Posts: 833
Threads: 0
Joined: Oct 2009
Reputation:
12
(03-04-2013, 12:19 AM)Logawa_ATB Wrote: [spoiler]
(01-04-2013, 09:26 PM)big bro Wrote: sebenernya inti permasalahannya itu pelayanan, namanya perusahaan ya cari untung, kalo gak cari untung namanya BLU kaya transjakarta. PT KA sebagai perusahaan jasa memang seharusnya kasih pelayanan maksimal, harap dicatat cari keuntungan bukan cuma dari tiket. tapi juga dari iklan, sewa lahan, serta pemasukan-pemasukan lainnya. Kalo mau dibilang PT KA ini punya peluang yang besar sekali dalam hal pemanfaatan aset. contohnya PJL ada berapa ratus di pulau jawa, kalo kreatif bisa dimanfaatkan jadi spot iklan (sayangnya gak kreatif). sayang kayaknya PT KA cuma bilang keuntungan itu dari tiket (atau sebenernya tau cuma gak mau kasih tau).
analis ane tentang masalah ini, kalo PT KA ibarat perusahaan koran. cost per trip dianggap ongkos produksi, apa tiket disamakan dengan harga jual koran? kalo iya harga jual koran bisa mahal banget, gak mungkin kisaran 1000-3500 kayak sekarang. Darimana koran bisa semurah itu padahal kalo diitung pemasukan dari harga jual koran gak mungkin nutup ongkos produksi? iklan di koran yang bikin harga koran bisa semurah itu. kasarnya kalau mau dibilang harga jual koran itu cuma buat ongkos distribusi aja bukan ongkos produksi. IMHO Disini pendekatan yang gak diambil sama PT KA. harga tiket gak melibatkan element-element lainnya, cuma cost per trip dibagi jumlah penumpang. jumlah penumpangnya juga gak jelas diambil jumlahnya berapa....
walau gak bisa disamain, tapi liat deh Garuda, tiket mahal, tapi pelayanan sangat memuaskan, penumpang puas. emang PT KA sekarang ada peningkatan, tapi belom cukup. contoh paling jelas sekarang KRL gak berenti di stasiun keberangkatan KA jarak jauh kec senen, itupun yang dari bekasi.
Selamat malam, Kang big bro... Menarik sekali dgn ulasan & pendapat sampeyan. Cuma ada yg ingin saya tanyakan nich... Kalo ada pengusaha PO bis komersial (Eksekutif, SE atau VIP), misal rute JKT (Rawamangun) ke Semarang kalo lewat jln tol Rawamangun - Cikampek, Palimanan - Pejagan & (mungkin) tol Semarang itu biaya akses jalan tolnya itu dibebankan ke penumpang atau pengusaha PO tsb malah mencari iklan buat nutup biaya akses tol tsb ya....?
Kalo menurut saya, koq saya nggak yakin (banget) kalo Dirut operator KA nggak bs ngitung cost dgn baik. Pengalaman di dunia perbankan pasti bs menentukan usaha ini profit apa nggak. Andai saja Dirut operator KA ini mencoba menawarkan tarif KA yg terjangkau agar penumpang KA meningkat dgn jalan nyari iklan atau sewa lahan, paling2 jawaban dia, "Lha..., koq enak....?" 
Ya namanya PT pasti setiap usaha mesti mendatangkan untung, nyari iklan harus untung, sewa lahan / space harus untung, bisnis jasa transportasi jg harus untung.
Seperti yg sampeyan tulis di atas, inti permasalahannya itu pelayanan. Saya sependapat, hanya saja di dunia kereta api soal pelayanan ini nggak cuma pelayanan di atas sarana (di dlm kereta api) tp jg mencakup pelayanan prasarana (kondisi track / lintas). Akan sangat berbeda bila dibandingkan dgn bis, karena biaya operasional sdh jelas baik operasional sarana (BBM, perawatan kendaraan dll) & operasional prasarana (tarif jalan tol sdh terpampang di pintu gerbang, driver tinggal bayar sj). Sedangkan di kereta api, kalo kita merunut ke pedoman pentarifan yg dikeluarkan Kemenhub (PM No 28 Tahun 2012) bahwa penentuan tarif secara garis besar terdiri dari komponen biaya operasional & keuntungan. Biaya operasional itu sendiri terdiri dari biaya operasional sarana & sewa prasarana (TAC). Nah, di sini inti permasalahan mulai muncul. Mekanisme IMO & TAC ini yg masih blm berjalan dgn baik. Saya pikir RF (pd umumnya) luput dlm memperhatikan & memahami apa itu IMO (biaya pemeliharaan prasarana) & TAC (sewa prasarana), tp malah lbh sering diskusi soalan PSO utk K3.
Kalo yg saya amati, operator KA itu pingin menjalankan sistem seperti yg tertulis dlm UU No. 23 Tahun 2007 yaitu ada dana IMO dari Pemerintah & operator KA siap membayar TAC ke Pemerintah. Jd kasarnya, ada IMO ada TAC, kalo nggak ada IMO ya buat apa bayar TAC. Hanya sj, jalan rel beda dgn jalan aspal / jalan beton. Kalo jln rel nggak dirawat, rel goyang, ballast sdh nggak padat justru akan membahayakan perka dan malah bukan meningkatkan pelayanan. Kalo menurut versi operator KA, dlm 4 tahun ini dana IMO nggak kunjung cair dari Pemerintah. Lha bagaimana caranya operator KA bs mendapatkan dana IMO...? Feeling saya ya dari pinjaman Bank. Apa ya mungkin nyari iklan & sewa lahan bs nguber 1.5T....? Kalo sdh pinjam uang dari Bank pasti akan kena bunga, akhirnya biaya pengembalian pinjaman & bunga ini yg harus ditanggung oleh pengguna jasa transportasi KA (KA Barang & Penumpang). So, seperti yg kita lihat sekarang harga tiket KA Penumpang sdh tdk "merakyat" lg kan...? Oh ya, kalo ada yg pernah membaca operator KA nggak butuh dana IMO tolong disharing di sini ya... 
Nah, kembali ke soalan kenapa operator KA nggak nyoba ngejar iklan atau sewa lahan sebanyak2nya agar harga tiket bs terjangkau / murah...? Feeling saya, ini bagian dari skenario "mancing teri dapat kakap". Operator KA lbh memilih kehilangan penumpang dgn membuat mahal harga tiket (krn sdh ditumpangi dgn biaya perawatan infrastruktur) tapi bs mengedukasi para calon penumpang utk bs menikmati moda transportasi yg lain. Pada saat weekday KA Penumpang banyak yg kosong itu bukan masalah buat operator KA, apalg BBM lokomotifnya sdh tdk disubsidi jd nggak membebani Pemerintah, tinggal dihitung sj secara cermat utk menutup kerugian2 tsb di hari yg lain. Tapi berbeda dgn alat2 transportasi di darat lain, bukankah masih bergantung pada BBM yg disubsidi ya...? Cara edukasi operator KA ke Pemerintah ya seperti ini, kalo masih sanggup bayari BBM yg mereka konsumsi ya silakan.... Moment long weekend & Lebaran jd sasaran, kalo udah macet kan duit dari APBN cuma jd asap. 
Sebetulnya inti permasalahannya itu sepele (menurut saya), operator KA cuma butuh IMO (tahun 2013) sekitar 1.7T (CMIIW). Pdhal nilai tsb sangat kecil dibanding subsidi utk BBM, ya tinggal perhatian Pemerintah saja ke kereta api utk jd backbone perekonomian di negeri ini.
Kalo dibanding dgn Garuda jelas blm fair, disaat PT Kereta Api (Persero) sdg "berdarah2" PT Garuda Indonesia sdh mulai restrukturisasi di bawah kepemimpinan Emir Satar dan hasilnya semakin membaik, dan di periode ke 2 Emir Satar dipasang kembali oleh Menteri BUMN. Lha kalo nanti kondisi PT. Kereta Api Indonesia (Persero) semakin membaik & Jonan dipasang kembali di Februari 2014 apa nggak makin banyak RF yg depresi & teriak2 dgn kebijakannya... 
Terima kasih.
[/spoiler]
hmm kalo boleh saya simpulkan berarti biaya operasional kereta api ini sangat mahal ya sehingga belum mampu ditanggung sendirian oleh PT. Kereta Api Indonesia (Persero) dan perlu bantuan dari pemerintah dalam bentuk IMO? oya untuk BBM subsidi itu bukannya PT. Kereta Api Indonesia (Persero) dapat alokasi juga ya? thanks
KA Sumber Kentjono
Posts: 406
Threads: 0
Joined: Nov 2008
Reputation:
3
(03-04-2013, 08:46 AM)eri4nto Wrote: (03-04-2013, 12:19 AM)Logawa_ATB Wrote: [spoiler]
(01-04-2013, 09:26 PM)big bro Wrote: sebenernya inti permasalahannya itu pelayanan, namanya perusahaan ya cari untung, kalo gak cari untung namanya BLU kaya transjakarta. PT KA sebagai perusahaan jasa memang seharusnya kasih pelayanan maksimal, harap dicatat cari keuntungan bukan cuma dari tiket. tapi juga dari iklan, sewa lahan, serta pemasukan-pemasukan lainnya. Kalo mau dibilang PT KA ini punya peluang yang besar sekali dalam hal pemanfaatan aset. contohnya PJL ada berapa ratus di pulau jawa, kalo kreatif bisa dimanfaatkan jadi spot iklan (sayangnya gak kreatif). sayang kayaknya PT KA cuma bilang keuntungan itu dari tiket (atau sebenernya tau cuma gak mau kasih tau).
analis ane tentang masalah ini, kalo PT KA ibarat perusahaan koran. cost per trip dianggap ongkos produksi, apa tiket disamakan dengan harga jual koran? kalo iya harga jual koran bisa mahal banget, gak mungkin kisaran 1000-3500 kayak sekarang. Darimana koran bisa semurah itu padahal kalo diitung pemasukan dari harga jual koran gak mungkin nutup ongkos produksi? iklan di koran yang bikin harga koran bisa semurah itu. kasarnya kalau mau dibilang harga jual koran itu cuma buat ongkos distribusi aja bukan ongkos produksi. IMHO Disini pendekatan yang gak diambil sama PT KA. harga tiket gak melibatkan element-element lainnya, cuma cost per trip dibagi jumlah penumpang. jumlah penumpangnya juga gak jelas diambil jumlahnya berapa....
walau gak bisa disamain, tapi liat deh Garuda, tiket mahal, tapi pelayanan sangat memuaskan, penumpang puas. emang PT KA sekarang ada peningkatan, tapi belom cukup. contoh paling jelas sekarang KRL gak berenti di stasiun keberangkatan KA jarak jauh kec senen, itupun yang dari bekasi.
Selamat malam, Kang big bro... Menarik sekali dgn ulasan & pendapat sampeyan. Cuma ada yg ingin saya tanyakan nich... Kalo ada pengusaha PO bis komersial (Eksekutif, SE atau VIP), misal rute JKT (Rawamangun) ke Semarang kalo lewat jln tol Rawamangun - Cikampek, Palimanan - Pejagan & (mungkin) tol Semarang itu biaya akses jalan tolnya itu dibebankan ke penumpang atau pengusaha PO tsb malah mencari iklan buat nutup biaya akses tol tsb ya....?
Kalo menurut saya, koq saya nggak yakin (banget) kalo Dirut operator KA nggak bs ngitung cost dgn baik. Pengalaman di dunia perbankan pasti bs menentukan usaha ini profit apa nggak. Andai saja Dirut operator KA ini mencoba menawarkan tarif KA yg terjangkau agar penumpang KA meningkat dgn jalan nyari iklan atau sewa lahan, paling2 jawaban dia, "Lha..., koq enak....?" 
Ya namanya PT pasti setiap usaha mesti mendatangkan untung, nyari iklan harus untung, sewa lahan / space harus untung, bisnis jasa transportasi jg harus untung.
Seperti yg sampeyan tulis di atas, inti permasalahannya itu pelayanan. Saya sependapat, hanya saja di dunia kereta api soal pelayanan ini nggak cuma pelayanan di atas sarana (di dlm kereta api) tp jg mencakup pelayanan prasarana (kondisi track / lintas). Akan sangat berbeda bila dibandingkan dgn bis, karena biaya operasional sdh jelas baik operasional sarana (BBM, perawatan kendaraan dll) & operasional prasarana (tarif jalan tol sdh terpampang di pintu gerbang, driver tinggal bayar sj). Sedangkan di kereta api, kalo kita merunut ke pedoman pentarifan yg dikeluarkan Kemenhub (PM No 28 Tahun 2012) bahwa penentuan tarif secara garis besar terdiri dari komponen biaya operasional & keuntungan. Biaya operasional itu sendiri terdiri dari biaya operasional sarana & sewa prasarana (TAC). Nah, di sini inti permasalahan mulai muncul. Mekanisme IMO & TAC ini yg masih blm berjalan dgn baik. Saya pikir RF (pd umumnya) luput dlm memperhatikan & memahami apa itu IMO (biaya pemeliharaan prasarana) & TAC (sewa prasarana), tp malah lbh sering diskusi soalan PSO utk K3.
Kalo yg saya amati, operator KA itu pingin menjalankan sistem seperti yg tertulis dlm UU No. 23 Tahun 2007 yaitu ada dana IMO dari Pemerintah & operator KA siap membayar TAC ke Pemerintah. Jd kasarnya, ada IMO ada TAC, kalo nggak ada IMO ya buat apa bayar TAC. Hanya sj, jalan rel beda dgn jalan aspal / jalan beton. Kalo jln rel nggak dirawat, rel goyang, ballast sdh nggak padat justru akan membahayakan perka dan malah bukan meningkatkan pelayanan. Kalo menurut versi operator KA, dlm 4 tahun ini dana IMO nggak kunjung cair dari Pemerintah. Lha bagaimana caranya operator KA bs mendapatkan dana IMO...? Feeling saya ya dari pinjaman Bank. Apa ya mungkin nyari iklan & sewa lahan bs nguber 1.5T....? Kalo sdh pinjam uang dari Bank pasti akan kena bunga, akhirnya biaya pengembalian pinjaman & bunga ini yg harus ditanggung oleh pengguna jasa transportasi KA (KA Barang & Penumpang). So, seperti yg kita lihat sekarang harga tiket KA Penumpang sdh tdk "merakyat" lg kan...? Oh ya, kalo ada yg pernah membaca operator KA nggak butuh dana IMO tolong disharing di sini ya... 
Nah, kembali ke soalan kenapa operator KA nggak nyoba ngejar iklan atau sewa lahan sebanyak2nya agar harga tiket bs terjangkau / murah...? Feeling saya, ini bagian dari skenario "mancing teri dapat kakap". Operator KA lbh memilih kehilangan penumpang dgn membuat mahal harga tiket (krn sdh ditumpangi dgn biaya perawatan infrastruktur) tapi bs mengedukasi para calon penumpang utk bs menikmati moda transportasi yg lain. Pada saat weekday KA Penumpang banyak yg kosong itu bukan masalah buat operator KA, apalg BBM lokomotifnya sdh tdk disubsidi jd nggak membebani Pemerintah, tinggal dihitung sj secara cermat utk menutup kerugian2 tsb di hari yg lain. Tapi berbeda dgn alat2 transportasi di darat lain, bukankah masih bergantung pada BBM yg disubsidi ya...? Cara edukasi operator KA ke Pemerintah ya seperti ini, kalo masih sanggup bayari BBM yg mereka konsumsi ya silakan.... Moment long weekend & Lebaran jd sasaran, kalo udah macet kan duit dari APBN cuma jd asap. 
Sebetulnya inti permasalahannya itu sepele (menurut saya), operator KA cuma butuh IMO (tahun 2013) sekitar 1.7T (CMIIW). Pdhal nilai tsb sangat kecil dibanding subsidi utk BBM, ya tinggal perhatian Pemerintah saja ke kereta api utk jd backbone perekonomian di negeri ini.
Kalo dibanding dgn Garuda jelas blm fair, disaat PT Kereta Api (Persero) sdg "berdarah2" PT Garuda Indonesia sdh mulai restrukturisasi di bawah kepemimpinan Emir Satar dan hasilnya semakin membaik, dan di periode ke 2 Emir Satar dipasang kembali oleh Menteri BUMN. Lha kalo nanti kondisi PT. Kereta Api Indonesia (Persero) semakin membaik & Jonan dipasang kembali di Februari 2014 apa nggak makin banyak RF yg depresi & teriak2 dgn kebijakannya... 
Terima kasih.
[/spoiler]
hmm kalo boleh saya simpulkan berarti biaya operasional kereta api ini sangat mahal ya sehingga belum mampu ditanggung sendirian oleh PT. Kereta Api Indonesia (Persero) dan perlu bantuan dari pemerintah dalam bentuk IMO? oya untuk BBM subsidi itu bukannya PT. Kereta Api Indonesia (Persero) dapat alokasi juga ya? thanks
Sepengetahuan saya, BBM untuk PT Sepur ini make BBM Industri, yang tidak disubsidi
Posts: 499
Threads: 0
Joined: Aug 2012
Reputation:
3
(03-04-2013, 03:02 PM)Anugrah Bima Wrote: (03-04-2013, 08:46 AM)eri4nto Wrote: hmm kalo boleh saya simpulkan berarti biaya operasional kereta api ini sangat mahal ya sehingga belum mampu ditanggung sendirian oleh PT. Kereta Api Indonesia (Persero) dan perlu bantuan dari pemerintah dalam bentuk IMO? oya untuk BBM subsidi itu bukannya PT. Kereta Api Indonesia (Persero) dapat alokasi juga ya? thanks
Sepengetahuan saya, BBM untuk PT Sepur ini make BBM Industri, yang tidak disubsidi
BBM untuk kereta penumpang tidak disubsidi. Tapi kalau BBM untuk kereta barang dapat subsidi.
Posts: 406
Threads: 0
Joined: Nov 2008
Reputation:
3
(03-04-2013, 04:12 PM)zmidth Wrote: (03-04-2013, 03:02 PM)Anugrah Bima Wrote: (03-04-2013, 08:46 AM)eri4nto Wrote: hmm kalo boleh saya simpulkan berarti biaya operasional kereta api ini sangat mahal ya sehingga belum mampu ditanggung sendirian oleh PT. Kereta Api Indonesia (Persero) dan perlu bantuan dari pemerintah dalam bentuk IMO? oya untuk BBM subsidi itu bukannya PT. Kereta Api Indonesia (Persero) dapat alokasi juga ya? thanks
Sepengetahuan saya, BBM untuk PT Sepur ini make BBM Industri, yang tidak disubsidi
BBM untuk kereta penumpang tidak disubsidi. Tapi kalau BBM untuk kereta barang dapat subsidi.
Nah, sadar atau ngga, lama kelamaan kereta barang akan melebihi populasinya ka penumpang. Semoga aja keuntungan dari KA barang bisa dijadikan subsidi tiket ka penumpang.
Posts: 426
Threads: 0
Joined: Aug 2012
Reputation:
5
(03-04-2013, 08:46 AM)eri4nto Wrote: hmm kalo boleh saya simpulkan berarti biaya operasional kereta api ini sangat mahal ya sehingga belum mampu ditanggung sendirian oleh PT. Kereta Api Indonesia (Persero) dan perlu bantuan dari pemerintah dalam bentuk IMO? oya untuk BBM subsidi itu bukannya PT. Kereta Api Indonesia (Persero) dapat alokasi juga ya? thanks
Selamat malam, Kang...
Terima kasih sdh merespon postingan saya. Betul, biaya operasional KA itu sangat mahal & benar adanya kalo ada teman2 sampeyan bilang di negara manapun (baik maju atau berkembang) tarif KA itu disubsidi. Nah, kalo saya sedikit kembangkan subsidi itu bs di tiketnya (misal kyk PSO utk K3) atau di biaya operasional prasarananya (IMO yg tdk impas2an dgn TAC). Saya rasa IMO itu bukan bantuan Pemerintah tapi bentuk tanggung jawab Pemerintah thdp aset2 yg dimilikinya dan menurut saya dana IMO itu jg bs dibilang kewajiban pelayanan umum (public service obligation / PSO), bukan utk segmen K3 saja tp malah utk semua segmen (K1 & K2). Logikanya, kalo ada IMO berarti kualitas jalan bagus, rakyat (pengguna jasa KA) jg menikmati kualitas jalan tsb & otomatis roda perekonomian akan terus berputar. Sama halnya kyk jalan Negara di Pantura sana, setiap tahun pasti ada perbaikan & perawatan. Duitnya dr mana...? Dari APBN, lha sumber pendapatan salah satunya dari PAJAK kan...?
Nah, kalo IMO diminta impas2an dgn TAC koq rasa2nya operator KA kyk dipalak sama Pemerintah ya...? Gambarannya kyk gini, operator KA jualan jasa dlm 1 tahun, memperoleh pendapatan otomatis kena PAJAK. Pendapatan dikurangi biaya operasional ada untung, sewaktu2 Pemerintah bs minta DEVIDEN. Eh, masih minta impas2an antara IMO & TAC.
Kalo diumpamakan dlm angka :
IMO = 1,7 T , Pajak dari operator KA yg disetorkan ke Negara (misal) = 800 M, deviden (misal) = 100 M dan TAC = IMO = 1,7 T jd total biaya yg disetor ke Pemerintah : 800 M + 100 M + 1,7 T = 2,6 T ( besar bener....?  )
Tolong dikoreksi kalo gambaran saya malah keliru. Ya cuma ini pemikiran saya saja, udah bayar pajak ya sdh sewajarnya menanyakan bentuk dari pajak itu apa...? Operator KA jg bertanya, udah bayar pajak lha bentuk nyata dari pajaknya itu apa...? Minta IMO, nggak dikasih... nggak dianggarkan di ABPN 2013, malah udah ketok palu. Giliran operator KA menggugat lewat rakyat dgn usaha menghapus K3 & KL3 yg disubsidi, wakil rakyat marah2 trus nglurug ke BD. Sampai di BD, Dirut operator KA cukup buka "kartu" ajah...
Utk soal BBM bersubsidi, PT. Kereta Api Indonesia (Persero) jg mendapat jatah BBM bersubsidi tp ada quotanya & diperuntukkan utk KA Barang. Apalg operator KA sedang giat membangun bisnis KA Barang, terutama Divre 3 dgn KA Babaranjangnya otomatis jatah tsb tersedot ke KA tsb. Lha kalo KA Barang di Pulau Jawa gimana...? Kalo jatahnya sdh habis ya otomatis menggunakan BBM non subsidi seperti KA Penumpang. Yg pernah saya dengar, pembukuan utk konsumsi BBM dibuat terpisah antara KA Barang dgn KA Penumpang.
(03-04-2013, 09:46 PM)Anugrah Bima Wrote: Nah, sadar atau ngga, lama kelamaan kereta barang akan melebihi populasinya ka penumpang. Semoga aja keuntungan dari KA barang bisa dijadikan subsidi tiket ka penumpang.
Harapan saya seperti itu, Kang. Saya pikir Dirut operator KA jg akan berpikir seperti itu. Masa sich nggak sedih kalo di saat weekdays KA Penumpang Komersial (K1, K2 & K3AC) banyak yg kosong....? Percaya nggak percaya, kalo TAC yg dibebankan penumpang ABA itu sekitar 80rb - 100rb/penumpang sekali jalan...? Masih bernilai kan uang sebanyak itu...? Makanya, nggak bs dipungkiri kalo penumpangnya satu per satu terpental.
Terima kasih.
Posts: 833
Threads: 0
Joined: Oct 2009
Reputation:
12
(04-04-2013, 12:17 AM)Logawa_ATB Wrote: [spoiler]
Selamat malam, Kang...
Terima kasih sdh merespon postingan saya. Betul, biaya operasional KA itu sangat mahal & benar adanya kalo ada teman2 sampeyan bilang di negara manapun (baik maju atau berkembang) tarif KA itu disubsidi. Nah, kalo saya sedikit kembangkan subsidi itu bs di tiketnya (misal kyk PSO utk K3) atau di biaya operasional prasarananya (IMO yg tdk impas2an dgn TAC). Saya rasa IMO itu bukan bantuan Pemerintah tapi bentuk tanggung jawab Pemerintah thdp aset2 yg dimilikinya dan menurut saya dana IMO itu jg bs dibilang kewajiban pelayanan umum (public service obligation / PSO), bukan utk segmen K3 saja tp malah utk semua segmen (K1 & K2). Logikanya, kalo ada IMO berarti kualitas jalan bagus, rakyat (pengguna jasa KA) jg menikmati kualitas jalan tsb & otomatis roda perekonomian akan terus berputar. Sama halnya kyk jalan Negara di Pantura sana, setiap tahun pasti ada perbaikan & perawatan. Duitnya dr mana...? Dari APBN, lha sumber pendapatan salah satunya dari PAJAK kan...?
Nah, kalo IMO diminta impas2an dgn TAC koq rasa2nya operator KA kyk dipalak sama Pemerintah ya...? Gambarannya kyk gini, operator KA jualan jasa dlm 1 tahun, memperoleh pendapatan otomatis kena PAJAK. Pendapatan dikurangi biaya operasional ada untung, sewaktu2 Pemerintah bs minta DEVIDEN. Eh, masih minta impas2an antara IMO & TAC.
Kalo diumpamakan dlm angka :
IMO = 1,7 T , Pajak dari operator KA yg disetorkan ke Negara (misal) = 800 M, deviden (misal) = 100 M dan TAC = IMO = 1,7 T jd total biaya yg disetor ke Pemerintah : 800 M + 100 M + 1,7 T = 2,6 T ( besar bener....? )
Tolong dikoreksi kalo gambaran saya malah keliru. Ya cuma ini pemikiran saya saja, udah bayar pajak ya sdh sewajarnya menanyakan bentuk dari pajak itu apa...? Operator KA jg bertanya, udah bayar pajak lha bentuk nyata dari pajaknya itu apa...? Minta IMO, nggak dikasih... nggak dianggarkan di ABPN 2013, malah udah ketok palu. Giliran operator KA menggugat lewat rakyat dgn usaha menghapus K3 & KL3 yg disubsidi, wakil rakyat marah2 trus nglurug ke BD. Sampai di BD, Dirut operator KA cukup buka "kartu" ajah... 
Utk soal BBM bersubsidi, PT. Kereta Api Indonesia (Persero) jg mendapat jatah BBM bersubsidi tp ada quotanya & diperuntukkan utk KA Barang. Apalg operator KA sedang giat membangun bisnis KA Barang, terutama Divre 3 dgn KA Babaranjangnya otomatis jatah tsb tersedot ke KA tsb. Lha kalo KA Barang di Pulau Jawa gimana...? Kalo jatahnya sdh habis ya otomatis menggunakan BBM non subsidi seperti KA Penumpang. Yg pernah saya dengar, pembukuan utk konsumsi BBM dibuat terpisah antara KA Barang dgn KA Penumpang.
Terima kasih.
[/spoiler]
hmmm kalau pajak memang konsepnya beda sama jual beli jasa/barang mas, manfaat pajak tidak secara langsung diterima oleh pembayar pajak dalam bentuk yang dikehendaki dan sifatnya sangat makro karena pajak yang dkumpulkan kan dibelanjakan dalam APBN untuk mencapai kondisi perekonomian yang baik. dengan perekonomian yang baik maka PT. Kereta Api Indonesia (Persero) akan menikmati manfaat misalnya makin banyak orang naik kereta api, makin banyak perusahaan nyewa gerbong buat angkut barang, mau usaha ini dan itu makin mudah karena infrastruktur mendukung dll..
nah kalo TAC ini sama kayak jual beli barang/jasa. tadinya saya berpikir simpel aja kayak analogi orang tua minjemin anak sebuah mikrolet untuk diusahakan oleh si anak, sang anak gak perlu bayar sewa ke orang tua dan sebagai gantinya sang anak harus merawat sendiri mikrolet tersebut. jadi skemanya sebenarnya fair. makanya saya anggap wajar aja kalau pemerintah menginginkan skema IMO=TAC. namun rupanya memang untuk perawatan prasarana kereta api ini memerlukan biaya yang sangat mahal seperti yang mas logawaATB katakan, karena prasarana kereta api menyangkut kepentingan yang luas tidak sekedar yang terkait dengan PT. Kereta Api Indonesia (Persero) saja (karyawan dan penumpang ka) namun juga menyangkut penduduk yang tinggal di sekitar prasarana ka, pengguna jalan raya yang melintasi rel, dsb. dengan demikian memang seharusnya pengelolaan prasarana kereta api itu menjadi tanggungan pemerintah sepenuhnya melalui skema IMO.
KA Sumber Kentjono
Posts: 67
Threads: 0
Joined: Feb 2013
Reputation:
0
yang pasti kebijakan ignatius saat ini menggembirakan pengusaha otobus tapi membuat hati panas pengusaha angkutan barang
Posts: 995
Threads: 0
Joined: Mar 2009
Reputation:
14
Barusan liat forum bisnis metro tv.
Ada PT. Kereta Api Indonesia (Persero), Kemenhub, ESDM, MTI, DEN, DPR, KEN, dll.
Bahas subsidi utk transportasi massal di samping subsidi BBM.
Pada intinya mereka sepakat utk benar2 memperhatikan transportasi massal dan infrastrukturnya dg memberikannya subsidi. Bahkan td dijelaskan bahwa KA eksa bisnis ekonomi dapet subsidi semua. KA perkotaan jg demikian.
Harga BBM pun sepakat utk dinaikkan karena tdk tepat sasaran.
Yah tapi itu td forum yg tdk resmi. Semoga kesepakatan tsb beneran terealisasi
Posts: 13
Threads: 0
Joined: Feb 2013
Reputation:
0
(04-04-2013, 11:32 PM)warsito Wrote: yang pasti kebijakan ignatius saat ini menggembirakan pengusaha otobus tapi membuat hati panas pengusaha angkutan barang
menggembirakann buat otobus , menyengsarakan masyaakat kang. liburan kmrn aja, purwokerto-jogja smpe 7 jam. gbs ngebayangin klo lebaran.
semoga bisa cepat dsubsidi ini kereta.
Posts: 6
Threads: 0
Joined: Jan 2013
Reputation:
0
"Selamat tinggal kereta api, bukan aku yang tidak mau menaikimu, tetapi kamu yang berlari terlalu cepat sehingga kami tidak dapat lagi menjangkaumu... "
|