Posts: 426
Threads: 0
Joined: Aug 2012
Reputation:
5
(20-04-2013, 01:54 AM)zmidth Wrote: Selamat malam juga kang Logawa, mau balik nanya TAC yg dibebankan kepada penumpang itu faktor pembaginya 1 kereta atau 1 rangkaian? Kalau per kereta tentu jatuhnya mahal, apa biaya TAC KM/P/KMP/aling2 jg ikut ditanggung penumpang? Lain ceritanya kalau TAC ditanggung 1rangkaian. Semakin panjang suatu rangkaian, maka kapasitas angkut penumpang juga bertambah sehingga biaya TAC yg dibebankan semakin ringan.
Kalau memang angkutan barang bisa menurunkan biaya TAC yg dibebankan kepada penumpang, kenapa ngga dijalankan rangkaian kereta seperti jaman belanda dulu, Rangkaian penumpang+barang. Lucu juga kalau KA ABA dibelakangnya nyangkut kontainer.
Selamat malam, Kang zmidth... Terima kasih sdh merespon postingan saya. Dulu saya pernah dikasih tau teman hitungannya adalah PERKA. Saya pikir mau dihitung dlm 1 rangkaian atau 1 kereta akan sama sj, soalnya bila dihitung dlm 1 rangkaian (misal) 8 kereta ya tinggal dikalikan sj, 8 kereta x 4.500.000 = 36jt dan sepertinya sdh termasuk beban KM/P/KMP. Beda cerita kalo gerbong aling2 itu ada isinya yaitu barang paketan, justru malah menghasilkan pendapatan / uang.
Nggak perlu dimix antara rangkaian penumpang & kontainer lah, Kang... Tinggal frekuensi KA Barangnya sj yg ditingkatkan, kalo banyak yg minat kan otomatis pendapatannya meningkat. Saya pernah baca2 di thread INI ada yg membandingkan harga K1 antara Malioboro Ekspress & Limex Sriwijaya. 2 KA ini secara jarak nggak beda jauh, tapi kenapa pd saat awal launching KA Malioboro Ekspress harga K1nya beda banget dgn K1nya Limeks Sriwijaya...? Saya sempat berpikir mungkin saja Limex Sriwijaya ditopang oleh pendapatan KA Babaranjang. Nah, sekarang harga K1 Malioboro Ekspress malah "dibanting", itu kira2 dpt topangan dr mana...? Harga tsb entah masih promo atau sdh reguler ini saya yg msh ragu.
Terima kasih.
Posts: 13
Threads: 0
Joined: Feb 2013
Reputation:
0
(21-04-2013, 03:29 PM)CC-201-23 Wrote: (21-04-2013, 08:19 AM)zmidth Wrote: (21-04-2013, 03:11 AM)randi20 Wrote: curhat ya kang, harga tiket kereta itu logis apabila kepake semuanya. maksutnya kita pakai rute panjang sby-bdg, atau solo-jkt. Tapi untuk yg cma pakai untuk jarak dekat, harga segitu mahal bgt dan g logis. pdhl penumpang yg jarak lumayan banyak di kereta.
biar fair mnrt saya berdasarkan rute, tpi blm tau perhitunganya biar tepat dan tidak merugikan masyarakat pengguna
Semoga aja Direksi PT Sepur mau berkenan menerapkan sistem tarif progresif pada kereta jarak jauh. #amien
Emang sekarang tiket KA komersial jarak jauh kan sudah pake tarif progresif. Coba cek saja harga tiket Bima/Gajayana/Trio SBI dari Daop 8 ke Jakarta dgn tiket dari Jogja/Puwokerto, kan udah beda...
itu yg ekse ya gan? yg ekonomi ac blm nih, masih tarif panjang .
Posts: 2,972
Threads: 0
Joined: Sep 2008
Reputation:
14
Quote:Kasian dunk Daop lain, cuma jd objek kebijakan. Kasian jg yg di Divre, kebijakan yg dipake brdasarkan parameter Jakarta. Pdhl bagus di JKT blm tentu bagus di JR dan Divre I.
apanya yang mesti di kasihani ? lah wong semuanya demi pemasukan kantong perusahaan kok ! lah malah enak daop lain menurut saya karena tidak berkerja seberat dengan daop I dan grafik perjalanan ka dan kesibukan misalnya pjl, tidak seramai dengan daop I tapi gaji sama . di daop 1 petugas pjl mau kencing dan ke warung aja buat beli kopi biar gak ngantuk mesti ekstra hati hati dan waspada karena hampir setiap 2-3 menit sekali ka lewat apalagi petugas signaling yang selalu waspada ekstra tinggi sepanjang waktu selama 24 jam sehari beda dengan daop II misalnya stasiun cibatu. saya pernah lihat sendiri ketika kereta pagi jam 6 dari arah timur lewat petugas langsung meninggalkan rumah sinyal ketika ka tadi lewat. padahal bangunan rumah sinyal harus selalu di jaga ! mungkin ka berikutnya jaraknya masih jauh, beda dengan daop I yang menganut sistem blok beda dengan yang manganut sistem antar stasiun hanya ada sinyal masuk dan sinyal keluar.
Posts: 499
Threads: 0
Joined: Aug 2012
Reputation:
3
24-04-2013, 10:12 PM
(This post was last modified: 24-04-2013, 10:22 PM by zmidth.)
(24-04-2013, 02:39 PM)dedy vh Wrote: apanya yang mesti di kasihani ? lah wong semuanya demi pemasukan kantong perusahaan kok ! lah malah enak daop lain menurut saya karena tidak berkerja seberat dengan daop I dan grafik perjalanan ka dan kesibukan misalnya pjl, tidak seramai dengan daop I tapi gaji sama . di daop 1 petugas pjl mau kencing dan ke warung aja buat beli kopi biar gak ngantuk mesti ekstra hati hati dan waspada karena hampir setiap 2-3 menit sekali ka lewat apalagi petugas signaling yang selalu waspada ekstra tinggi sepanjang waktu selama 24 jam sehari beda dengan daop II misalnya stasiun cibatu. saya pernah lihat sendiri ketika kereta pagi jam 6 dari arah timur lewat petugas langsung meninggalkan rumah sinyal ketika ka tadi lewat. padahal bangunan rumah sinyal harus selalu di jaga ! mungkin ka berikutnya jaraknya masih jauh, beda dengan daop I yang menganut sistem blok beda dengan yang manganut sistem antar stasiun hanya ada sinyal masuk dan sinyal keluar.
Ya jelas kasihan ya. Kalau masalah sistem boarding, pengaturan pedagang dll itu sich ngga masalah. Tapi kalau penerapan tarif pake parameter Jakarta, ya orang yg kerja di daerah sangat keberatan. Dari UMRnya aja udah beda jauh.
Kalau masalah teknis prasarana, petugas signaling itu kan sesuai kebutuhan di Jakarta sono. Mau pake sistem blok atau signal keluar masuk saya sich ngga ngurusin. Sudah saatnya PT Sepur memanfaatkan teknologi untuk menjadi lebih baik lagi. Masalah gaji sama atau beda, saya ngga bisa membandingkan. Belum tentu petugas yg dinas di Jakarta punya gaji yg sama dengan yg dinas didaerah. Bisa aja gaji pokok sama tapi tunjangannya beda.
(21-04-2013, 11:38 PM)Logawa_ATB Wrote: (20-04-2013, 01:54 AM)zmidth Wrote: Selamat malam juga kang Logawa, mau balik nanya TAC yg dibebankan kepada penumpang itu faktor pembaginya 1 kereta atau 1 rangkaian? Kalau per kereta tentu jatuhnya mahal, apa biaya TAC KM/P/KMP/aling2 jg ikut ditanggung penumpang? Lain ceritanya kalau TAC ditanggung 1rangkaian. Semakin panjang suatu rangkaian, maka kapasitas angkut penumpang juga bertambah sehingga biaya TAC yg dibebankan semakin ringan.
Kalau memang angkutan barang bisa menurunkan biaya TAC yg dibebankan kepada penumpang, kenapa ngga dijalankan rangkaian kereta seperti jaman belanda dulu, Rangkaian penumpang+barang. Lucu juga kalau KA ABA dibelakangnya nyangkut kontainer.
Selamat malam, Kang zmidth... Terima kasih sdh merespon postingan saya. Dulu saya pernah dikasih tau teman hitungannya adalah PERKA. Saya pikir mau dihitung dlm 1 rangkaian atau 1 kereta akan sama sj, soalnya bila dihitung dlm 1 rangkaian (misal) 8 kereta ya tinggal dikalikan sj, 8 kereta x 4.500.000 = 36jt dan sepertinya sdh termasuk beban KM/P/KMP. Beda cerita kalo gerbong aling2 itu ada isinya yaitu barang paketan, justru malah menghasilkan pendapatan / uang.
Nggak perlu dimix antara rangkaian penumpang & kontainer lah, Kang... Tinggal frekuensi KA Barangnya sj yg ditingkatkan, kalo banyak yg minat kan otomatis pendapatannya meningkat. Saya pernah baca2 di thread INI ada yg membandingkan harga K1 antara Malioboro Ekspress & Limex Sriwijaya. 2 KA ini secara jarak nggak beda jauh, tapi kenapa pd saat awal launching KA Malioboro Ekspress harga K1nya beda banget dgn K1nya Limeks Sriwijaya...? Saya sempat berpikir mungkin saja Limex Sriwijaya ditopang oleh pendapatan KA Babaranjang. Nah, sekarang harga K1 Malioboro Ekspress malah "dibanting", itu kira2 dpt topangan dr mana...? Harga tsb entah masih promo atau sdh reguler ini saya yg msh ragu.
Terima kasih.
Maaf kang Logawa, saya ngga bisa terlalu banyak komentar tentang TAC, info dan data saya minim.
Kalau tarif "ajaib" Malioboro itu saya juga heran. Kok bisa begitu ya. Kalau KA Barang menopang TAC si Malioboro, KA Barang yg mana? Seandainya iya KA barang mensubsidi TAC KA penumpang, tentunya tarif Sawung dan Purwojaya ngga semahal sekarang, kan disubsidi sama kethel dan semen.
Posts: 2,972
Threads: 0
Joined: Sep 2008
Reputation:
14
Quote: Tapi kalau penerapan tarif pake parameter Jakarta, ya orang yg kerja di daerah sangat keberatan. Dari UMRnya aja udah beda jauh.
wah kalau masalah tarif ya jelas beda kang ! maksud saya kebijakan perkereta apian kita semisal boarding , bebas padagang kaki lima dan sistem tiket online ya semua harus sama , kan semua demi kebaikan perusahaan budaya kerja suatu perusahaan pasti akan sama selama masih dalam satu payung mungkin titme aja yang beda. daerah tidak sesibuk jakarta yang tidak pernah tidur .
kalau bicara tarif ya jelas di sesuaikan dengan daya beli masyarakat di suatu daerah ya tidak semuanya sama.emang tarif kalau naik asal naik aja nggak di pikirkan matang matang oleh petinggi kai dan pemerintah !bisa bisa kena semprot dari pemerintah daerah dan YLKI.
Posts: 2,796
Threads: 0
Joined: Sep 2008
Reputation:
25
wah, ini dapat info berharga dari mas logawa soal besaran TAC. saya baru tahu kalau hitung2an nya itu per gerbong/kereta dan per 30 ton barang sama2 bayar 4.5 jut.
sekalian tanya mas log, itu TAC apa juga sama hitung2annya buat KRL? lalu seandainya di sini ada layanan kereta ringan sejenis trem, lrt, railbus apa juga sama ya?
"Train approaching! Please remain behind yellow line!"
Posts: 426
Threads: 0
Joined: Aug 2012
Reputation:
5
Selamat malam semuanya... Maaf, baru bs online lg nich...
(24-04-2013, 10:12 PM)zmidth Wrote: Maaf kang Logawa, saya ngga bisa terlalu banyak komentar tentang TAC, info dan data saya minim.
Kalau tarif "ajaib" Malioboro itu saya juga heran. Kok bisa begitu ya. Kalau KA Barang menopang TAC si Malioboro, KA Barang yg mana? Seandainya iya KA barang mensubsidi TAC KA penumpang, tentunya tarif Sawung dan Purwojaya ngga semahal sekarang, kan disubsidi sama kethel dan semen.
Terima kasih sdh merespon postingan saya, Kang zmidth... Kalo ditanya KA Barang mana yg dipakai utk menopang KA Malioboro hanya Tuhan & operator KA yg tahu....
Kalo soal tarif Sawung & Purwojaya yg belum "ramah" di kantong mungkin saja blm bs disubsidi silang dr KA Barang, Kang... Lha ketel & semen sehari ada brp trip...? Sementara Purwojaya & Sawung sehari paling nggak ada 6 trip bolak balik kan...? Selain itu secara jarak tempuh jg sdh beda, lbh jauh tripnya Purwojaya & Sawunggalih ketimbang ketel & semen kan...?
(25-04-2013, 03:08 PM)ady_mcady Wrote: wah, ini dapat info berharga dari mas logawa soal besaran TAC. saya baru tahu kalau hitung2an nya itu per gerbong/kereta dan per 30 ton barang sama2 bayar 4.5 jut.
sekalian tanya mas log, itu TAC apa juga sama hitung2annya buat KRL? lalu seandainya di sini ada layanan kereta ringan sejenis trem, lrt, railbus apa juga sama ya?
Terima kasih utk responnya, Kang ady_mcady. Jadi begini, nilai 4.5 jt itu bukan nilai baku yg dikeluarkan pihak regulator (Kemenhub) atau yg dibayarkan operator KA. Saya mencoba berbagi opini, jd dl ada teman yg ngajak diskusi soalan harga tiket KA yg sdh tdk "ramah" di kantong ini. Sebagai bahan tinjauan adalah harga tiket KA tahun 2006 dan tahun 2011. Sebenarnya semakin banyak tahun yg ditinjau saya pikir akan semakin baik. Terus kami coba telusuri dgn menggunakan metode pendekatan harga jual produksi (baik barang atau jasa) yg dipengaruhi laju inflasi 6,5%. Harga tiket KA tahun 2006 kami anggap TAC = 0 atau masih sangat2 kecil.
Sebagai contoh harga tiket ABA thn 2006 weekday Rp 190.000 (termasuk tuslah) & tahun 2011 weekday Rp 310.000 (tuslah sdh dihapus). Kira2 brpkah deviasinya...? Besaran deviasi ini kami pakai sebagai besaran TAC yg dibebankan ke pengguna jasa. Misal ketemunya 30%, berarti 0,30 x Rp 310.000 = Rp 93.000. Kalo dlm 1 kereta ada 50 seat & sold out kan udah ketemu hasilnya tuch, Kang.... Nilai tsb utk koridor GMR - SBI. Kalo koridor GMR - YK / SLO saya pikir nggak akan jauh beda. Mohon dikoreksi kalo penelusuran & analisa saya ini masih keliru.
Nah kalo utk KRL terus terang saya blm sempat menelusurinya, tp kalo diperhitungkan menggunakan perbandingan jarak tempuh saya rasa nggak akan melenceng jauh.
Terima kasih.
Posts: 499
Threads: 0
Joined: Aug 2012
Reputation:
3
(26-04-2013, 12:07 AM)Logawa_ATB Wrote: Terima kasih utk responnya, Kang ady_mcady. Jadi begini, nilai 4.5 jt itu bukan nilai baku yg dikeluarkan pihak regulator (Kemenhub) atau yg dibayarkan operator KA. Saya mencoba berbagi opini, jd dl ada teman yg ngajak diskusi soalan harga tiket KA yg sdh tdk "ramah" di kantong ini. Sebagai bahan tinjauan adalah harga tiket KA tahun 2006 dan tahun 2011. Sebenarnya semakin banyak tahun yg ditinjau saya pikir akan semakin baik. Terus kami coba telusuri dgn menggunakan metode pendekatan harga jual produksi (baik barang atau jasa) yg dipengaruhi laju inflasi 6,5%. Harga tiket KA tahun 2006 kami anggap TAC = 0 atau masih sangat2 kecil.
Sebagai contoh harga tiket ABA thn 2006 weekday Rp 190.000 (termasuk tuslah) & tahun 2011 weekday Rp 310.000 (tuslah sdh dihapus). Kira2 brpkah deviasinya...? Besaran deviasi ini kami pakai sebagai besaran TAC yg dibebankan ke pengguna jasa. Misal ketemunya 30%, berarti 0,30 x Rp 310.000 = Rp 93.000. Kalo dlm 1 kereta ada 50 seat & sold out kan udah ketemu hasilnya tuch, Kang.... Nilai tsb utk koridor GMR - SBI. Kalo koridor GMR - YK / SLO saya pikir nggak akan jauh beda. Mohon dikoreksi kalo penelusuran & analisa saya ini masih keliru. 
Nah kalo utk KRL terus terang saya blm sempat menelusurinya, tp kalo diperhitungkan menggunakan perbandingan jarak tempuh saya rasa nggak akan melenceng jauh.
Terima kasih.
Ah kang Logawa, ngitung TAC-nya kok ribet amat. Pake deviasi segala. *puyeng aku*
Saya coba pake cara lain aja ya. selama ini di media kan PT. Kereta Api Indonesia (Persero) sudah tidak menerima IMO selama 4tahun sebesar 1,7triliun per tahun. Dana IMO impas2an dengan dana TAC, berarti TAC sebesar 1,7trilliun(dalam sehari PT. Kereta Api Indonesia (Persero) harus menyediakan dana 4,6M untuk anggaran perawatan prasarana, diluar perawatan sarana perkeretaapian dan pegawai). Diluar itu, PT Sepur juga dikenai pajak yg nilainya lebih besar dari PSO. Sebagai PT&BUMN juga diusahakan bagi2 deviden kepada pemegang saham dalam hal ini pemerintah. *wow udah jatuh tertimpa tangga pula* jadi salut sama om Jon, dengan beban seberat itu bisa membawa PT Sepur mendapat untung.
Uang 4,6M per hari itu cuma sebagai dana TAC. Wah saya kok berpikir gini ya, seandainya saya naik Sawung, TAC yg saya bayar lewat tiket tidak hanya menyewa track KTA-PSE aja, tapi saya juga ikut membiayai lintas PDL-BOO. Pantas saja tarif KA menuju Malang dengan Solo hampir sama.
Mungkin saat ini PT Sepur sedang memikirkan bagaimana dana TAC itu didapat setiap tahunnya(TAC juga kena inflasi, naik setiap tahunnya, semakin naik dengan adanya double track). Tidak mungkin membebankan TAC sepenuhnya kepada penumpang karena tiket saat ini sudah mahal. Satu-satunya cara yg cepat&efisien adalah dengan memperbanyak jumlah Kereta api yang jalan. Untuk sektor KA penumpang saat ini sudah hampir mencapai titik jenuh, sudah ngga banyak lagi relasi-relasi baru yg menguntungkan. Sektor KA Baranglah yg bisa diandalkan, karena masih bisa lebih dikembangkan. Memesan 100 CC206 itu langkah jitu yg dilakukan operator untuk memperbanyak angkutan barang. Ngga mustahil kalau nanti saat angkutan barang mencapai titik jenuh, PT Sepur akan memasuki sektor properti. Saya pernah dengar isu JAKK mau dibangun mall diatas bangunan stasiun, juga eks stasiun Purwokerto Timur juga katanya mau jadi mall. Jadi siap-siap deh Indonesia kehilangan bangunan-bangunan bersejarah.
Setelah nanya-nanya mbah google, eh si mbah nunjuk artikel ini: pengurai masalah perkeretaapian. Ya itung2 sebagai tambahan referensi
Posts: 426
Threads: 0
Joined: Aug 2012
Reputation:
5
Posts: 29
Threads: 0
Joined: Apr 2013
Reputation:
0
Saya senang sekali ketika diberlakukan aturan pembatasan penumpang sesuai jumlah tempat duduk.Ketika naik KA Gaya Baru Malam ke Gubeng terasa nyaman,penumpang tertib duduk dikursi masing2.Ketika ketoilet airnya berlimpah,tidak bau pesing karena dijga kebersihannya.Cuma di petak2 tertentu banyak pedagang asongan mondar-mandir.Saat itu saya berangkat tgl.3 April dan membeli tiket 2minggu sebelumnya dg harga lansia ekonomi reguler.Pas sudah naik ternyata gerbongnya sdh ber ac split.Ketika ngobrol dg penumpang sebelah saya,dia bilang tadi dia beli tiket diloket sangat mahal lebih dari 100rb.padahal biasanya gk sampai 30rb.PT.KAI seenaknya sendiri naikin tiket.Rupanya PTKAI sdh mmberlakukan harga baru untuk KA Ekon Gaya Baru Malam.Sebagai! lansia pensiunan pns saya sebagai pelanggan setia PTKAI mengharap Pemerintah masih mmberikan subsidinya sehingga rakyat kebanyakan masih bisa menikmati kereta api yang murah bersih nyaman aman tepat waktu.Atau disetiap rangkaian k a ekonomi disediakan dua macam harga ac dan non ac.Saya mewakili mayoritas penumpang sangat berharap masih bisa menikmati naik k a dari Jkt ke Gubeng dg tarip lansia 50rb pp.
|