Thread Rating:
  • 1 Vote(s) - 5 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
All About Penataran Ekspress
(11-12-2013, 01:07 AM)Logawa_ATB Wrote: [quote='gustav' pid='392102' dateline='1386395128']
hehe,,di atas kan saya bilang coba anda pake sudut pandang non-RF, bukan pandangan subjektif RF ..
kalo kita kita yang RF sih suka suka aja naik sepur meski harus bayar 5x bahkan mungkin 10x sekalipun untuk KA A, bahkan meskipun KAnya telat kita yang RF ini malah seneng kan ?(curahan hati ane sih) Ngakak asalkan gak diuber waktu,
tapi bagaimana dengan penumpang umum??? kira2 teman2 atau keluarga anda yang bukan RF mau nggak??
ingat, mayoritas penumpang umum itu pastinya bukan RF, bagaimanapun produk yang sukses itu adalah produk yang bisa diterima oleh khalayak umum pangsa pasar yang dibidik, bukan hanya oleh segelintir orang atau fans saja


Kalo boleh tau di kalimat mana saya masih mengambil sudut pandang subyektif sbg RF...? Am I a RF...? Cek ajah di forum ini kumpulan postingan saya apa ada yg aplod foto KA atau aplod trip report...? Salah satu ciri2 RF kan kyk gitu... Ngakak

Ya sudah saya ulangi lg. Saya mencoba memberi contoh pd lapisan masyarakat sebagai pebisnis. Seorang pebisnis tinggal di ML, ada proyek di SB kebetulan lokasi proyeknya dekat dgn SGU. Lha pebisnis ini tentunya sedikit banyak paham ilmu ekonomi tingkat dasar. Dpt info ada layanan KA Penataran Ekspress harganya 20ribu. Dpt info yg lain lg ada layanan KA Penataran yg harganya hanya 4ribu. Eh ternyata pebisnis ini nggak memedulikan dgn kemasan (dlm hal ini KA kelas ekonomi). Logika berpikir si pebisnis ini kalo ada harga yg murah pasti laku keras, banyak diminati, otomatis KA penuh. Sebaliknya kalo harganya nggak murah pasti peminatnya nggak begitu banyak. Logikanya kan kyk gitu...
Akhirnya pilihan jatuh ke Penataran Ekspress. Dalam perjalanan dr ML ke SGU ternyata org ini "gatal" kalo nggak melakukan aktifitas, akhirnya berbekal laptop yg berisi data2 pekerjaan dia memulai aktivitas kerjanya di dlm kereta. Ternyata kursi di depannya kosong, dia slonjorin kakinya ke atas kursi di depannya kemudian laptop ada di pangkuannya. Akhirnya dia asyik ngetik sana ngetik sini. Selama +/- 2 jam perjalanan akhirnya dia bs kerja jg... Ada hasil !

Lha kalo saya ditanya bagaimana teman atau keluarga saya yg bukan RF...? Ya saya kembalikan pertanyaan soal pilihan, mau pilih yg 4ribu atau 20ribu...? Konsekuensinya ada sendiri2. Kan gitu...

Lha pangsa pasar yg dibidik operator KA dgn peluncuran KA ini ternyata seperti yg saya ceritakan di atas, yaitu kalangan pebisnis yg nggak memedulikan kemasan berarti pihak operator nggak salah dong. Atau mungkin kalangan lain yg mengutamakan kenyamanan & akses yg lebih mudah door to door (dari pusat kota ke pusat kota). Kembali, ini soal pilihan.

Sekarang, KA Penataran yg harga 4ribuan itu banyak peminatnya karena murah. Coba saja kalo KA tsb dicabut subsidinya misal jd 10ribu, apa yg terjadi...? Yg jelas koran jd rame, headline nulisnya harga tiket KA Penataran naik 250%. Lha bagaimana dgn penumpang setianya...? Apakah tetap setia dgn harga yg baru...? Nggak yakin jg. Eh, ternyata operator pingin load factornya dikurangi atau margin profitnya kurang gede, naikin lagi harganya jd 20ribu. Gimana dgn okupansinya...? Pasti akan terseleksi dgn baik. Yg nggak sanggup silakan menggunakan moda transportasi yg lainnya...

Saya rasa sama saja dgn kelas2 yg lebih tinggi. Sampeyan pingin 20ribu itu dpt K2, lha operatornya keukeuh nggak mau. Pinginnya operator harganya 45ribu, trus gimana...?

(07-12-2013, 12:45 PM)gustav Wrote: beneran mas, ane sangat girang kalo naik sepur dapet gerbong yang sepi, enak bisa selonjor, tiduran dll n memang lebih nyaman dan bebas bergerak Ngiler
tapi ingat, kalo itu terjadi di seluruh rangkaian itu bisa jadi bencana buat perusahaan dan KA itu sendiri, that is good for us but bad for the company and the train itself , bagaimanapun salah satu faktor kunci suksesnya KA apalagi KA komersil kan dilihat dari okupansinya, apakah suatu KA layak hidup atau tidak..
makanya saya katakan penex ini selain rendah value for money-nya juga oversupply,,coba bayangkan kalo penex yg 5x dari penataran itu full okupansinya, akan makin terlihat betapa tipisnya perbedaannya dngan KA yang 5x lebih murah kan? rasa tunggangannya sami mawon dengan K-3 biasa tapi bayar 5x, cuma beda waktu tempuh aja (kalo tidak telat)..
karena itulah kalo mau bikin KA yang spesial yang lebih unggul ketimbang KA2 proletar, KA tersebut harus distinctive, khas, dapat dibedakan dengan KA2 biasa lainnya,,sehingga penumpang akan merasa perbedaannya dengan KA2 yg murah dan tidak akan merasa rugi mengeluarkan uang sampe 5x atau lebih ,
dan walau KA full okupansinya, masih tetap bisa duduk relatif lebih nyaman daripada K-3 yang full.. Xie Xie

Quote: Kalo membaca kalimat yg di bold, sampeyan itu Raifans atau PTKAI fans...? Kenapa harus peduli dgn keadaan Penataran Ekspress yg kosong (sepi peminat) ini...? Toch mereka masih bs survive, contoh Kalimaya. KA tsb lebih ketat persaingannya baik dgn KA lain yg rutenya sama (sejalur) atau dgn moda transportasi yg lain & nggak buru2 tutup tuch... Lgpl Dirut & Dirkom yg sekarang jg udah paham apa itu value for money. Pemilihan stamformasi & penentuan harga tiket itu dari Pusat, bukan dari Daop. Yg saya tahu Daop hanya ditugasi utk menyediakan kesiapan sarana & prasarana, sosialisasi dan iklan jg survey pasar. Apalg sekarang tiket sdh online, KA Penataran Ekspress baru meninggalkan sinyal keluar, Kantor Pusat udah tau okupansi yg terjadi. Tinggal di cross check dgn Kantor Daop.

hehehe , anda rupanya ber prejudice sama saya ya, langsung menanyakan apa saya PTKAIfan , ,
hmm,dan tampaknya anda juga tidak menyimak dengan seksama perkataan2 saya di atas Xie Xie
saya udah suka sepur dari sebelum sekolah jauh sebelum tau istilah "railfan" ,,
di forum ini kan kita diskusi soal penex, tentu saja wajar kalo saya juga mensoroti okupansinya karena namanya suatu layanan KA itu adalah made for a purpose, dan sebagai RF ujung2nya saya care sama okupansi penex itu adalah karena kepedulian saya sama KA yang malang ini, bukan karena PT. Kereta Api Indonesia (Persero),, tentu kita sebagai RF sedih bukan kalo ada KA yang dihapus? saya sendiri juga gak mau ambil pusing entah KA itu untung rugi, bla, bla, bla,, tapi "sayangnya", setahu saya suatu produk komersil yang merugi terus itu selalu dalam bayang2 penghapusan,,
mungkin ada RF yg cuman peduli dan jingkrak2 sama fisik KA belaka namun tidak peduli dan mau melihat lebih dalam akan hakekat berbagai nilai2 yang menyertai KA tersebut, apa faedahnya bagi daerah dan masyarakat yang dilayaninya, dll,, dan salah satu kenikmatan terbesar dalam railfanning bagi saya adalah melihat sibuknya lalu lintas KA,,
Quote: Sampeyan pingin 20ribu itu dpt K2, lha operatornya keukeuh nggak mau. Pinginnya operator harganya 45ribu, trus gimana...?
back to the topic, seperti udah berkali-kali saya bilang di forum ini, kalo mau bikin KA komersil yg spesial, sekalian bidiklah kelas menegah ke atas, bukan menegah ke bawah seperti konsumennya penataran standard, kalo memang harus bayar lebih mahal dengan kompensasi kecepatan dan kenyamanan yang lebih dan tentu layak dengan uang yang dikeluarkan, why not? Playboy
Reply
Oiya mas mau tanya , tiketnya bisa dipesen dimana ya ??
[spoiler]
[Image: 15052012060.jpg] [/spoiler]
Reply
(12-12-2013, 12:11 PM)Bimantara Wrote: Oiya mas mau tanya , tiketnya bisa dipesen dimana ya ??

di seluruh stasiun onlen dan agen2 resmi tiketing onlen. dimulai H-7
Playboy
Reply
(11-12-2013, 11:51 PM)gustav Wrote: hehehe , anda rupanya ber prejudice sama saya ya, langsung menanyakan apa saya PTKAIfan , ,
hmm,dan tampaknya anda juga tidak menyimak dengan seksama perkataan2 saya di atas Xie Xie
saya udah suka sepur dari sebelum sekolah jauh sebelum tau istilah "railfan" ,,
di forum ini kan kita diskusi soal penex, tentu saja wajar kalo saya juga mensoroti okupansinya karena namanya suatu layanan KA itu adalah made for a purpose, dan sebagai RF ujung2nya saya care sama okupansi penex itu adalah karena kepedulian saya sama KA yang malang ini, bukan karena PT. Kereta Api Indonesia (Persero),, tentu kita sebagai RF sedih bukan kalo ada KA yang dihapus? saya sendiri juga gak mau ambil pusing entah KA itu untung rugi, bla, bla, bla,, tapi "sayangnya", setahu saya suatu produk komersil yang merugi terus itu selalu dalam bayang2 penghapusan,,
mungkin ada RF yg cuman peduli dan jingkrak2 sama fisik KA belaka namun tidak peduli dan mau melihat lebih dalam akan hakekat berbagai nilai2 yang menyertai KA tersebut, apa faedahnya bagi daerah dan masyarakat yang dilayaninya, dll,, dan salah satu kenikmatan terbesar dalam railfanning bagi saya adalah melihat sibuknya lalu lintas KA,,

Maaf ya, Kang... kalo tulisan2 saya di atas kurang berkenan... Xie Xie
OK dech, lanjut lagi diskusinya... Sampeyan itu nggak perlu kuatir dgn okupansi Penex. Sekarang tuch KA - KA komersial yg lain kalo weekday itu jg kosong / nggak full okupansi. Bs dicek & disurvey satu2. Kalo saat weekend, hari libur atau liburan anak sekolah kondisinya masih jg kosong itu baru bs dibilang mengkhawatirkan. Coba ajah cek kayak Malioboro Ekspress, awal2nya jg kosong tp sampai sekarang jg masih jalan.

(11-12-2013, 11:51 PM)gustav Wrote:
Quote: Sampeyan pingin 20ribu itu dpt K2, lha operatornya keukeuh nggak mau. Pinginnya operator harganya 45ribu, trus gimana...?
back to the topic, seperti udah berkali-kali saya bilang di forum ini, kalo mau bikin KA komersil yg spesial, sekalian bidiklah kelas menegah ke atas, bukan menegah ke bawah seperti konsumennya penataran standard, kalo memang harus bayar lebih mahal dengan kompensasi kecepatan dan kenyamanan yang lebih dan tentu layak dengan uang yang dikeluarkan, why not? Playboy

Menurut saya, tarif Penataran Ekspress itu masih 1 range dgn Kalimaya atau Pangrango.
K3AC KA Kalimaya, dari MER - THB kira2 menempuh jarak 120 km, harga 30ribu, tarif/penumpang/km = 30000/120 = Rp 250,-
K3AC KA Pangrango, dari BOO Paledang - SI kira2 menempuh jarak 60 km, harga 15ribu, tarif/penumpang/km = 15000/60 = Rp 250,-
K3AC KA Penataran Ekspress, dari ML - SGU kira2 menempuh jarak 90 km, harga 20ribu, tarif/penumpang/km = 20000/90 = Rp 225,- (pembulatan)

Masih di range Rp 200,- kan...? Jd menurut saya nggak ada yg salah dgn tarifnya, cuma pasarnya sj yg beda. Lha kenapa operator KA malah meluncurkan produk barunya berupa K3, pdhal di rute yg sama jg sdh ada K3...? Pendapat saya begini, Penataran Ekspress itu diluncurkan sebagai moda transportasi alternatif utk pasar menengah ke bawah (bukan sebagai komuter). Penataran yg 4ribuan adalah merupakan moda transportasi yg diidolakan karena harganya yg sangat terjangkau. Pasti nantinya akan ada yg nggak kebagian, lha yg nggak kebagian naik KA Penataran (yg biasa) ini dipersilakan memilih, bs naik bis bumel, naik bis ATB, naik motor atau naik Penataran Ekspress. Naik motor malah lebih murah, cukup 2 liter premium, cuma 13ribu. Apalg kalo boncengan bs lebih murah lg. Ngakak
Masing2 moda mempunyai plus minusnya kan...? Penataran Ekspress dgn tarif 20ribu bs langsung masuk pusat kota.

Lha kenapa koq nggak membidik pasar menengah ke atas saja seperti yg sampeyan tulis di atas...? Maksudnya pake K1 atau K2 gitu ya, Kang...?
Sekarang dgn perbandingan jumlah seat, harga tiket K1 atau K2 (kemungkinan) akan seperti ini perhitungannya :
K1 = 106 / 50 x Rp 20000 = Rp 42.400,-
K2 = 106 / 64 x Rp 20000 = Rp 33.125,-
Saya pikir hal yg logis, semakin sedikit seat dlm 1 kereta harga yg harus ditanggung pengguna jasa akan lebih tinggi kan...?
Lha sekarang dgn melihat nilai2 di atas akan semakin ringan atau tambah berat dlm berkompetisi bila menggunakan K1 atau K2 (kayak jamannya Maleks)...? Bis Patas AC ajah cuma 24ribu, dpt AC & hiburan TV jg.

Selain itu, apa iya golongan menengah ke atas di koridor SB - ML itu nggak ada keinginan utk memiliki mobil pribadi...? Naik mobil dari SB - ML cuma 90 km, kalo lancar 2 jam an lah atau malah kurang dari itu. Nyetir 2 jam kayaknya belon bikin kaki capek dech...lgpl waktunya lebih flexibel, seat jg sama2 empuk & nyaman, ada hiburan jg dr MP3 sampai DVD dlm mobil. Golongan menengah ke atas pun semakin dimanjakan dgn kenyamanan mobil mereka. Gimana dgn konsumsi bahan bakarnya...? Kalo pake mobil yg konsumsinya 1 : 15 cukup 6 liter premium, 6 x 6500 = Rp 39.000,- Pergi bersama2 keluarga (suami, istri & 2 anak) malah semakin irit kan...? Coba ajah dibandingkan kalo naik K2, 4 x 33.125 = Rp 132.500,-
Udah bs beli bbm ML - SB PP tuch... Golongan menengah yg blm memiliki mobil pun saya rasa akan memilih menggunakan bis Patas AC, seat empuk & bisnya masih tergolong baru2 pula. Jd saya pikir peluang utk menggunakan KA jg akan semakin tipis.

Kalo Penataran Ekspress pake K1 atau K2 saya rasa waktu tempuhnya jg gak akan berbeda jauh lah, aplg sekarang udah nggak jaman lg argo2an, KA mesti aman 2 petak. Bersilang dgn KA Barang ya mesti hormat. XD
Reply
saya baru naik sekali , dan beberapa yang saya tanyai adalah hanya "mencoba" penataran ekspres karena pengen tahu kereta api penataran yang ekspres itu gimana , tapi banyak pula yang jawab kalau dia sengaja memilih penataran ekspres karena masih tergolong murah dibandingkan harus berlari kesana kemari kalau naik bus , belum tentu weekend . kita lihat sendiri , (mungkin ada yang belum tahu) kalau di terminal arjosari kalau sudah agak malam dan weekend , bis bis jurusan surabaya sangat sarat penumpang . dan beberapa diantaranyapun sudah ada yang berdiri - berdiri mefet mefet gitu . dan kita tahu juga terminal arjosari harus naik angkutan umum dari pusat kota , otomatis kita hitung sendiri , angkutan umum di malang adalah 4000 rupiah jauh dekat . dan weekend malam itu jugapun "belum" tentu mendapat bus . belum juga ditambah macet . sebenarnya kalau di lihat-lihat dari beberapa sektor okupansi penex ini bagus lo , marilah kita berdoa saja semoga okupansi ini masih baik , karena kalau di lihat sama seperti saudara saudaranya , ciremai ekspres juga . kalau weekend rame , hari biasa ? ya lumayan sepi ...
Reply
(16-12-2013, 01:02 PM)Aliph Gajayana Wrote: saya baru naik sekali , dan beberapa yang saya tanyai adalah hanya "mencoba" penataran ekspres karena pengen tahu kereta api penataran yang ekspres itu gimana , tapi banyak pula yang jawab kalau dia sengaja memilih penataran ekspres karena masih tergolong murah dibandingkan harus berlari kesana kemari kalau naik bus , belum tentu weekend . kita lihat sendiri , (mungkin ada yang belum tahu) kalau di terminal arjosari kalau sudah agak malam dan weekend , bis bis jurusan surabaya sangat sarat penumpang . dan beberapa diantaranyapun sudah ada yang berdiri - berdiri mefet mefet gitu . dan kita tahu juga terminal arjosari harus naik angkutan umum dari pusat kota , otomatis kita hitung sendiri , angkutan umum di malang adalah 4000 rupiah jauh dekat . dan weekend malam itu jugapun "belum" tentu mendapat bus . belum juga ditambah macet . sebenarnya kalau di lihat-lihat dari beberapa sektor okupansi penex ini bagus lo , marilah kita berdoa saja semoga okupansi ini masih baik , karena kalau di lihat sama seperti saudara saudaranya , ciremai ekspres juga . kalau weekend rame , hari biasa ? ya lumayan sepi ...
semoga saja okupansinya semakin baik...
Sosmed sayaBig Grin
Facebook
Line:Luthfi20606
Instagram:Luthfi_20606

Ingin menjadi insan yang lebih baikWek


Reply
(17-12-2013, 11:25 AM)CC20606 Wrote:
(16-12-2013, 01:02 PM)Aliph Gajayana Wrote: saya baru naik sekali , dan beberapa yang saya tanyai adalah hanya "mencoba" penataran ekspres karena pengen tahu kereta api penataran yang ekspres itu gimana , tapi banyak pula yang jawab kalau dia sengaja memilih penataran ekspres karena masih tergolong murah dibandingkan harus berlari kesana kemari kalau naik bus , belum tentu weekend . kita lihat sendiri , (mungkin ada yang belum tahu) kalau di terminal arjosari kalau sudah agak malam dan weekend , bis bis jurusan surabaya sangat sarat penumpang . dan beberapa diantaranyapun sudah ada yang berdiri - berdiri mefet mefet gitu . dan kita tahu juga terminal arjosari harus naik angkutan umum dari pusat kota , otomatis kita hitung sendiri , angkutan umum di malang adalah 4000 rupiah jauh dekat . dan weekend malam itu jugapun "belum" tentu mendapat bus . belum juga ditambah macet . sebenarnya kalau di lihat-lihat dari beberapa sektor okupansi penex ini bagus lo , marilah kita berdoa saja semoga okupansi ini masih baik , karena kalau di lihat sama seperti saudara saudaranya , ciremai ekspres juga . kalau weekend rame , hari biasa ? ya lumayan sepi ...
semoga saja okupansinya semakin baik...

bener penat ekspress ramenya weekend, terutama yang penat ekspres terakhir dari ML, kebanyakan yang naek orang2 yang pulang wisata dari Malang dan sekitarnya
Playboy
Reply
(17-12-2013, 05:53 PM)Agung Mamat Wrote:
(17-12-2013, 11:25 AM)CC20606 Wrote:
(16-12-2013, 01:02 PM)Aliph Gajayana Wrote: saya baru naik sekali , dan beberapa yang saya tanyai adalah hanya "mencoba" penataran ekspres karena pengen tahu kereta api penataran yang ekspres itu gimana , tapi banyak pula yang jawab kalau dia sengaja memilih penataran ekspres karena masih tergolong murah dibandingkan harus berlari kesana kemari kalau naik bus , belum tentu weekend . kita lihat sendiri , (mungkin ada yang belum tahu) kalau di terminal arjosari kalau sudah agak malam dan weekend , bis bis jurusan surabaya sangat sarat penumpang . dan beberapa diantaranyapun sudah ada yang berdiri - berdiri mefet mefet gitu . dan kita tahu juga terminal arjosari harus naik angkutan umum dari pusat kota , otomatis kita hitung sendiri , angkutan umum di malang adalah 4000 rupiah jauh dekat . dan weekend malam itu jugapun "belum" tentu mendapat bus . belum juga ditambah macet . sebenarnya kalau di lihat-lihat dari beberapa sektor okupansi penex ini bagus lo , marilah kita berdoa saja semoga okupansi ini masih baik , karena kalau di lihat sama seperti saudara saudaranya , ciremai ekspres juga . kalau weekend rame , hari biasa ? ya lumayan sepi ...
semoga saja okupansinya semakin baik...

bener penat ekspress ramenya weekend, terutama yang penat ekspres terakhir dari ML, kebanyakan yang naek orang2 yang pulang wisata dari Malang dan sekitarnya

Berarti rugi dong klo jalan ramenya cuma di weekend aja?? PT sepur harus berpikir nih bagaimana caranya agar penat ini okupansinya seimbang antara weekday dan weekend..
Reply
(17-12-2013, 06:41 PM)Rail_Ram Wrote: Berarti rugi dong klo jalan ramenya cuma di weekend aja?? PT sepur harus berpikir nih bagaimana caranya agar penat ini okupansinya seimbang antara weekday dan weekend..
Gampang.... di weekday, jadwal dan jumlah rangkaian kereta di kurangi sambil melihat banyaknya pemesanan tiket via online.
sedangkan weekend, jadwal di perbanyak dan jumlah rangkaian kereta ditambah. Ngakak

[Image: hira148591.gif]
"Memburu kereta api keseluruh nusantara."
Facebook : https://www.facebook.com/spoor.hunter
Reply
Penataran Express nasibnya hampir sama kayak RangkasJaya, pesaingnya jauh lebih banyak dari Kalimaya yg selalu penuh, Langsan dan Patas Merak yg murah meriah, sama roda karet walaupun tidak terlalu diminati Big Grin
Tapi tetep jalan karena tetap worth mengingat Langsam dan PaMer tidak terlalu nyaman, tidak menerapkan okupansi 150% dan ngodong. Memang tidak seberat Peneks juga. Tapi semoga bisa ada perubahan untuk ke depannya dan bisa menjadi Kalimaya Express yang sudah berubah 360 derajat Big Grin
Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 3 Guest(s)