Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
harga yang dibayarkan berbanding dengan kualitas yang didapat
#11
Memang faktor pemain tunggal tidak lantas membuat PT KA merasa di atas angin ... justru sebaliknya bisa terus termotivasi untuk meningkatkan kualitas pelayanan ... sebelum nanti akhirnya negara memberi peluang bagi provider layanan jasa KA dari swasta, yang pastinya akan menambah persaingan bagi PT KA ...
Reply
#12
Masalah hitung2an antara biaya dan pelayanan saya tak tau perinciannya..
Menurut saya pelayanan sudah jauh berkembang dibanding tahun2 sebelumnya Pisss ahhh...
Reply
#13
Sama mas saya juga dari keluarga KERETA...

maksudnya, jadikan setiap kejadian yang kurang mengenakkan ini sebagai motifasi untuk perubahan yang lebih baik...

memeng yang dikambing hitamkan adalah KA, tapi tidak secara langsung..yang lebih dituju adalah penyedianya, ini harusnya menadi perhatian serius bagamana kereta api ini kedepannya..

mas sendiri bilang "kereta juga merupakan salah satu nilai sejarah"..benar sekali, tapi sejarah ini akan sia-sia kalau yang mengelolanya tidak menghargai peninggalan sejarah tersebut...[Image: overstappen.png]
(19-08-2010, 10:18 AM)raditiya Wrote: Masalah hitung2an antara biaya dan pelayanan saya tak tau perinciannya..
Menurut saya pelayanan sudah jauh berkembang dibanding tahun2 sebelumnya Pisss ahhh...

Berkembang???Bingung

mungkin cuman armadanya saja yang baru, tapi coba perhatikan..

KETEPATAN ??? (Bonus telat 1-2 jam)
KENYAMANAN ??? (AC kurang dingin kadang Bocor, lantai Vinil, Pintu otomatis berubah jadi geser, WC Jongkok untuk eksekutif)
KEAMANAN ??? (Kehilangan barang di kereta Eksekutif sering dieluhkan)

Trus yang mana????
Reply
#14
(19-08-2010, 10:18 AM)raditiya Wrote: Masalah hitung2an antara biaya dan pelayanan saya tak tau perinciannya..
Menurut saya pelayanan sudah jauh berkembang dibanding tahun2 sebelumnya Pisss ahhh...

bisa disebutkan mas secara lebih spesifik pelayanan apa saja yang menurut mas sudah jauh berkembang dibanding tahun2 sebelumnya?
thanks.
KA Sumber Kentjono
Reply
#15
saya bandingkan dengan akhir 90an serta awal 2000an ya..

Untuk waktu tempuh lebih cepat karena peremajaan sarana rel dan double track. Walaupun masih dibatasi taspat di beberapa tempat..
Untuk stasiun sudah lebih tertata dengan peron tinggi, kebersihan terjaga, serta keamanannya karena ada PKD..
Di K3 jauh lebih manusiawi (lampu nyala, kamar mandi bersih)
K2 sudah tak ada asongan, pengamen, dan gepeng saat kereta berjalan.
Untuk K1 jarang menggunakan, tapi semakin baik dengan terobosan baru walaupun belum sempurna..

It's just my opinion. No offense. Peace Pisss ahhh...

Yang jelas saya tetap suka kereta dan seperti siggy saya Xie Xie
Reply
#16
(19-08-2010, 11:00 AM)raditiya Wrote: saya bandingkan dengan akhir 90an serta awal 2000an ya..

Untuk waktu tempuh lebih cepat karena peremajaan sarana rel dan double track. Walaupun masih dibatasi taspat di beberapa tempat..
Untuk stasiun sudah lebih tertata dengan peron tinggi, kebersihan terjaga, serta keamanannya karena ada PKD..
Di K3 jauh lebih manusiawi (lampu nyala, kamar mandi bersih)
K2 sudah tak ada asongan, pengamen, dan gepeng saat kereta berjalan.
Untuk K1 jarang menggunakan, tapi semakin baik dengan terobosan baru walaupun belum sempurna..

It's just my opinion. No offense. Peace Pisss ahhh...

Yang jelas saya tetap suka kereta dan seperti siggy saya Xie Xie

jalur jakarta - BD dulu 2 setengah jam tanpa dobel track, sekarang udah beberapa yang jadi dobel malah makin molor, logikanya, dulu hanya modaL BB 301, Rel sebangsa R 25 / R 33 (mungkin 42 juga ada), singel track, bantalan Kayu n besi (mungkin udah ada beton) . 2 setengah jam jebol tuh n mungkin ada telat 1 - 5 menit lah, nah sekarang modal udah CC 201, CC 203 n bahkan CC 204, Beberapa udah Dobel track, rel sekarang mainnya udah make keluarga R 42 dan juga R 54, sinyal electrik, bantalan udah ga maen kayu ma besi mah, Beton coy biar gaul.. tapi kenapa makin........ ?? ga perlu saya tuliskan karena sudah biasa keluar kata kata itu.. Big Grin untuk k2 yang paling bisa di bedakan, coba naik sawunggalih dan fajar/senja utama yk dan silahkan rasakan perbedaannya yang "SANGAT" mencolok.. hahahaha.. bukan menjatohkan loh mas.. hhehehe sebelumnya sorimayori.. Big Grind Xie Xie
Reply
#17
Kan sudah saya bilang mas kalo perbandingannya pas akhir 90an dan awal 2000an yang notabene banyak Lokonya CC 201 ke atas Tersenyuum
Sekarang juga sudah banyak taspat yang membatasi laju KA yang gunanya juga untuk keselamatan kita. Safety first Pisss ahhh...
naik Sawung dulu dan sekarang juga beda. Sekarang lebih baik Xie Xie
Reply
#18
(19-08-2010, 11:35 AM)raditiya Wrote: Kan sudah saya bilang mas kalo perbandingannya pas akhir 90an dan awal 2000an yang notabene banyak Lokonya CC 201 ke atas Tersenyuum
Sekarang juga sudah banyak taspat yang membatasi laju KA yang gunanya juga untuk keselamatan kita. Safety first Pisss ahhh...
naik Sawung dulu dan sekarang juga beda. Sekarang lebih baik Xie Xie

iya sih.. hahahahaha sekarang yang lagi dikutuk tuh jeng anggrek.. Big Grind
Reply
#19
wah kalo ABA saya gatau..
Belom pernah nyoba Pisss ahhh...
Reply
#20
Maklum Gan... Pemaen Tunggal "Plat Merah" lagi,
kalo coba di bandingkan dengan angkutan darat "Plat Merah" Lain.
DAMRI... terlihat mereka sempoyongan di Jalan, yang bagus cuma shuttle bus bandara aja, itu pun juga karena mereka Monopoli, terlihat rapuh saat melintas jalanan pantura, terlihat renta saat di libas Operator Bis Malam swasta. Swastanisasi Kereta Api harusnya sejak dulu, tapi gag tau juga yah kalo emang ada Operator swasta, cz semua Stasiun, Dipo n Balai Yasa kan dikelola PT.KAI termasuk perawatan rel, juga jadwal GAPEKA CMIIW.

Bisa2 kalo ada swasta masuk bakalan di boikot sama PT. Kereta Api Indonesia (Persero) sendiri. ibaratnya yah Rel itu punya PT. KAI jadi cuma PT. KAI aja yang boleh pakai.
Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 1 Guest(s)