09-05-2012, 10:14 PM
untuk assumptie anda yang orang gendut, papan putus, apa gak jadi putus kalau umpamanya itu bukan orang tapi diganti keledai kaki 4 dengan berat total sama? Tetep papan patah meskipun tekanan kaki telah turun separoh.
|
HP vs TE (Alasan CC205 lebih berat dan Indonesia tidak beli loko HP besar)
|
|
09-05-2012, 10:14 PM
untuk assumptie anda yang orang gendut, papan putus, apa gak jadi putus kalau umpamanya itu bukan orang tapi diganti keledai kaki 4 dengan berat total sama? Tetep papan patah meskipun tekanan kaki telah turun separoh.
09-05-2012, 10:17 PM
(09-05-2012, 10:14 PM)antonius_123 Wrote: untuk assumptie anda yang orang gendut, papan putus, apa gak jadi putus kalau umpamanya itu bukan orang tapi diganti keledai kaki 4 dengan berat total sama? Tetep papan patah meskipun tekanan kaki telah turun separoh. Mungkin patah, mungkin ndk. Nek alon-alon mungkin enggak. Tetapi nek banter mungkin patah... Om, sori yo. Ta' tinggal istirohat dulu. Besok dilanjutno.
Irwan Joe
09-05-2012, 10:21 PM
(This post was last modified: 09-05-2012, 10:23 PM by antonius_123.)
yang semulanya cuman sekitar 1cm sudah jadi 2x20cm. Beban titik kan hanya untuk menentukan kekerasan rel ato rasuk dititik sentuh itu dan tidak ada hubungan dengan tebal rasuk. Tebal Rasuk menentukan kekuatan rasuk dan harus kuat menahan berat total bukan tekanan gandar.
yo ngaso mik.
03-07-2012, 05:34 PM
penjelasan HP versi ane :
Motor ninja (30hp) vs Thunder 250 (19hp) coba tes di 4000rpm tarik2an pake tali (disini abaikan ban selip) menang mana? menang thunder 250, meskipun hpnya lebih kecil, tapi torsi lebih besar... Q: cobanya di 12000rpm... pasti kalah tuh thunder.. bener gak? A: betul.. tapi lihat disini konsumsi bbmnya kantong kering disini juga untuk menentukan lok bukan dari dayanya saja tapi dari berat loko dan jumlah gandar 1. berat loko mempengaruhi, kalo terlalu ringan selip, terlalu berat tek gandar g kuat 2. daya mempengaruhi, kalo kecil mana kuat, diakalin gear.. tetep aja bawa barang lambat 3. jumlah gandar mempengaruhi, sedikit selip n memperbesar tek gandar, kebanyakan gandar susah belok jadi semua lok di indonesia udah diperhitungkan untuk mendatangkannya... Q: kenapa g beli loko dari eropa kan bla bla bla A: Indo udah kontrak ama GE, EMD ... lagipula kalo mendatangkan lok dari eropa, pikirin juga nanti spare partnya (09-05-2012, 10:21 PM)antonius_123 Wrote: yang semulanya cuman sekitar 1cm sudah jadi 2x20cm. Beban titik kan hanya untuk menentukan kekerasan rel ato rasuk dititik sentuh itu dan tidak ada hubungan dengan tebal rasuk. Tebal Rasuk menentukan kekuatan rasuk dan harus kuat menahan berat total bukan tekanan gandar.berat total g cuma di topang oleh rel, berat total kan di topang juga oleh bantalan, kricak dan tanah sekitar... masa berat seluruh rangkaian di satuin di satu tempat. ![]() sori kalo salah... ehehe
Senangnya kulihat para petani melepas lelah dan berhenti sejenak untuk melihat Kereta Api melewati ladang mereka.....
06-07-2012, 12:09 AM
Jadi kalo mau bikin loko yang bisa narik lebih dari 12 kereta penumpang di jalur tanjakan maka lok tersebut harus didesain dengan HP lebih besar namun TE juga ditingkatkan. Jika menggunakan konfigurasi CC maka beban lok bisa dibuat 90 ton dengan daya pada motor sekitar 2250 HP.
Loco Project Designer for better Indonesian Railways
![]()
08-07-2012, 12:50 PM
(06-07-2012, 12:09 AM)antimon40 Wrote: Jadi kalo mau bikin loko yang bisa narik lebih dari 12 kereta penumpang di jalur tanjakan maka lok tersebut harus didesain dengan HP lebih besar namun TE juga ditingkatkan. Jika menggunakan konfigurasi CC maka beban lok bisa dibuat 90 ton dengan daya pada motor sekitar 2250 HP. kalau buat jalur gigi Divre II, bisa gak dibikin loko adhesi yg kuat ngelewati tanjakan dengan kecepatan agak normal, sekitar 30km/h?
visit my blog
Obsesi: Menghapuskan 'Api' dari 'Kereta Api' ![]() RF kikansha_otaku, telah menjadi warga Semboyan35, Indonesian Railfans sejak Sep 2010.
12-07-2012, 05:37 PM
bisa, di Swiss banyak, tanjakan 10% lebih, kecepatan 25kmh, ada yang pakai lok dan ada juga semacam krle.
Tapi semua pakai gigi, tidak bisa adhesi. Malah yang curam sekali, giginya bukan tegak, tapi tidur supaya tidak loncat. Rel giginya datar terus dikiri dan kanannya bergigi, bukan sebelah atas. Trus di keretanya roda giginya 2 mengapit rel jadi meskipun curam tidak bisa loncat.
12-07-2012, 09:51 PM
(12-07-2012, 05:37 PM)antonius_123 Wrote: bisa, di Swiss banyak, tanjakan 10% lebih, kecepatan 25kmh, ada yang pakai lok dan ada juga semacam krle. ada gambarnya atau fotonya gak Om..biar bisa bayangin gitu lho..
Thomas, James, Percy, Gordon, Emily, Henry, Edward, Toby
13-07-2012, 06:23 AM
(12-07-2012, 09:51 PM)MakSaa Wrote:(12-07-2012, 05:37 PM)antonius_123 Wrote: bisa, di Swiss banyak, tanjakan 10% lebih, kecepatan 25kmh, ada yang pakai lok dan ada juga semacam krle. dari wiki. sistem locher. maksimum grade hingga 50% (500 permil / 1:2) [img]//upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/a/ad/LocherRackSystem.jpg[/img] LocherRackSystem [GFDL (http://www.gnu.org/copyleft/fdl.html) or CC-BY-SA-3.0 (http://creativecommons.org/licenses/by-sa/3.0/)], by Softeis in Deutschen Museum, from Wikimedia Commons
"Train approaching! Please remain behind yellow line!"
14-07-2012, 05:20 PM
(This post was last modified: 14-07-2012, 05:26 PM by antonius_123.)
ya bener itu fotonya. Mau upload susah bener. Gambar keretanya ada di site Luar negeri, oleh2 dari Swiss, yang upload pak Parjono, keretanya merah, Pilatus bahn.
Di daerah gunung ada satu variatie lain yaitu cable car. Tidak pakai roda gigi tapi ditarik kabel seperti lift. Keretanya 2, satu naik satu turun. Mesinnya tidak dikereta tapi di setatiunnya. Trem kota di San Fransisco juga begitu. |
|
« Next Oldest | Next Newest »
|