Posts: 6
Threads: 0
Joined: Feb 2012
Reputation:
0
(13-02-2012, 08:31 AM)codinda31 Wrote: bantu jawab ya, saya sering pake sawunggalih tapi akhir2 ini lebih sering naik adiknya dan tidak berenti di bumiayu, langsung berenti di PWT.
thanks
owh, kirain berhenti.
soalnya kalo sawunggalih pagi yang dari arah selatan menuju jakarta, berhenti di stasiun bumiayu
thank infonya
Posts: 5
Threads: 0
Joined: Feb 2012
Reputation:
0
sawunggalih sekarang harga tiketnya berapa yah?
Posts: 12
Threads: 0
Joined: Feb 2012
Reputation:
0
(10-06-2008, 10:01 AM)kepala_stasion Wrote: ![[Image: ka-d.gif]](http://suarapembaca.detik.com/content_image/2008/06/09/283/ka-d.gif)
'Seperti dikutip dari suara pembaca detik.com'
Quote:Kepada Direksi PT Kereta Api Indonesia. Kekecewaan atas gerbong eksekutif kereta api sawunggalih.
Kejadian ini terjadi pada perjalanan Kebumen-Jakarta Minggu malam tanggal 8/9 juni 2008. Saya memilih gerbong eksekutif Kereta Api Sawunggalih dengan pertimbangan adalah suasana yang nyaman dan layanan yang lebih baik. Meskipun untuk itu saya harus mengganti harga tiket hampir dua kali lebih mahal daripada tiket kelas bisnis.
Harga tiket untuk gerbong eksekutif adalah sebesar Rp 130.000. Sedangkan harga tiket kelas bisnis adalah Rp 70.000. Cukup besar perbedaannya bukan?
Dengan harga sebesar itu saya berekspektasi akan mendapatkan kursi reclining seat yang nyaman, ruangan ber-AC, kursi yang lebih lega, toilet lebih bersih, dan tentunya ruang jalan yang kosong dari tiket berdiri sehingga lebih mudah untuk akses ke toilet. Dengan demikian saya akan lebih segar sekembalinya di Jakarta nanti karena langsung berangkat kerja.
Tapi apa yang saya dapatkan?
Kekecewaan saya yang pertama adalah kursi reclining yang tidak dapat ditegakan. Kursi tersebut sudah saya usahakan sesuai prosedur untuk ditegakkan yaitu memencet tombol untuk mengwmbalikan posisi sandaran. Dan, saya sempat minta tolong kepada awak kereta untuk membetulkan karena selain tidak nyaman juga mengganggu penumpang di belakang saya.
Si awak kereta hanya berusaha sedikit akan tetapi tetap tidak berhasil dan dengan ringannya menjawab, "maaf, Pak, kursinya rusak" tanpa ada usaha lain. Saya tetap meminta untuk dibetulkan. Akan tetapi dia tetap menjawab sudah rusak dan tidak bisa dibetulkan.
Kemudian akhirnya dengan diajar oleh Omm saya yang kebetulan pulang bareng kursi tersebut dapat ditegakkan. Hanya dengan menarik pengait di bawah kursi. Saya sungguh kecewa atas ketidakprofesionalan awak kereta yang dengan mudahnya bilang kursi rusak tanpa usaha lain apa pun. Padahal untuk membetulkan alangkah mudahnya bagi yang lebih tahu. Apakah awak kereta tidak diajari hal-hal semacam itu? Foto kursi saya lampirkan.
Kekecewaan kedua. Setelah melewati stasiun Purwokerto satu persatu ada penumpang yang masuk ke gerbong eksekutif meskipun kursi telah penuh. Mereka menggelar koran di sepanjang jalan gerbong. Whats? Kereta eksekutif ada tiket berdirinya?
Saya yang sudah dongkol dari awal perjalanan semakin jengkel saja. Hampir sepanjang jalan dalam gerbong penuh akan penumpang yang tidur menggelar koran. Sebagian besar penumpang adalah pemuda pria dengan potongan rambut cepak dengan postur yang gagah. Saya tidak menuduh itu adalah oknum TNI atau POLRI. Tapi, ada yang menggunakan jaket dengan tulisan Lantamal dan tas Marinir, serta sepatu PDL yang tinggi itu.
Akses ke toilet semakin susah. Bahkan Omm saya harus berusaha keras untuk ke toilet karena kaki beliau sedang terserang asam urat. Untuk melangkah yang lebar tinggi melangkahi orang-orang yang tidur di lantai akan sangat kesakitan.
Rasa jengkel semakin menjadi-jadi ketika sehabis Cirebon ada Bapak Kondektur yang terhormat membangunkan satu per satu penumpang tersebut dan menerima uang sekedar untuk membolehkan mereka menumpang di situ. Terakhir saya dengar bahwa awak kereta termasuk Kondektur kereta katanya ketakutan karena si penumpang gelap adalah oknum aparat. Tapi, kok masih mau menarik duit juga? Kalau memang takut kok berani-beraninya minta duit?
Dan karena jumlah penumpang yang mengisi gerbong eksekutif semakin banyak maka AC gerbong tidak mampu lagi mendinginkannya. Ruangan menjadi semakin pengap.
Dalam hal ini saya merasa dirugikan. Bahkan, seluruh penumpang dengan tiket resmi Rp 130.000 yang hampir dua kali lipat dengan harga tiket kelas bisnis. Pada waktu saya memotret ada beberapa orang juga yang memotret dengan menggunakan telepon genggam, dan ada yang mengacungkan jempol pada saya karena mungkin mengira saya wartawan dengan kamera DSLR.
Saya tidak habis pikir apakah pihak PT Kereta Api (Persero) tetap membiarkan oknum kondektur yang masih mepertahankan cara-cara lama untuk menambah pemasukannya. Padahal kondisi tersebut sangat merugikan penumpang yang menggunakan tiket resmi kelas eksekutif. Apalah bedanya kelas eksekutif dengan kelas bisnis? Dengan harga 2 kali lipat.
Mungkin saya akan bertoleransi apabila penumpang tanpa tiket tersebut ada dalam ruanga restorasi atau ruangan pembangkit yang memang merupakan ruangan milik awak kereta karena mungkin tidak setiap orang mempunyai rejeki yang cukup untuk melakukan perjalanan. Tapi ini ada di ruangan/gerbong eksekutif yang mengutamakan kenyamanan penumpang.
Dengan dikirimkan surat pembaca ini saya mengharapkan pihak kereta dapat memberikan kompensasi kepada penumpang yang menggunakan tiket resmi seperti saya yang sangat dirugikan akan adanya penumpang gelap di gerbong eksekutif. Apabila tidak bersedia PT KA (Persero) dapat melakukan evaluasi sehingga tidak diulang kembali di perjalanan selanjutnya.
Di samping itu terhadap kondektur-kondektur yang masih suka menaikkan penumpang gelap agar diberikan teguran atau bahkan peringatan. Oleh karena kelakuan dia dapat merugikan penumpang dan menambah jelek wajah pihak PT KA (Persero). Apabila ditenggarai awak kereta tidak berani menahan penumpang gelap karena penumpang tersebut adalah aparat TNI/Polri. Mungkin lebih baik yang melakukan operasi di kereta yang biasanya dilakukan oleh Polsuska diganti oleh Polisi Militer/PM.
Demikian surat ini saya buat dan saya harapkan PT KA (Persero) dapat segera menanggapinya. Terima kasih.
Fajar Karyanto
Kementerian Negara BUMN
Gedung Garuda
Jalan Merdeka Selatan Jakarta Pusat
<!-- e --><a href="mailto:fajar.karyanto@gmail.com">fajar.karyanto@gmail.com</a><!-- e -->
08159692902
mungkin sawunggalih harus dibikin kelas eksa mantap kali yaa  biar enak kan ni KA termasuk laris juga lohh
Posts: 2,439
Threads: 0
Joined: Jun 2011
Reputation:
62
(01-03-2012, 05:59 AM)candraep Wrote: (10-06-2008, 10:01 AM)kepala_stasion Wrote: ![[Image: ka-d.gif]](http://suarapembaca.detik.com/content_image/2008/06/09/283/ka-d.gif)
'Seperti dikutip dari suara pembaca detik.com'
Quote:Kepada Direksi PT Kereta Api Indonesia. Kekecewaan atas gerbong eksekutif kereta api sawunggalih.
Kejadian ini terjadi pada perjalanan Kebumen-Jakarta Minggu malam tanggal 8/9 juni 2008. Saya memilih gerbong eksekutif Kereta Api Sawunggalih dengan pertimbangan adalah suasana yang nyaman dan layanan yang lebih baik. Meskipun untuk itu saya harus mengganti harga tiket hampir dua kali lebih mahal daripada tiket kelas bisnis.
Harga tiket untuk gerbong eksekutif adalah sebesar Rp 130.000. Sedangkan harga tiket kelas bisnis adalah Rp 70.000. Cukup besar perbedaannya bukan?
Dengan harga sebesar itu saya berekspektasi akan mendapatkan kursi reclining seat yang nyaman, ruangan ber-AC, kursi yang lebih lega, toilet lebih bersih, dan tentunya ruang jalan yang kosong dari tiket berdiri sehingga lebih mudah untuk akses ke toilet. Dengan demikian saya akan lebih segar sekembalinya di Jakarta nanti karena langsung berangkat kerja.
Tapi apa yang saya dapatkan?
Kekecewaan saya yang pertama adalah kursi reclining yang tidak dapat ditegakan. Kursi tersebut sudah saya usahakan sesuai prosedur untuk ditegakkan yaitu memencet tombol untuk mengwmbalikan posisi sandaran. Dan, saya sempat minta tolong kepada awak kereta untuk membetulkan karena selain tidak nyaman juga mengganggu penumpang di belakang saya.
Si awak kereta hanya berusaha sedikit akan tetapi tetap tidak berhasil dan dengan ringannya menjawab, "maaf, Pak, kursinya rusak" tanpa ada usaha lain. Saya tetap meminta untuk dibetulkan. Akan tetapi dia tetap menjawab sudah rusak dan tidak bisa dibetulkan.
Kemudian akhirnya dengan diajar oleh Omm saya yang kebetulan pulang bareng kursi tersebut dapat ditegakkan. Hanya dengan menarik pengait di bawah kursi. Saya sungguh kecewa atas ketidakprofesionalan awak kereta yang dengan mudahnya bilang kursi rusak tanpa usaha lain apa pun. Padahal untuk membetulkan alangkah mudahnya bagi yang lebih tahu. Apakah awak kereta tidak diajari hal-hal semacam itu? Foto kursi saya lampirkan.
Kekecewaan kedua. Setelah melewati stasiun Purwokerto satu persatu ada penumpang yang masuk ke gerbong eksekutif meskipun kursi telah penuh. Mereka menggelar koran di sepanjang jalan gerbong. Whats? Kereta eksekutif ada tiket berdirinya?
Saya yang sudah dongkol dari awal perjalanan semakin jengkel saja. Hampir sepanjang jalan dalam gerbong penuh akan penumpang yang tidur menggelar koran. Sebagian besar penumpang adalah pemuda pria dengan potongan rambut cepak dengan postur yang gagah. Saya tidak menuduh itu adalah oknum TNI atau POLRI. Tapi, ada yang menggunakan jaket dengan tulisan Lantamal dan tas Marinir, serta sepatu PDL yang tinggi itu.
Akses ke toilet semakin susah. Bahkan Omm saya harus berusaha keras untuk ke toilet karena kaki beliau sedang terserang asam urat. Untuk melangkah yang lebar tinggi melangkahi orang-orang yang tidur di lantai akan sangat kesakitan.
Rasa jengkel semakin menjadi-jadi ketika sehabis Cirebon ada Bapak Kondektur yang terhormat membangunkan satu per satu penumpang tersebut dan menerima uang sekedar untuk membolehkan mereka menumpang di situ. Terakhir saya dengar bahwa awak kereta termasuk Kondektur kereta katanya ketakutan karena si penumpang gelap adalah oknum aparat. Tapi, kok masih mau menarik duit juga? Kalau memang takut kok berani-beraninya minta duit?
Dan karena jumlah penumpang yang mengisi gerbong eksekutif semakin banyak maka AC gerbong tidak mampu lagi mendinginkannya. Ruangan menjadi semakin pengap.
Dalam hal ini saya merasa dirugikan. Bahkan, seluruh penumpang dengan tiket resmi Rp 130.000 yang hampir dua kali lipat dengan harga tiket kelas bisnis. Pada waktu saya memotret ada beberapa orang juga yang memotret dengan menggunakan telepon genggam, dan ada yang mengacungkan jempol pada saya karena mungkin mengira saya wartawan dengan kamera DSLR.
Saya tidak habis pikir apakah pihak PT Kereta Api (Persero) tetap membiarkan oknum kondektur yang masih mepertahankan cara-cara lama untuk menambah pemasukannya. Padahal kondisi tersebut sangat merugikan penumpang yang menggunakan tiket resmi kelas eksekutif. Apalah bedanya kelas eksekutif dengan kelas bisnis? Dengan harga 2 kali lipat.
Mungkin saya akan bertoleransi apabila penumpang tanpa tiket tersebut ada dalam ruanga restorasi atau ruangan pembangkit yang memang merupakan ruangan milik awak kereta karena mungkin tidak setiap orang mempunyai rejeki yang cukup untuk melakukan perjalanan. Tapi ini ada di ruangan/gerbong eksekutif yang mengutamakan kenyamanan penumpang.
Dengan dikirimkan surat pembaca ini saya mengharapkan pihak kereta dapat memberikan kompensasi kepada penumpang yang menggunakan tiket resmi seperti saya yang sangat dirugikan akan adanya penumpang gelap di gerbong eksekutif. Apabila tidak bersedia PT KA (Persero) dapat melakukan evaluasi sehingga tidak diulang kembali di perjalanan selanjutnya.
Di samping itu terhadap kondektur-kondektur yang masih suka menaikkan penumpang gelap agar diberikan teguran atau bahkan peringatan. Oleh karena kelakuan dia dapat merugikan penumpang dan menambah jelek wajah pihak PT KA (Persero). Apabila ditenggarai awak kereta tidak berani menahan penumpang gelap karena penumpang tersebut adalah aparat TNI/Polri. Mungkin lebih baik yang melakukan operasi di kereta yang biasanya dilakukan oleh Polsuska diganti oleh Polisi Militer/PM.
Demikian surat ini saya buat dan saya harapkan PT KA (Persero) dapat segera menanggapinya. Terima kasih.
Fajar Karyanto
Kementerian Negara BUMN
Gedung Garuda
Jalan Merdeka Selatan Jakarta Pusat
<!-- e --><a href="mailto:fajar.karyanto@gmail.com">fajar.karyanto@gmail.com</a><!-- e -->
08159692902
mungkin sawunggalih harus dibikin kelas eksa mantap kali yaa biar enak kan ni KA termasuk laris juga lohh
Yang dibold = Kurang jelas om, maksudnya mau dijadikan Eksa semua atau cuma tambahan ? Kalau Tambahan sih udah ada.
Tapi kalau mau dijadikan eksa semua kayaknya susah.
Posts: 12
Threads: 0
Joined: Feb 2012
Reputation:
0
(01-03-2012, 03:26 PM)CC203 35 Wrote: (01-03-2012, 05:59 AM)candraep Wrote: (10-06-2008, 10:01 AM)kepala_stasion Wrote: ![[Image: ka-d.gif]](http://suarapembaca.detik.com/content_image/2008/06/09/283/ka-d.gif)
'Seperti dikutip dari suara pembaca detik.com'
Quote:Kepada Direksi PT Kereta Api Indonesia. Kekecewaan atas gerbong eksekutif kereta api sawunggalih.
Kejadian ini terjadi pada perjalanan Kebumen-Jakarta Minggu malam tanggal 8/9 juni 2008. Saya memilih gerbong eksekutif Kereta Api Sawunggalih dengan pertimbangan adalah suasana yang nyaman dan layanan yang lebih baik. Meskipun untuk itu saya harus mengganti harga tiket hampir dua kali lebih mahal daripada tiket kelas bisnis.
Harga tiket untuk gerbong eksekutif adalah sebesar Rp 130.000. Sedangkan harga tiket kelas bisnis adalah Rp 70.000. Cukup besar perbedaannya bukan?
Dengan harga sebesar itu saya berekspektasi akan mendapatkan kursi reclining seat yang nyaman, ruangan ber-AC, kursi yang lebih lega, toilet lebih bersih, dan tentunya ruang jalan yang kosong dari tiket berdiri sehingga lebih mudah untuk akses ke toilet. Dengan demikian saya akan lebih segar sekembalinya di Jakarta nanti karena langsung berangkat kerja.
Tapi apa yang saya dapatkan?
Kekecewaan saya yang pertama adalah kursi reclining yang tidak dapat ditegakan. Kursi tersebut sudah saya usahakan sesuai prosedur untuk ditegakkan yaitu memencet tombol untuk mengwmbalikan posisi sandaran. Dan, saya sempat minta tolong kepada awak kereta untuk membetulkan karena selain tidak nyaman juga mengganggu penumpang di belakang saya.
Si awak kereta hanya berusaha sedikit akan tetapi tetap tidak berhasil dan dengan ringannya menjawab, "maaf, Pak, kursinya rusak" tanpa ada usaha lain. Saya tetap meminta untuk dibetulkan. Akan tetapi dia tetap menjawab sudah rusak dan tidak bisa dibetulkan.
Kemudian akhirnya dengan diajar oleh Omm saya yang kebetulan pulang bareng kursi tersebut dapat ditegakkan. Hanya dengan menarik pengait di bawah kursi. Saya sungguh kecewa atas ketidakprofesionalan awak kereta yang dengan mudahnya bilang kursi rusak tanpa usaha lain apa pun. Padahal untuk membetulkan alangkah mudahnya bagi yang lebih tahu. Apakah awak kereta tidak diajari hal-hal semacam itu? Foto kursi saya lampirkan.
Kekecewaan kedua. Setelah melewati stasiun Purwokerto satu persatu ada penumpang yang masuk ke gerbong eksekutif meskipun kursi telah penuh. Mereka menggelar koran di sepanjang jalan gerbong. Whats? Kereta eksekutif ada tiket berdirinya?
Saya yang sudah dongkol dari awal perjalanan semakin jengkel saja. Hampir sepanjang jalan dalam gerbong penuh akan penumpang yang tidur menggelar koran. Sebagian besar penumpang adalah pemuda pria dengan potongan rambut cepak dengan postur yang gagah. Saya tidak menuduh itu adalah oknum TNI atau POLRI. Tapi, ada yang menggunakan jaket dengan tulisan Lantamal dan tas Marinir, serta sepatu PDL yang tinggi itu.
Akses ke toilet semakin susah. Bahkan Omm saya harus berusaha keras untuk ke toilet karena kaki beliau sedang terserang asam urat. Untuk melangkah yang lebar tinggi melangkahi orang-orang yang tidur di lantai akan sangat kesakitan.
Rasa jengkel semakin menjadi-jadi ketika sehabis Cirebon ada Bapak Kondektur yang terhormat membangunkan satu per satu penumpang tersebut dan menerima uang sekedar untuk membolehkan mereka menumpang di situ. Terakhir saya dengar bahwa awak kereta termasuk Kondektur kereta katanya ketakutan karena si penumpang gelap adalah oknum aparat. Tapi, kok masih mau menarik duit juga? Kalau memang takut kok berani-beraninya minta duit?
Dan karena jumlah penumpang yang mengisi gerbong eksekutif semakin banyak maka AC gerbong tidak mampu lagi mendinginkannya. Ruangan menjadi semakin pengap.
Dalam hal ini saya merasa dirugikan. Bahkan, seluruh penumpang dengan tiket resmi Rp 130.000 yang hampir dua kali lipat dengan harga tiket kelas bisnis. Pada waktu saya memotret ada beberapa orang juga yang memotret dengan menggunakan telepon genggam, dan ada yang mengacungkan jempol pada saya karena mungkin mengira saya wartawan dengan kamera DSLR.
Saya tidak habis pikir apakah pihak PT Kereta Api (Persero) tetap membiarkan oknum kondektur yang masih mepertahankan cara-cara lama untuk menambah pemasukannya. Padahal kondisi tersebut sangat merugikan penumpang yang menggunakan tiket resmi kelas eksekutif. Apalah bedanya kelas eksekutif dengan kelas bisnis? Dengan harga 2 kali lipat.
Mungkin saya akan bertoleransi apabila penumpang tanpa tiket tersebut ada dalam ruanga restorasi atau ruangan pembangkit yang memang merupakan ruangan milik awak kereta karena mungkin tidak setiap orang mempunyai rejeki yang cukup untuk melakukan perjalanan. Tapi ini ada di ruangan/gerbong eksekutif yang mengutamakan kenyamanan penumpang.
Dengan dikirimkan surat pembaca ini saya mengharapkan pihak kereta dapat memberikan kompensasi kepada penumpang yang menggunakan tiket resmi seperti saya yang sangat dirugikan akan adanya penumpang gelap di gerbong eksekutif. Apabila tidak bersedia PT KA (Persero) dapat melakukan evaluasi sehingga tidak diulang kembali di perjalanan selanjutnya.
Di samping itu terhadap kondektur-kondektur yang masih suka menaikkan penumpang gelap agar diberikan teguran atau bahkan peringatan. Oleh karena kelakuan dia dapat merugikan penumpang dan menambah jelek wajah pihak PT KA (Persero). Apabila ditenggarai awak kereta tidak berani menahan penumpang gelap karena penumpang tersebut adalah aparat TNI/Polri. Mungkin lebih baik yang melakukan operasi di kereta yang biasanya dilakukan oleh Polsuska diganti oleh Polisi Militer/PM.
Demikian surat ini saya buat dan saya harapkan PT KA (Persero) dapat segera menanggapinya. Terima kasih.
Fajar Karyanto
Kementerian Negara BUMN
Gedung Garuda
Jalan Merdeka Selatan Jakarta Pusat
<!-- e --><a href="mailto:fajar.karyanto@gmail.com">fajar.karyanto@gmail.com</a><!-- e -->
08159692902
mungkin sawunggalih harus dibikin kelas eksa mantap kali yaa biar enak kan ni KA termasuk laris juga lohh
Yang dibold = Kurang jelas om, maksudnya mau dijadikan Eksa semua atau cuma tambahan ? Kalau Tambahan sih udah ada.
Tapi kalau mau dijadikan eksa semua kayaknya susah.
iya maksud ane di tambahin gitu rangkaian eksa nya minimal 3 rangkaian eksa nya setiap ane mau naik itu KA kebagian bisnis terus
Posts: 3,962
Threads: 0
Joined: Feb 2010
Reputation:
47
(13-02-2012, 02:22 PM)deedeux Wrote: (13-02-2012, 08:31 AM)codinda31 Wrote: bantu jawab ya, saya sering pake sawunggalih tapi akhir2 ini lebih sering naik adiknya dan tidak berenti di bumiayu, langsung berenti di PWT.
thanks
owh, kirain berhenti.
soalnya kalo sawunggalih pagi yang dari arah selatan menuju jakarta, berhenti di stasiun bumiayu
thank infonya


jlas kalo tanya ticketing poasti dijawab ga brenti, mreka kan ngertinya dimana aja KA itu dijual ticketnya yg otomatis itu wilayah kerja mreka. yg tercantum di pamflet itu ga komplit 100% juga, ada KA yg dicantumin pemberhentian normal bersilangnya, ada juga yg ngga & ada brapa biji yg dicantumin ga bner juga brentinya.
yg jlas KA 104 nya (Ps Snen-Kutoarjo pagi) mank seharusnya brenti normal di Bumiayu (BMA) buat silangan sama KA 39 Taksaka pagi dari YK sbagai KA penutup, tapi berhubung KA 104nya sering ga menentu telatnya otomatis tempat persilangannya sering meleset (pindah) mustinya kalo emank tercantum si masi tetep musti berenti meskipun langsam yak (brenti brapa detik doank) tapi mungkin juga buat meminimalisir keterlambatan jadi DAOP V sbagai empunya KA itu ngasi ijo trus aja, sementara kalo KA 103 nya (kutoarjo-ps snen pagi) nya si emank brenti normal buat naek turun penumpang di BMA, soalnya menampung penumpang dari sana karna pagi ga ada purwojaya yg ngangkut penumpang BMA, dijual ticketnya disana secara langsung.
(01-03-2012, 10:41 PM)candraep Wrote: (01-03-2012, 03:26 PM)CC203 35 Wrote: (01-03-2012, 05:59 AM)candraep Wrote: mungkin sawunggalih harus dibikin kelas eksa mantap kali yaa biar enak kan ni KA termasuk laris juga lohh
Yang dibold = Kurang jelas om, maksudnya mau dijadikan Eksa semua atau cuma tambahan ? Kalau Tambahan sih udah ada.
Tapi kalau mau dijadikan eksa semua kayaknya susah.
iya maksud ane di tambahin gitu rangkaian eksa nya minimal 3 rangkaian eksa nya setiap ane mau naik itu KA kebagian bisnis terus 
kasus ini gw inget uda pernah gw baca di page sblomnya, coba dicari & disimak dulu
disitu gw uda cantumin juga pertimbangan resikonya juga terkait permintaan penumpang sawung masi bisa dibilang lebi banyak K2nya plus terkait jalannya yg berlawanan sama purwojaya.
orang DAOP V sana juga emank pada maunya dibuat exis dg perbandingan 50:50 buat K1 & K2nya, tp otomatis cuma bisa diterapin di 1 loop doank (KA 103 & 106) untuk memprioritasi si purwojaya sbagai KA bendera mreka & kondisi bgitu yg justru menjadi kendala membingungkan penumpang sana sendiri, sementara kondisi penyebaran K1 di jawa aja masi blom normal sama skli gara2 kasus si K9
Posts: 12
Threads: 0
Joined: Feb 2012
Reputation:
0
(03-03-2012, 05:36 PM)Andrew_CN Wrote: (13-02-2012, 02:22 PM)deedeux Wrote: (13-02-2012, 08:31 AM)codinda31 Wrote: bantu jawab ya, saya sering pake sawunggalih tapi akhir2 ini lebih sering naik adiknya dan tidak berenti di bumiayu, langsung berenti di PWT.
thanks
owh, kirain berhenti.
soalnya kalo sawunggalih pagi yang dari arah selatan menuju jakarta, berhenti di stasiun bumiayu
thank infonya


jlas kalo tanya ticketing poasti dijawab ga brenti, mreka kan ngertinya dimana aja KA itu dijual ticketnya yg otomatis itu wilayah kerja mreka. yg tercantum di pamflet itu ga komplit 100% juga, ada KA yg dicantumin pemberhentian normal bersilangnya, ada juga yg ngga & ada brapa biji yg dicantumin ga bner juga brentinya.
yg jlas KA 104 nya (Ps Snen-Kutoarjo pagi) mank seharusnya brenti normal di Bumiayu (BMA) buat silangan sama KA 39 Taksaka pagi dari YK sbagai KA penutup, tapi berhubung KA 104nya sering ga menentu telatnya otomatis tempat persilangannya sering meleset (pindah) mustinya kalo emank tercantum si masi tetep musti berenti meskipun langsam yak (brenti brapa detik doank) tapi mungkin juga buat meminimalisir keterlambatan jadi DAOP V sbagai empunya KA itu ngasi ijo trus aja, sementara kalo KA 103 nya (kutoarjo-ps snen pagi) nya si emank brenti normal buat naek turun penumpang di BMA, soalnya menampung penumpang dari sana karna pagi ga ada purwojaya yg ngangkut penumpang BMA, dijual ticketnya disana secara langsung.
(01-03-2012, 10:41 PM)candraep Wrote: (01-03-2012, 03:26 PM)CC203 35 Wrote: (01-03-2012, 05:59 AM)candraep Wrote: mungkin sawunggalih harus dibikin kelas eksa mantap kali yaa biar enak kan ni KA termasuk laris juga lohh
Yang dibold = Kurang jelas om, maksudnya mau dijadikan Eksa semua atau cuma tambahan ? Kalau Tambahan sih udah ada.
Tapi kalau mau dijadikan eksa semua kayaknya susah.
iya maksud ane di tambahin gitu rangkaian eksa nya minimal 3 rangkaian eksa nya setiap ane mau naik itu KA kebagian bisnis terus 
kasus ini gw inget uda pernah gw baca di page sblomnya, coba dicari & disimak dulu
disitu gw uda cantumin juga pertimbangan resikonya juga terkait permintaan penumpang sawung masi bisa dibilang lebi banyak K2nya plus terkait jalannya yg berlawanan sama purwojaya.
orang DAOP V sana juga emank pada maunya dibuat exis dg perbandingan 50:50 buat K1 & K2nya, tp otomatis cuma bisa diterapin di 1 loop doank (KA 103 & 106) untuk memprioritasi si purwojaya sbagai KA bendera mreka & kondisi bgitu yg justru menjadi kendala membingungkan penumpang sana sendiri, sementara kondisi penyebaran K1 di jawa aja masi blom normal sama skli gara2 kasus si K9
thanks gan ane ngerti jd ngerti penjelasannya  , kalo dipikir pikir bner jg sih.
tp emng bner gan susah banget dapet sawunggalih yang eksekutif  udah kalo naik taksaka malem jg sama tuh KA kan laris berat
Posts: 3,962
Threads: 0
Joined: Feb 2010
Reputation:
47
(04-03-2012, 07:19 AM)candraep Wrote: (03-03-2012, 05:36 PM)Andrew_CN Wrote: (13-02-2012, 02:22 PM)deedeux Wrote: (13-02-2012, 08:31 AM)codinda31 Wrote: bantu jawab ya, saya sering pake sawunggalih tapi akhir2 ini lebih sering naik adiknya dan tidak berenti di bumiayu, langsung berenti di PWT.
thanks
owh, kirain berhenti.
soalnya kalo sawunggalih pagi yang dari arah selatan menuju jakarta, berhenti di stasiun bumiayu
thank infonya


jlas kalo tanya ticketing poasti dijawab ga brenti, mreka kan ngertinya dimana aja KA itu dijual ticketnya yg otomatis itu wilayah kerja mreka. yg tercantum di pamflet itu ga komplit 100% juga, ada KA yg dicantumin pemberhentian normal bersilangnya, ada juga yg ngga & ada brapa biji yg dicantumin ga bner juga brentinya.
yg jlas KA 104 nya (Ps Snen-Kutoarjo pagi) mank seharusnya brenti normal di Bumiayu (BMA) buat silangan sama KA 39 Taksaka pagi dari YK sbagai KA penutup, tapi berhubung KA 104nya sering ga menentu telatnya otomatis tempat persilangannya sering meleset (pindah) mustinya kalo emank tercantum si masi tetep musti berenti meskipun langsam yak (brenti brapa detik doank) tapi mungkin juga buat meminimalisir keterlambatan jadi DAOP V sbagai empunya KA itu ngasi ijo trus aja, sementara kalo KA 103 nya (kutoarjo-ps snen pagi) nya si emank brenti normal buat naek turun penumpang di BMA, soalnya menampung penumpang dari sana karna pagi ga ada purwojaya yg ngangkut penumpang BMA, dijual ticketnya disana secara langsung.
(01-03-2012, 10:41 PM)candraep Wrote: (01-03-2012, 03:26 PM)CC203 35 Wrote: (01-03-2012, 05:59 AM)candraep Wrote: mungkin sawunggalih harus dibikin kelas eksa mantap kali yaa biar enak kan ni KA termasuk laris juga lohh
Yang dibold = Kurang jelas om, maksudnya mau dijadikan Eksa semua atau cuma tambahan ? Kalau Tambahan sih udah ada.
Tapi kalau mau dijadikan eksa semua kayaknya susah.
iya maksud ane di tambahin gitu rangkaian eksa nya minimal 3 rangkaian eksa nya setiap ane mau naik itu KA kebagian bisnis terus 
kasus ini gw inget uda pernah gw baca di page sblomnya, coba dicari & disimak dulu
disitu gw uda cantumin juga pertimbangan resikonya juga terkait permintaan penumpang sawung masi bisa dibilang lebi banyak K2nya plus terkait jalannya yg berlawanan sama purwojaya.
orang DAOP V sana juga emank pada maunya dibuat exis dg perbandingan 50:50 buat K1 & K2nya, tp otomatis cuma bisa diterapin di 1 loop doank (KA 103 & 106) untuk memprioritasi si purwojaya sbagai KA bendera mreka & kondisi bgitu yg justru menjadi kendala membingungkan penumpang sana sendiri, sementara kondisi penyebaran K1 di jawa aja masi blom normal sama skli gara2 kasus si K9
thanks gan ane ngerti jd ngerti penjelasannya , kalo dipikir pikir bner jg sih.
tp emng bner gan susah banget dapet sawunggalih yang eksekutif udah kalo naik taksaka malem jg sama tuh KA kan laris berat
kalo emank ga dapet ya pake aja bogo, kan skarang uda bisa dibilang adil penyebarannya, 1 pagi 1 sore, toh kalo menurut gw skarang gapekanya bogo meskipun KLB tp lebi bagus dari sawung malem dari PSE, kan skarang jadinya bogo yg berperan jadi pembuka jalan stelah gajayana, logikanya si lebi cepet
plus, kalo dilogika juga okupansinya yg malem rame standard doank karna 6.40 brangkat PSE itu buat orang2 kerja kan masi terlalu mendesak juga waktunya pulang kantor langsung brangkat, paling keisi ya rata2 70% doank week days nya mah, jadi malah sebanding enaknya sama sawung lah kalo gw bilang mah
Posts: 9
Threads: 0
Joined: Mar 2012
Reputation:
0
Suatu hal yang sangat tidak menyenangkan, kalau perlu pecat saja kondektur yang seperti itu, yang ada merusak citra PT.KAI sendiri!!! memalukan sekali, masih mending kalau yang liatnya orang Indonesia, kalo bule gimana? apalagi kelas eksekutif rata-rata yang isinya turis mancanegara.. Duh gusti mau disimpan dimana wajah Perkeretaapian Indonesia ? ckckckck:'-(
Posts: 54
Threads: 0
Joined: Sep 2011
Reputation:
0
(08-03-2012, 09:53 PM)Lodaya_Lover Wrote: Suatu hal yang sangat tidak menyenangkan, kalau perlu pecat saja kondektur yang seperti itu, yang ada merusak citra PT.KAI sendiri!!! memalukan sekali, masih mending kalau yang liatnya orang Indonesia, kalo bule gimana? apalagi kelas eksekutif rata-rata yang isinya turis mancanegara.. Duh gusti mau disimpan dimana wajah Perkeretaapian Indonesia ? ckckckck:'-(
ngomentarin postingan yang mana sih ? gak mudeng,,
|