Hari Kamis, 9 Oktober 2014, akhirnya tibalah masa dimana saya harus segera balik ke Jakarta setelah menghabiskan liburan panjang di Malang.
Untuk momen kepulangan kali ini saya menggunakan KA 39 bernomor K1 009 08(mulai dinas 5 September 2009, PA SGU 30 April 2014, PA yang akan datang 30 April 2016) yang telah mengalami PA. Seperti yang rekan-rekan ketahui rangkaian Gajayana setelah mengalami PA mengalami beberapa perubahan signifikan. Berikut beberapa perubahan yang sempat saya catat :
1. Jok kursi dari kulit warna krem. Kalau buat saya secara subyektif untuk empuk/kerasnya sih tidak masalah dibagian pantat. Cukup nyaman untuk menempuh perjalanan selama 16 jam dengan kondisi paha kiri belakang sedang mengalami cedera hamstring efek main bola beberapa minggu sebelumnya. Namun minusnya dibagian kepala gak terlalu empuk, atau kurang empuk dibandingkan dengan jok kursi beludru sebelum PA. Ini pendapat saya secara subyektif.
2. Tombol reclining seat hilang diganti dengan tuas dibagian pinggir sisi dalam kursi. Semestinya bagi saya tidak masalah. Tapi saya kepikiran bagi penumpang bertubuh subur akan sedikit merepotkan, karena harus mengangkat/menggeser sedikit posisi duduknya untuk memainkan tuas kursi tersebut.
3. Toilet duduk diganti menjadi toilet jongkok. Secara subyektif saya tidak menyukai perubahan ini. Saya lebih menyukai toilet duduk, karena ketika KA berjalan dan sedang BAB, dalam posisi duduk lebih mudah berpegangan sejajar dengan besi yang menempul di dindingnya. Berbeda dengan ketika jongkok posisi tangan untuk berpegangan dengan besi tersebut harus mengangkat keatas. Sisi positifnya dari toilet jongkok adalah ruangan terlihat jauh lebih luas dibandingkan sebelumnya.
4. Papan LED mengalami perubahan, hanya menampilkan tulisan baris "SELAMA DALAM PERJALANAN DILARANG MEROKOK". Tidak ada lagi LED yang menunjukkan denah posisi kursi AB CD.
5. Eksterior lebih kinclong. Tidak terkesan lusuh atau bocel-bocel bekas sambitan kerikil/batu sepanjang perjalanan KA.
6. Leg Rest masih ada, Meja makan di kursi juga masih ada. Bagasi masih tertutup seperti halnya sebelum PA.
7. Stop kontak nambah menjadi 2(sebelum PA hanya 1 saja)
Dalam perjalanan kali ini KA 39 membawa 6K1 batch 2009(K1 00908 yang saya naiki menjadi satu2nya KA yang sudah di PA, kereta lainnya termasuk yang bernomor K1 00912, K100915 cmiiw, belum PA), pembangkit bernomor P 00902 ML(dibelakang Lokomotif dari JNG CC 206 13 60).
KA 39 waktu itu tidak membawa kereta makan, infonya M1 batik sedang diservis(di PA kayaknya). Gantinya Kereta Makan diambil dari gerbong K3 nganggur(posisi K3 berada dibelakang K1-6). Jadilah rangkaian Gajayana waktu itu sedikit belang-belang(awalnya saya kira K3 nya itu akan berfungsi sebagai aling-aling).
Untuk lapkanya sebagai berikut :
13.40 Malang
14.10-14.12 Kepanjen
15.01-15.05 Wlingi, bersilang dengan Penataran
15.38-15.42 Blitar
16.15-16.19 Tulungagung
16.52-16.58 Kediri
18.17-18.22 Caruban, bersilang dengan KA lain(sepertinya Argo Wilis)
18.37-18.42 Madiun
sekitar pkl 20.22an meninggalkan Solo Balapan
02.22-02.27 Cirebon
04.10 ls Cikampek
05.18 Jatinegara
05.37 Gambir
Saya naik di K1-1 tempat duduk berada di nomor2 tengah/tidak diatas roda. Sepanjang perjalanan mulus banget nyaris tanpa guncangan. Bolehlah diadu ketika naik ABA

eace:
Result :
Telat sekitar 1jam an. Sewaktu tiba di Gambir tidak ada KA Bima disana, jadi gak tahu apakah Bima sempat menyusul Gajayana atau tidak. Bagi saya pribadi telat sejam gak masalah karena sedang tidak diburu waktu, tapi buat jangka panjang dan image KA Gajayana sendiri, telat sampai sejam yah tidak baik. Semoga bisa diperbaiki performance KA 39 ini kedepannya.
Untuk AC 11-12 dengan Bima. Makin lama makin dingin.
Untuk toilet sendiri, tissue ada, air ada namun yang di washtafel kurang kenceng keluaran airnya, masih kenceng keluaran dari shower toilet. Yang sedikit bikin saya sedih, toiletnya kurang harum dibandingkan ketika saya naik KA Gajayana sebelum2nya, ada juga semacam 'bercak' kuning kecil didalam toilet jongkoknya. Maaf yang ini gak sempat saya foto, karena terlanjur ilfeel duluan melihat toiletnya model dudukan.
Meski demikian, bukan berarti dalam kasus yang saya alami terdapat penurunan kualitas dari KA Gajayana sendiri. Saya tak bisa menyimpulkan demikian karena tidak naik KA/melakukan pengamatan sendiri selama beberapa minggu/bulan secara simultan.
Mungkin pada saat itu saya sedang ketiban apesnya. Atau ada beberapa kemungkinan lain baik teknis/nonteknis yang menyebabkan kondisi yang saya lihat dibawah ekspektasi saya selama ini.
Overall, saya beri nilai 8,5 dari skala 1-10. Mengalami penurunan dibandingkan perjalanan KA Gajayana saya sebelum2nya yang biasa saya beri nilai 9.00-9.50 secara pribadi. Yah, mungkin saya lagi ketiban apesnya kali ini.