Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Kenapa Dulu KRL Bisnis Cuma 1x Pp dan Seat-nya Terbatas?
#1
Kalau kita pikir2 sewaktu eranya tahun 1980an dan 1990an, kenapa yah rangkaian KRL untuk Klas Bisnis dalam hal ini Pakuan cuma ada 1x pp yah? Sementara jumlah pr penumpangnya sudah semakin membeludak spt yang sehari2 kita lihat di Klas Ekonomi sampai ke atap. Mau naik KRL Pakuan Bisnis pun kala itu di stasiun Jakarta kota dan Bogor harus antri berebut supaya dapet karcisnya yg kalo gak salah cuma Rp 2000 atau Rp 4000 aku lupa.

Bayangkan saja, kala itu petak rel KA Jabodetabek di mana yg elektrifikasi cuma Jakarta - Bogor dan selebihnya cuma sampai Jatinegara (blom sampai Bekasi), cuma sampai Kebayoran (tahun 1994 baru sampai Serpong) dan ke Tangerang blom ada sama sekali. Tapi perjalanan KRL Ekonomi gak sepadet era kedua tahun segitu sebab petak rel Manggarai - Bogor baru single track. Aku termasuk yg mengalami betapa apesnya disusul mlulu soalnya kalau pagi ke arah Bogor otomatis kebanyakan ngalah dg sesama Klas Ekonomi dr lawan arah. Begitu pun sore utk arah sebaliknya.

Tapi kenapa kala itu Klas Bisnis utk KRL jumlah tmp duduknya (seat-nya) terbatas yah? Apakah bekas2 periode peninggalan kolonial Belanda masih ada yg dg pembagian klasnya? Di mana... kala itu Klas 1 yah org2 klas menengah atas dr kalangan Belanda (meski sudah tahun 1950an sekalipun), Klas 2 yah bangsa keturunan dlm hal ini Arab, India dan Cina dan utk Klas 3 yah para pribumi (Jawa, Sunda, Betawi, dll) yg tergolong pedagang sayur mayur, tukang pikul, kuli, dll. Jadi kala itu apakah KRL Bisnis Pakuan diprioritasin buat mrk yg pekerja kantoran aja yah? Sementara utk pr kuli, pedagang, peternak (kambing, dll) yg blom sanggup bayar seklas KRL Pakuan sulit naik yah?

Mungkin ada yg bisa kasih pencerahan? Bingung

Reply
#2
(13-03-2011, 08:33 AM)Dana Komuter Wrote: Kalau kita pikir2 sewaktu eranya tahun 1980an dan 1990an, kenapa yah rangkaian KRL untuk Klas Bisnis dalam hal ini Pakuan cuma ada 1x pp yah? Sementara jumlah pr penumpangnya sudah semakin membeludak spt yang sehari2 kita lihat di Klas Ekonomi sampai ke atap. Mau naik KRL Pakuan Bisnis pun kala itu di stasiun Jakarta kota dan Bogor harus antri berebut supaya dapet karcisnya yg kalo gak salah cuma Rp 2000 atau Rp 4000 aku lupa.

Bayangkan saja, kala itu petak rel KA Jabodetabek di mana yg elektrifikasi cuma Jakarta - Bogor dan selebihnya cuma sampai Jatinegara (blom sampai Bekasi), cuma sampai Kebayoran (tahun 1994 baru sampai Serpong) dan ke Tangerang blom ada sama sekali. Tapi perjalanan KRL Ekonomi gak sepadet era kedua tahun segitu sebab petak rel Manggarai - Bogor baru single track. Aku termasuk yg mengalami betapa apesnya disusul mlulu soalnya kalau pagi ke arah Bogor otomatis kebanyakan ngalah dg sesama Klas Ekonomi dr lawan arah. Begitu pun sore utk arah sebaliknya.

Tapi kenapa kala itu Klas Bisnis utk KRL jumlah tmp duduknya (seat-nya) terbatas yah? Apakah bekas2 periode peninggalan kolonial Belanda masih ada yg dg pembagian klasnya? Di mana... kala itu Klas 1 yah org2 klas menengah atas dr kalangan Belanda (meski sudah tahun 1950an sekalipun), Klas 2 yah bangsa keturunan dlm hal ini Arab, India dan Cina dan utk Klas 3 yah para pribumi (Jawa, Sunda, Betawi, dll) yg tergolong pedagang sayur mayur, tukang pikul, kuli, dll. Jadi kala itu apakah KRL Bisnis Pakuan diprioritasin buat mrk yg pekerja kantoran aja yah? Sementara utk pr kuli, pedagang, peternak (kambing, dll) yg blom sanggup bayar seklas KRL Pakuan sulit naik yah?

Mungkin ada yg bisa kasih pencerahan? Bingung

mungkin juga keterbatasan armadanya gan. Scara wkt itu smua armada KRL hanya dilayani oleh KRL RHEOSTATIC.
" R.I.P Bumi Geulis"[/i]
Reply
#3
Mikir Dulu Kalo diliat dari penamaan dan tujuannya;
Pakuan = Bisnis/Eksekutif, KRL ber-AC (AC-nya beneran), kursi berhadapan, toilet berfungsi dengan baik, ada prama yg menjual makanan dan minuman, Harga karcis jauh lebih mahal dibanding ekonomi (2000 vs 500)
jadi ga salah kalo jumlah set-nya terbatas karena memang tujuannya untuk KRL Bisnis/Eksekutif, yg aneh jaman sekarang. Namanya Pakuan, tp keadaan hampir ga beda jauh ama Ekonomi-AC
Plymouth PKC menuju hari kejayaannya dengan angkutan yang berbeda, yaitu BATUBARA

walau koleksi foto belon banyak
koleksi foto saya
Reply
#4
(14-03-2011, 09:10 PM)van Baso Wrote: Mikir Dulu Kalo diliat dari penamaan dan tujuannya;
Pakuan = Bisnis/Eksekutif, KRL ber-AC (AC-nya beneran), kursi berhadapan, toilet berfungsi dengan baik, ada prama yg menjual makanan dan minuman, Harga karcis jauh lebih mahal dibanding ekonomi (2000 vs 500)
jadi ga salah kalo jumlah set-nya terbatas karena memang tujuannya untuk KRL Bisnis/Eksekutif, yg aneh jaman sekarang. Namanya Pakuan, tp keadaan hampir ga beda jauh ama Ekonomi-AC

ada bedanya kalo pas masa liburan, eko ac pasti sumpek sementara eko dah kaya pakuan suepii nyesel dah saya naek eko ac mana eko nya face djoko lagi
Reply
#5
(14-03-2011, 10:36 PM)shinkanseinz Wrote:
(14-03-2011, 09:10 PM)van Baso Wrote: Mikir Dulu Kalo diliat dari penamaan dan tujuannya;
Pakuan = Bisnis/Eksekutif, KRL ber-AC (AC-nya beneran), kursi berhadapan, toilet berfungsi dengan baik, ada prama yg menjual makanan dan minuman, Harga karcis jauh lebih mahal dibanding ekonomi (2000 vs 500)
jadi ga salah kalo jumlah set-nya terbatas karena memang tujuannya untuk KRL Bisnis/Eksekutif, yg aneh jaman sekarang. Namanya Pakuan, tp keadaan hampir ga beda jauh ama Ekonomi-AC

ada bedanya kalo pas masa liburan, eko ac pasti sumpek sementara eko dah kaya pakuan suepii nyesel dah saya naek eko ac mana eko nya face djoko lagi
Dulu bayar mahal juga sebanding dengan layanan (jarang berhenti) dan fasilitasnya (bener-bener fasilitas bisnis/eksekutif). Sekarang sudah mahal, banyak berhenti, fasilitasnya sama saja dengan ekonomi AC. Tidak sebanding dengan tarif.

[Image: stasiunkeretaapibogor.jpg]
Reply
#6
sekarang tujuan nya bukan eksklusifitas semata, tapi lebih ke kapasitas. Walaupun penuh tapi ac tetap dingin. Stasiun berhenti cuma sedikit sehingga menjamin ekslusifitasnya dan waktu tempuhnya. Pakuan juga tetap menyalip ekonomi dan ekonomi AC. Soal gangguan akibat antrian kereta, sinyal, wesel, PLH, tentu saja sulit dihindari mengingat teknologinya yang masih kurang handal.
Reply
#7
(15-03-2011, 11:57 AM)m_ilhami Wrote: sekarang tujuan nya bukan eksklusifitas semata, tapi lebih ke kapasitas. Walaupun penuh tapi ac tetap dingin. Stasiun berhenti cuma sedikit sehingga menjamin ekslusifitasnya dan waktu tempuhnya. Pakuan juga tetap menyalip ekonomi dan ekonomi AC. Soal gangguan akibat antrian kereta, sinyal, wesel, PLH, tentu saja sulit dihindari mengingat teknologinya yang masih kurang handal.
Justru ekslusifitas yang menarik minat kaum atas naik KRL.
Kalau sekarang mengutamakan peningkatan kapasitas, berarti biaya per orang, per kilometer menjadi lebih rendah, alias lebih murah. Tapi kenapa tarifnya malah tambah berlipat ganda antara ekonomi dan ekspress? dulu 4 kali lipat sekarang 5 kali lipat.
Saya heran, dengan tarif Pakuan:
BOO-UI Rp.11.000,00-
UI-BOO Rp.9000,00-

Jarak,layanan,fasilitas sama. Malah BOO-UI lebih banyak berhenti.


[Image: stasiunkeretaapibogor.jpg]
Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 1 Guest(s)