Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Railfanning di Semenanjung Malaya.
#61
Tiba-tiba saja saya terbangun sewaktu kereta api saya melambat, memasuki sebuah stasiun besar.
Saya melongok keluar, dan saya lihat plang “Gemas”.

Akhirnya sampai juga ke stasiun Gemas, yang dari dulu pingin saya kunjungi.

Gemas itu hanyalah kota kecil yang tidak begitu menarik untuk dikunjungi turis asing. Bahkan stasiunnya saja kelihatan agak kecil jika dibandingkan dengan stasiun selevel di Indonesia seperti Kroya atau Cirebon.

Tapi bagi dunia perkereta apian di semenanjung Malaya, kota ini cukup penting, karena disinilah jalur pantai barat dan pantai timur KTM bercabang. Jadi dari Singapore, jalurnya bercabang pas di utara stasiun.

Pas melongok ke kanan kelihatan pemandangan ini.


[Image: d53w.jpg]

Loh, itu kan lokomotif KTM yang buatan Dalian, China itu? Akhirnya bisa lihat langsung juga...


[Image: d54f.jpg]

Lokomotif ini adalah lokomotif yang kontroversial. Dulu waktu pertama datang di akhir 2005 banyak komunitas perkereta apian Malaysia kagum melihat lokomotif ini karena selain canggih, tenaganya melampaui Blue Tiger yang terkenal. (3600 hp versus 3300hp di Blue Tiger).
Namun belum sebulan dioperasikan, semua lokCin ini harus dikandangkan karena kerusakan serius. Ternyata banyak komponen vitalnya yang salah pasang. Mulai dari label vital yang salah pasang (contoh: tanki bahan bakar ditulis “tanki air radiator”, dan sebaliknya), hingga intake turbochargernya yang terhalang, dsb.
Akhirnya baru empat bulan kemudian lokomotif ini baru full operational, tapi dengan limitasi.
Made in China gitu loh....

Lihat ke arah utara.


[Image: d55t.jpg]

Eh, tiba-tiba ada loko Alco nehi-nehi lewat.


[Image: d56x.jpg]

Lebih dekat lagi ke stasiun. Kelihatan atap peron bakal stasiun Gemas baru kelihatan di latar belakang.


[Image: d57ke.jpg]

Bangunan utama stasiun Gemas.


[Image: d58ng.jpg]

[Image: overstappen.png]
Lebih jauh lagi.


[Image: d59z.jpg]

Karena berhenti agak lama, saya keluar dan memotret exterior salah satu gerbong EXA.


[Image: d60n.jpg]

Kok ada adegan mesum yah...?

Kantin dan kantor masinis.


[Image: d61sx.jpg]

Gemas ini tempat dimana masinis dari KL diganti sama masinis dari Gemas atau Singapore.

Balik ke kanan, eh ketemu kakak-kakak ni....


[Image: d62x.jpg]

Ke kiri lagi, lihat hall utama stasiun Gemas.


[Image: d63.jpg]

Kounter tiket stasiun Gemas.


[Image: d64r.jpg]

[Image: overstappen.png]
Dua hal unik yang saya perhatikan: penjual tiket pake peci. Juga foto pembesar negara ada tujuh! Kalau di Indonesia cuman tiga (Pancasila, Presiden, dan Wakil Presiden), kalau di Malaysia minimal lima, yaitu Yang Dipertuan Agong dan Ratu, Raja dan Ratu negara bagian, dan Perdana Menteri.

Saya juga tertarik dengan mural diatas itu....


[Image: d65h.jpg]

Naik lagi. Duh kok kayaknya lama banget....


[Image: d66c.jpg]

Dua puluh menit kemudian, akhirnya datanglah KA yang dari selatan.


[Image: d67zo.jpg]

KA ini ditarik Class Leader lokomotif Class 25: 25101 Pulau Angsa.

[Image: d68m.jpg]

Nuansa serba metal. Kalau begini nggak gampang bulukan, serta mudah dibersihkan.


[Image: d69s.jpg]

Akhirnya kami berangkat dari stasiun Gemas. Kalau saya perhatikan, kayaknya rel KA dibelokkan dari yang aslinya karena ada proyek pembuatan stasiun Gemas baru.


[Image: d70aw.jpg]

[Image: overstappen.png]
Bangunan stasiun Gemas baru. Katanya begitu stasiun ini operasional, stasiun yang lama akan dibongkar.


[Image: d71m.jpg]

Jika saya tahu kalau berhentinya sejam, mustinya saya keluar dan puas-puasin motret KA disitu, termasuk dari jembatan diatas stasiun. Sayangnya, karena takut ketinggalan, maka ya saya hanya bisa puas dengna foto yang saya dapat kali itu.

Selepas Gemas, saya kembali tertidur pulas.

Baru bangun setelah kereta berhenti di stasiun yang bernama “Layang-layang.”
Saya lihat peronnya yang puanjaaang banget! Dan sudah gitu terdiri dari peron tinggi semua!


[Image: d72qb.jpg]

Rupanya kita bersilang dengan kereta ini. Jalannya cepat sekali!


[Image: d73w.jpg]

Tak lama kemudian ,kereta kami berangkat. PPKA khas Malaysia biasanya suka bawa bendera hijau kalau bertugas.


[Image: d74n.jpg]

Nggak disana, nggak disini, mereka juga harus memperhatikan kereta secara sepenuhnya kalau lewat stasiun mereka.

Kali ini saya duduk menikmati pemandangan, hingga kereta memasuki stasiun Kempas Baru.


[Image: d75.jpg]

What??? Nggak salah lihat??


[Image: d76j.jpg]

[Image: overstappen.png]
Wah!!! Mantap jaya nih! Akhirnya saya ketemu juga dengan lokomotif idaman saya: Blue Tiger! (Lokomotif Class 24 kelihatan di latar belakang)


[Image: d77v.jpg]

Kalau anda perhatikan di latar belakang, ada rangkaian KA penumpang. Semenjak ditutupnya jalur KA di Singapore, stasiun ini jadi tempat stabling rangkaian KA penumpang disini.

Detail tangki bahan bakar, serta logo macan biru yang jadi khasnya Blue Tiger.


[Image: d78a.jpg]

Ini kalau yang saya potret lokomotif CC204, mungkin ekornya sudah kelihatan, tapi ini cuman baru kelihatan setengahnya!


[Image: d79.jpg]

Detail kabin dan bogienya. Unik juga bahwa loko ini ada steering dampernya, dan kotak pemasir ada di bogie, bukan di hidung kaya loko Amerika pada umumnya.


[Image: d80jq.jpg]

Saat kereta berangkat, saya bisa memotret Class 24 ini dari dekat.


[Image: d81i.jpg]

Sisi lain. Perhatikan lampu markernya yang menyala terang.


[Image: d82vmv.jpg]


[Image: overstappen.png]
Karena kita sudah hampir sampai Johor Bahru, kita pun mulai bersiap. Tapi saya baru sadar, ada item yang umumnya kita temui di mobil atau pesawat terbang: tali keledar alias sabuk pengaman!


[Image: d83t.jpg]

Rupanya untuk ranjang atas dikasih tali pengaman, untuk mencegah penumpang terjatuh kebawah jika terjadi kecelakaan.


[Image: d84k.jpg]

Tak lama kemudian, akhirnya kami sampai juga di Johor Bahru. Di stasiun JB Sentral tepatnya.

Wah lihat peronnya... KA nya boleh-boleh saja dibandingkan dengan yang di Indonesia, tapi jangan bandingkan stasiunnya. Nggak ada padanannya disini!


[Image: d85h.jpg]


[Image: d86f.jpg]

Sisi lain peron JB Sentral.


[Image: d87x.jpg]

[Image: overstappen.png]
Pas kita naik keatas.... Waw! Asli kaya airport!


[Image: d88z.jpg]


[Image: d89d.jpg]


[Image: d90b.jpg]

Bahkan untuk yang menunggu kereta ada ruang tunggu lengkap dengan TIDS (bukan FIDS, karena ini kereta api).


[Image: d91x.jpg]

Kalau saya tidak menempel foto-foto KA di awal, anda bisa mengira ini bangunan bandara. Bahkan kalau yang saya tempel foto pesawat, mungkin matching!

Kamipun langsung berjalan menuju ke shopping mall yang dihubungkan dengan walkway diatas jalan raya.

Muka stasiun JB Sentral. Masih bersih, karena stasiun ini juga baru dibuka awal tahun 2011.


[Image: d92t.jpg]

Karena kurang makan, kamipun langsung mencari tempat untuk tukar uang dan mengisi perut di shopping center di dekat situ.

BERSAMBUNG.
Reply
#62
(28-12-2011, 10:03 PM)mas_bagus_ajah Wrote: Kalau dulu jaman saya masih kerja disana, jalur KTM komuter itu membentuk huruf "X". Yang ke tenggara ke Seremban, yang kalau terus bisa sampai Singapore. Yang ke barat ke Pelabuhan Klang via Shah Alam (Shah Alam itu tempat kedudukan Raja Malaysia).
Yang ke Utara ada dua. Yang ke utara ada yang ke Sentul (di tahun 2007 diperpanjang sampai Batu Caves), dan yang satu ke Rawang (yang juga bisa tembus sampai Thailand).

Ditahun 2009, LAA dari Rawang diperpanjang hingga Ipoh, dan jalur KA di double track serta dibuat lebih lurus untuk melayani KRL super cepat. Sejak akhir tahun 2010 jalur KA dari Seremban hingga Gemas (tempat dimana jalur dari Singapore bercabang, yang ke kiri ke Kuala Lumpur, yang satu ke pantai timur hingga Kelantan) juga dibuat seperti yang ke Ipoh.

PAs saya ke sana kemarin November, penggarapan DT Seremban-Gemas lagi digarap, dan katanya akan selesai tahun 2012. Bahkan beberapa alignment lama ada yang sudah dibongkar.

kalo diukur rata2, jarak dari Ipoh sampe seremban sekitar 500 km ya mas sampe dilayani KRL supercepat??
Reply
#63
btw mas bagaimana goncangan dan tingkat kebisingan kereta tidurnya jika dibandingkan dngan K-1 di indonesia atau argo anggrek?
Silence Is Golden

But My Eyes Still SeeNgeledek
Reply
#64
wih.. lanjut lagi om..... ijin nyimak.com..
Blog|Flickr|FB

[Image: P22Y3t]
Argo Unyu
Reply
#65
mantab jaya om TRnya
btw pernah liat gerbong B yg liverynya mirip B satwa disini gak om??
ane pernah nemu di deket sta KL lama lg stabling
apa itu bikinan INKA y??
apa saya salah lihat??
oh ya, KL Ekspress ma transit ada masinisnya gak om??
pas ane ksana g sempet iseng2 neliti sampe (≖᷆︵︣≖) gtu sih'
Wink
RF aatea_goparmania, telah menjadi warga Semboyan35, Indonesian Railfans sejak Oct 2010.
Reply
#66
(29-12-2011, 10:13 AM)Adolph Wrote: btw mas bagaimana goncangan dan tingkat kebisingan kereta tidurnya jika dibandingkan dngan K-1 di indonesia atau argo anggrek?

Saya nggak begitu menyimak waktu itu, karena lagi enak tidur sih. Big Grin

Kayaknya sih kebisingannya nggak begitu kerasa, guncangannya juga nggak begitu karena gerbong saya menggunakan suspensi bolsterless kaya Argo Anggrek.

Bagaimana jika dibandingkan denga Argo Anggrek? Saya nggak tahu karena sudah 13 tahun tidak naik Argo Anggrek....
[Image: overstappen.png]
(29-12-2011, 01:06 PM)aatea_goparmania Wrote: btw pernah liat gerbong B yg liverynya mirip B satwa disini gak om??
apa itu bikinan INKA y??
apa saya salah lihat??
oh ya, KL Ekspress ma transit ada masinisnya gak om??
pas ane ksana g sempet iseng2 neliti sampe (≖᷆︵︣≖) gtu sih'

Yang gerbong buatan INKA (seperti yang saya jelaskan di beberapa postingan sebelumnya) adalah gerbong pembangkit 2 biji sama 3 set gerbong flatcar.

Cukup mudah kok mencari gerbong pembangkit buatan INKA karena dia ada kompartemen untuk krew, nggak kaya gerbong pembangkit buatan Korea yang murni berisi mesin pembangkit.

Kalau ERL itu ada masinisnya mas.
Reply
#67
Alasan mengapa kami mengakhiri perjalanan kereta api kami di Johor Bahru, bukannya Singapore, adalah karena asumsi Abang saya.
Dia bercerita bahwa banyak turis dari Medan yang kalau ke Singapore pasti menginap di Johor karena alasan biaya.
Selain itu dia berkata bahwa di Johor, atraksi alamnya banyak. Tidak seperti Singapore atau Kuala Lumpur yang kata abang saya “lebih pas buat mereka yang berniat belanja”.

Oke kalau begitu, mari kita buktikan apa itu benar...

Hal pertama yang kita lakukan setelah turun dari KA adalah mencari tempat untuk menukar uang US Dollar kita. Kami menemukan satu di stasiun JB Sentral. Setelah itu kita langsung menuju ke shopping center yang terletak persis di depan stasiun JB Sentral. Eh, ternyata di sini ratenya lebih bagus dari yang di stasiun tadi...

Karena lapar, kamipun mencari tempat makan di shopping center itu. Setelah sempat naik turun akhirnya kami menemukan food cort di bagian bawah.

Wah, rupanya di situ ada Nando’s. Karena saya dari dulu penasaran seperti apa rasanya Nando’s, maka saya mengajak semua makan di situ. Kebetulan harganya tidak terlalu mahal betul.

Kamipun duduk, dan memesan makanan kami. Makanan di situ rata-rata ayam bakar dengan bumbu saus sambal Portugis (yang belakangan ternyata buatan Afrika Selatan).

Pesanan saya (lupa namanya).


[Image: e1.jpg]

Pesanan adik saya.


[Image: e2.jpg]

Botol-botol saus Nando’s.


[Image: e3.jpg]

Sebenarnya rasa saus sambal nya Nando’s tidak sepedas yang ditulis. Bahkan saus paling pedas rasanya hampir tidak pedas, malah cenderung kecut. Tapi cukup matching dengan ayam bakarnya.

Tiket KA perjalanan tadi.


[Image: e4.jpg]

Kontras dengan tiket KA eksekutif di Indonesia, tiket ini tidak ubahnya seperti struk belanjaan di supermarket, hanya bahannya dari karton tebal.
Masih bagusan tiket KA Indonesia, dan ini diakui kawan saya yang orang Malaysia.

[Image: overstappen.png]
Selesai makan, kami sempat bertanya kepada pelayan dan orang-orang disini tentang letak hotel kami (Embassy Service Apartment).

Yang membuat kami heran, kok tidak satupun yang mengerti? Walaupun sudah kami jelaskan alamatnya, tidak satupun yang benar-benar paham. Aneh....

Tapi akhirnya ada satu orang yang mengerti, yaitu seorang sales kartu kredit yang kebetulan sedang menawarkan jasa kartu kredit ke kami (tapi kemudian tidak jadi setelah tahu kami orang asing).

Setelah diberi tahu arah, kamipun mencegat taksi di luar shopping center tersebut. Suasana jalanan di depannya benar-benar mengingatkan saya dengan jalanan di Jakarta yang padat didominasi bus dan angkutan jalan raya lainnya.


[Image: e5.jpg]


[Image: e6.jpg]


[Image: e7.jpg]


[Image: e8.jpg]

Memang dibanding Jakarta ini lebih rapi, karena Johor Bahru bukan merupakan pusat bisnis di Malaysia. Dia hanyalah kota penopang Singapore, karena banyak sekali warga Malaysia di Johor yang bekerja sebagai TKM (Tenaga Kerja Malaysia) di Singapore. Dan itu yang sering saya temui sewaktu bekerja di Singapore tahun 2005 silam.
Kehidupan di kota Johor, berdasarkan pengamatan singkat saya, terlihat lebih tenang dan santai daripada Kuala Lumpur atau Singapore. Bahkan menurut saya, Johor itu lebih bersih daripada KL.
Cuman kota Johor Bahru ini juga menjadi contoh bahwa jika kota besar tidak ada transportasi massal berbasis rel, biasanya bus atau kendaraan umum lain merajai jalanan. Makanya jalanan di Johor cenderung macet.

[Image: overstappen.png]
Setelah naik taxi, kami akhirnya sampai juga di Embassy Service Apartement. Walaupun lobbynya terkesan seperti hotel, tapi saya agak terkejut begitu mengetahui bahwa kami cenderung seperti dikurung disini.
Fasilitasnya mengingatkan dengan flat tempat tinggal saya dulu di KL, hanya saja yang ini mewah. Tapi sebagai bagian dari sistem penjagaan, kami ditempatkan di apartemen di lantai 14. Dan untuk keluar hotel, kami harus menggunakan kartu kunci untuk membuka pintu. Sialnya, kami hanya diberi satu kartu saja.

Pelayanan di hotel ini juga cukup mengecewakan karena terkesan sombong, kaku, dan tidak mau tahu terhadap kebutuhan tamu. Banyak yang mengatakan (termasuk kawan saya, bang Johari, yang merupakan warga kota Johor) bahwa negara bekas jajahan Inggris penduduknya cenderung sombong.

Bisa dibilang kami sebenarnya cukup kecewa datang ke Johor. Susahnya transportasi umum, serta pihak hotel yang kurang kooperatif membuat kami tidak bisa mengunjungi tempat-tempat wisata alami yang katanya ada di sekitaran Johor.

Karena hal ini, maka kami memutuskan untuk mempersingkat kunjungan kami ke Johor, dari dua malam jadi satu malam saja.
Sempat terjadi sedikit ketegangan sewaktu kami memberitahu hal ini kepada resepsionis. Mereka berkata bahwa kami tetap harus membayar untuk dua malam. Tapi setelah perdebatan lama, akhirnya kami bisa membayar hanya untuk satu malam.

Menurut saya Embassy Service Apartement itu sebenarnya bagus, tapi manajemennya buruk dan arogan.

Pemandangan dari jendela kamar.


[Image: e9.jpg]


[Image: e10.jpg]


[Image: e11.jpg]

Malam harinya, saya memenuhi janji saya untuk bertemu kawan saya, RF Malaysia yang berdomisili di Johor Bahru, bang Johari Mohamad Saleh. Kami sudah sering kontak-kotakan lewat Facebook. Dia sendiri pernah sekali datang ke Bandung (walaupun waktu itu kita cuman ketemu sebentar saja, karena waktu kedatangannya bersamaan denga waktu kedatangan boss saya).

Dasar railfans, pasti obyekannya nggak jauh-jauh dari yang namanya jalan kereta api. Diapun mengajak saya mampir ke stasiun Kempas Baru yang terletak di dekat rumahnya.
Bahkan sampai masuk-masuk ke tempat yang biasanya off-limit buat pegawai, seperti ruang PPKA atau kabin masinis. (Asyik!).

Mejeng di ruang PPKA.


[Image: e12.jpg]

Panel kerja PPKA. Mirip dengan yang saya temui di Indonesia, hanya ynag ini kelihatan rada bulukan.


[Image: e13.jpg]

[Image: overstappen.png]
Mejeng di depan papan nama stasiun.


[Image: e14.jpg]

Di pelataran stasiun ternyata ada dua lokomotif, yaitu Blue Tiger, serta lokomotif YDM yang buatan India itu.


[Image: e15.jpg]

Di luar dugaan, ternyata bang Johari mengajak saya turun kebawah Wah, senang banget bisa foto di depan lokomotif YDM.


[Image: e16.jpg]

Bahkan akhirnya keinginan untuk pegang-pegang lokomotif Blue Tiger kesampian juga, termasuk narsis di depan loko gede ini.


[Image: e17.jpg]

Bandingkan ukuran lokomotif ini, dengan CC204 yang di Bandung ini.


[Image: e18.jpg]

Kalau itu kurang, dia juga mengajak saya naik ke kabin! Asyik!
Plat nomor lokomotif, lengkap dengan nama lokomotif ini.


[Image: e19.jpg]

[Image: overstappen.png]
Sampai ke dalam kabin, saya cukup terkejut merasakan kalau kabinnya ternyata ber-AC.
Walaupun ber-AC, tapi pernak-pernik masinisnya mirip dengan di Indonesia.


[Image: e20.jpg]

Panel kemudi boleh canggih, tapi rokok, snack, dan lain-lain juga ada.

Bang Johari mengajak saya ke kabin satunya di belakang lokomotif. Akhirnya keinginan saya untuk bisa masuk ke kabin lokomotif paling canggih se-Asia Tenggara ini kesampaian juga.


[Image: e21.jpg]

Detail panel lokomotif Blue Tiger.


[Image: e22.jpg]


[Image: e23.jpg]


[Image: e24.jpg]

Panel komputer yang satu ini juga bisa ditemui di lokomotif CC204 di Indonesia. Dia adalah panel komputer utama lokomotif.


[Image: e25.jpg]

[Image: overstappen.png]
Sebelum turun, sempat narsis di walkway lokomotif yang dipagari.


[Image: e26.jpg]

Builder plate lokomotif. Perhatikan platnya yang campuran Bombardier dan General Electric.


[Image: e27.jpg]

Selesai main sepur betulan, bang Johari mengajak saya makan di warung yang terletak di pinggir pelataran stasiun.

Dua malam, menu makan tetap sama: sate!


[Image: e28.jpg]

Minumnya juga sama: teh tarik campur es.


[Image: e29.jpg]

Sambil makan, kami ditemani lagu-lagu klasik musisi Malaysia jaman dulu, serta deru dan raungan mesin dan klakson lokomotif yang lewat.
Ada beberapa hal yang kita bicarakan, seperti niatan bang Johari untuk sepeda motoran keliling pulau Jawa. Serta efek penutupan jalur KA di Singapore terhadap operasional KTM di Johor.

Katanya semenjak Tanjong Pagar ditutup, semua KA stabling di Kempas Baru. Bahkan Eastern & Orient Express (kereta api termewah se-Asia Tenggara itu) juga ikut jadi “korban”, harus merelokasi deponya ke Johor Bahru.

Kontras dengan depo mereka terdahulu di Tanjong Pagar yang tertutup, serta dijaga ketat, depo mereka di Johor Bahru sangat terbuka, dan terletak persis di pinggir jalan.


[Image: e30.jpg]

[Image: overstappen.png]
Sangat ironis untuk KA dengan tingkat kemewahan seperti ini.


[Image: e31.jpg]


[Image: e32.jpg]


[Image: e33.jpg]


[Image: e34.jpg]


[Image: e35.jpg]


[Image: e36.jpg]

[Image: overstappen.png]
Interior kelas “ekonomi” mereka.


[Image: e37.jpg]


[Image: e38.jpg]

Selepas makan, bang Johari mengajak saya keliling Johor Bahru. Karena waktu itu sudah diatas jam 10 malam, banyak toko-toko yang sudah tutup.
Tapi yang menarik ada satu pasar malam di dekat stasiun Johor yang lama. Katanya pasar itu dibuka oleh para tenaga kerja dari Thailand selatan (yang penduduknya rata-rata Muslim).

Saya juga sempat melihat causeway yang menghubungkan Malaysia dan Singapore., serta istana milik Sultan Johor.

Kami juga sempat mampir ke stasiun Johor lama yang sekarang mau dibuat menjadi museum. Sayangnya karena gelap, kamipun tidak bisa masuk.

Usai jalan-jalan, bang Johari mengantar saya balik ke hotel, dan sayapun akhirnya istirahat untuk malam itu.

Walaupun kunjungan ke Johor memang tidak memenuhi target kami, tapi secara pribadi kunjungan ini adalah highlight perjalanan kali ini. Apalagi kalau bukan karena merasakan naik kabin Blue Tiger.

BERSAMBUNG.
Reply
#68
wew, mantab Tersenyuum

seperti ikutan jalan2 :p
Obsesi: Bikin perusahaan KA sendiri Ngiler
Reply
#69
btw throtle ini

[Image: e22.jpg]

loko bluetiger ini throttle dn brake-nya combined ya mas?
Silence Is Golden

But My Eyes Still SeeNgeledek
Reply
#70
(29-12-2011, 06:36 PM)Adolph Wrote: [spoiler=btw throtle ini]

[Image: e22.jpg][/spoiler]

loko bluetiger ini throttle dn brake-nya combined ya mas?

IYa mas. Throttle juga merangkap dynamic brake. Persis kaya loko Dash-9 di Amerika. Cuman kayaknya ini dibalik. KArena kalau Dash-9 ngegas ditarik, Blue Tiger ngegas didorong.
Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 1 Guest(s)