Posts: 4,757
Threads: 0
Joined: Sep 2008
Reputation:
0
(17-04-2013, 01:01 PM)zmidth Wrote: bukan itu maksud saya. Waktu gapeka 2011 berlaku, kan kontrak PSO yg berlaku saat itu kan masih pake gapeka 2010. Sedangkan pada gapeka 2011 KRL ekonomi yg dapet subsidi jadwal perjalanannya aja sudah berkurang. Belum lagi saat KRL mogok, PLH dan longsor kemarin kan punya andil dalam tidak terserapnya anggaran PSO. Kan ngga mungkin armada ngga jalan, tapi PT Sepur tetap minta jatah PSO. Yang jadi pertanyaan, kenapa waktu gapeka 2011 berlaku, kontraknya ngga ikut diperbarui juga?
Ouw, soal itu tha...? Maaf, saya jd kyk jaka sembung bawa golok ya... 
Kalo soal itu yg tau ya cuma pemberi kerja & penerima kontrak kerja dong.
"Everyone can train..." #sloganoperatorsepoertempodoeloe
Posts: 2,972
Threads: 0
Joined: Sep 2008
Reputation:
14
Quote: Yang ini agak kurang setuju. Orang yg naik KA lagi turun itu. Semua orang lagi kena shock therapy tarif KA naik. Ya seperti yg saya bilang dalam postingan sebelumnya, Penumpang KA itu sedang mengalami "Seleksi Alam" #bukanSalamGhoib . Hanya tipe tertentu yg bisa naik KA(tertib, disiplin, mau repot2 ke stasiun pemberhentian dan mau membayar tiket dengan tarif sekarang).
lah logikanya begini kalu memang minat orang naik ka turun ko laba bersih PT. Kereta Api Indonesia (Persero) seperti beranjak naik dari tahun ke tahun. ini juga bisa di lihat dari tidak pernah kosongnya loket loket penjualan tiket di seluruh stasiun stasiun pemberangkatan dan stasiun online. memang saat ini calon penumpang terseleksi secara alami ini karena waktu dulu ketika belum di berlakukan sistem boarding semua orang bisa di dalam stasiun baik itu bertiket dan tidak bertiket ada orang cari nafkah di stasiun copet preman dan segala macam profesi.
dan juga bisa di lihat dari minat orang terhadap ka yang semakin tinggi dengan di lihat dari kemauan orang berdesakdesak demi bisa terangkut ka. padahal saat ini kalau di lihat dari fasilitas dan kenyaman ka kurang jauh di banding dengan bus eksekutif . ka unggul di bebas macet nya aja !
Posts: 499
Threads: 0
Joined: Aug 2012
Reputation:
3
(17-04-2013, 01:07 PM)see_204XX Wrote: Ouw, soal itu tha...? Maaf, saya jd kyk jaka sembung bawa golok ya... 
Kalo soal itu yg tau ya cuma pemberi kerja & penerima kontrak kerja dong.  Nah itu dia. Sebabnya kita kagak tau, tapi akibatnya semua orang sudah tau, PSO dikorting sama wakil rakyat. Ya sudahlah biar jadi rahasia @KAI121 dan Pemerintah @SBYudhoyono
(17-04-2013, 02:11 PM)dedy vh Wrote: lah logikanya begini kalu memang minat orang naik ka turun ko laba bersih PT. Kereta Api Indonesia (Persero) seperti beranjak naik dari tahun ke tahun. Laba emang naik, tapi jumlah penumpang menurun drastis akibat kebijakan tidak menjual tiket berdiri. Ini artinya setiap penumpang jaman sekarang dikenakan biaya "lebih" daripada penumpang dulu. Lihat aja tarif KA sekarang, coba bandingkan dengan tahun lalu, bandingkan juga dengan tarif 5tahun lalu. Naiknya nanjak banget kan. Ow ya, dulu penumpang banyak tapi yg bayar ke loket hanya sebagian, sebagian lagi jadi "embek".
(17-04-2013, 02:11 PM)dedy vh Wrote: ini juga bisa di lihat dari tidak pernah kosongnya loket loket penjualan tiket di seluruh stasiun stasiun pemberangkatan dan stasiun online. Anda memantau dimana dan kapan? Coba deh bandingkan dengan beberapa tahun lalu. Antrian sekarang mah ngga parah, beda jaman dulu, penumpang harus nginep di stasiun. Sekarang adakah yg mau nginep di stasiun demi mendapatkan selembar tiket?
Terus lihat stasiun2 KA di kota kecil, apakah seramai dulu
(17-04-2013, 02:11 PM)dedy vh Wrote: memang saat ini calon penumpang terseleksi secara alami ini karena waktu dulu ketika belum di berlakukan sistem boarding semua orang bisa di dalam stasiun baik itu bertiket dan tidak bertiket ada orang cari nafkah di stasiun copet preman dan segala macam profesi.
dan juga bisa di lihat dari minat orang terhadap ka yang semakin tinggi dengan di lihat dari kemauan orang berdesakdesak demi bisa terangkut ka. lagi-lagi bandingkan dengan tahun2 sebelumnya. Sekarang desek2an di pintu masuk karena emang ngga boleh masuk 1jam sebelum keberangkatan, dan itu cuma bentar, kalau KA sudah jalan, baru kerasa lega. Kalau dulu kan berdiri di bordes sampai ke tempat tujuan.
Jadi pada intinya jumlah penumpang yg diangkut KA saat ini jauh berkurang daripada dulu. Saat weekday, coba om Dedy main ke situs calo resmi PT Sepur, lihat jumlah tempat duduk KA yg akan berangkat hari itu yg belum terjual, terus amati 1minggu aja cukup. Lalu bikin prosentasenya okupansi KA tsb hariannya, apakah mencapai 100% setiap hari?
Posts: 426
Threads: 0
Joined: Aug 2012
Reputation:
5
(16-04-2013, 08:34 PM)eri4nto Wrote: (16-04-2013, 08:01 PM)ferial Wrote: menurut saya sih harga tiket Eko AC Split saat ini adalah sudah fair alias jujur bin masuk akal. justru harga bengawan (KA langganan saya) yg 37 rebu malah ga masuk akal yg memicu pasukan PJKA(Pulang Jumat Kembali Ahad) yg berdampak pada kelangkaan tiket, terutama di akhir pekan.
Efek positif yg didapat dengan kenaikan harga ini adalah apabila ada pihak yg membutuhkan tiket secara mendadak, peluang untuk mendapatkannya adalah lebih besar, karena orang jika mau pulkam hanya untuk sekedar ber-PJKA jg mikir2.
Buat PP aja paling ga duit 250K harus available.
saya ngebayangin bila naik argo karet yg harga rata2 cepek-an, dah gitu pake acara macet di pantura.. hadeeeh.
yg jadi harapan saya sih cuma gapeka yg nyleneh buat KA langganan saya buat ke jawa itu mbok ya dibalikin lg selepas isya
--cm IMHO, moga ga ada pihak yg merasa terdeskreditkan -- PJKA jg rakyat pengguna ka bro dan itu bukan hobby melainkan kewajiban demi mewujudkan keluarga indonesia yg sehat dan bahagia, kalau ada pilihan yg lbh baik gak ada yg mau jd PJKA. mohon jgn didiskreditkan, thanks
Selamat malam semuanya...
Mau mencoba merespon postingan2 sampeyan soalan PJKA nich... Btw, sebelum diberlakukan Gapeka 2013 pengguna jasa KA utk KA Progo & Bengawan di hari Jumat malam dari PSE - LPN / SK dan hari Minggu malam dari arah sebaliknya itu benar2 golongan tdk mampu atau hanya golongan yg ingin berhemat ya...? Kalo penumpang 2 KA di hari Jumat malam & Minggu malam itu kebanyakan penglaju yg bekerja di Jakarta apa masih patut disebut golongan tdk mampu...?
(17-04-2013, 09:31 AM)senofigo Wrote: LABA BERSIH PT. KAI = Rp. 201.244.481.000 (2011) hasil dari Copas WebSite http://www.kereta-api.co.id/ ternyata memang sdh tujuannya untuk mencari profit sebanyak-banyaknya. Untuk Perum Pemodal/pemiliknya adalah Menteri BUMN, sedangkan PT pemilik modalnya adalah komisaris/pemegang saham,.....jadi mungkin Pak Direktur Utama PT. KAI dapat tekanan untuk menaikan/mendapatkan profit yang besar, agar pembagian deviden juga besar.
Namanya perusahaan berbentuk PT ya yg dikejar untung. Kalo untung yg diraih dlm 1 tahun itu nggak gede ntar Dirut & anak buahnya malah nggak gajian tuch... Apa iya gaji Dirut & karyawan PT. Kereta Api Indonesia (Persero) itu dari pos belanja APBN...? Kalo operator KA setiap tahun bs nyetak laba bersih kan semakin sehat perusahaannya, malah nantinya bs berinvestasi. Investasi yg sekarang baru terlihat adanya pembelian lokomotif2 baru (CC 205 & CC 206) dan gerbong barang. Mungkin kedepannya alat2 pendukung operasional prasarana & kereta2 penumpang.
Kalo yg saya pahami sich, Menteri BUMN membawahi perusahaan berbentuk Perum & PT dech... Nah utk mengawasi jalannya perusahaan berbentuk PT, Menteri BUMN menugaskan beberapa org menjadi Komisaris. Tanpa mendapatkan tekanan pun saya pikir Dirut operator KA secara naluri akan tetap menjalankan perusahaan utk meraih untung koq.
Posts: 833
Threads: 0
Joined: Oct 2009
Reputation:
12
(18-04-2013, 12:04 AM)Logawa_ATB Wrote: (16-04-2013, 08:34 PM)eri4nto Wrote: (16-04-2013, 08:01 PM)ferial Wrote: menurut saya sih harga tiket Eko AC Split saat ini adalah sudah fair alias jujur bin masuk akal. justru harga bengawan (KA langganan saya) yg 37 rebu malah ga masuk akal yg memicu pasukan PJKA(Pulang Jumat Kembali Ahad) yg berdampak pada kelangkaan tiket, terutama di akhir pekan.
Efek positif yg didapat dengan kenaikan harga ini adalah apabila ada pihak yg membutuhkan tiket secara mendadak, peluang untuk mendapatkannya adalah lebih besar, karena orang jika mau pulkam hanya untuk sekedar ber-PJKA jg mikir2.
Buat PP aja paling ga duit 250K harus available.
saya ngebayangin bila naik argo karet yg harga rata2 cepek-an, dah gitu pake acara macet di pantura.. hadeeeh.
yg jadi harapan saya sih cuma gapeka yg nyleneh buat KA langganan saya buat ke jawa itu mbok ya dibalikin lg selepas isya
--cm IMHO, moga ga ada pihak yg merasa terdeskreditkan -- PJKA jg rakyat pengguna ka bro dan itu bukan hobby melainkan kewajiban demi mewujudkan keluarga indonesia yg sehat dan bahagia, kalau ada pilihan yg lbh baik gak ada yg mau jd PJKA. mohon jgn didiskreditkan, thanks
Selamat malam semuanya...
Mau mencoba merespon postingan2 sampeyan soalan PJKA nich... Btw, sebelum diberlakukan Gapeka 2013 pengguna jasa KA utk KA Progo & Bengawan di hari Jumat malam dari PSE - LPN / SK dan hari Minggu malam dari arah sebaliknya itu benar2 golongan tdk mampu atau hanya golongan yg ingin berhemat ya...? Kalo penumpang 2 KA di hari Jumat malam & Minggu malam itu kebanyakan penglaju yg bekerja di Jakarta apa masih patut disebut golongan tdk mampu...? wah saya tidak tau mas, belum pernah baca survey mengenai hal tersebut. kalo boleh tau apakah ada masalah mas kalo golongan PJKA ini naik progo atau bengawan?
KA Sumber Kentjono
Posts: 2,972
Threads: 0
Joined: Sep 2008
Reputation:
14
Quote:lagi-lagi bandingkan dengan tahun2 sebelumnya. Sekarang desek2an di pintu masuk karena emang ngga boleh masuk 1jam sebelum keberangkatan, dan itu cuma bentar, kalau KA sudah jalan, baru kerasa lega. Kalau dulu kan berdiri di bordes sampai ke tempat tujuan.
Jadi pada intinya jumlah penumpang yg diangkut KA saat ini jauh berkurang daripada dulu. Saat weekday, coba om Dedy main ke situs calo resmi PT Sepur, lihat jumlah tempat duduk KA yg akan berangkat hari itu yg belum terjual, terus amati 1minggu aja cukup. Lalu bikin prosentasenya okupansi KA tsb hariannya, apakah mencapai 100% setiap hari?
benar saat ini memang sudah tidak boleh lagi berdesak desak sehingga seperti sepi saja stasiun tapi perlu di inget bahwa barometer jumlah penumpang ka yang riil ada di daop 1 . disinilah parameter kebijakan kebijakan yang akan di ambil PT. Kereta Api Indonesia (Persero) berlandaskan . walaupun kereta kereta baru setiap tahun di datangkan dari luar negeri dan dari inka tetap saja semua ka yang melayani para komuter di daop I penuh sesak di penuhi penumpang.
[b]perlu di ketahui citra PT. Kereta Api Indonesia (Persero) di pertaruhkan didaop ini . jika pelayanan baik di mata masyrakat di daop ini bagus juga citra PT. Kereta Api Indonesia (Persero) secara keseluruhan dan sebaliknya jika citra PT. Kereta Api Indonesia (Persero) buruk di daop ini buruk pula citra PT. Kereta Api Indonesia (Persero) secara keseluruhan[/b[
Posts: 499
Threads: 0
Joined: Aug 2012
Reputation:
3
(18-04-2013, 12:46 PM)dedy vh Wrote: benar saat ini memang sudah tidak boleh lagi berdesak desak sehingga seperti sepi saja stasiun tapi perlu di inget bahwa barometer jumlah penumpang ka yang riil ada di daop 1 . disinilah parameter kebijakan kebijakan yang akan di ambil PT. Kereta Api Indonesia (Persero) berlandaskan . walaupun kereta kereta baru setiap tahun di datangkan dari luar negeri dan dari inka tetap saja semua ka yang melayani para komuter di daop I penuh sesak di penuhi penumpang.
[b]perlu di ketahui citra PT. Kereta Api Indonesia (Persero) di pertaruhkan didaop ini . jika pelayanan baik di mata masyrakat di daop ini bagus juga citra PT. Kereta Api Indonesia (Persero) secara keseluruhan dan sebaliknya jika citra PT. Kereta Api Indonesia (Persero) buruk di daop ini buruk pula citra PT. Kereta Api Indonesia (Persero) secara keseluruhan[/b[
Nah kalo yg ini sy no komen. Kalo benar sich sentralistik bgt. Kasian dunk Daop lain, cuma jd objek kebijakan. Kasian jg yg di Divre, kebijakan yg dipake brdasarkan parameter Jakarta. Pdhl bagus di JKT blm tentu bagus di JR dan Divre I.
Posts: 406
Threads: 0
Joined: Nov 2008
Reputation:
3
(19-04-2013, 08:23 AM)zmidth Wrote: (18-04-2013, 12:46 PM)dedy vh Wrote: benar saat ini memang sudah tidak boleh lagi berdesak desak sehingga seperti sepi saja stasiun tapi perlu di inget bahwa barometer jumlah penumpang ka yang riil ada di daop 1 . disinilah parameter kebijakan kebijakan yang akan di ambil PT. Kereta Api Indonesia (Persero) berlandaskan . walaupun kereta kereta baru setiap tahun di datangkan dari luar negeri dan dari inka tetap saja semua ka yang melayani para komuter di daop I penuh sesak di penuhi penumpang.
[b]perlu di ketahui citra PT. Kereta Api Indonesia (Persero) di pertaruhkan didaop ini . jika pelayanan baik di mata masyrakat di daop ini bagus juga citra PT. Kereta Api Indonesia (Persero) secara keseluruhan dan sebaliknya jika citra PT. Kereta Api Indonesia (Persero) buruk di daop ini buruk pula citra PT. Kereta Api Indonesia (Persero) secara keseluruhan[/b[
Nah kalo yg ini sy no komen. Kalo benar sich sentralistik bgt. Kasian dunk Daop lain, cuma jd objek kebijakan. Kasian jg yg di Divre, kebijakan yg dipake brdasarkan parameter Jakarta. Pdhl bagus di JKT blm tentu bagus di JR dan Divre I.
IMHO kalau menurut saya, mau tidak mau sayangnya memang begitulah keadaannya. Meskipun di daop atau divre lain mungkin apa yang terjadi tidak jauh berbeda, tetap saja barometer yang digunakan tetaplah yang berada di Ibukota, bagi saya, alasannya seperti ini:
1. Konsumer beragam : menjadikan apa yang diinginkan oleh konsumer banyak sekali, hal tersebut dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti budaya, gaya hidup, lingkungan sosial, dan sebagainya. Apalagi ibukota sekarang cenderung heterogen, dibandingkan dengan kota-kota besar di Daop dan Divre lain yang walaupun heterogen juga, tetapi tidaklah serumit Ibukota.
2. Sarana yang terbanyak dari daop dan divre lain : Daop VI boleh berbangga memiliki kereta yang terintegrasi dengan bandara, Daop II adalah kantor pusat PT Sepur, sementara Divre III besar karena Babaranjangnya. Tetapi bila dibandingkan dengan Daop I, segalanya ada, penumpang, Intermodal, Batubara, ONS, kemudian dengan sinyal elektrik yang memiliki sinyal blok, dan lainnya yang saya ga bisa sebutkan. Perhatian tentu saja akan tersita di sini. Walaupun mungkin saja Daop lain juga mendapatkan perhatian juga
Tetapi bagi saya, kalau kebijakannya tersentralisasi, bisa saja ketimpangan antara satu daop dengan daop lain akan sangat berbeda, tetapi bagi saya, tidak terlihat ketimpangan tersebut akhir2 ini IMHO
Posts: 1,823
Threads: 0
Joined: Sep 2009
Reputation:
21
Wow  KA 2x kesayangan gw (Gumarang,Bima,Sembrani,Gajayana) Tarifnya nyekek leher gw deh utk milih ekse nya. Gumi 420 K pas gw cek Juli dan 3 sisanya di bulan yg sama harganya stgh jt  . 11 12 ato malah lebih mahal dr burung singa airlines. Salam ghoib *eh*
Posts: 499
Threads: 0
Joined: Aug 2012
Reputation:
3
|