut lebih besar, komsumsi bahan bakar lebih rendah, dan polutan lebih rendah dibanding moda transportasi lain
![[Image: 20ubjfr.jpg]](http://i62.tinypic.com/20ubjfr.jpg) Nah, biasanya, besaran ini lah yang dipakai untuk membandingkan dua/lebih moda transportasi yang berbeda, yaitu Fuel/Pax*Distance. Setahu saya, ini digunakan, karena, setiap moda transportasi memiliki ciri khas tersendiri, dan hanya komponen bahan bakar, penumpang, dan jarak tempuh lah yang dimiliki setiap moda transportasi, walau, menurut saya, besaran ini seakan - akan "menutup mata" pada pengeluaran lain yang dibutuhkan untuk menjalankan suatu moda transportasi. Maka, menurut saya, lebih tepat jika digunakan Running Cost/Pax yang digunakan. Running cost yang dimaksud adalah segala pengeluaran yang dibuuhkan untuk menjalankan suatu moda transportasi, mulai dari hal besar seperti perawatan sarpras hingga hal kecil seperti kertas tiket.
|