Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Kereta Api tidak "merakyat" lagi......
(13-04-2013, 09:18 PM)zmidth Wrote:
(13-04-2013, 08:29 PM)Toentang Wrote: Kata-kata "Silakan cari moda transportasi lain" yang sering dipakai, merupakan cerminan sikap arogan/acuh tak acuh/cuek/tidak pehatian/"leleh luweh"/tidak "care" terhadap konsumen (masyarakat). Red Bull Perusahaan KA harusnya tidak hanya mikir untung saja, karena angkutan massal (KA) yang berharga murah/terjangkau memiliki "multiplier effect" seperti mengurangi penggunaan kendaraan pribadi (motor/mobil) yang dapat mengurangi konsumsi BBM bersubsidi dan mengurangi biaya pemeliharaan jalan raya sehingga akhirnya menghemat pengeluaran negara (APBN). Di samping itu juga mengurangi angka kecelakaan di jalan raya (mengurangi kerugian jiwa dan materi). Banyak sekali penghematan yang dapat dilakukan jika memaksimalkan penggunaan angkutan massal.
Sabarlah bang, jangan pake esmosi gitu...
PT. Kereta Api Indonesia (Persero) ngga care sama konsumen(masyarakat)? Ini rancu bank. Konsumen PT. Kereta Api Indonesia (Persero) kan penumpang Kereta. Kalau PT Sepur ngga care sama calon penumpang di stasiun seperti keamanan dan kebersihan stasiun atau didalam rangkaian lha itu baru kebangetan. Kan situ penumpang bisa komplain ke Customer Service. Kalau diluar itu, kan bukan urusan PT Sepur lagi.

Mengurangi kendaraan pribadi, konsumsi BBM subsidi, kecelakaan di jalan raya dan menghemat APBN kan bukan urusan PT Sepur. Itu semua kan tanggung jawab Pemerintah. Nah kalau Pemerintah dan DPR maunya menghemat APBN dengan meniadakan anggaran untuk perawatan prasarana perkeretaapian/IMO gimana?
(13-04-2013, 08:29 PM)Toentang Wrote: Angkutan massal yang dapat mengurangi penggunaan kendaraan pribadi dapat dilaksanakan jika aman, nyaman, murah. Penggunaan motor yang semakin "menggila" karena memang murah, dengan bensin 10.000 rupiah bisa untuk perjalanan +/- 100km (2-3 jam perjalanan). Jika tiket KA bisa sama atau bahkan lebih murah daripada biaya perjalanan dengan motor, maka akan banyak yang beralih menggunaakan KA sebagai angkutan massal sehingga banyak penghematan seperti di atas.
Saya juga maunya seperti itu om. Saya lihat video di Youtube, saat jam sibuk di Jepang sono, yg banyak melintas itu KRL sama trem. Beda dengan di sini, yg paling banyak melintas itu sepeda motor.

Tapi sayang seribu sayang, keadaanlah yg membuat itu semua hanya menjadi mimpi.
(13-04-2013, 08:29 PM)Toentang Wrote: Hal inilah yang sebaiknya dipikirkan petinggi KA. Walaupun hanya sebagai operator sebaiknya juga memikirkan manfaat angkutan massal, (ngingetin/ngoyak2 pemerintah tentang manfaat KA). Tapi alih alih bilang manfaat ke pemerintah, mereka justru males ngurus PSO, IMO, dll ke pemerintah. Mereka males "ribut" dengan pemerintah soal PSO tapi akibatnya masyarakat yang jadi korban. Mungkin sekarang petinggi KA terbawa "politik pencitraan". Mereka bilang "Nih, sekarang KAI jadi BUMN yang untung, pakai teknologi canggih, dapat banyak pujian." Bah! Dziiigg
Lha mau gimana lagi, kalau sudah menyangkut anggaran negara ya birokrasinya lebih ribet. Kang Toentang, lihat sendiri kan kalau PSO sudah turun. Besarnya ngga nyampe 1trilliun kan, bandingkan dengan subsidi BBM yg nyampe ratusan trilliun, jumlah segitu aja sudah disunat sama anggota Dewan. Seandainya dan lagi-lagi seandainya dibalik, yg dapet ratusan trilliun itu PT Sepur pastinya tarif KA bisa gratis itu. #masihMimpi

Kalau pake teknologi tinggi, itu sich menurut saya sudah jadi kewajiban. Sekian puluh tahun perkeretaapian kita stagnan, baru kali ini melakukan gebrakan dengan berbagai kebijakan yg cukup ekstrim. Yang namanya perubahan itu membawa berbagai resiko, dan PT Sepur kayaknya sudah cukup siap menanggung segala resiko yg akan dihadapi.

Suka deh ngebaca komentarnya Bang Zmidth ini, tenang, adem, bikin tentrem di ati. Kya kya kyaaa Cup..Cup #salahfokus

Lempar Loko

Kalau tentang PT. Sepur diminta ngoyak-oyak pemerintah, hmm, rasanya ganjil menurut saya. PT. Sepur ini "cuma" BUMN. BUMN nya pun yang takdir dan naluri nya cari untung, bukan BUMN dengan basis pelayanan masyarakat. Jadi ya kayaknya kurang ada di jalurnya gitu kalo mau "menceramahi" pemerintah secara langsung. Tapi saya "gemes" juga ngeliat PT. Sepur belakangan ini, berhasil membuat pemerintah pada kebakaran jenggot gitu. Ngiler
Seperti alunan detak jantungku,
tak bertahan, melawan waktu
dan semua keindahan, yang memudar
atau cinta, yang tlah hilang

==========

My latest TR: here Tawang Alun, 30 Juni 2013

Lok Merah Biru
Reply
Selamat malam semuanya... Apa khabar...?
Saya coba respon postingan teman2 ya...

(13-04-2013, 08:48 AM)hanskucing Wrote: maaf orang baru ikut nimbrung hehee
sayangnya mas, pendapatan rakyat nggak berbanding lurus dengan inflasi yang terjadi di Indonesia ini Sedih
dan pemerintah kayanya nggak mau peduli dengan masalah satu ini, contohnya aja kalo seorang karyawan yang digaji 800rb per bulan apa bisa mudik dengan tiket yang sekitar 20% gajinya itu hehehe *opini kasar

Ya seperti itulah... Haruse sampeyan bersyukur masih diberi kesehatan & umur yg cukup panjang shg bs menyaksikan negeri AUTOPILOT. Yg kaya semakin kaya & yg miskin semakin miskin shg sila ke 5 Pancasila "Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia" tercabik-cabik. Kalo udah mencet tombol autopilot kan "Sang Pemimpin" nggak perlu mikir macem2 buat negara, rakyat disuruh survive dgn kehidupannya masing2.


(13-04-2013, 08:29 PM)Toentang Wrote: Kata-kata "Silakan cari moda transportasi lain" yang sering dipakai, merupakan cerminan sikap arogan/acuh tak acuh/cuek/tidak pehatian/"leleh luweh"/tidak "care" terhadap konsumen (masyarakat). Red Bull Perusahaan KA harusnya tidak hanya mikir untung saja, karena angkutan massal (KA) yang berharga murah/terjangkau memiliki "multiplier effect" seperti mengurangi penggunaan kendaraan pribadi (motor/mobil) yang dapat mengurangi konsumsi BBM bersubsidi dan mengurangi biaya pemeliharaan jalan raya sehingga akhirnya menghemat pengeluaran negara (APBN). Di samping itu juga mengurangi angka kecelakaan di jalan raya (mengurangi kerugian jiwa dan materi). Banyak sekali penghematan yang dapat dilakukan jika memaksimalkan penggunaan angkutan massal.

Angkutan massal yang dapat mengurangi penggunaan kendaraan pribadi dapat dilaksanakan jika aman, nyaman, murah. Penggunaan motor yang semakin "menggila" karena memang murah, dengan bensin 10.000 rupiah bisa untuk perjalanan +/- 100km (2-3 jam perjalanan). Jika tiket KA bisa sama atau bahkan lebih murah daripada biaya perjalanan dengan motor, maka akan banyak yang beralih menggunaakan KA sebagai angkutan massal sehingga banyak penghematan seperti di atas.

Hal inilah yang sebaiknya dipikirkan petinggi KA. Walaupun hanya sebagai operator sebaiknya juga memikirkan manfaat angkutan massal, (ngingetin/ngoyak2 pemerintah tentang manfaat KA). Tapi alih alih bilang manfaat ke pemerintah, mereka justru males ngurus PSO, IMO, dll ke pemerintah. Mereka males "ribut" dengan pemerintah soal PSO tapi akibatnya masyarakat yang jadi korban. Mungkin sekarang petinggi KA terbawa "politik pencitraan". Mereka bilang "Nih, sekarang KAI jadi BUMN yang untung, pakai teknologi canggih, dapat banyak pujian." Bah! Dziiigg

Lha haruse pake slogan apa, Kang...? Hal yg aneh kalo operator KA males ngurusi IMO, lha buktinya Dirut sampai curhat ke DPR selaku wakil rakyat bbrp waktu yg lalu. PSO & IMO itu kewajiban Pemerintah, kalo namanya kewajiban itu nggak ada istilah terpaksa kan...? Lha kalo nggak ada unsur terpaksa pasti ada niat sebelumnya kan...? Bikin RAPBN 2013, dana IMO nggak dianggarkan. Pdhal tahun sebelumnya Pemerintah sdh menuliskan dlm Perpres akan menyediakan dana IMO. Sementara di satu sisi pos pembelanjaan subsidi BBM terus bertambah. Sekarang sdh ketok palu jd APBN 2013. Saya rasa suatu hal yg logis kalo operator KA menggunakan slogan itu, ketimbang peran KA nggak diperhatikan ya bikin reaksi utk mengarahkan & sekaligus mengedukasi penumpang KA utk menggunakan moda transportasi yg BBM nya masih didukung Pemerintah.

Nah, ini kembali ke pola pikir & sudut pandang mana yg mau sampeyan ambil. Menurut saya itu hal yg sepele, tinggal kemauan Pemerintah sj koq. Kalo Pemerintah mau nyisain "sedikit" dr pos pembelanjaan subsidi BBM utk dialihkan ke dana yg dibutuhkan operator KA, saya pikir operator KA nggak akan "arogan" seperti sekarang ini. Coba dech, baca2 lg postingan2 saya sebelumnya...
Monggo dipun penggalih rumiyin.... Xie Xie
Reply
(13-04-2013, 07:23 PM)zmidth Wrote:
(13-04-2013, 08:48 AM)hanskucing Wrote: maaf orang baru ikut nimbrung hehee
sayangnya mas, pendapatan rakyat nggak berbanding lurus dengan inflasi yang terjadi di Indonesia ini :sedih bannget:
dan pemerintah kayanya nggak mau peduli dengan masalah satu ini, contohnya aja kalo seorang karyawan yang digaji 800rb per bulan apa bisa mudik dengan tiket yang sekitar 20% gajinya itu hehehe *opini kasar

Silakan aja bergabung boleh aja, tapi pake kepala dingin yak #kayakKulkasAja, diskusinya terbuka untuk umum kok.

Sekali lagi istilah "take it or leave it" berlaku disini. Memang pendapatan masyarakat itu beragam, ada yg berbanding lurus dengan inflasi, tapi ada pula yg berbanding terbalik. Itu semua hanya masalah rejeki yg merupakan urusan Yang Di Atas. 20% pendapatan buat mudik ngga masalah kalau orang tersebut mau. Bukankah lebih baik 20% pendapatan untuk mudik, untuk silaturahmi daripada 50% pendapatan untuk beli rokok. Banyak kok riset yg mengatakan rokok menjadi salah satu pengeluaran terbesar bagi rakyat kecil. Naik KA juga bukan kewajiban kan, ngga naik KA juga ngga akan masuk tindak pidana kok.

Sebenarnya penumpang KA saat ini sudah terseleksi secara otomatis. Mulai sejak KA tidak berhenti lagi di KW, CKP, BKS dan JNG, tiket harus sesuai dengan identitas, jadwal yg berubah drastis, tarif naik, sistem online dan sistem boarding, hanya tipe penumpang tertentu yang terangkut KA. Tipe orang yg malas repot-repot menuju stasiun pemberangkatan dan ngga suka tertib secara otomatis tersingkir. Jadilah tersisa tipe penumpang yg tertib, taat aturan, disiplin dan mau repot2 ke stasiun pemberhentian saja yg diangkut KA. Mungkin itu yg jadi target sama PT. Kereta Api Indonesia (Persero) saat ini. Kalau tipe2 tersebut saat ini jumlahnya ngga banyak, PT. Kereta Api Indonesia (Persero) masih bisa hidup dengan mengandalkan angkutan barang. Di masa yg akan datang, tipe2 penumpang tsb akan meningkat jumlahnya seiring dengan meningkatnya tingkat pendidikan masyarakat, kesadaran disiplin dan juga jalan raya yg kian macet karena banyaknya kendaraan pribadi. Nah pada saat itulah PT. Kereta Api Indonesia (Persero) menikmati hasil dari usahanya yang berdarah2 saat ini.
sipp
cuma yah kadang suka kesel sama penumpang K3/KL3 yang masih dengan bangganya merokok
BTW di jakarta macetnya lumayan nambah karena KRL perjalanannya nambah Tersenyuum


(15-04-2013, 12:03 AM)Logawa_ATB Wrote: Selamat malam semuanya... Apa khabar...?
Saya coba respon postingan teman2 ya...

(13-04-2013, 08:48 AM)hanskucing Wrote: maaf orang baru ikut nimbrung hehee
sayangnya mas, pendapatan rakyat nggak berbanding lurus dengan inflasi yang terjadi di Indonesia ini Sedih
dan pemerintah kayanya nggak mau peduli dengan masalah satu ini, contohnya aja kalo seorang karyawan yang digaji 800rb per bulan apa bisa mudik dengan tiket yang sekitar 20% gajinya itu hehehe *opini kasar

Ya seperti itulah... Haruse sampeyan bersyukur masih diberi kesehatan & umur yg cukup panjang shg bs menyaksikan negeri AUTOPILOT. Yg kaya semakin kaya & yg miskin semakin miskin shg sila ke 5 Pancasila "Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia" tercabik-cabik. Kalo udah mencet tombol autopilot kan "Sang Pemimpin" nggak perlu mikir macem2 buat negara, rakyat disuruh survive dgn kehidupannya masing2.


(13-04-2013, 08:29 PM)Toentang Wrote: Kata-kata "Silakan cari moda transportasi lain" yang sering dipakai, merupakan cerminan sikap arogan/acuh tak acuh/cuek/tidak pehatian/"leleh luweh"/tidak "care" terhadap konsumen (masyarakat). Red Bull Perusahaan KA harusnya tidak hanya mikir untung saja, karena angkutan massal (KA) yang berharga murah/terjangkau memiliki "multiplier effect" seperti mengurangi penggunaan kendaraan pribadi (motor/mobil) yang dapat mengurangi konsumsi BBM bersubsidi dan mengurangi biaya pemeliharaan jalan raya sehingga akhirnya menghemat pengeluaran negara (APBN). Di samping itu juga mengurangi angka kecelakaan di jalan raya (mengurangi kerugian jiwa dan materi). Banyak sekali penghematan yang dapat dilakukan jika memaksimalkan penggunaan angkutan massal.

Angkutan massal yang dapat mengurangi penggunaan kendaraan pribadi dapat dilaksanakan jika aman, nyaman, murah. Penggunaan motor yang semakin "menggila" karena memang murah, dengan bensin 10.000 rupiah bisa untuk perjalanan +/- 100km (2-3 jam perjalanan). Jika tiket KA bisa sama atau bahkan lebih murah daripada biaya perjalanan dengan motor, maka akan banyak yang beralih menggunaakan KA sebagai angkutan massal sehingga banyak penghematan seperti di atas.

Hal inilah yang sebaiknya dipikirkan petinggi KA. Walaupun hanya sebagai operator sebaiknya juga memikirkan manfaat angkutan massal, (ngingetin/ngoyak2 pemerintah tentang manfaat KA). Tapi alih alih bilang manfaat ke pemerintah, mereka justru males ngurus PSO, IMO, dll ke pemerintah. Mereka males "ribut" dengan pemerintah soal PSO tapi akibatnya masyarakat yang jadi korban. Mungkin sekarang petinggi KA terbawa "politik pencitraan". Mereka bilang "Nih, sekarang KAI jadi BUMN yang untung, pakai teknologi canggih, dapat banyak pujian." Bah! Dziiigg

Lha haruse pake slogan apa, Kang...? Hal yg aneh kalo operator KA males ngurusi IMO, lha buktinya Dirut sampai curhat ke DPR selaku wakil rakyat bbrp waktu yg lalu. PSO & IMO itu kewajiban Pemerintah, kalo namanya kewajiban itu nggak ada istilah terpaksa kan...? Lha kalo nggak ada unsur terpaksa pasti ada niat sebelumnya kan...? Bikin RAPBN 2013, dana IMO nggak dianggarkan. Pdhal tahun sebelumnya Pemerintah sdh menuliskan dlm Perpres akan menyediakan dana IMO. Sementara di satu sisi pos pembelanjaan subsidi BBM terus bertambah. Sekarang sdh ketok palu jd APBN 2013. Saya rasa suatu hal yg logis kalo operator KA menggunakan slogan itu, ketimbang peran KA nggak diperhatikan ya bikin reaksi utk mengarahkan & sekaligus mengedukasi penumpang KA utk menggunakan moda transportasi yg BBM nya masih didukung Pemerintah.

Nah, ini kembali ke pola pikir & sudut pandang mana yg mau sampeyan ambil. Menurut saya itu hal yg sepele, tinggal kemauan Pemerintah sj koq. Kalo Pemerintah mau nyisain "sedikit" dr pos pembelanjaan subsidi BBM utk dialihkan ke dana yg dibutuhkan operator KA, saya pikir operator KA nggak akan "arogan" seperti sekarang ini. Coba dech, baca2 lg postingan2 saya sebelumnya...
Monggo dipun penggalih rumiyin.... Xie Xie

hahaha benar, jadi iri lihat Amtrak Sakit
BOO-THB-PLM

my "lovely" route hahaha...

Tokyo Metro
Reply
disamping tidak merakyat sarana (gerbong)juga kurang. ini bisa di lihat dari jumlah rangkaian yang tidak maksimal kaya serayu dulu bisa narik hingga 10 gerbong penumpang sekarang saya lihat paling banter 7 gerbong. padahal minat orang naik kereta api semakin hari semakin tinggi. kalau tidak di imbangi dengan tersedianya sarana ka akan semakin di tinggali para calon penumpangnya.
tidak terbayangkan keindahan trem uap ketika lalu lalang di bawah jembatan kereta api jatinegara
foto ane yang lainnya ada disini kang !
https://www.flickr.com/photos/36503981@N02/
Reply
(15-04-2013, 02:07 PM)dedy vh Wrote: disamping tidak merakyat sarana (gerbong)juga kurang. ini bisa di lihat dari jumlah rangkaian yang tidak maksimal kaya serayu dulu bisa narik hingga 10 gerbong penumpang sekarang saya lihat paling banter 7 gerbong. padahal minat orang naik kereta api semakin hari semakin tinggi. kalau tidak di imbangi dengan tersedianya sarana ka akan semakin di tinggali para calon penumpangnya.

Jaman dulu Serayu narik 10 gerbong? kuat tuh loknya? kan zaman itu belum ada CC204
Fanboys are people who are willing to defend and promote the object of their affection. They are rarely objective and disregard facts that contradict their opinions.
Facebook BB: 55FFFBE5
Reply
(15-04-2013, 02:07 PM)dedy vh Wrote: disamping tidak merakyat sarana (gerbong)juga kurang. ini bisa di lihat dari jumlah rangkaian yang tidak maksimal kaya serayu dulu bisa narik hingga 10 gerbong penumpang sekarang saya lihat paling banter 7 gerbong.
Bukan kurang kali. Bantetnya rangkaian ekonomi kan masalah PSO **lagi-lagi ke Pemerintah*. Sekarang kan PSO sudah cair ya semoga rangkaian bisa seperti semula. Kalau sarana memang harus ditingkatkan fasilitas, kalau GPS dan running text terlalu mahal, ya berharap didalam kereta ada Speaker dan ada pengumuman crew KA saat kereta akan berhenti di stasiun. Kalau bisa lewat speaker tsb diputerin musik gitu, jadi walau ngga ada Tipi ya minimal ada hiburan musik atau radio gitu.
(15-04-2013, 02:07 PM)dedy vh Wrote: padahal minat orang naik kereta api semakin hari semakin tinggi. kalau tidak di imbangi dengan tersedianya sarana ka akan semakin di tinggali para calon penumpangnya.
Yang ini agak kurang setuju. Orang yg naik KA lagi turun itu. Semua orang lagi kena shock therapy tarif KA naik. Ya seperti yg saya bilang dalam postingan sebelumnya, Penumpang KA itu sedang mengalami "Seleksi Alam" #bukanSalamGhoib . Hanya tipe tertentu yg bisa naik KA(tertib, disiplin, mau repot2 ke stasiun pemberhentian dan mau membayar tiket dengan tarif sekarang).



Tadi liat berita Tipi yg intinya Pemerintah lagi kebingungan dengan ancaman jebolnya APBN karena besarnya subsidi BBM. BBM naik ngga naik tetaplah si "pelanduk" yg keinjek. Subsidi BBM tetaplah akan menjadi bom waktu bagi APBN selama Pemerintah mengabaikan sektor transportasi massal. Sudah kereta api dibikin mahal, pesawat sudah tentu mahal dan kapal laut murah tapi cuma di laut aja, yang tersisa cuma si "ban karet" yg benar2 dekat dengan rakyat kecil, tapi si "ban karet" juga terancam karena bbm bisa hilang secara misterius. Kalau sudah begitu, lengkaplah sudah penderitaan rakyat kecil di Indonesia.

Seandainya 10% dari subsidi BBM dialokasikan ke sektor transportasi masal terutama Kereta api, digunakan untuk mensubsidi KA Komuter dan KA Lokal mungkin rakyat kecil ngga akan terlalu berat jikalau harga BBM dinaikan. KA barang disubsidi sehingga sektor UKM bisa mengirim barang dengan tarif terjangkau tentu bisa menggerakan roda perekonomian rakyat kecil. Seharusnya pemerintah bisa belajar sejarah, Belanda sukses mengeruk kekayaan negara ini dengan kereta api. Yang terakhir, benarlah apa yg dikatakan Bank Dunia bahwa Indonesia adalah negara yang menjadi korban atas kemajuan ekonominya sendiri.
Terima kasih telah mengantarkanku ke tempat tujuan dengan cepat, aman, tepat dan murah

facebook: Adhie | Twitter: @adh1e_
Reply
(15-04-2013, 07:29 PM)zmidth Wrote:
(15-04-2013, 02:07 PM)dedy vh Wrote: disamping tidak merakyat sarana (gerbong)juga kurang. ini bisa di lihat dari jumlah rangkaian yang tidak maksimal kaya serayu dulu bisa narik hingga 10 gerbong penumpang sekarang saya lihat paling banter 7 gerbong.
Bukan kurang kali. Bantetnya rangkaian ekonomi kan masalah PSO **lagi-lagi ke Pemerintah*. Sekarang kan PSO sudah cair ya semoga rangkaian bisa seperti semula. Kalau sarana memang harus ditingkatkan fasilitas, kalau GPS dan running text terlalu mahal, ya berharap didalam kereta ada Speaker dan ada pengumuman crew KA saat kereta akan berhenti di stasiun. Kalau bisa lewat speaker tsb diputerin musik gitu, jadi walau ngga ada Tipi ya minimal ada hiburan musik atau radio gitu.
(15-04-2013, 02:07 PM)dedy vh Wrote: padahal minat orang naik kereta api semakin hari semakin tinggi. kalau tidak di imbangi dengan tersedianya sarana ka akan semakin di tinggali para calon penumpangnya.
Yang ini agak kurang setuju. Orang yg naik KA lagi turun itu. Semua orang lagi kena shock therapy tarif KA naik. Ya seperti yg saya bilang dalam postingan sebelumnya, Penumpang KA itu sedang mengalami "Seleksi Alam" #bukanSalamGhoib . Hanya tipe tertentu yg bisa naik KA(tertib, disiplin, mau repot2 ke stasiun pemberhentian dan mau membayar tiket dengan tarif sekarang).



Tadi liat berita Tipi yg intinya Pemerintah lagi kebingungan dengan ancaman jebolnya APBN karena besarnya subsidi BBM. BBM naik ngga naik tetaplah si "pelanduk" yg keinjek. Subsidi BBM tetaplah akan menjadi bom waktu bagi APBN selama Pemerintah mengabaikan sektor transportasi massal. Sudah kereta api dibikin mahal, pesawat sudah tentu mahal dan kapal laut murah tapi cuma di laut aja, yang tersisa cuma si "ban karet" yg benar2 dekat dengan rakyat kecil, tapi si "ban karet" juga terancam karena bbm bisa hilang secara misterius. Kalau sudah begitu, lengkaplah sudah penderitaan rakyat kecil di Indonesia.

Seandainya 10% dari subsidi BBM dialokasikan ke sektor transportasi masal terutama Kereta api, digunakan untuk mensubsidi KA Komuter dan KA Lokal mungkin rakyat kecil ngga akan terlalu berat jikalau harga BBM dinaikan. KA barang disubsidi sehingga sektor UKM bisa mengirim barang dengan tarif terjangkau tentu bisa menggerakan roda perekonomian rakyat kecil. Seharusnya pemerintah bisa belajar sejarah, Belanda sukses mengeruk kekayaan negara ini dengan kereta api. Yang terakhir, benarlah apa yg dikatakan Bank Dunia bahwa Indonesia adalah negara yang menjadi korban atas kemajuan ekonominya sendiri.

Yah itu lah, selama pemerintah masih ada hutang budi ke pengusaha mobil dan motor maka hal itu akan luar biasa sulit dilakukan, padahal di negara maju rata-rata mereka benar-benar mengoptimalkan kereta api sebagai sarana transportasi yang mampu mengangkut jumlah besar dan kecepatan tinggi.
BTW, jika subsidi dialihkan ke KA komuter kira-kira dalam bentuk apa? kelas ekonomi atau karcis single class yang lebih murah?
BOO-THB-PLM

my "lovely" route hahaha...

Tokyo Metro
Reply
(15-04-2013, 08:30 PM)hanskucing Wrote: Yah itu lah, selama pemerintah masih ada hutang budi ke pengusaha mobil dan motor maka hal itu akan luar biasa sulit dilakukan, padahal di negara maju rata-rata mereka benar-benar mengoptimalkan kereta api sebagai sarana transportasi yang mampu mengangkut jumlah besar dan kecepatan tinggi.
BTW, jika subsidi dialihkan ke KA komuter kira-kira dalam bentuk apa? kelas ekonomi atau karcis single class yang lebih murah?

Subsidi KA Lokal jelas membuat tarif lbh terjangkau. Kalau KA Komuter(KCJ) kan bentar lagi pake tarif progresif sudah tentu tarif dasarnya yg lbh murah. Besok kan 5 stasiun pertama kena charge 3rb, kalau disubsidi bs kena charge 1rb #hanyaContoh. Kalau ngga dlm bentuk tiket, bs juga digunakan untuk membantu memperbaiki prasarana perkeretaapian seperti membuat flyover di semua perlintasan sebidang, membeli peralatan eticketing shg arus masuk dan keluar penumpang lbh lancar, membantu pengembangan seluruh stasiun shg sistem boarding membuat nyaman seluruh penumpang, dan msh banyak yg lainnya.
Terima kasih telah mengantarkanku ke tempat tujuan dengan cepat, aman, tepat dan murah

facebook: Adhie | Twitter: @adh1e_
Reply
(15-04-2013, 09:13 PM)zmidth Wrote:
(15-04-2013, 08:30 PM)hanskucing Wrote: Yah itu lah, selama pemerintah masih ada hutang budi ke pengusaha mobil dan motor maka hal itu akan luar biasa sulit dilakukan, padahal di negara maju rata-rata mereka benar-benar mengoptimalkan kereta api sebagai sarana transportasi yang mampu mengangkut jumlah besar dan kecepatan tinggi.
BTW, jika subsidi dialihkan ke KA komuter kira-kira dalam bentuk apa? kelas ekonomi atau karcis single class yang lebih murah?

Subsidi KA Lokal jelas membuat tarif lbh terjangkau. Kalau KA Komuter(KCJ) kan bentar lagi pake tarif progresif sudah tentu tarif dasarnya yg lbh murah. Besok kan 5 stasiun pertama kena charge 3rb, kalau disubsidi bs kena charge 1rb #hanyaContoh. Kalau ngga dlm bentuk tiket, bs juga digunakan untuk membantu memperbaiki prasarana perkeretaapian seperti membuat flyover di semua perlintasan sebidang, membeli peralatan eticketing shg arus masuk dan keluar penumpang lbh lancar, membantu pengembangan seluruh stasiun shg sistem boarding membuat nyaman seluruh penumpang, dan msh banyak yg lainnya.

Saya lebih setuju kalo ada harga khusus mahasiswa/pelajar (seperti di Jepang) karena mahasiswa/pelajar kan belum berpenghasilan, tidak adil kalau harus membayar penuh sama seperti penumpang yang sudah berpenghasilan.
Untuk sistem eticketing, kalo mau betulan dibuat sistem itu maka stasiun yang sekarang ukurannya mikro tapi penumpangnya luar biasa (contoh: CLT, BJD, CTA, CW, TEB) itu mesti digedein karena kayanya bakal bikin bottleneck secara mesin cuma 2, satu masuk satu keluar
BOO-THB-PLM

my "lovely" route hahaha...

Tokyo Metro
Reply
(15-04-2013, 09:43 PM)hanskucing Wrote:
(15-04-2013, 09:13 PM)zmidth Wrote:
(15-04-2013, 08:30 PM)hanskucing Wrote: Yah itu lah, selama pemerintah masih ada hutang budi ke pengusaha mobil dan motor maka hal itu akan luar biasa sulit dilakukan, padahal di negara maju rata-rata mereka benar-benar mengoptimalkan kereta api sebagai sarana transportasi yang mampu mengangkut jumlah besar dan kecepatan tinggi.
BTW, jika subsidi dialihkan ke KA komuter kira-kira dalam bentuk apa? kelas ekonomi atau karcis single class yang lebih murah?

Subsidi KA Lokal jelas membuat tarif lbh terjangkau. Kalau KA Komuter(KCJ) kan bentar lagi pake tarif progresif sudah tentu tarif dasarnya yg lbh murah. Besok kan 5 stasiun pertama kena charge 3rb, kalau disubsidi bs kena charge 1rb #hanyaContoh. Kalau ngga dlm bentuk tiket, bs juga digunakan untuk membantu memperbaiki prasarana perkeretaapian seperti membuat flyover di semua perlintasan sebidang, membeli peralatan eticketing shg arus masuk dan keluar penumpang lbh lancar, membantu pengembangan seluruh stasiun shg sistem boarding membuat nyaman seluruh penumpang, dan msh banyak yg lainnya.

Saya lebih setuju kalo ada harga khusus mahasiswa/pelajar (seperti di Jepang) karena mahasiswa/pelajar kan belum berpenghasilan, tidak adil kalau harus membayar penuh sama seperti penumpang yang sudah berpenghasilan.
Untuk sistem eticketing, kalo mau betulan dibuat sistem itu maka stasiun yang sekarang ukurannya mikro tapi penumpangnya luar biasa (contoh: CLT, BJD, CTA, CW, TEB) itu mesti digedein karena kayanya bakal bikin bottleneck secara mesin cuma 2, satu masuk satu keluar

Kalau tarif khusus pelajar kayaknya aku pernah denger deh. Ngga cuma pelajar, ada anggota TNI, wartawan kalau ngga salah juga dapet tarif khusus tapi saya lupa itu kapan dan dimana...

Nah kalau stasiun digedein tapi sistemnya lelet dan sering offline mah sama aja jadi bottleneck. Lebih baik sistemnya di jaga dan diperbaiki sehingga bisa jalan seperti yg diharapkan. Kalau stasiun sibuk sich seharusnya punya mesin lebih dari sepasang. Nah duit subsidi BBM dprd dibuang saat macet kan bisa dialihkan untuk membantu pengadaan mesin tsb. Saya sich berharap eticketing jgn spt sistem boarding yg belum matang tapi sudah diaplikasikan.
Terima kasih telah mengantarkanku ke tempat tujuan dengan cepat, aman, tepat dan murah

facebook: Adhie | Twitter: @adh1e_
Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 4 Guest(s)