Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
hati hati railfans yang doyan joy ride ketelan di lintas prupuk - tegal
#61
(08-08-2009, 03:25 PM)Narendro Anindito Wrote: apa warga sana masih pada primitif??

ngakak saya baca PRIMITIF nya
Reply
#62
Kurang ajar nih anak2...pake acara lempar jumroh waktu KA lewat. Emangnya kreta itu setan..pake dilempar jumroh segala.
Reply
#63
Lintas TG-PPK mah masih mending yg ngelempar batu kebanyakan anak kecil, yg parah tuh di sekitaran TPK (Tanjung Priok), yg ngelempar batu bukan anak kecil lagi, tapi orang dewasa! Belom lagi banyak yg pada bawa sajam dkk. bt ngancem petugas/orang2 dr PT KA. Masalahnya sih sepele, gara2 ganti rugi penggusuran di sekitar TPK belom sepenuhnya cair, tapi korban gusuran merengek2 pengen secepatnya uang ganti rugi cair 100% (padahal tau ndiri kemampuan PT KA segimana). Makanya, warga pada ngelempar batu, sampah & benda2 yg menjijikkan ke arah kereta yg melintas, sampai2 kereta yg lewat sini dikenal sebagai "KERETA JIHAD" (yg biasa disebut beginian tuh KA kontainer TPK-GDE (GDE=Gedebage) yg nomornya 2000-an), soalnya selain petugas berjuang dg lemparan batu dari warga sana, masih ditambah lagi dg preman yg siap menghadang KA yg lewat + bawa sajam. Jadi, kalo ada yg ngambing KA 2000-an dr TPK malem2, mending gak usah lah daripada jadi korban.

CMIIW.
Buah dari perjuangan adalah kebahagiaan
Semakin keras kita berjuang bagi hidup kita, semakin manis pula buahnya
Semakin santai perjuangan kita, semakin pahit pula buahnya


FLICKR Stephanie Anastasia stasiunkastephanie
Reply
#64
(07-08-2009, 07:37 PM)gajayana Wrote: . direkam aja , kasihkan polisi videonya , gmn ?
Masukin ke kemari aja :

[Image: 45105151924825560010663.th.jpg]


Uploaded with ImageShack.us
Citra buruk Indonesia yang tercoreng dengan salah satunya perbuatan yang kayak gitu itu...
Ngomong2 emangnya masinis slalu ngejar waktu yah? Harus tiba di Tegal atau pun Cilacap secepat mungkin gitu? Harusnya kasih sosialisasi ke para penduduk di beberapa petak rel yg slalu jadi serangan brutal kyk gitu. Kasih ketegasan meski di antara mereka ngaku pr warganya bukan jadi pelaku biadab gitu, tapi biar gimana pun pr warga WAJIB siaga sepanjang waktu 7 hari 24 jam mengamankan jalur KA sekalipun cuma dilalui ketelan 1x pp dalam sehari. Khan sewaktu2 bisa aja ada rinja jadi jalur alternatif KA - KA penumpang yg ada...
Kisah pilu yg sama juga sering terjadi di Daops I Jakarta...Bethe Tapi gak sampe kotoran manusia segala...
[Image: overstappen.png]
(01-06-2011, 11:29 PM)stasiunkastephanie Wrote: Lintas TG-PPK mah masih mending yg ngelempar batu kebanyakan anak kecil, yg parah tuh di sekitaran TPK (Tanjung Priok), yg ngelempar batu bukan anak kecil lagi, tapi orang dewasa! Belom lagi banyak yg pada bawa sajam dkk. bt ngancem petugas/orang2 dr PT KA. Masalahnya sih sepele, gara2 ganti rugi penggusuran di sekitar TPK belom sepenuhnya cair, tapi korban gusuran merengek2 pengen secepatnya uang ganti rugi cair 100% (padahal tau ndiri kemampuan PT KA segimana). Makanya, warga pada ngelempar batu, sampah & benda2 yg menjijikkan ke arah kereta yg melintas, sampai2 kereta yg lewat sini dikenal sebagai "KERETA JIHAD" (yg biasa disebut beginian tuh KA kontainer TPK-GDE (GDE=Gedebage) yg nomornya 2000-an), soalnya selain petugas berjuang dg lemparan batu dari warga sana, masih ditambah lagi dg preman yg siap menghadang KA yg lewat + bawa sajam. Jadi, kalo ada yg ngambing KA 2000-an dr TPK malem2, mending gak usah lah daripada jadi korban.

CMIIW.
Ma'af sedikit OOT :
Trus gimana dg KRL - KRL dan Langsam yang melintas? Heran Soalnya aku jarang banget nempuh perjalanan dari - ke Tj. Priok...


OK...Back on Topic

Reply
#65
kira2 sekarang masih dilemparin gak ya....??
pengen uji nyali nih...Ngeledek

soalnya besok pas mau mudik sendiri dari tegal mau ke kebumen gak ada KAnya terpaksa (baca:pengen) naek ketelan dulu deh...Ngakak
Obsesi: Bikin perusahaan KA sendiri Ngiler
Reply
#66
Kalau dilintas Prupuk,pernah penumpang Ka Taksaka kehilangan laptopnya waktu KA berhenti disini.
Ini bukti kalau keamanan belum ditingkat.
My Facebook = Bilal Ragil Saputra

Nama akun baru dari CC203 35

Reply
#67
Kalo membaca thread ini sejak dari awal, nampaknya ada saja orang - orang / penumpang gelap yg manfaatin ketelan jadi rangkaian KA alternatif mereka... Apa gak ngegandeng 1 K3 aja gitu? Semisal minjem dari punya Tegal alias Tegal Arum atau pun juga Serayu. Biar jadi tameng demi sekelamatan mrk juga. Yah... kondekturnya sama kayak Punokawan ala Wonogirian gitu lha... Kasih aja tarif seadanya semisal Rp 2.000. Toh... okupansinya khan rendah alias cuma bbrp penumpang gelap doank...

Reply
#68
@danakomuter: setuju !
tapi nanti takut ada yang ngamuk biasanya xp, kalian tau sendirilah...
Obsesi: Bikin perusahaan KA sendiri Ngiler
Reply
#69
(30-05-2011, 10:01 PM)Adi Sutjipto Wrote: [spoiler]
Teman,
Ikut naik di ketel,
selain resiko lebih besar, terutama jika rangkaian masih menggunakan rem manual, yang dioperasikan oleh "master rem",

yang membahayakan tapi tidak kasat mata adalah, bubuk atau serbuk atau istilahnya, gram besi.

Coba anda perhatikan rel, selalu ada bubuk halus besi nya yang berwarna putih bukan ?
terutama, jika baru saja dilalui oleh rangkaian kereta ?


Ini yang membahayakan, jika tidak memakai penutup hidung atau masker.
Lihat saja, mereka yang berdinas di kereta bbm, selain memakai jaket pelindung, kadang badannya diikatkan ke besi pegangan, agar tidak terlempar keluar, semua pasti memakai kain pelindung atau masker.

Ini agar tidak menghirup bubuk besi yang ditimbulkan akibat gesekan roda besi dengan rel, dan terhirup sepanjang jalan.

Efeknya, ya mungkin nanti, 10 atau 20 tahun kemudian.
Makanya, kita salut dengan pengabdian mereka, panas kepanasan, hujan kehujanan, belum lagi ancaman pelemparan batu dan dinginnya angin, terutama di malam hari.

Salam 35 !

Bye Bye[/spoiler]
Saran yang sangat berharga dari Pak adi.
tapi apa mau dikata pak, namanya juga uda kena Virus Kereta, para RF uda seperti rela mati demi kereta....Xie Xie

SEBELUM MENUTUP MATA INI IJINKAN AKU TUHAN MELIHAT SEMUA JALUR MATI DI JAWA HIDUP KEMBALI. AMIN

Reply
#70
(12-08-2011, 05:03 AM)Dana Komuter Wrote: Kalo membaca thread ini sejak dari awal, nampaknya ada saja orang - orang / penumpang gelap yg manfaatin ketelan jadi rangkaian KA alternatif mereka... Apa gak ngegandeng 1 K3 aja gitu? Semisal minjem dari punya Tegal alias Tegal Arum atau pun juga Serayu. Biar jadi tameng demi sekelamatan mrk juga. Yah... kondekturnya sama kayak Punokawan ala Wonogirian gitu lha... Kasih aja tarif seadanya semisal Rp 2.000. Toh... okupansinya khan rendah alias cuma bbrp penumpang gelap doank...

ya jelas tidak bisa lah ! lah wong ketelan itu bukan di peruntukkan buat penumpang ko dan lagi walaupun di kasih satu gerbong misalnya dan di suruh beli karcis misalkan 5000 perak kalau nanti kaca kaca nya pecah pun PT. Kereta Api Indonesia (Persero) harus menanggung kerugian yang cukup besar. makanya kalau tetap ingin naik ketelan ya tanggung sendiri resikonya. dan lagi kalau biasanya yang di lempar adalag gerbong ketelannya lah kalau di kasih kereta penumpang ya yang di incer pasti gerbong penumpangnya. kan efek melempar benda yang mudah pecah lebih menyenangkan di banding melempar gerbong baja. efeknya itu lebih memuaskan bagi si pelempar !

dan benar apa yang di sarankan pakde adi sepengetahuan saya kondektur / juru rem manual rangkaian ketel perlengkapan tambahannya banyak di banding kondektur rangkaian penumpang. ada yang pake helm dan juga sekujur tubuhnya terlindungi misalkan pakai sarung tangan dan jaket tebal
tidak terbayangkan keindahan trem uap ketika lalu lalang di bawah jembatan kereta api jatinegara
foto ane yang lainnya ada disini kang !
https://www.flickr.com/photos/36503981@N02/
Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 1 Guest(s)