Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
cara bawa jenazah di ka
#11
Terdampar di Purwokerto setahun gara-gara proyek fiber optik Jateng ga kelarMarah
Reply
#12
Reply
#13
Sependapat dengan pak Adi selama ini belum pernah saya liat ada jenazah yang menggunakan KA kecuali ada PLH.
Tapi bila memang tujuannya untuk dikirim saya rasa tidak mungkin selama ini Pesawat menajdi pilihan utama dan selanjutnya ya mobil jenazah walaw harus menempuh jarak jauh untuk ke kota lain.

SEBELUM MENUTUP MATA INI IJINKAN AKU TUHAN MELIHAT SEMUA JALUR MATI DI JAWA HIDUP KEMBALI. AMIN

Reply
#14
(03-06-2011, 03:07 PM)Joe_cn Wrote: Sependapat dengan pak Adi selama ini belum pernah saya liat ada jenazah yang menggunakan KA kecuali ada PLH.
Tapi bila memang tujuannya untuk dikirim saya rasa tidak mungkin selama ini Pesawat menajdi pilihan utama dan selanjutnya ya mobil jenazah walaw harus menempuh jarak jauh untuk ke kota lain.

Sebenarnya, contoh sederhananya begini;

Seandainya saya punya penyakit jantung dan harus operasi di Jakarta, dengan biaya sendiri yang mungkin biayanya senilai sebuah mobil kelas medium terbaru, sayapun, milih rumah sakitnya yang termahal, dengan dokter paling top, jika pada akhirnya meninggal, pasti oleh keluarga saya, waktu memulangkan jenazah, ya karena kemampuan keluarga saya, pasti dibawa dengan pesawat, kalau perlu, ya men charter.

Misal, kalau kemampuan dibawah itu, walau tetap harus dioperasi, tapi cari rumah sakit yang bukan paling mahal, dokternya juga bukan yang paling top, ya keluarga masih mampu untuk menyewakan ambulance/ mobil jenazah.

Ini beda, jika saya terpaksa harus bekerja di luar kota, dan pekerjaan tersebut, karena faktor pendidikan atau keahlian yang kurang baik, saya bekerja disektor informal.
Ketika saya mengalami PLH dan meninggal, bisa bingung anak istri saya, ketika harus memulangkan jenazah saya, karena keterbatasan finansial keluarga besar kami.
Jangankan mau dikirim pakai mobil jenazah atau naik kereta, mungkin sewaktu mendengar saya meninggal, istri saya saja bingung, bagaimana caranya untuk menjemput, jika uang tidak ada.

Ini hanya contoh saja.


Ayo, kembali ke Topik lagi yuk.....
Reply
#15
ini pengalaman sodara saya sih jadi dulu sodara saya pernah membawa jenazah ayahnya sendiri dari jakarta ke jogja dan itu di tempatkan di gerbong biasa yakni di tempat penumpang. Dulu sodara saya bilang ga ada tempat buat jenazah ya penumpang juga takut deh

[Image: 11854949193_f4066c0b84.jpg]
Reply
#16
Wink 
saya setuju kalau gerbong aling2 buat bawa jenazah saja Ngeledek

Penumpang yang masih hidup kan ngerti kalau PLH siapa yang nyusul gue Ngakak
Jauh lebih happy naik kereta dari pd pesawat, ngak tau kenapa

Menunggu kebangkitan era transportasi Kereta Api seperti dulu Lok Merah Biru
BIS akap, pesawat, jalan tol merupakan pesaing terberat
Reply
#17
(03-06-2011, 06:41 PM)krisnasip Wrote: saya setuju kalau gerbong aling2 buat bawa jenazah saja Ngeledek

Penumpang yang masih hidup kan ngerti kalau PLH siapa yang nyusul gue Ngakak

Ngakak
Dalam kenyataannya, selama kereta api beroperasi, mungkin hanya sedikit sekali mereka yang mengirimkan [terpaksa] jenazah, dengan kereta api.
Tentu, mereka punya banyak pertimbangan dan sepertinya, menjadi alternatif terakhir.
Kalau toch ada, pasti dilakukan dengan sembunyi-sembunyi, dalam arti, diusahakan, para penumpang lain tidak tahu, dengan dibuat kesan, seolah-olah sedang sakit keras atau agak pingsan/ lemas.
Karena jika tahu, pasti akan dilarang oleh kebanyakan penumpang.

Kalau prosedur pengirimannya, ya seperti yang telah saya utarakan diatas.
Harga pasti lebih mahal, sudah tidak bisa ditumpuk, pengawal paket yang biasanya ikut dalam gerbong bagasi, pasti ohsram.....
Dan biasanya, jika pengawalnya yang menolak karena mungkin takut dan hal ini masih manusiawi, jadi pada akhirnya, kalau tidak ada yang mau mengawal, ya ditolak secara halus.

[spoiler]* Kalau yang dengan pesawat udara, jika dari China, tidak boleh mengirim dengan peti mati, tapi dikremasi terlebih dahulu.
Hanya saya kurang tahu, jika yang meninggal seorang Moslem, bagaimana ketentuannya.
Tidak semua maskapai penerbangan disini bersedia mengangkut peti mati, mungkin punya alasan tersendiri.
Tapi untuk beratnya, katanya pada umumnya, untuk peti mati model barat, beratnya dianggap 200 kg.
Dan untuk pengambilan dengan mobil jenazah yang mendekati pesawat, harus dengan ijin dan diantar petugas bandara, setelah diberikan aba-aba.
Biasanya menunggu setelah semua penumpang turun.
[/spoiler]
Xie XieBye Bye
Reply
#18
Quote:
(02-06-2011, 11:26 PM)Adi Sutjipto Wrote:
(01-06-2011, 09:00 AM)bonbon Wrote: [spoiler]
@Adi Sutjipto, enggak juga tuh gan, sama koq diperlakukan kyk kargo barang biasa, cuman petinya agak berbeda (atau dilapis lagi) trus di timbang, miriplah kyk barang bawaan biasa gitu, juga buat pengangkutan menuju dan dari pesawat jg jadi satu sama mobil pembawa barang dengan barang lainnya( kecuali menggunakan mobil jenazah langsung masuk bandara permintaan khusus keluarga pejabat, untuk umum nggak bisa, susah, nggak bakal di kasih izin) juga nggak harus mobil khusus atau jenazah dan malah tidak terlalu mencolok bagi penumpang pesawat. Mobil Jenazah tidak boleh di perkenanan masuk wilayah landasan pacu ataupun parkir pesawat...
btw, walau tetap pakai timbangan, harganya juga beda dengan kargo biasa.

Ini sebenarnya potensi yg patut di garap, dan nggak harus menyewa 1 gerbong, cukuplah seperti kargo pesawat umumnya, dijadikan satu dengan jenis barang yg lain (asal jgn di tumpuk aja Big Grin), bayangkan jika seluruh keluarga ikut mengantar, berapa tiket langsung terjual sekaligus
[/spoiler]

Selama saya bermain disetasiun kereta api, puluhan tahun, sampai saat inipun, saya belum pernah melihat ada orang, beserta keluarganya, yang entah naik atau turun, dengan jenasah [peti mati].

Memang tidak ada larangan mengirim peti mati, sejauh surat-surat dari rumah sakit dan kepolisian/ instansi terkait lengkap, dan bagian ekspedisinya bersedia menerima, dan tentu saja, sang pengawal barang juga mau dan tidak takut.

Untuk peti mati, jelas tidak mungkin ditimbang, untuk alas dacin nya, kurang lebar. Bagaimana cara menimbang peti mati yang berisi jasad ?
Padahal, kan posisi diusahakan sehorizontal mungkin, tidak boleh miring baik miring kanan/ kiri, maupun kedepan/ belakang.

Jika peti ditimbang cara berdiri, juga tidak mungkin, he...he...he...
Untuk perongkosan, akan dikira-kira saja, dan pasti lebih mahal daripada biasanya, karena juga tidak mungkin ditumpuk atasnya.
Jadi, kompensasi boros tempat.
Ini menurut bagian ekspedisinya, kebetulan dulu pernah iseng-iseng ngobrol waktu habis ada PLH.

Selama saya bepergian dengan pesawat, juga apabila sedang mengantar atau menjemput, saya juga belum pernah melihat, ada peti mati yang entah naik atau turun dari pesawat, diangkut dengan mini tracktor dengan trailer yang biasanya untuk membawa koper/ barang milik penumpang yang masuk bagasi.

Biasanya, ya dengan ambulance/ mobil jenasah yang langsung mendekati pesawat.
Kebetulan juga, beberapa saudara saya, ketika meninggal diluar kota/ negeri, ketika diturunkan dari pesawat dan saya ikut menjemput, semua mobil jenazahnya, masuk mendekati pesawatnya, saat mengambilnya.
Untuk peti mati nya, juga seperti apa adanya, bukan dimasukkan kekotak atau dilapisi lagi.
Memang, peti mati yang dari luar, kadang bentuknya agak berbeda, tetapi, sekarang sudah banyak ditiru juga disini.

Apa anda kebetulan, pernah menyaksikan sendiri, terutama untuk yang diangkut dengan kereta bagasi ?
Dimana dan kira-kira tahun berapa ?
Bye Bye
Quote:
[Image: overstappen.png]
(02-06-2011, 06:01 PM)Dana Komuter Wrote: [spoiler]
Yang sungguh merepotkan dari pandangan aku pribadi :
1. Menyewa 1 kereta spesial utk angkut rombongan pelayat. Semisal dr st. Gambir menuju st. Cepu. Dg KA ABA, maka akan resiko telat bbrp menit di stasiun persinggahan di Cepu. Belum lagi pasti akan mahal menyewa 1 kereta penumpang semisal Nusantara.
2. Akan menjadi pembicaraan para calon penumpang yg entah bukan2 alias gosip. Nanti kalo 1 rangkaian ama mayat gini gitu.
3. Kalo keluarga besar, tak akan cukup dengan 1 kereta, minimal 2 kereta sewaan. Entah 1 kereta Nusantara dan 1 kereta Toraja. Kalao perlu 1 kereta penumpang regluer alias Eksekutif biasa mesti direlakan utk keluarga besar si almarhum / almarhumah.
4. Dg kereta klas Ekonomi?? Moga2 sih gak bertepatan dengan musim kecanduan sepak bola. Bisa kasihan yg di dalem kereta penumpang, meski misalnya gak diijinin pr suporter tuk berkunjung ke kota lain dg KA, tapi khan massa yg anti kesebelasan lawan mrk itu tetep aja nyerang. Apalagi kalo singgah mrk bisa merazia dg membabi but tiap jengkal kereta penumpang / menyisir.
5. Mungkin langkah amannya tanpa ada gangguan pr calon penumpang harus diberangkatin dr Jakarta Gudang utk wilayah Jakarta dan sekitarnya. Tapi gy merepotkan buat pr keluarga si almarhum / almarhumahnya itu... Ke JAKG naik apa, trus apa mesti semisal Sembrani dilangsir ke Jakg terus ke Jakk / Jakarta Kota segala?
[/spoiler]

Mas Dana, mengirim jenazah dalam peti mati, jika dengan mobil jenazah, umpama dari Jakarta ke Malang, biayanya memang mahal.
Seumpama ada keluarga yang sampai mengirimkan dengan kereta bagasi, , pasti sebelumnya telah diperhitungkan agar dari segi pembiayaan, lebih hemat [baca : irit], misalnya, maaf, dari keluarga yang kurang mampu.

Dengan keretapun, selain sudah membutuhkan waktu perjalanan yang lebih lama, jika mampu pun, ya tidak akan menyewa Toraja atau Eksekutif, ya naik pesawat logikanya !

Bye Bye
dan menurut pengalaman saya waktu ngantar jenazah dari malang ke bandara juanda. jenazahnya tidak di naikin pesawat penumpang pak. jadi pake pesawat kusus cargo./ ekspedisi
give me more BRP please
Reply
#19
SEREM AMAT!!!
Aku yang biasa ngurus jenasah aja mendengarnya serem juga, satu kereta dengan Mayat!! Jadi kepikiran serem juga...
Reply
#20
Kalo masalah bawa jenazah pake KA, Dulu keraton kasunanan solo punya kereta jenazah beserta lokomotif khusus untuk menariknya... sekarang disimpan di alun-alun kidul / selatan ... terbuka untuk umum sih kalau mau liat.
Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: