Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Sejarah Jalur Lemah Abang - Cibarusa
#11
nemu artikel menarik nih...

Mengapa Lemah Abang strategis? Karena memiliki tiga simpangan utama, yakni pertemuan arus lalulintas jalan negara dan provinsi dari Jakarta, pantai utara dan selatan Pulau Jawa, serta Cibarusah, Bogor, dan Cianjur. Itu sebabnya, tatkala dibangun rel kereta api Manggarai-Kedunggedeh pada 1887-1890, di Lemah Abang disediakan satu stasiun.

Pembangunan rel kerata api yang dilakukan Pemerintah Hindia Belanda bersama perusahaan Beos (Bataviasche Ooster Spoorweg Maatschapij atau Maskapai Angkutan Kereta Api Batavia Timur), itu tidak terlepas dari kebijakan politik liberal yang memperbolehkan masuknya penanaman modal asing ke Hindia Belanda.

Berbondong-bondonglah para pengusaha untuk menginvestasikan modalnya ke sejumlah daerah, termasuk Bekasi, Tambun, Cikarang, Lemah Abang, Kedunggedeh, Cibarusah, dan Karawang.

Memang, pada masa itu, sudah ada jalan raya yang menghubungkan Lemah Abang dengan Bogor dan Cianjur melalui Cibarusah. Namun, kondisinya amat menyedihkan sebagai akibat adanya tanah partikelir (partuculiere landerijen), Tuan-tuan tanah tidak membuat jalan yang baik, selain yang diperlukan langsung untuk kepentingannya.

“Oleh karena itu di Distrik Bekasi dan Distrik Cikarang (juga Distrik Cibarusah) hampir tidak ada jalan yang dapat dilalui mobil, kecuali jalan raya yang melalui kedua distrik itu,” kata Residen Batavia P.H. Willemse dalam Memori Serah Jabatannya pada 26 Oktober 1931.

Bagaimana cara tuan tanah (landheer) menggairahkan investasinya, terutama mengirim hasil panen (padi, kelapa, karet, jati, tebu, sayur-mayur) yang melimpah dari Particuliere Landerijen Cibarusah dan sekitarnya ke Batavia dan mancanegara melalui Pelabuhan Tanjung Priok?

Tentu saja mereka tidak mau mengaspal Jalan Lemah Abang-Cibarusah sepanjang 30 kilometer itu. Alasannya, selain biayanya amat mahal, juga lebih menguntungkan penduduk pribumi ketimbang perusahaannya.

Solusinya, tuan tanah membangun rel kereta api Lemah Abang-Cibarusah. Dengan begitu, rel hanya bisa digunakan untuk mengirim hasil panen perusahannya. Orang lain, mah, masak bodo.

Karena, rel kereta api untuk kepentingan pengiriman hasil panen, tuan tanah Cibarusah hanya mengandalkan Stasiun Lemah Abang dan satu stasiun yang dibuatnya di Cibarusah. Mereka tidak membangun stasiun atau halte untuk masyarakat umum.

Karena itu, tuan tanah tidak menggunakan lokomotif besar, melainkan ukuran kecil. Ada pula gerobag segi empat ukuran sekitar 2x2 meter, memiliki roda kereta namun tak berlokomotif. Cara mengoperasikannya, kereta yang berada di atas rel, didorong oleh penumpangnya sambil berlari.

Bila gerobag sudah melaju, penumpangnya nomplok atau meloncat ke atas gerobag yang tengah melaju kencang. Penduduk sekitar menyebutnya sebagai lori atau dogong.
Melalui milisnya, para pecinta kereta api yang umumnya para anak muda merasa penasaran dengan keberadaan rel Lemah Abang-Cibarusah yang konon bermula di sebelah selatan Stasiun Lemah Abang. Namun tidak ada jejaknya. “Sebelah selatan Stasiun Lemah Abang, tapi di mana persisnya?” kata salah seorang pecinta kereta api.

Anak muda Cibarusah, Agah Handoko, yang beruntung sempat mendapat cerita para orangtua di kampungnya, mengungkapkan kereta atau lori mengangkut hasil produksi dari kongsi (perusahaan) tuan tanah di pojok Salak Jonggol (gudang pupuk sekarang ) dan kongsi di Cibarusah (sekarang Pasar Cibarusah) ke kongsi di Lemah Abang (sekarang Bapelkes).

Untuk membuktikan, beberapa bulan lalu Agah mencoba menelusuri bekas rel dari Cibarusah hingga Bapelkes di Lemah Abang. “Ternyata sisa-sisa relnya sedikit pun sudah tidak tersisa. Mungkin sudah dirusak warga untuk dijual besi dan bantalan relnya,” ujar Agah melalui status jejaring sosial Facebook.

Yang bisa dilihat sebagai kenangan akan keberadaan dogong, kata dia, “Hanyalah berupa pematang sawah yang lain dari yang lain, yaitu agak lebar menandakan dulunya bekas jalur rel dogong, yang masih terlihat di antara persawahan Cibarusah-Lemah Abang.”

Seperti halnya Agah, beberapa tahun lalu saya juga sempat mencari jejak lokasi rel kereta api Lemah Abang-Cibarusah, namun tidak sebatang rel pun yang tersisa.

Tapaknya pun telah berubah menjadi hunian penduduk. Informasi agak jelas saya peroleh tatkala melihat-lihat peta masa Hindia Belanda pada 1930-an di Arsip Nasional Ciladak Jakarta Selatan.

Dalam arsip bernomor Sheet 38/XXXVII-C terlihat, di lokasi Bapelkes yang berada di sebelah selatan rel Stasiun Lemah Abang sekarang, pada masa itu bernama Rijstpellerij Mitjhels Arnold. Adapun rel Lemah Abang-Cibarusah berada sejajar di sebelah barat jalan raya Lemah Abang-Cibarusah. Pada sisi rel terdapat keterangan “Decauville”.

Kampung-kampung yang kemudian disulap menjadi kawasan industri Jababeka dan Lippo Cikarang, masih terlihat jelas, diantaranya Cibeber, Rawaindah, Cibeureum, Gombong, Sempoe, Pasirkonci, Tegalgede, Kepuh, Rawasentul, dan Poponcol. Juga ada Kali Ulu, Kali Cibeurem, dan Kali Cilemahabang.

Dari situ menunjukkan, betapa Lemah Abang-Cibarusah telah menjadi kawasan industri bukan hanya sejak tigapuluh tahun terakhir, tetapi juga sejak berabad-abad silam. Untuk mengenang kejayaannya, pada 1950 Lemah Abang dijadikan nama salah satu kecamatan di Kabupaten Bekasi.

Namun oleh peneliti dan pemerintahan pada satu dekade lalu, nama Kecamatan Lemah Abang dihapus dan ganti menjadi Kecamatan Cikarang Timur. Kini, tinggal satu penanda yang masih tersisa, Stasiun Lemah Abang.

Kalau tidak ada upaya melestarikan, tidak tertutup kemungkinan nama Lemah Abang akan punah. Salah satu indikasinya, kini dibangun Cikarang Dry Port, bukan Lemah Abang Dry Port.

[Image: 5992533437_d244d656ea.jpg]
Reply
#12
(02-10-2010, 11:27 PM)Kazuya Wrote: nemu artikel menarik nih...

Mengapa Lemah Abang strategis? Karena memiliki tiga simpangan utama, yakni pertemuan arus lalulintas jalan negara dan provinsi dari Jakarta, pantai utara dan selatan Pulau Jawa, serta Cibarusah, Bogor, dan Cianjur. Itu sebabnya, tatkala dibangun rel kereta api Manggarai-Kedunggedeh pada 1887-1890, di Lemah Abang disediakan satu stasiun.

Pembangunan rel kerata api yang dilakukan Pemerintah Hindia Belanda bersama perusahaan Beos (Bataviasche Ooster Spoorweg Maatschapij atau Maskapai Angkutan Kereta Api Batavia Timur), itu tidak terlepas dari kebijakan politik liberal yang memperbolehkan masuknya penanaman modal asing ke Hindia Belanda.

Berbondong-bondonglah para pengusaha untuk menginvestasikan modalnya ke sejumlah daerah, termasuk Bekasi, Tambun, Cikarang, Lemah Abang, Kedunggedeh, Cibarusah, dan Karawang.

Memang, pada masa itu, sudah ada jalan raya yang menghubungkan Lemah Abang dengan Bogor dan Cianjur melalui Cibarusah. Namun, kondisinya amat menyedihkan sebagai akibat adanya tanah partikelir (partuculiere landerijen), Tuan-tuan tanah tidak membuat jalan yang baik, selain yang diperlukan langsung untuk kepentingannya.

“Oleh karena itu di Distrik Bekasi dan Distrik Cikarang (juga Distrik Cibarusah) hampir tidak ada jalan yang dapat dilalui mobil, kecuali jalan raya yang melalui kedua distrik itu,” kata Residen Batavia P.H. Willemse dalam Memori Serah Jabatannya pada 26 Oktober 1931.

Bagaimana cara tuan tanah (landheer) menggairahkan investasinya, terutama mengirim hasil panen (padi, kelapa, karet, jati, tebu, sayur-mayur) yang melimpah dari Particuliere Landerijen Cibarusah dan sekitarnya ke Batavia dan mancanegara melalui Pelabuhan Tanjung Priok?

Tentu saja mereka tidak mau mengaspal Jalan Lemah Abang-Cibarusah sepanjang 30 kilometer itu. Alasannya, selain biayanya amat mahal, juga lebih menguntungkan penduduk pribumi ketimbang perusahaannya.

Solusinya, tuan tanah membangun rel kereta api Lemah Abang-Cibarusah. Dengan begitu, rel hanya bisa digunakan untuk mengirim hasil panen perusahannya. Orang lain, mah, masak bodo.

Karena, rel kereta api untuk kepentingan pengiriman hasil panen, tuan tanah Cibarusah hanya mengandalkan Stasiun Lemah Abang dan satu stasiun yang dibuatnya di Cibarusah. Mereka tidak membangun stasiun atau halte untuk masyarakat umum.

Karena itu, tuan tanah tidak menggunakan lokomotif besar, melainkan ukuran kecil. Ada pula gerobag segi empat ukuran sekitar 2x2 meter, memiliki roda kereta namun tak berlokomotif. Cara mengoperasikannya, kereta yang berada di atas rel, didorong oleh penumpangnya sambil berlari.

Bila gerobag sudah melaju, penumpangnya nomplok atau meloncat ke atas gerobag yang tengah melaju kencang. Penduduk sekitar menyebutnya sebagai lori atau dogong.
Melalui milisnya, para pecinta kereta api yang umumnya para anak muda merasa penasaran dengan keberadaan rel Lemah Abang-Cibarusah yang konon bermula di sebelah selatan Stasiun Lemah Abang. Namun tidak ada jejaknya. “Sebelah selatan Stasiun Lemah Abang, tapi di mana persisnya?” kata salah seorang pecinta kereta api.

Anak muda Cibarusah, Agah Handoko, yang beruntung sempat mendapat cerita para orangtua di kampungnya, mengungkapkan kereta atau lori mengangkut hasil produksi dari kongsi (perusahaan) tuan tanah di pojok Salak Jonggol (gudang pupuk sekarang ) dan kongsi di Cibarusah (sekarang Pasar Cibarusah) ke kongsi di Lemah Abang (sekarang Bapelkes).

Untuk membuktikan, beberapa bulan lalu Agah mencoba menelusuri bekas rel dari Cibarusah hingga Bapelkes di Lemah Abang. “Ternyata sisa-sisa relnya sedikit pun sudah tidak tersisa. Mungkin sudah dirusak warga untuk dijual besi dan bantalan relnya,” ujar Agah melalui status jejaring sosial Facebook.

Yang bisa dilihat sebagai kenangan akan keberadaan dogong, kata dia, “Hanyalah berupa pematang sawah yang lain dari yang lain, yaitu agak lebar menandakan dulunya bekas jalur rel dogong, yang masih terlihat di antara persawahan Cibarusah-Lemah Abang.”

Seperti halnya Agah, beberapa tahun lalu saya juga sempat mencari jejak lokasi rel kereta api Lemah Abang-Cibarusah, namun tidak sebatang rel pun yang tersisa.

Tapaknya pun telah berubah menjadi hunian penduduk. Informasi agak jelas saya peroleh tatkala melihat-lihat peta masa Hindia Belanda pada 1930-an di Arsip Nasional Ciladak Jakarta Selatan.

Dalam arsip bernomor Sheet 38/XXXVII-C terlihat, di lokasi Bapelkes yang berada di sebelah selatan rel Stasiun Lemah Abang sekarang, pada masa itu bernama Rijstpellerij Mitjhels Arnold. Adapun rel Lemah Abang-Cibarusah berada sejajar di sebelah barat jalan raya Lemah Abang-Cibarusah. Pada sisi rel terdapat keterangan “Decauville”.

Kampung-kampung yang kemudian disulap menjadi kawasan industri Jababeka dan Lippo Cikarang, masih terlihat jelas, diantaranya Cibeber, Rawaindah, Cibeureum, Gombong, Sempoe, Pasirkonci, Tegalgede, Kepuh, Rawasentul, dan Poponcol. Juga ada Kali Ulu, Kali Cibeurem, dan Kali Cilemahabang.

Dari situ menunjukkan, betapa Lemah Abang-Cibarusah telah menjadi kawasan industri bukan hanya sejak tigapuluh tahun terakhir, tetapi juga sejak berabad-abad silam. Untuk mengenang kejayaannya, pada 1950 Lemah Abang dijadikan nama salah satu kecamatan di Kabupaten Bekasi.

Namun oleh peneliti dan pemerintahan pada satu dekade lalu, nama Kecamatan Lemah Abang dihapus dan ganti menjadi Kecamatan Cikarang Timur. Kini, tinggal satu penanda yang masih tersisa, Stasiun Lemah Abang.

Kalau tidak ada upaya melestarikan, tidak tertutup kemungkinan nama Lemah Abang akan punah. Salah satu indikasinya, kini dibangun Cikarang Dry Port, bukan Lemah Abang Dry Port.

Artikel yang Top Banget
Oh iya, apakah jalur ini masuk blue print dari kelanjutan jalur Nambo?
Soalnya jalur Nambo satu blue print dengan dry port Jababeka.
Reply
#13
Quote:Artikel yang Top Banget
Oh iya, apakah jalur ini masuk blue print dari kelanjutan jalur Nambo?
Soalnya jalur Nambo satu blue print dengan dry port Jababeka.

kayak nya gak mas,
jalur ini beda lagi, ini kan sudah lama sekali nggak aktif.

[Image: 5992533437_d244d656ea.jpg]
Reply
#14
Dulu saya pernah kerja di pabrik di kawasan industri EJIP...
Dan saya juga pernah ngekost di kawasan Cibarusah (sebelah utara perempatan Lipo Cikarang - EJIP)...
Saya pengguna setia Argo Parahyangan, sering melewati stasiun Lemah Abang...
Gara-gara TS, saya jadi tau ternyata stasiun "kecil" yang bernama Lemah Abang itu punya sejarah yang Amazing... Big Grin

Mau tanya nih, klo Stasiun Cibarusah sekarang bekas2-nya masih ada gak? Letaknya dimana yah kira2?

Sedikit OOT nih, mengenai Cikarang Dryport, kan lokasinya di samping rel kereta api. Apakah barang2 kontainer nantinya akan dikirim lewat jalur kereta api?
Depok Express
Reply
#15
wewwww, baru tau kalo di lemah abang - cibarusah ada bekas jalur KA nya... Tersenyuum
apakah masih ada jejak2 nya?
kira-kira percabangan jalurnya di sebelah mana stasiun Lemah abang ya?

Cibarusah itu daerahnya masih perbukitan gitu, sedikit gersang, dan tentunya Panas.
dulu pernah main ke sana [ke kantor Dinas Tenaga kerja dan Transmigrasi mau bikin kartu kuning buat ngelamar kerja], naik motor jam 9 pagi panasnya udah terasa nyengat banget.

Reply
#16
Mantaph juga nih rute Top Banget
Coba seandainya rute ini hidup lagi, pasti tambah mantaph deh Top BangetTop Banget
Aktif kembali setelah dibanned sama pak momod dan orang tua.
Reply
#17
Xie Xie Thanx inpohnya nih jd tambah lg pengetahuan ttg jalur mati didaerah yg ga di duga2. palgi klo ada bukti jd mungkin para RF mbulusukan ke sana
Suara lokomotif C201 yg bikin kangenLok Merah Biru
Reply
#18
kereen inpohnya om... jalur di sekitaran karawang ternyata dulu banyak juga
S35
Reply
#19
jalurnya ketutup aspal kali ya sekarang

Xie XieXie Xie


CMIIW

[Image: Cursor.gif]
Reply
#20
(07-10-2010, 02:11 AM)vandoe matarmajamania Wrote: jalurnya ketutup aspal kali ya sekarang

Xie XieXie Xie


CMIIW

100% dah ilang semua termasuk jembatan
semua udah jadi jalan raya, jalan desa, rumah penduduk, sawah dkk, pabrik
yang tersisa cuma jalan raya n jalan desa yg punya lengkungan khas jalur KA
Plymouth PKC menuju hari kejayaannya dengan angkutan yang berbeda, yaitu BATUBARA

walau koleksi foto belon banyak
koleksi foto saya
Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 1 Guest(s)