Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Diskusi : Subsidi BBM untuk Angkutan KA
@mas bangunkarta, saya boleh urun rembug?

[spoiler]
Quote:di laporan john van der ven yang pernah saya berikan, disitu jelas dijabarkan perbandingan2 antara angkutan barang lewat jalan dan rel di indonesia. tentunya beliau ini sudah memperhitungkan segala bentuk variabel2 yang mas bangun jabarkan diatas. mulai dari izin usaha, pajak kendaraan, dll berikut biaya bbm masing2 moda.

kesimpulannya, seperti yang telah saya posting, dengan kondisi saat ini di indonesia, kereta kalah telak karena jarak pengangkutan di jawa sekitar 250 km, lebih murah jika lewat truk. kereta baru bisa bersaing jika jaraknya diatas 500 km dengan kapasitas angkut minimal 5 juta ton pertahun. itu kesimpulan laporan tersebut mas bangun.

jadi kalau saya menyimpulkan dari hasil penelitian beliau, untuk kasus jawa dan jarak dekat, kereta sulit untuk bisa bersaing dengan truk. lantas bagaimana supaya kerta bisa bersaing? lalu belau menyarankan solusi berupa memperhitungkan faktor ekstenal (intangiable cost), yang di negara2 maju sudah familiar, tetapi di indonesia tidak. contohnya, seperti tingkat emisi, resiko kecelakaan, efek kemacetan, dll.

bahkan beliau ini lebih menyarankan sebaiknya kompensasi biaya eksternal ini lebih baik daripada mensubsidi moda yang disukai karena dirasa lebih adil. yang boros, berpolusi, membuat macet dan resiko kecelakaan tinggi, membayar lebih dibandingkan yang tidak beresiko. tapi itu tidak mungkin diterapkan saat ini karena faktor sosial barangkali. mungkin suatu saat jika indonesia sudah maju hal tersebut bisa diterapkan.

jika biaya eksternal diterapkan, nanti terjadi pergeseran. yaitu dengan jarak 250 km, kereta akan lebih murah dan volumenya mengecil menjadi 3 juta ton. itu pun bila pengangkutan dari siding ke siding alias tidak doubel handling. tentunya ini sangat bisa mengurangi volume barang di jalan dan dialihkan lewat rel.
[/spoiler]


maaf kalau terlalu panjang. ditunggu kritiknya.
"Train approaching! Please remain behind yellow line!"
Reply
Quote:Usul KA Gunakan BBM Subsidi Terwujud?

VIVAnews - Keinginan PT. Kereta Api Indonesia (Persero) memperoleh bahan bakar minyak (BBM) dengan harga subsidi tampaknya bakal terealisasi. Alasannya, Menteri Koordinator Perekonomian, Hatta Rajasa, menyatakan dukungannya dengan harapan bisa meningkatkan aspek kompetitif di sektor transportasi barang.

"Sehingga cost akan lebih murah," ujar Hatta Rajasa saat ditemui di kantornya, Jakarta, Senin 28 November 2011.

Hatta mengaku dirinya tidak berkeberatan dengan usulan penetapan dana bantuan subsidi sebesar Rp 150 miliar kepada PT. Kereta Api Indonesia (Persero). Dia berpikir, pemberian subsidi BBM justru akan memberikan manfaat lebih besar bagi perekonomian nasional.

"Nanti cost logistiknya juga rendah. Cost logistik negara lain empat persen, kita bisa sampai 14-15 persen. Kita berharap jadi 10 persen," tuturnya.

Hatta mengakui bahwa pemberian BBM harga subsidi yang diperkirakan mencapai 2.000 liter ini tidak bertentangan dengan rencana pemerintah membatasi penggunaan jenis BBM tersebut. Pemerintah menilai, pemberian BBM subsidi sendiri tidak bisa bersifat diskriminatif.

"Kalau ada disparitas (antara kendaraan bermotor dan kereta) nanti orang-orang tidak ada yang tertarik mengirim barangnya melalui kereta," ujarnya.

Kok cuma 2.000 liter? Salah tulis? Mestinya 2.000 kiloliter? Bingung
Kalau kelak rencana berdirinya KA Swasta di Indonesia sudah terwujud dan beroperasi,
apakah perlu diberi hak untuk mendapatkan BBM harga subsidi juga?
Reply
(28-11-2011, 08:44 PM)pardjono Wrote:
Quote:Usul KA Gunakan BBM Subsidi Terwujud?

VIVAnews - Keinginan PT. Kereta Api Indonesia (Persero) memperoleh bahan bakar minyak (BBM) dengan harga subsidi tampaknya bakal terealisasi. Alasannya, Menteri Koordinator Perekonomian, Hatta Rajasa, menyatakan dukungannya dengan harapan bisa meningkatkan aspek kompetitif di sektor transportasi barang.

"Sehingga cost akan lebih murah," ujar Hatta Rajasa saat ditemui di kantornya, Jakarta, Senin 28 November 2011.

Hatta mengaku dirinya tidak berkeberatan dengan usulan penetapan dana bantuan subsidi sebesar Rp 150 miliar kepada PT. Kereta Api Indonesia (Persero). Dia berpikir, pemberian subsidi BBM justru akan memberikan manfaat lebih besar bagi perekonomian nasional.

"Nanti cost logistiknya juga rendah. Cost logistik negara lain empat persen, kita bisa sampai 14-15 persen. Kita berharap jadi 10 persen," tuturnya.

Hatta mengakui bahwa pemberian BBM harga subsidi yang diperkirakan mencapai 2.000 liter ini tidak bertentangan dengan rencana pemerintah membatasi penggunaan jenis BBM tersebut. Pemerintah menilai, pemberian BBM subsidi sendiri tidak bisa bersifat diskriminatif.

"Kalau ada disparitas (antara kendaraan bermotor dan kereta) nanti orang-orang tidak ada yang tertarik mengirim barangnya melalui kereta," ujarnya.

Kok cuma 2.000 liter? Salah tulis? Mestinya 2.000 kiloliter? Bingung
Kalau kelak rencana berdirinya KA Swasta di Indonesia sudah terwujud dan beroperasi, apakah juga perlu diberi hak untuk mendapatkan BBM Bersubsidi juga?

menarik untuk ditunggu karena proyek PT.Bukit Asam Transpasific Railways,yg notabene adalah operator swasta kereta api barang di Sumatera Selatan akan terrealisasi pada 2014
Reply
(27-11-2011, 10:30 PM)mas_bagus_ajah Wrote:
(27-11-2011, 08:33 PM)Adi Sutjipto Wrote: Untuk pengiriman produk mobil dari sebuah pabrikan mobil
paling laris di Indonesia,
mereka mengirimkan mobil-mobil produksinya dalam jumlah besar,
dengan mempergunakan kapal ro-ro milik mereka sendiri.

Itu kalau pengirimannya antar pulau atau antar negara.

Lha terus bagaimana kalau pengirimannya ke inland city kaya Malang atau Yogyakarta? Apa harus dibawa terus-terusan pake truk? Heran
Dari Jakarta ke Semarang/ Surabaya,
dikirim dengan kapal ro-ro, baru didistribusikan.
Kadang memakai (◣_◢)┌∩┐, kadang tampak juga beriringan
dengan plat nomor putih.

Tapi, bertahun-tahun saya jalan raya, siang dan malam
jika bepergian, dengan trayek antar propinsi,
sampai sekarang, belum pernah melihat iring-iringan
pengiriman mobil dijalan raya dalam jumlah besar.
Baik disopiri, atau diangkut dengan (◣_◢)┌∩┐ beriringan,
siang maupun malam.
Padahal, setiap menit atau per satu detik,
keluar satu kendaraan baru.
Dan jumlah tiap bulan yang keluar, puluhan ribu dan
diserap oleh masyarakat.

Saya kemarin penasaran,
dahulu pernah diceritakan masalah pengirimannya,
jadi sebelum saya menulis ini,
saya tanya kembali masalah pengiriman dengan salah satu
orang pabrik tersebut, yang kebetulan kenal cukup baik
dan kedudukannya juga lumayan tinggi.

Ya dijawab, seperti apa yang saya tulis,
dengan ro-ro sendiri,
lebih hemat dan sepertinya,
sudah mereka perhitungkan masak-masak juga ya.
Bye Bye
Reply
Senin, 28 November 2011 | 16:37 oleh Herlina KD
BBM SUBSIDI
Pemerintah akan berikan subsidi BBM kereta api barang

JAKARTA. Pemerintah mulai serius menggarap wacana pemberian solar bersubsidi untuk kereta api angkutan barang. Oleh sebab itu pemerintah mulai membicarakan hal ini dengan Dewan perwakilan Rakyat (DPR). Pemerintah menilai pemberian subsidi BBM untuk kereta barang akan bisa menekan biaya logistik dan distribusi barang di dalam negeri.

Menteri Koordinator bidang Perekonomian Hatta Rajasa mengungkapkan pemerintah, melalui Menteri Keuangan akan berbicara dengan DPR mengenai usulan pemberian subsidi untuk kereta api angkutan barang. "Angkutan kereta api barang yang minta subsidi akan diberikan, toh cuma Rp 150 miliar saja," ujarnya Senin (28/11).

Menurutnya, pemerintah berencana menyiapkan dana subsidi sekitar Rp 150 miliar untuk subsidi BBM untuk kereta api angkutan barang. "Stimulus ini harus dilakukan sebagai rangsangan dan bisa mengurangi beban jalan raya, dan pemerintah bisa mendapatkan keuntungan yang lebih besar," kata Hatta

Ia menambahkan, pemberian subsidi untuk kereta api barang bisa menjadi perangsang dalam hal perbaikan sistem logistik nasional. Hatta beralasan, selama ini biaya logistik di Indonesia membebani biaya produksi sekitar 14%-15%. Bandingkan dengan negara lain seperti Singapura dan Jepang yang biaya logistiknya hanya sekitar 4% dari total biata produksi. "Kita berharap secara bertahap (biaya logistik) bisa turun menjadi 10%," jelas Hatta.
Reply
Sepertinya strategi ancaman PT KA berhasil.

Ini karena PT KA sudah invest 100 loko dan 1000 gerbong barang lebih, tentunya keberhasilan mendapatkan bbm bersubsidi untuk KA barang adalah kemenangan PT KA dan memang ini strategi perusahaan.

Harapan saya sih sebenanrya tidak ada subsidi BBM, dan penghapusan bisa dilakukan secara bertahap untuk meredam inflasi.

Misal kenaikan premium ditargetkan Rp50/liter untuk setiap tanggal 1. Maka dalam setahun kenaikan harganya Rp600/liter. Sengaja kenaikan disebar ke setiap bulan agar efek inflasinya tidak terasa. Dan pemerintah tinggal menyesuaikan saja tarif angkutan umum setiap 2 tahun. Dalam 5 tahun (Rp 4500 + Rp600 x 5 = Rp 4500 + Rp 3000 = Rp 7000/liter), harga premium di RI sudah mencapai harga internasional dengan kisaran harga Rp 7000 an. Jadi subsidi hingga Rp 100 T, bisa dialihkan untuk pembangunan infrastruktur seperti pembangunan jaringan rel KA, jalan tol, pelabuhan, dll.

Please deh, Rp 100 T itu sayang banget kalau hanya untuk subsidi BBM. Padahal buanyak cara untuk merasionalkan harga BBM dengan meminimalkan gejolak. Salah satunya ya itu, kenaikan harga kecil bertahap, slowly but sure dan konsisten!
The only thing necessary for the triumph of evil is for good man to do nothing.
(Edmund Burke 1729-1797)
Reply
(28-11-2011, 05:41 PM)Bangunkarta Wrote:
(28-11-2011, 09:49 AM)kabei Wrote:
Quote:MTI Minta Penghapusan PPN Kereta Barang
~EDITED
"Semua sepakat, harus ada kesetaraan dalam subsidi. Bila truk ada subsidi, maka kereta barang juga harus ada subsidi. Kebijakan ini akan efektif pada 1 Januari 2012," kata Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono di Jakarta, Jumat (25/11/2011).
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/20...eta.Barang

*mengelola bisnis di abad 21 kok masih pake cara cara ala abad 19, pantes aja "rugi" terus
@ Mbah Kabei
yang saya bold tuh om.... koq saya jadi tertarik ya dengan redaksional kesetaraan .... kesetaraan berarti ada perlakuan yang sama kan???

secara usaha truk ada komponen biaya:
- pajak kendaraan (tahunan/STNK)
- pajak kendaraan (5 tahunan/BPKB)
* yang jelas untuk angkutan niaga (umumnya publik, dengan ciri plat kuning), biaya yang dikeluarkan jelas jauh lebih besar ketimbang kendaraan privat dan kendaraan penumpang
- biaya uji kir kendaraan
- biaya perijinan usaha dan perijinan dinasan tiap unit kendaraan ke pemda setempat
- biaya retribusi ke terminal barang, pelabuhan dan jembatan timbang
- belum ongkos lain yang pasti dikeluarkan untuk maintenance unit kendaraan....
* dan yang sangat jelas, usaha kecil/menengah pasti tidak mempunyai efisiensi sebesar perusahaan besar, sehingga cost per unitnya pasti lebih besar..

nah... kesetaraan dan keadilan di mana nya ya om KabeiBingung


[Image: overstappen.png]
kalo mo dibikin perbandingan ya pertarungan antara PT KA VS bus/truk macam pertarungan antara david VS goliath

[Image: david-vs-goliath-300x196.jpg]

dimana yang jadi david adalah bus/truk sedangkan goliat adalah PT KA, namun ironisnya si goliath yang sudah menang segala galanya dalam pertarungan terus menerus minta bantuan kepada penguasa (dalam hal ini pemerintah) :ngakak


*sampai saat ini para pengusung paham "keadilan" disini belum bisa memberikan perbandingan yang komprehensif antara bus/truk VS kereta api. yang ada masih terbatas hanya membandingkan komponen BBM saja. padahal dalam kondisi riil, pungli di jalanan itu luar biasa gedenya. andai di operasional kereta api ada komponenn pungli macam di angkutan darat, gw ga bisa membayangkan berapa harga tiket kereta api setelah memasukkan komponen "pungli" dalam pembentuk harga tiket.....

[Image: overstappen.png]
(29-11-2011, 12:48 AM)peseg5 Wrote: Sepertinya strategi ancaman PT KA berhasil.

Ini karena PT KA sudah invest 100 loko dan 1000 gerbong barang lebih, tentunya keberhasilan mendapatkan bbm bersubsidi untuk KA barang adalah kemenangan PT KA dan memang ini strategi perusahaan.

Harapan saya sih sebenanrya tidak ada subsidi BBM, dan penghapusan bisa dilakukan secara bertahap untuk meredam inflasi.

Misal kenaikan premium ditargetkan Rp50/liter untuk setiap tanggal 1. Maka dalam setahun kenaikan harganya Rp600/liter. Sengaja kenaikan disebar ke setiap bulan agar efek inflasinya tidak terasa. Dan pemerintah tinggal menyesuaikan saja tarif angkutan umum setiap 2 tahun. Dalam 5 tahun (Rp 4500 + Rp600 x 5 = Rp 4500 + Rp 3000 = Rp 7000/liter), harga premium di RI sudah mencapai harga internasional dengan kisaran harga Rp 7000 an. Jadi subsidi hingga Rp 100 T, bisa dialihkan untuk pembangunan infrastruktur seperti pembangunan jaringan rel KA, jalan tol, pelabuhan, dll.

Please deh, Rp 100 T itu sayang banget kalau hanya untuk subsidi BBM. Padahal buanyak cara untuk merasionalkan harga BBM dengan meminimalkan gejolak. Salah satunya ya itu, kenaikan harga kecil bertahap, slowly but sure dan konsisten!


[Image: overstappen.png]
nanya donk bos, 100 loko + 1000 gerbong itu duitnya sapa yang dipake Bingung
Reply
(29-11-2011, 07:45 AM)kabei Wrote: *sampai saat ini para pengusung paham "keadilan" disini belum bisa memberikan perbandingan yang komprehensif antara bus/truk VS kereta api. yang ada masih terbatas hanya membandingkan komponen BBM saja. padahal dalam kondisi riil, pungli di jalanan itu luar biasa gedenya. andai di operasional kereta api ada komponenn pungli macam di angkutan darat, gw ga bisa membayangkan berapa harga tiket kereta api setelah memasukkan komponen "pungli" dalam pembentuk harga tiket.....

jika argumennya demikian, berarti sebenarnya selama ini subsidi bbm untuk truk/bus adalah lebih digunakan untuk mensubsidi para oknum2 tukang pungli resmi/liar, yang membuat ongkos produksi kita sangat tinggi. mengapa sangat tinggi mengingat 90% barang diangkut pakai truk.lantas kenapa pungli tidak dibabat habis saja? sehingga dengan demikian ongkos bisa turun tanpa minta subsidi bbm untuk jalan raya?

kenyataannya memang memberantas pungli ibarat menghadapi hantu. sulit diatasi karena banyak tangan yang bermain. lalu apakah keadaanya akan begini terus kah? dimana ongkos produsi barang2 kita akan terus lebih tinggi 3 kali lipat dibanding negara tetangga kita. bagaimana mau bersaing di tingkat global kalau begitu.

untuk mengurangi biaya akibat pungli, para pengusaha truk akhirnya "kreatif" mengakali truknya agar bisa mengangkut lebih banyak lagi/ overloaded, seperti yang telah diceritakan rf azu. tapi hal ini berakibat fatal: jalan raya hancur. akhirnya keluar duit lagi lah pemerintah untuk mensubsidi jalan raya. dan angka perawatan jalan tidak main2, pertahun pantura menghabiskan 1 T hanya untuk memperbaiki jalan.

lantas ada solusi cerdas: kenapa tidak dialihkan lewat rel saja? bukankah moda rel lebih "kebal" pungli? untuk memuluskan langkah ini, perlu diberikan kemudahan2 di moda rel. salah satunya adalah subsidi bbm.

o, ya pakdhe kabei. ilustrasi njenengan tentang david vs goliath hampir betul. tapi yang lebih tepat adalah david vs goliath, dengan david nya ada 10 sementara goliath nya cuma 1. jadi si goliath meskipun badannya besar tapi dia "dikeroyok" sama david2 kecil yang akhirnya menang.
"Train approaching! Please remain behind yellow line!"
Reply
Terdampar di Purwokerto setahun gara-gara proyek fiber optik Jateng ga kelarMarah
Reply
(29-11-2011, 11:35 AM)ady_mcady Wrote:
(29-11-2011, 07:45 AM)kabei Wrote: *sampai saat ini para pengusung paham "keadilan" disini belum bisa memberikan perbandingan yang komprehensif antara bus/truk VS kereta api. yang ada masih terbatas hanya membandingkan komponen BBM saja. padahal dalam kondisi riil, pungli di jalanan itu luar biasa gedenya. andai di operasional kereta api ada komponenn pungli macam di angkutan darat, gw ga bisa membayangkan berapa harga tiket kereta api setelah memasukkan komponen "pungli" dalam pembentuk harga tiket.....

jika argumennya demikian, berarti sebenarnya selama ini subsidi bbm untuk truk/bus adalah lebih digunakan untuk mensubsidi para oknum2 tukang pungli resmi/liar, yang membuat ongkos produksi kita sangat tinggi. mengapa sangat tinggi mengingat 90% barang diangkut pakai truk.lantas kenapa pungli tidak dibabat habis saja? sehingga dengan demikian ongkos bisa turun tanpa minta subsidi bbm untuk jalan raya?

kenyataannya memang memberantas pungli ibarat menghadapi hantu. sulit diatasi karena banyak tangan yang bermain. lalu apakah keadaanya akan begini terus kah? dimana ongkos produsi barang2 kita akan terus lebih tinggi 3 kali lipat dibanding negara tetangga kita. bagaimana mau bersaing di tingkat global kalau begitu.

untuk mengurangi biaya akibat pungli, para pengusaha truk akhirnya "kreatif" mengakali truknya agar bisa mengangkut lebih banyak lagi/ overloaded, seperti yang telah diceritakan rf azu. tapi hal ini berakibat fatal: jalan raya hancur. akhirnya keluar duit lagi lah pemerintah untuk mensubsidi jalan raya. dan angka perawatan jalan tidak main2, pertahun pantura menghabiskan 1 T hanya untuk memperbaiki jalan.

lantas ada solusi cerdas: kenapa tidak dialihkan lewat rel saja? bukankah moda rel lebih "kebal" pungli? untuk memuluskan langkah ini, perlu diberikan kemudahan2 di moda rel. salah satunya adalah subsidi bbm.

o, ya pakdhe kabei. ilustrasi njenengan tentang david vs goliath hampir betul. tapi yang lebih tepat adalah david vs goliath, dengan david nya ada 10 sementara goliath nya cuma 1. jadi si goliath meskipun badannya besar tapi dia "dikeroyok" sama david2 kecil yang akhirnya menang.


[Image: overstappen.png]
kalo mo dialihkan via rel ya tanya dunks ke operator, mau ga mereka mengubah mental??
mo disubsidi berapapun kalo tetep mengharapkan pelanggan datang tanpa mau jemput bola ya pengusaha tetep aja pake truk....

Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 3 Guest(s)