Posts: 4,227
Threads: 0
Joined: Aug 2010
Reputation:
83
04-08-2014, 10:13 PM
Bertemu kembali dalam laporan perjalanan saya, sebelum laporan ini dimulai, sedikit pemberitahuan kalau dalam thread ini foto yang bakal ditampilkan hanya sedikit, karena awalnya penulis hanya berniat membuat kompilasi video, namun terinspirasi dari thread lika-liku Commuter Line oleh triez_RF Cirebon, akhirnya penulis tergerak untuk membuat laporannya sendiri. Tapi, kali ini laporan dibuat dari sudut pandang seseorang yang “asing†dengan makhluk bernama Commuter Line, sehingga cukup tercengang-cengang juga dengan beberapa hal yang, bagi para komuter reguler, adalah sesuatu yang biasa-biasa saja...
Oke, cukup basa-basinya, berikut adalah laporan selengkapnya. Selamat menikmati!
P R O L O G
Adalah tanggal 28 Juli 2014, awal mula dari rencana perjalanan ini. Sesuai rencana semula, tepat pukul 06:45, ketika para tetangga bersiap menuju masjid terdekat untuk melaksanakan Shalat Ied, penulis dan keluarga mengeluarkan mobil dari garasi dan memulai perjalanan menuju Jakarta. Sepanjang perjalanan kurang lebih 135 kilometer, terpantau arus lalu lintas Tol Pasteur-Padalarang-Dawuan-Pondok Gede sangat lengang, sehingga penulis cukup memacu mobil dengan kecepatan 80-100 km/h, menikmati ruas jalan yang benar-benar bebas hambatan. Untuk pertama kalinya pula, penulis memilih untuk tidak mampir di rest area langganan di KM 62, karena takut pada saat kembali melanjutkan perjalanan, ruas tol tidak lagi sesepi sebelumnya.
Keluar di exit Jatiwaringin, tempat pertama yang dituju rombongan penulis adalah rumah nenek dari penulis di daerah Pondok Bambu. Puas bersilaturahmi dengan beliau, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju bagian barat Jakarta. Maksud hati memilih lewat tol lingkar luar untuk mengirit waktu perjalanan, rombongan malah terjebak macet di jalan menuju Jatiwaringin. Beruntung, ruas tol JORR menjelang jam makan siang saat itu terpantau padat lancar hingga percabangan masuk tol Jakarta-Serpong, di mana hampir setengah lusin kendaraan tujuan Serpong keterusan dan masuk ke jalur Ulujami-Ciledug (yang baru dibuka dalam hitungan hari) dan mengantri mundur, menyebabkan sedikit kemacetan di percabangan tersebut.
Keluar dari Gerbang Tol Pondok Aren, kendaraan memasuki wilayah Bintaro Jaya, dan dengan arus lalu lintas yang cenderung padat di perempatan Bintaro Plaza, mengakhiri perjalanan di daerah Pondok Ranji. Waktu perjalanan yang ditempuh dari Pondok Bambu menuju Pondok Ranji, ironisnya, sama lamanya dengan waktu perjalanan dari Cimindi menuju Pondok Bambu: 1,5 jam...
Selama berada di wilayah dari Kota Tangerang Selatan ini, penulis diajak berkeliling di Kota Tua, mengunjungi mall Grand Indonesia, juga menikmati udara segar di Cibatok, Bogor. Rencananya, dari Cibatok, penulis beserta keluarga akan kembali ke Bandung tanggal 31 Juli, tapi semua rencana berubah karena keluarga penulis diajak untuk memperpanjang liburan hingga tanggal 3 Agustus. Perubahan tidak diduga ini sebenarnya menguntungkan penulis, yang sudah memiliki rencana berkumpul dengan teman-teman SMA di Jakarta dari tanggal 1 sampai 3, yaitu penulis tidak perlu repot bolak-balik Jakarta-Bandung-Jakarta, cukup menunggu kedatangan teman-teman dari Bandung. Perubahan ini pula yang membuat penulis terus berandai-andai untuk melaksanakan inti cerita dari laporan perjalanan ini...
Setelah berkonsultasi dengan saudara yang adalah seorang komuter reguler, dibuatlah beberapa skenario perjalanan menggunakan Commuter Line dari Pondok Ranji menuju Tanah Abang. Skenario pertama, apabila penulis bertemu dengan teman-teman di hotel yang terletak di bilangan Pecenongan, penulis disarankan tap out di Tanah Abang dan melanjutkan perjalanan dengan bajaj menuju Pecenongan. Skenario kedua, apabila meeting point diputuskan di salah satu dari sekian mall yang bertebaran di ruas Sudirman-Thamrin, penulis disarankan menyambung CL tujuan Manggarai dan tap out di Sudirman, kemudian melanjutkan perjalanan dengan transjakarta, entah turun di Polda, Bundaran HI, atau halte lainnya. Skenario ketiga, apabila titik pertemuan disepakati di Mall Taman Anggrek, penulis disarankan tap out di Palmerah dan melanjutkan perjalanan dengan taksi menuju MTA. Tapi, pada tanggal 30 malam, rencana kembali berubah. Penulis akan diantarkan langsung dari Cibatok menuju Taman Anggrek. Dengan begitu, pupuslah sudah harapan pertama penulis menikmati Commuter Line...
Tapi, ternyata penulis diberi kesempatan pada hari lainnya untuk kesampaian menikmati perjalanan dengan Commuter Line. Mau tahu kelanjutan ceritanya? Tetap stay tune di Cerita Jalan-Jalan Naik Commuter Line!
Posts: 4,227
Threads: 0
Joined: Aug 2010
Reputation:
83
Tidak perlu menunggu lama, tanggal 2 Agustus, penulis akhirnya berkesempatan mencicipi bagaimana rasanya naik kereta komuter di Ibu Kota. Setelah tidur hanya 3 jam, penulis berusaha bangun pada pukul 6:30, lalu sarapan dan mandi, kemudian berpisah sesaat dengan teman-teman penulis, dengan janji akan kembali berada di hotel pukul 10 pagi. Dari hotel, penulis berjalan kaki menuju Stasiun Juanda yang ternyata cukup dekat, hanya memerlukan waktu 5 menit berjalan kaki. Saat penulis tap in, Commuter Line tujuan Bogor baru saja diberangkatkan, tetapi langsung tertahan sinyal muka Gambir, menunggu Kereta Api Argo Parahyangan diberangkatkan. Namun, hingga pukul 08:50, rangkaian eks Tokyu (entah seri 8000 atau 8500) tersebut tak kunjung diberi sinyal aman, sehingga Commuter Line tujuan Bekasi ikut tertahan di sinyal masuk Juanda. Penulis kembali mengecek jadwal keberangkatan dari Gambir, dan menduga Commuter Line Bogor tersebut dipaksa menunggu keberangkatan Kereta Api Argo Jati. Sambil menunggu datangnya kereta, penulis memotret gedung Jakarta Railway Center, dengan hotel tempat penulis menginap sebagai latar belakang (sedikit promosi)...
[spoiler=Jakarta Railway Center]
![[Image: IMG_0454.JPG]](https://lh5.googleusercontent.com/-KWE0OuVXOgg/U-D10rJxMBI/AAAAAAAABBg/TNqFQsqcNLY/w536-h402-no/IMG_0454.JPG)
[/spoiler]
Selain itu pula, kurang lebih tiga perjalanan Commuter Line tujuan Jakarta Kota telah datang dan berangkat, tetapi lalu lintas di arah sebaliknya masih saja tersendat. Salah satu dari kereta jurusan Beos menggunakan rangkaian JR 205 dengan 10 kereta, salah satu rangkaian KRL yang penulis ingin naiki...
[spoiler=Rangkaian KRL JR 205 dengan 10 kereta]
![[Image: IMG_0455.JPG]](https://lh3.googleusercontent.com/-7hcIACiKvrM/U-D1Ybc8-mI/AAAAAAAABBI/lzpe0lp7WZ0/w536-h402-no/IMG_0455.JPG)
[/spoiler]
Setelah kereta di depannya diizinkan melintas langsung Stasiun Gambir, Commuter Line tujuan Bekasi akhirnya boleh masuk ke jalur 2 Stasiun Juanda. Tiga menit berhenti, kereta kembali berangkat dan langsung ditahan aspek merah sinyal muka Gambir. Oh, mungkin nungguin Taksaka berangkat, pikir penulis. Begitu melewati stasiun bernuansa hijau yang steril dari penumpang komuter, terlihat tidak ada rangkaian apapun di jalur 1 dan 4.
Di petak Gambir-Gondangdia, Commuter Line Bekasi berpapasan dengan satu rangkaian KA full eksekutif. Dugaan penulis saat itu: KA Gajayana Tambahan dari Malang. Di belakang rangkaian tersebut, menyusul langsiran KA Argo Bromo Anggrek Pagi yang membuat penulis merasa senang, karena rangkaiannya full Go Green. Belum lama penulis merasa senang, penulis dibuat kaget oleh rangkaian yang menyusul di belakang langsiran KA 2 tadi: yaitu rangkaian full Eksekutif berkaca pesawat dengan bertuliskan “New Argo Jatiâ€Â, baru melintasi petak Manggarai-Cikini menuju Gambir di belakang langsiran kereta daun hijau. Antara kaget dan senang, karena itu berarti penulis berkesempatan merekam dua, dan bukan satu, rangkaian kereta api jarak jauh di Jatinegara nanti. Melintasi Manggarai, terlihat di jalur 7 masih tersedia rangkaian Argo Dwipangga Tambahan siap dilangsir lokomotif CC 206 81 menuju Gambir.
Tiba di Jatinegara, penulis sempat melihat sejumlah rangkaian kereta datang dan pergi, sebut saja: KA 57 Cirebon Ekspres, KA 151 Matarmaja, KA 23 Argo Parahyangan, dan juga KRL “Djoko Vision†yang pagi itu melayani rute Bogor-Jatinegara PP. Tetapi, penulis belum memiliki semangat untuk memotret keadaan sekitar. Hanya satu moment di bawah ini yang membuat penulis tergerak mengeluarkan smartphone dan mengoperasikan kamera...
[spoiler=Wawancara petugas KAI, topiknya dapat dipastikan mengenai arus balik Lebaran...]
![[Image: image.jpeg]](https://lh3.googleusercontent.com/-dnkaVvbodcs/U-D4jdBDN-I/AAAAAAAABB0/_bd98fUBrB4/w300-h402-no/image.jpeg)
[/spoiler]
Menjelang pukul 10, ketika penulis sedang menengok ke arah tikungan di samping dipo, tiba-tiba muncul rangkaian kereta daun hijau yang ditunggu-tunggu, disusul pengumuman PPKA agar penumpang KRL tidak menyeberang di jalur 1. Langsung saja penulis keluarkan kamera, dan merekam video berikut ini. Akhirnya, setelah diresmikan sejak libur Lebaran tahun 2012, baru kali ini penulis kesampaian memiliki arsip foto atau video pribadi dengan rangkaian Go Green...
Setelah KA 2 melintas langsung, penulis langsung tap out dan kembali tap in agar tidak terkena penalti saat nanti tap out di Juanda. Begitu penulis kembali berada di peron jalur 1 dan 2, masuk Commuter Line tujuan Bekasi, yang setelah tiga menit lamanya berhenti, kembali diberangkatkan dan langsung dibelokkan menuju Stasiun Cipinang. Melihat situasi tersebut, penulis langsung menduga ada satu lagi rangkaian KA jarak jauh yang akan lewat. Dan benar saja, itu adalah rangkaian Argo Jati yang sudah terlambat sekitar 1 jam 10 menit, melesat ditarik lokomotif CC 206 34. Rekaman videonya menyusul diupload karena dalam satu post tidak bisa dimasukkan dua video sekaligus...
Di saat penulis merekam lewatnya KA 18, dari arah Bekasi masuk Commuter Line tujuan Jakarta Kota. Berbeda sekali dengan sejumlah rangkaian tujuan Bekasi, rangkaian yang penulis tumpangi ini sangat padat, sehingga penulis gagal mendapatkan hat-trick merekam rangkaian Taksaka Pagi, yang secara mengejutkan baru melintas langsung Stasiun Jatinegara pada pukul 10:18, di belakang KA 2 dan KA 18. Selain itu, penulis juga sempat melihat seorang railfan asing, dugaan penulis dari Jepang, yang membawa kamera DSLR dan sedang memeriksa foto-fotonya, yang keseluruhannya adalah foto rangkaian Commuter Line, di dekat pintu kereta. Orang tersebut kemudian penulis lihat turun di Manggarai, entah akan melanjutkan perjalanan ke arah selatan atau barat. Sedangkan penulis terus dibawa kereta hingga kembali ke Stasiun Juanda. Tap out, jalan kaki, dan kembali tiba di hotel sepuluh menit menjelang pukul 11...
Berakhirkah cerita penulis di sini? Tunggu saja jawabannya, hanya di Cerita Jalan-Jalan Naik Commuter Line!
Posts: 7,452
Threads: 0
Joined: Apr 2010
Reputation:
62
Stay tune dulu ah,,
Eh iya ini buat TR kayak mau buat thesis ya, but is good and keep posting 
Saya dulu sekitar 2 tahun kebelakang suatu ketika pernah Joy Ride Si Coli muter-muter jeprat-jepret dari BKS-JAKK, JAKK-MRI, MRI-GMR, GMR-BKS bolak-balik doang, selain itu juga menyinggahi beberapa desinasi disekitar stasiun. Diantara destinasi tersebut antara lain IRTI Monas dekat Gambir, Kawasan Kota Tua Batavia Jakarta (museum, biorama, meriam Si Jagur dan lain-lain) di sebrang Stasiun Kota.
Entah nanti saya cari photo-photonya supaya bisa meramaikan di Semboyan 35
Tapi kalau sekarang naik Coli kurang leluasa jeprat-jepret karena sesak penumpang apalagi kalau pas rush hour, kalau dulu jeprat-jepret pakai kamera digital
UTAMAKAN KESELAMATAN..........!
Keluarga Anda Menanti di Rumah !
![[Image: warteg.png]](https://img832.imageshack.us/img832/6434/warteg.png)
Juragan Warteg yang Juga Seorang Aktivis KA
Posts: 1,725
Threads: 0
Joined: Jul 2009
Reputation:
32
owalah, ane jadi inspirasi.
iya kang, kalo naik coli jaman sekarang susah bener mau moto juga. kebanyakan orang. dan juga PKD yang ngawasin, so gak leluasa moto sana-siniinya.
lebih baik pake kata-kata gitu seperti TR ini.
buset dah. ini bikin TR apa thesis?
tapi saya malah seneng bacanya. soalnya sudah tau situasinya
da tiap hari TNT-BOO PP
lanjutkan om...!!
Posts: 4,227
Threads: 0
Joined: Aug 2010
Reputation:
83
06-08-2014, 10:50 PM
(This post was last modified: 06-08-2014, 11:25 PM by d'tRAiNeR.)
(05-08-2014, 11:05 PM)Warteg Wrote: Stay tune dulu ah,,
Eh iya ini buat TR kayak mau buat thesis ya, but is good and keep posting 
Saya dulu sekitar 2 tahun kebelakang suatu ketika pernah Joy Ride Si Coli muter-muter jeprat-jepret dari BKS-JAKK, JAKK-MRI, MRI-GMR, GMR-BKS bolak-balik doang, selain itu juga menyinggahi beberapa desinasi disekitar stasiun. Diantara destinasi tersebut antara lain IRTI Monas dekat Gambir, Kawasan Kota Tua Batavia Jakarta (museum, biorama, meriam Si Jagur dan lain-lain) di sebrang Stasiun Kota.
Entah nanti saya cari photo-photonya supaya bisa meramaikan di Semboyan 35
Tapi kalau sekarang naik Coli kurang leluasa jeprat-jepret karena sesak penumpang apalagi kalau pas rush hour, kalau dulu jeprat-jepret pakai kamera digital
(06-08-2014, 07:42 PM)triez_RF Cirebon Wrote: owalah, ane jadi inspirasi. 
iya kang, kalo naik coli jaman sekarang susah bener mau moto juga. kebanyakan orang. dan juga PKD yang ngawasin, so gak leluasa moto sana-siniinya.
lebih baik pake kata-kata gitu seperti TR ini.
buset dah. ini bikin TR apa thesis?
tapi saya malah seneng bacanya. soalnya sudah tau situasinya
da tiap hari TNT-BOO PP 
lanjutkan om...!!
soal penulisan TR-nya, emg sengaja dibuat model seperti kalo bikin thesis, ya sekalian pengen nyoba cara penulisan TR yang agak berbeda...
soal kepadatan Commuter Line sekarang ini, saya juga setuju, karena dgn padatnya penumpang tentu bikin kita nggak leluasa buat bikin dokumentasi sepanjang perjalanan... belum lagi kalo ketemu petugas keamanan yang cenderung rewel... tapi beruntung pas tgl 2-3 kemarin saya masih bisa merekam sedikit perjalanan saya, kecuali pas naik Commuter Line dari JNG menuju JUA, yg kondisinya memang padat penumpang...
oh ya, sebelum memulai ke bagian yang kedua, berikut kompilasi video saat perjalanan Commuter Line dari Juanda menuju Jatinegara...
Setelah penulis kembali berkumpul dengan teman-teman di hotel, kami memutuskan untuk mengunjungi daerah Mangga Dua. Karena beberapa keperluan, salah satu dari teman penulis meminta untuk berpisah sementara waktu untuk membeli beberapa barang, sedangkan penulis dan teman-teman lainnya melakukan kegiatan lain sambil menunggu. Tiba-tiba salah satu teman penulis terpikir untuk mencoba naik bus Transjakarta. Kami pun akhirnya mendatangi halte Mangga Dua, yang dilintasi jalur Koridor 12. Butuh waktu hampir 25 menit hingga akhirnya bus tujuan Pluit datang. Begitu tiba di halte Stasiun Kota, awalnya kami terpikir untuk melanjutkan perjalanan dengan bus Koridor 1, tetapi kemudian penulis terpikir untuk mengajak teman-teman penulis naik Commuter Line, dengan “promosi†bahwa AC di dalam kereta lebih dingin dan tidak perlu menunggu lama di peron.
Tapi, belum sempat melewati tap in gate, kami langsung dibuat kecewa oleh antrian pembelian tiket harian berjaminan (THB) yang ekornya mencapai posko pengamanan Lebaran yang berada di depan tap in/out gate. Penulis sebenarnya tidak perlu mengantri di sana karena memiliki kartu multi trip (KMT), tetapi tidak demikian dengan teman-teman penulis yang tadinya baru akan menjajal Commuter Line untuk pertama kalinya, sehingga diharuskan mengantri membeli THB. Karena panjangnya antrian di kelima loket THB yang tersedia, kami mengubah rencana hanya untuk sekedar santap siang di Beos, tapi karena panjangnya antrian di kedua restoran makanan cepat saji yang ada di stasiun tersebut, kami akhirnya terpaksa kembali ke Mangga Dua. Beruntung, kali ini bus Transjakarta tujuan Tanjung Priok datang dalam waktu hanya 10 menit sejak kami tiba di halte Stasiun Kota. Gagal sudah rencana kedua penulis untuk kembali menjajal rangkaian kereta kelas Eksekutif yang berhenti di (hampir) setiap stasiun (kecuali Gambir dan Pasar Senen) tersebut.
Sekembalinya kami ke Mangga Dua, ternyata teman kami yang sedari tadi berkeliling belum mendapatkan semua barang yang ia perlukan, dan rencana semula untuk kembali ke hotel sebelum jam 4 sore molor hingga 2 jam setelahnya. Saat itu, kami dibuat kaget dengan telah ditutupnya pusat perbelanjaan Pasar Pagi, tempat kami memarkirkan kendaraan. Alhasil, kami harus naik lift barang hingga lantai 6, lalu perlahan turun ke lantai 4 melalui gedung parkiran. Namun, hal tersebut berhasil membuat penulis untuk memotret Dipo Kereta Jakarta Kota, yang hanya berbatasan tembok pemisah dengan gedung parkiran Pasar Pagi...
[spoiler=Dipo Kereta Jakarta Kota]
![[Image: image%2B%286%29.jpeg]](https://lh3.googleusercontent.com/-06zBC23EdGU/U-JViL3LQ7I/AAAAAAAABDQ/6A_U37xGql8/w538-h402-no/image%2B%286%29.jpeg)
[/spoiler]
Kembali ke hotel, malam itu kami mencari makan di sekitaran hotel, sesuai dengan anjuran resepsionis. Di akhir wisata mini kuliner tersebut, kami memutuskan untuk mencoba martabak yang dijual di Pecenongan. Saking banyaknya peminat, kami harus menunggu sekitar 30 menit hingga akhirnya pesanan kami siap dibawa pulang. Satu hari kembali berlalu di Kota Jakarta...
Minggu, 3 Agustus 2014. Hari terakhir penulis di Jakarta. Sesuai rencana semula, penulis akan berpisah di hotel dengan teman-teman, untuk bergabung dengan keluarga di daerah Cireundeu sekitar jam 10. Penulis punya dua pilihan transportasi menuju meeting point: cara cepat, menggunakan taksi langsung dari hotel, atau cara lambat, menggunakan Commuter Line. Setelah mendapat jadwal dari akun Twitter @CommuterLine, akhirnya penulis memutuskan berangkat menuju Stasiun Juanda lima menit menjelang pukul 08:30. Tiba di stasiun, diumumkan bahwa di jalur 2 tersedia Commuter Line tujuan Depok. Begitu melihat rangkaian yang masih menunggu sinyal aman menuju Gambir, penulis langsung buru-buru masuk ke dalamnya, sebelum masinis menutup pintu. Tidak lain karena rangkaian yang digunakan saat itu adalah rangkaian JR 205 dengan 10 kereta. Begitu masuk ke dalam kereta, penulis langsung mencari kereta dengan tiang-tiang di bagian tengahnya...
[spoiler=Interior SaHa 204-24]
![[Image: image%2B%285%29.jpeg]](https://lh6.googleusercontent.com/-wl4D0yWMqmc/U-JQswivQNI/AAAAAAAABCQ/IbwazHrlV-A/w538-h402-no/image%2B%285%29.jpeg)
[/spoiler]
Akhirnya, setelah pernah gagal pada hari pertama pengoperasiannya (05 Maret 2014), penulis kesampaian juga menjajal rangkaian JR 205. Kesan pertama, tentu, yang terasa sangat berbeda dengan rangkaian lainnya adalah keberadaan tiang-tiang di bagian tengah kereta, tidak lain karena kereta dengan enam pintu tersebut didesain bisa untuk dijadikan kereta khusus penumpang berdiri, sehingga tiang-tiang di tengah tersebut tentu berguna untuk penumpang yang berdiri di bagian tengah kereta. Tapi, menurut penulis, fasilitas ini tidak akan terlalu bermanfaat di Jabodetabek, karena bangku-bangku yang dapat dilipat tentu tetap akan digunakan untuk penumpang yang duduk, mengingat cerita-cerita rekan komuter di mana penumpang Commuter Line lebih cenderung berlomba mencari tempat untuk duduk...
Beberapa hal lainnya yang sempat membuat penulis bingung adalah suara bising yang muncul dari atap dan tidak adanya pengumuman nama stasiun secara otomatis menggunakan rekaman suara. Setelah bertanya kepada seorang rekan komuter, dugaannya suara bising tadi berasal dari mesin kereta, sedangkan soal pengumuman nama stasiun, ternyata rangkaian JR 205 belum dipasangkan alat pengumuman otomatis tersebut, sehingga hanya mengandalkan seorang petugas yang berada di kabin belakang, yang biasanya hanya mengumumkan stasiun tempat penumpang bisa transit dari koridor yang satu ke koridor yang lain. Alhasil, sepanjang perjalanan, tidak pernah ada pengumuman sedikitpun sebelum kereta mendekati Stasiun Manggarai...
Perjalanan Juanda-Manggarai di hari Minggu itu berlangsung dalam waktu 18 menit, lebih cepat dibanding sehari sebelumnya. Walaupun sempat tertahan sebentar di sinyal masuk Gambir, namun setelahnya perjalanan berlangsung tanpa hambatan. Begitu kereta tiba di Manggarai, berakhirlah perjalanan penulis dengan rangkaian JR 205, namun bukan berarti seluruh perjalanan sudah berakhir. Tetap nantikan kelanjutan laporannya, hanya di Cerita Jalan-Jalan Naik Commuter Line!
Posts: 3,087
Threads: 0
Joined: Sep 2008
Reputation:
27
Jgn lupa slalu pasang watermark lho mas...  Buat jaga2 dan sedikit formalitas aja.... 
Vext destiny... coba ke Maja mas... The end of the KRL... Perjalanan terjauh yg saat ini ada...
Posts: 26
Threads: 0
Joined: Oct 2014
Reputation:
1
Seperti biasalah bahasanya bikin betah bacanya.
The past and future are not same,but they're not completely separate either.
Posts: 4,227
Threads: 0
Joined: Aug 2010
Reputation:
83
(07-08-2014, 06:59 AM)Dana Komuter Wrote: Jgn lupa slalu pasang watermark lho mas... Buat jaga2 dan sedikit formalitas aja.... 
Vext destiny... coba ke Maja mas... The end of the KRL... Perjalanan terjauh yg saat ini ada...
terima kasih sarannya Mas... tapi kali ini saya lagi malas pasang watermark... nanti kalo ada trip report lagi bakal pasang watermark di foto-fotonya...
terima kasih juga saran destinasi selanjutnya...
(22-10-2014, 06:22 PM)TetsuyaKurocchi Wrote: Seperti biasalah bahasanya bikin betah bacanya. 
terima kasih, turut senang kalo betah baca TR-nya...
Sebelumnya mohon maaf TR baru bisa dilanjutkan sekarang, karena banyaknya kesibukan sebelum liburan semester saat ini...
Â
Â
Begitu turun dari kereta, penulis langsung mendatangi PKD terdekat untuk menanyakan di jalur manakah akan masuk commuter line tujuan Tanah Abang. Ternyata, penulis tidak perlu menyeberangi rel, karena kereta yang akan ditumpangi penulis akan masuk di jalur 5. Namun, sebelum rangkaian yang ditunggu datang, di jalur yang sama terlebih dahulu masuk rangkaian tujuan Jakarta Kota. Di saat jalur 5 terisi commuter line, di jalur 4 melintas langsung KA Argo Jati yang tadi disusul rangkaian kereta yang penulis tumpangi di Stasiun Gambir...
Â
Kereta tujuan Tanah Abang sampai dengan Jatinegara akhirnya datang selang beberapa menit setelah kereta yang sebelumnya menempati jalur 5 berangkat menuju Jakarta Kota. Rangkaian yang melayani perjalanan KA 1523 saat itu adalah rangkaian eks Tokyu 8003F. Penulis tidak lagi asing dengan interior dari 8003F karena sudah pernah beberapa kali menumpangi rangkaian sejenis.Pagi itu suasana kereta cukup ramai, semua bangku terisi penuh ditambah sejumlah penumpang berdiri. Karena ramainya kereta, penulis tidak bisa bergerak leluasa untuk memilih tempat duduk, bahkan sampai merekam perjalanan lewat jendela kereta. Penulis hanya sempat merekam suasana di dalam kereta ketika berangkat dari Stasiun Karet dan ketika kereta akan tiba di Stasiun Tanah Abang.
Â
Kereta yang pertama tiba di Stasiun Tanah Abang, tentunya, adalah kereta dari arah Manggarai, yang penulis tumpangi. Tapi selisih waktu kedatangan KA 1523 dengan commuter line dari arah Serpong tidak berbeda jauh, sehingga penulis tidak memiliki cukup waktu untuk berpindah ke peron jalur 6 dan merekam kedatangan rangkaian KRL yang sedianya akan penulis gunakan menuju daerah Bintaro Jaya. Rangkaian yang digunakan saat itu adalah ex rangkaian Japan Railways (JR) 203, tapi serinya saya lupa. Mungkin ada yang tahu JR 203 seri berapa saja yang berdinas di jalur Serpong/Parungpanjang/Maja, terutama di sekitaran bulan Juli-Agustus 2014?
Â
Singkat cerita, sekitar pukul 09:30 commuter line dengan nomor perjalanan KA 1778 tujuan akhir Parungpanjang berangkat meninggalkan Stasiun Tanah Abang. Sepanjang perjalanan, okupansi kereta tidaklah sepadat perjalanan Manggarai-Tanah Abang. Di dalam kereta, terlihat hanya ada sedikit penumpang yang berdiri. Perjalanan berlangsung dengan lancar, dengan pemberhentian terlama dilakukan di Stasiun Pondok Ranji. Sebenarnya, stasiun tersebut adalah yang terdekat dari tempat tujuan penulis, namun karena rasa penasaran, akhirnya penulis memutuskan untuk melanjutkan perjalanan kereta hingga stasiun berikutnya, yaitu Stasiun Jurang Mangu. Dalam bayangan penulis, pusat perbelanjaan terdekat dari stasiun tersebut adalah Bintaro Trade Mall (atau Trade Center ya?), sehingga begitu kereta sampai di Stasiun Jurang Mangu dan penulis keluar lewat tap out gate, hal pertama yang penulis tanyakan adalah “bagaimana cara saya menuju Bintaro Trade Mall/Centerâ€. Tampak petugas keamanan yang penulis tanyakan kebingungan untuk sesaat, lalu kemudian berbalik bertanya “mungkin yang dimaksud Bintaro Xchangeâ€. Giliran penulis yang kebingungan, tapi untuk memudahkan segalanya, penulis akhirnya mengiyakan pertanyaan petugas tersebut. Ia kemudian mengarahkan penulis untuk keluar dan berbelok ke arah kiri stasiun. Dan benar saja, begitu penulis mengikuti petunjuk petugas tadi, tampaklah sebuah bangunan mall yang cukup luas dan terbilang baru bagi penulis. Oh, jadi itu toh, yang namanya Bintaro Xchange. Selama ini penulis cuma tahu Bintaro Trade Mall/Center dan Bintaro Plaza, karena “database†penulis belum di-“updateâ€...
Â
Itulah sedikit cerita pengalaman penulis jalan-jalan naik Commuter Line, sebelum mengakhiri laporan ini, berikut rangkuman perjalanan saya di tanggal 03 Agustus 2014 yang berlangsung selama 1 jam 45 menit, dirangkum dalam kompilasi video berdurasi hampir 5 menit...
Â
Sekian cerita jalan-jalan naik Commuter Line yang telah penulis alami, sampai jumpa di kesempatan berikutnya!
Â
|