Poll: Gerbong paling depan dan paling belakang bukan untuk penumpang. Setuju?
You do not have permission to vote in this poll.
Sangat setuju
5.77%
12 5.77%
Setuju
10.10%
21 10.10%
Tidak berpendapat
2.40%
5 2.40%
Tidak setuju
27.40%
57 27.40%
Sangat tidak setuju
54.33%
113 54.33%
Total 208 vote(s) 100%
* You voted for this item. [Show Results]

Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
[Diskusi] Gerbong Aling Aling
#91
Just info...

Hari ini, dalam perjalanan terakhirnya, Argo Parahyangan 7067 ditarik CC 201 100 BD dengan 4 K2 - MP1 - 3 K1, dan K2 paling depan (K2-82510 BD) serta K1 paling belakang (K1-65801 BD) dikosongkan.

Anehnya, penumpang Eksekutif 1 yang seharusnya duduk di K1-65803 malah masih masuk kedalam K1-65801 yang dibiarkan gelap dan AC mati. Baru nanti ada petugas OTC datang dan mengatakan bahwa gerbong tersebut sengaja dikosongkan, sedang gerbong Eksekutif 1-nya lebih kedepan.

Tapi kenapa mereka masih masuk kedalam K1-65801, yang sengaja dikosongkan? Pertama, pintu sambungan ga ditutup. Kedua, masih tertempel papan nomor Eksekutif 1 (pinjam punya Malabar, kelihatan di balik lakban yang tertempel di papan tertulis "Malabar Ekspres") di K1-65801, sedang di K1-65803 ga ada nomor gerbong. Padahal, di pintu K1-99513 terdapat papan bertuliskan "EKSEKUTIF 2 ARGOPARAHYANGAN" (memang dicetak kapital)...

Apa kebijakan ini kurang sosialisasinya ya?
Visit my new blog at https://idrailnews.wordpress.com/

Visit also:
YouTube Channel
Twitter
#92
(31-01-2011, 02:22 PM)dtRAiNeR Wrote: Just info...

Hari ini, dalam perjalanan terakhirnya, Argo Parahyangan 7067 ditarik CC 201 100 BD dengan 4 K2 - MP1 - 3 K1, dan K2 paling depan (K2-82510 BD) serta K1 paling belakang (K1-65801 BD) dikosongkan.

Anehnya, penumpang Eksekutif 1 yang seharusnya duduk di K1-65803 malah masih masuk kedalam K1-65801 yang dibiarkan gelap dan AC mati. Baru nanti ada petugas OTC datang dan mengatakan bahwa gerbong tersebut sengaja dikosongkan, sedang gerbong Eksekutif 1-nya lebih kedepan.

Tapi kenapa mereka masih masuk kedalam K1-65801, yang sengaja dikosongkan? Pertama, pintu sambungan ga ditutup. Kedua, masih tertempel papan nomor Eksekutif 1 (pinjam punya Malabar, kelihatan di balik lakban yang tertempel di papan tertulis "Malabar Ekspres") di K1-65801, sedang di K1-65803 ga ada nomor gerbong. Padahal, di pintu K1-99513 terdapat papan bertuliskan "EKSEKUTIF 2 ARGOPARAHYANGAN" (memang dicetak kapital)...

Apa kebijakan ini kurang sosialisasinya ya?
Kalo berdasarkan kejadian di atas, sepertinya kebijakan ini memang kurang sosialisasi, sehingga para pengguna yg masih awam gak tahu apa2 tentang adanya aturan ini..
Semakin memunculkan kesan kalo kebijakan ini dibuat tanpa perhitungan yg matang alias dibuat secara instan..Bethe
Kereta mu, Kereta ku, Kereta kita semua..

[Image: iokl8h.jpg]
#93
Jan gublog e ga ketulungan.
Tapi boleh dicoba juga. Gerbong paling depan n belakang diberi gerbong YYW atau PPCW
#94
sepertinya yg lolos dari kebijakan ini GoPar...soalnya rangkaian Bisnis ny full ampe ujung


yang bikin bingung,
kenapa KA Dinas nya dinamain KERETA ALING-ALING???? BingungBingung
693-5073-893-673
#95
(31-01-2011, 06:46 PM)tomrys Wrote: sepertinya yg lolos dari kebijakan ini GoPar...soalnya rangkaian Bisnis ny full ampe ujung
yang bikin bingung,
kenapa KA Dinas nya dinamain KERETA ALING-ALING???? BingungBingung
Aling-aling = penghalang.
#96
Bearti kalo pake "kebijakan" itu, yg mbuat kebijakan yakin bakal ada PLH lagi, cepat atau lambat
#97
(31-01-2011, 06:50 PM)pardjono Wrote:
(31-01-2011, 06:46 PM)tomrys Wrote: sepertinya yg lolos dari kebijakan ini GoPar...soalnya rangkaian Bisnis ny full ampe ujung
yang bikin bingung,
kenapa KA Dinas nya dinamain KERETA ALING-ALING???? BingungBingung
Aling-aling = penghalang.

maksud saya gini mas,kan kebijakan dari awal namanya kereta penghalang atau dinas. Mengapa mesti menggunakan kata2 Aling2? Mengapa tidak menggunakan Bahasa yg Baku?


(31-01-2011, 06:52 PM)rapih_dhoho Wrote: Bearti kalo pake "kebijakan" itu, yg mbuat kebijakan yakin bakal ada PLH lagi, cepat atau lambat

Bokap ampe ngomong ke saya:

dengan kebijakan itu, berarti KEMENHUB toleran terhadap segala bentuk PLH..BingungBethe

693-5073-893-673
#98
(31-01-2011, 06:52 PM)rapih_dhoho Wrote: Bearti kalo pake "kebijakan" itu, yg mbuat kebijakan yakin bakal ada PLH lagi, cepat atau lambat
Itu yang kita risaukan. Kita berharap solusi untuk meminimalkan PLH, bukan meminimalkan akibat PLH.
#99
ini konyol
gak sekalian semua rangkaian terutama kelas ekonomi
pake ppcw semua
biar kalo PLH
tinggal locat semua




KEBIJAKAN INI BUKAN SOLUSI


Red Bull Red Bull Red Bull
[Image: overstappen.png]
(31-01-2011, 12:00 PM)hedwigus Wrote: Kebijakan yang aneh.. dan penumpang dibebani biaya kereta yang kosong itu di karcisnya .... | #kasihanperkeretaapian


[Image: 169051_10150089834809864_769409863_63300...7606_n.jpg]
Code:
[img]http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/hs060.snc6/169051_10150089834809864_769409863_6330068_4687606_n.jpg[/img]


om,potonya tak copy paste buat di sebar lewat facebook ya
Sedih

[Image: Cursor.gif]
(31-01-2011, 07:00 PM)tomrys Wrote:
(31-01-2011, 06:50 PM)pardjono Wrote:
(31-01-2011, 06:46 PM)tomrys Wrote: sepertinya yg lolos dari kebijakan ini GoPar...soalnya rangkaian Bisnis ny full ampe ujung
yang bikin bingung,
kenapa KA Dinas nya dinamain KERETA ALING-ALING???? BingungBingung
Aling-aling = penghalang.
maksud saya gini mas,kan kebijakan dari awal namanya kereta penghalang atau dinas. Mengapa mesti menggunakan kata2 Aling2? Mengapa tidak menggunakan Bahasa yg Baku?
Mungkin yang memutuskan untuk membuat tulisan itu lupa bahwa ini Republik Indonesia. Ngakak


Forum Jump:


Users browsing this thread: 2 Guest(s)