Posts: 1,546
Threads: 0
Joined: Mar 2009
Reputation:
39
(05-04-2011, 08:39 PM)CC 203 Wrote: [spoiler]
(04-04-2011, 10:02 PM)Bangunkarta Wrote: (04-04-2011, 07:10 PM)CC 203 Wrote: Contoh ketidak beresan Polsuska dalam menjalankan tugas... maksudnya gimana om....
kalo masalah pengemis, pedagang di krl ekonomi panas sih menurut ane wajar2 aja koq om.... ane sendiri pas naek ekonomi panas tuh meski penuh, ya cukup memahami... adanya pengemis dan penjual aongan di KRL... klo penjual ma-min apalagi.... soalnya penumpang juga butuh snack kan di perjalanan....
kondisi KRL ekonomi yg gitu... ane pribadi sangat memaklumi dan enjoy aja tuh... maklum lah, KRL super murah... kalo mo enak ya naek aja KRL express... harganya sebanding ma yg di dapet penumpang.... [/spoiler]
Gini lho, Polsuska kan tugasnya untuk membersihkan area stasiun dan dalamnya KA dari yang namanya pedagang dan pengemis, okelah kalau pedagang ada di dalam KA, lha wong emang pengguna KA butuh sama pedagang, lha tapi ini pengemis, apalagi kalau pake bertindak seperti yang bersangkutan, itu kan bikin penumpang muak saja...
ya mungkin secara idealis seperti itu om.... cuman ya kadang2 kita sebagai warga jabodetabek, yg sama2 tau gimana susahnya cari makan di ibu-kota... akhirnya kita juga memaklumi kondisi tersebut... toh orang2 seperti Mila mungkin memang menjalani hal tersebut dengan keterpaksaan... dan setahu ane dalam menjalankan aktivitasnya, Mila cukup tahu kondisi koq... dia hanya beraktivitas saat KRL ekonomi panas ndak terlalu penuh, jadi tidak terlalu menggangu penumpang... bener koq.. dia juga kek gitu bisa kita anggap lucu dan polosnya dia sebagai anak kecil... dan dia cukup tahu batasan kesopanan....
tapi ya... gimana lagi... sampai saat ini, ya kondisi KRL panas mang kek gitu... KRL bukan hanya sekedar sarana transportasi... tapi lebih pada potret realitas kehidupan masyarakat kita... mangkanya pas KRL ndak penuh, ane suka naek KRL ekonomi panas deket2 kan untuk bisa lebih tahu "kehidupan" dan KRL panas tu sarana yg sangat efektif untuk berrefleksi diri... sekaligus mensyukuri apa yg kita punyai...
wah... nica share nih... thx ya for d'share...
"Penipuan Publik atau kebohongan Publik adalah seseorang yang dengan sadar berkata - menyampaikan - melakukan kebohongan dan ungkapan tersebut, tersebar luas dan bisa dipahami sebagai kebenaran atau dipercayai kebenarannya"
~just quote~
Posts: 477
Threads: 0
Joined: Nov 2010
Reputation:
4
(05-04-2011, 09:04 PM)Bangunkarta Wrote: (05-04-2011, 08:39 PM)CC 203 Wrote: [spoiler]
(04-04-2011, 10:02 PM)Bangunkarta Wrote: (04-04-2011, 07:10 PM)CC 203 Wrote: Contoh ketidak beresan Polsuska dalam menjalankan tugas... maksudnya gimana om....
kalo masalah pengemis, pedagang di krl ekonomi panas sih menurut ane wajar2 aja koq om.... ane sendiri pas naek ekonomi panas tuh meski penuh, ya cukup memahami... adanya pengemis dan penjual aongan di KRL... klo penjual ma-min apalagi.... soalnya penumpang juga butuh snack kan di perjalanan....
kondisi KRL ekonomi yg gitu... ane pribadi sangat memaklumi dan enjoy aja tuh... maklum lah, KRL super murah... kalo mo enak ya naek aja KRL express... harganya sebanding ma yg di dapet penumpang.... [/spoiler]
Gini lho, Polsuska kan tugasnya untuk membersihkan area stasiun dan dalamnya KA dari yang namanya pedagang dan pengemis, okelah kalau pedagang ada di dalam KA, lha wong emang pengguna KA butuh sama pedagang, lha tapi ini pengemis, apalagi kalau pake bertindak seperti yang bersangkutan, itu kan bikin penumpang muak saja...
ya mungkin secara idealis seperti itu om.... cuman ya kadang2 kita sebagai warga jabodetabek, yg sama2 tau gimana susahnya cari makan di ibu-kota... akhirnya kita juga memaklumi kondisi tersebut... toh orang2 seperti Mila mungkin memang menjalani hal tersebut dengan keterpaksaan... dan setahu ane dalam menjalankan aktivitasnya, Mila cukup tahu kondisi koq... dia hanya beraktivitas saat KRL ekonomi panas ndak terlalu penuh, jadi tidak terlalu menggangu penumpang... bener koq.. dia juga kek gitu bisa kita anggap lucu dan polosnya dia sebagai anak kecil... dan dia cukup tahu batasan kesopanan....
tapi ya... gimana lagi... sampai saat ini, ya kondisi KRL panas mang kek gitu... KRL bukan hanya sekedar sarana transportasi... tapi lebih pada potret realitas kehidupan masyarakat kita... mangkanya pas KRL ndak penuh, ane suka naek KRL ekonomi panas deket2 kan untuk bisa lebih tahu "kehidupan" dan KRL panas tu sarana yg sangat efektif untuk berrefleksi diri... sekaligus mensyukuri apa yg kita punyai...
wah... nica share nih... thx ya for d'share...
Memang kehidupan ibukota tak dapat dipungkiri dari yang hal - hal demikian... Dan bukan hanya di KRL, Kereta Api adalah salah satu sarana yang paling ampuh untuk melakukan refleksi diri untuk lebih peka terhadap saudara kita yang masih kurang dan merasakan bagaimana menjadi mereka...
Purwojaya mahal... Kutojaya tiketnya habis... Yo wes lah Sinar Jaya ae...
Posts: 133
Threads: 0
Joined: Jul 2009
Reputation:
3
(05-04-2011, 08:09 PM)Bangunkarta Wrote: btw.. uda pada ketemu Mila lom, jangan2 pada lom tahu???....
di satu sisi kasian... cuman di sisi lain, konyol aja ngeliatnya... siaranya kenceng bangettttt....n anaknya enerjik loh... apalagi sekarang pake suka meluk2 orang seenak dia aja... sambil mengeluarkan gaya khas nya... suka jadi buat hiburan seisi gerbong KRL "ironisnya"... 
wah bener banget tuh, temen gw tuh salah satunya yang dapet pelukan hangat dari dia.
btw kayaknya dia bukan anak2 deh. tampangnya udah berumur gitu keliatannya....
kata temen gw anak sikologi kira2 umurnya udah 20an.
tapi wallahualam deh.
Posts: 374
Threads: 0
Joined: Aug 2010
Reputation:
2
MENUNGGU DIJALANKANNYA LAGI BANYUBIRU
SETELAH ISTIRAHAT PANJANG
Posts: 890
Threads: 0
Joined: Nov 2010
Reputation:
17
(05-04-2011, 09:37 PM)CC 203 Wrote: Memang kehidupan ibukota tak dapat dipungkiri dari yang hal - hal demikian... Dan bukan hanya di KRL, Kereta Api adalah salah satu sarana yang paling ampuh untuk melakukan refleksi diri untuk lebih peka terhadap saudara kita yang masih kurang dan merasakan bagaimana menjadi mereka... Tapi caranya aja yg kurang tepat mencari nafkah di KA yg mengganggu kita sebagai penumpang KA
(05-04-2011, 09:04 PM)Bangunkarta Wrote: ya mungkin secara idealis seperti itu om.... cuman ya kadang2 kita sebagai warga jabodetabek, yg sama2 tau gimana susahnya cari makan di ibu-kota... akhirnya kita juga memaklumi kondisi tersebut... toh orang2 seperti Mila mungkin memang menjalani hal tersebut dengan keterpaksaan... dan setahu ane dalam menjalankan aktivitasnya, Mila cukup tahu kondisi koq... dia hanya beraktivitas saat KRL ekonomi panas ndak terlalu penuh, jadi tidak terlalu menggangu penumpang... bener koq.. dia juga kek gitu bisa kita anggap lucu dan polosnya dia sebagai anak kecil... dan dia cukup tahu batasan kesopanan....
tapi ya... gimana lagi... sampai saat ini, ya kondisi KRL panas mang kek gitu... KRL bukan hanya sekedar sarana transportasi... tapi lebih pada potret realitas kehidupan masyarakat kita... mangkanya pas KRL ndak penuh, ane suka naek KRL ekonomi panas deket2 kan untuk bisa lebih tahu "kehidupan" dan KRL panas tu sarana yg sangat efektif untuk berrefleksi diri... sekaligus mensyukuri apa yg kita punyai...
wah... nica share nih... thx ya for d'share... Ya makanya hukum sebab akibat selalu bermain di setiap masalah, kenapa dia suka di KA karena tindakan yg si "Gadis cilik", ambil itu cukup effective untuk mengais rupiah,manakala penumpang tidak terpengaruh dengan acting yg dia suguhkan dan dia menganggap tidak effective maka lambat laun pasti dia tinggalkan
(04-04-2011, 07:10 PM)CC 203 Wrote: Contoh ketidak beresan Polsuska dalam menjalankan tugas...
Harusnya Operasi YUSTISI di galakan lagi ... (*Operasi gabungan untuk memberantas pengemis,Gelandangan,Kaki lima dan kejahatan diatas Kerata api .... Entah sedikit atau banyak ini menunjukan tidak berfungsinya PKD
Jangan salah menilai Pengemis itu,Monggo di baca Kisah Pengemis Sukses
[spoiler]  Sementara "Barangkali", kita yang ngasih aja bloom bisa beli CRV .... mohon maaf yg penting ikhlas kan Gan ..... Ini bloom pengemis yg ada di Jakarta yg rata2 ngasih Rp.500,- ke pengemis
Quote:Cak To, begitu dia biasa dipanggil. Besar di keluarga pengemis, berkarir sebagai pengemis, dan sekarang jadi bos puluhan pengemis di Surabaya. Dari jalur minta-minta itu, dia sekarang punya dua sepeda motor, sebuah mobil gagah, dan empat rumah. Berikut kisah hidupnya.
â€â€
Cak To tak mau nama aslinya dipublikasikan. Dia juga tak mau wajahnya terlihat ketika difoto untuk harian ini. Tapi, Cak To mau bercerita cukup banyak tentang hidup dan â€Âkarirâ€Â-nya. Dari anak pasangan pengemis yang ikut mengemis, hingga sekarang menjadi bos bagi sekitar 54 pengemis di Surabaya.
Setelah puluhan tahun mengemis, Cak To sekarang memang bisa lebih menikmati hidup. Sejak 2000, dia tak perlu lagi meminta-minta di jalanan atau perumahan. Cukup mengelola 54 anak buahnya, uang mengalir teratur ke kantong.
Sekarang, setiap hari, dia mengaku mendapatkan pemasukan bersih Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu. Berarti, dalam sebulan, dia punya pendapatan Rp 6 juta hingga Rp 9 juta.
Cak To sekarang juga sudah punya rumah di kawasan Surabaya Barat, yang didirikan di atas tanah seluas 400 meter persegi. Di kampung halamannya di Madura, Cak To sudah membangun dua rumah lagi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk emak dan bapaknya yang sudah renta. Selain itu, ada satu lagi rumah yang dia bangun di Kota Semarang.
Untuk ke mana-mana, Cak To memiliki dua sepeda motor Honda Supra Fit dan sebuah mobil Honda CR-V kinclong keluaran 2004.
***
Tidak mudah menemui seorang bos pengemis. Ketika menemui wartawan harian ini di tempat yang sudah dijanjikan, Cak To datang menggunakan mobil Honda CR-V-nya yang berwarna biru metalik.
Meski punya mobil yang kinclong, penampilan Cak To memang tidak terlihat seperti â€Âorang mampuâ€Â. Badannya kurus, kulitnya hitam, dengan rambut berombak dan terkesan awut-awutan. Dari gaya bicara, orang juga akan menebak bahwa pria kelahiran 1960 itu tak mengenyam pendidikan cukup. Cak To memang tak pernah menamatkan sekolah dasar.
Dengan bahasa Madura yang sesekali dicampur bahasa Indonesia, pria beranak dua itu mengaku sadar bahwa profesinya akan selalu dicibir orang. Namun, pria asal Bangkalan tersebut tidak peduli. â€ÂYang penting halal,†ujarnya mantap.
Cak To bercerita, hampir seluruh hidupnya dia jalani sebagai pengemis. Sulung di antara empat bersaudara itu menjalani dunia tersebut sejak sebelum usia sepuluh tahun. Menurtu dia, tidak lama setelah peristiwa pemberontakan G-30-S/PKI.
Maklum, emak dan bapaknya dulu pengemis di Bangkalan. â€ÂDulu awalnya saya diajak Emak untuk meminta-minta di perempatan,†ungkapnya.
Karena mengemis di Bangkalan kurang â€Âmenjanjikanâ€Â, awal 1970-an, Cak To diajak orang tua pindah ke Surabaya. Adik-adiknya tidak ikut, dititipkan di rumah nenek di sebuah desa di sekitar Bangkalan. Tempat tinggal mereka yang pertama adalah di emprean sebuah toko di kawasan Jembatan Merah.
Bertahun-tahun lamanya mereka menjadi pengemis di Surabaya. Ketika remaja, â€Âbakat†Cak To untuk menjadi bos pengemis mulai terlihat.
Waktu itu, uang yang mereka dapatkan dari meminta-minta sering dirampas preman. Bapak Cak To mulai sakit-sakitan, tak kuasa membela keluarga. Sebagai anak tertua, Cak To-lah yang melawan. â€ÂSaya sering berkelahi untuk mempertahankan uang,†ungkapnya bangga.
Meski berperawakan kurus dan hanya bertinggi badan 155 cm, Cak To berani melawan siapa pun. Dia bahkan tak segan menyerang musuhnya menggunakan pisau jika uangnya dirampas. Karena keberaniannya itulah, pria berambut ikal tersebut lantas disegani di kalangan pengemis. â€ÂWis tak nampek. Mon la nyalla sebet (Kalau dia bikin gara-gara, langsung saya sabet, Red),†tegasnya.
Selain harus menghadapi preman, pengalaman tidak menyenangkan terjadi ketika dia atau keluarga lain terkena razia petugas Satpol PP. â€ÂKami berpencar kalau mengemis,†jelasnya.
Kalau ada keluarga yang terkena razia, mau tidak mau mereka harus mengeluarkan uang hingga ratusan ribu untuk membebaskan.
***
Cak To tergolong pengemis yang mau belajar. Bertahun-tahun mengemis, berbagai â€Âilmu†dia dapatkan untuk terus meningkatkan penghasilan. Mulai cara berdandan, cara berbicara, cara menghadapi aparat, dan sebagainya.
Makin lama, Cak To menjadi makin senior, hingga menjadi mentor bagi pengemis yang lain. Penghasilannya pun terus meningkat. Pada pertengahan 1990, penghasilan Cak To sudah mencapai Rp 30 ribu sampai Rp 50 ribu per hari. â€ÂPokoknya sudah enak,†katanya.
Dengan penghasilan yang terus meningkat, Cak To mampu membeli sebuah rumah sederhana di kampungnya. Saat pulang kampung, dia sering membelikan oleh-oleh cukup mewah. â€ÂSaya pernah beli oleh-oleh sebuah tape recorder dan TV 14 inci,†kenangnya.
Saat itulah, Cak To mulai meniti langkah menjadi seorang bos pengemis. Dia mulai mengumpulkan anak buah.
Cerita tentang â€Âkeberhasilan†Cak To menyebar cepat di kampungnya. Empat teman seumuran mengikutinya ke Surabaya. â€ÂKasihan, panen mereka gagal. Ya sudah, saya ajak saja,†ujarnya enteng.
Sebelum ke Surabaya, Cak To mengajari mereka cara menjadi pengemis yang baik. Pelajaran itu terus dia lanjutkan ketika mereka tinggal di rumah kontrakan di kawasan Surabaya Barat. â€ÂKali pertama, teman-teman mengaku malu. Tapi, saya meyakinkan bahwa dengan pekerjaan ini, mereka bisa membantu saudara di kampung,†tegasnya.
Karena sudah mengemis sebagai kelompok, mereka pun bagi-bagi wilayah kerja. Ada yang ke perumahan di kawasan Surabaya Selatan, ada yang ke Surabaya Timur.
Agar tidak mencolok, ketika berangkat, mereka berpakaian rapi. Ketika sampai di â€Âpos khususâ€Â, Cak To dan empat rekannya itu lantas mengganti penampilan. Tampil compang-camping untuk menarik iba dan uang recehan.
Hanya setahun mengemis, kehidupan empat rekan tersebut menunjukkan perbaikan. Mereka tak lagi menumpang di rumah Cak To. Sudah punya kontrakan sendiri-sendiri.
Pada 1996 itu pula, pada usia ke-36, Cak To mengakhiri masa lajang. Dia menyunting seorang gadis di kampungnya. Sejak menikah, kehidupan Cak To terus menunjukkan peningkatan…
***
Setiap tahun, jumlah anak buah Cak To terus bertambah. Semakin banyak anak buah, semakin banyak pula setoran yang mereka berikan kepada Cak To. Makanya, sejak 2000, dia sudah tidak mengemis setiap hari.
Sebenarnya, Cak To tak mau mengungkapkan jumlah setoran yang dia dapatkan setiap hari. Setelah didesak, dia akhirnya mau buka mulut. Yaitu, Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu per hari, yang berarti Rp 6 juta hingga Rp 9 juta per bulan.
Menurut Cak To, dia tidak memasang target untuk anak buahnya. Dia hanya minta setoran sukarela. Ada yang setor setiap hari, seminggu sekali, atau sebulan sekali. â€ÂYa alhamdulillah, anak buah saya masih loyal kepada saya,†ucapnya.
Dari penghasilannya itu, Cak To bahkan mampu memberikan sebagian nafkah kepada masjid dan musala di mana dia singgah. Dia juga tercatat sebagai donatur tetap di sebuah masjid di Gresik. â€ÂAmal itu kan ibadah. Mumpung kita masih hidup, banyaklah beramal,†katanya.
Sekarang, dengan hidup yang sudah tergolong enak itu, Cak To mengaku tinggal mengejar satu hal saja. â€ÂSaya ingin naik haji,†ungkapnya. Bila segalanya lancar, Cak To akan mewujudkan itu pada 2010 nanti…
[/spoiler]
sumber  ModaL Acting ....
[spoiler= BRAKE.Emergency use only]
YAHOO!
nikimura.cellular
[/spoiler]
Posts: 2,477
Threads: 0
Joined: Jul 2010
Reputation:
25
Cak To memang sukses dalam hal mengumpulkan harta. Bahkan sampai bisa menjadi donatur mesjid. Bagus. Tapi sayang, mental pengemisnya tidak dia tinggalkan. Dari keluarga pengemis kemudian mengexploitasi pengemis. Judulnya tetap saja mengemis. Halal tapi nista. Tidak pantas dibanggakan. Beda kalau Cak To pada akhirnya meninggalkan dunia pengemis. Misalnya mendirikan pabrik dan menjadi pengusaha tempe. Halal dan terhormat. Apalagi kalau mau bergabung di Semboyan 35. Jadi lebih terhormat lagi deh. 
Posts: 1,546
Threads: 0
Joined: Mar 2009
Reputation:
39
(06-04-2011, 07:10 AM)nikmuracell Wrote: ~edited
Tapi caranya aja yg kurang tepat mencari nafkah di KA yg mengganggu kita sebagai penumpang KA
~edited masa sih om mengganggu  ... prasaan ane pas ketemu Mila ngga kerasa terganggu tuh... dan rata2 penumpang di KRL ekonomi panas tersebut juga ngga merasa terganggu tuh... malahan yg ada pada ketawa-ketiwi tuh ngeliatin aksi Mila yg seenak dia gitu.... Kasian sih iya... dan penumpang juga biasa2 ajah ada yg ngasih, banyakan juga yg kagak ngasih,... cuman ya bikin suasana KRL ekonomi panas jadi lucu n konyol ajah, daripada "maaf ya" pengamen2 yg nyanyiin lagu2 alay gt.. masih pada lebih suka ngeliat si Mila loh.... silahkan amatin secara langsung deh...
pendapat ane nih ya.... ane sangat memaklumi kondisi tersebut koq... yah sangat wajar kondisi KRL ekonomi panas yg seperti itu... sumpek, banyak pedagang, pengamen pengemis berseliweran... tapi ya... wajar, namanya juga KRL sejuta umat.... kalo kesan ane sendiri ngeliat kek gitu koq justru bukan ngerasa terganggu, muak atao sebel dll... malah ane ngerasa unik aja ma kondisi KRL yg bener2 humanis...  (maaf ya bukan maksud ane melihat kesusahan orang sebagai hiburan).. cuman mang kondisi di krl ekonomi panas itu unik.... dimana tidak pernah ane dapatin dalam keseharian ane sebagai penglaju yang pake KRL buat ngejar waktu...
omong2... buat temen2 penggunak KRL lintas Selatan... gimana nih.. ada yg uda photo si Mila lum.... pic-nya dirunggu lhooo.....
"Penipuan Publik atau kebohongan Publik adalah seseorang yang dengan sadar berkata - menyampaikan - melakukan kebohongan dan ungkapan tersebut, tersebar luas dan bisa dipahami sebagai kebenaran atau dipercayai kebenarannya"
~just quote~
Posts: 455
Threads: 0
Joined: Aug 2010
Reputation:
12
SOARA ORANG TAMBOEN
Gujes Gujes Gujes.......
Posts: 1,546
Threads: 0
Joined: Mar 2009
Reputation:
39
(08-04-2011, 02:02 PM)Expres Serayu Wrote: kemaren ane kena peluk lagi kang,,
 gyahahahahaha..... dimana gan??? tapi liat postingan ente... keknya ente seneng banget ya kna pelukan hangat Mila  :LOL:
saat itu, ente serasa jadi orang ngetop walo bentar kan.... banyak yang ketawa liat kejadian itu kan.... tapi tenang ajah..... ga cuman ente koq... banyak juga kan yg dapet pelukan hangatnya si Mila...:LOL:
"Penipuan Publik atau kebohongan Publik adalah seseorang yang dengan sadar berkata - menyampaikan - melakukan kebohongan dan ungkapan tersebut, tersebar luas dan bisa dipahami sebagai kebenaran atau dipercayai kebenarannya"
~just quote~
Posts: 455
Threads: 0
Joined: Aug 2010
Reputation:
12
SOARA ORANG TAMBOEN
Gujes Gujes Gujes.......
|