Posts: 134
Threads: 0
Joined: Aug 2009
Reputation:
1
Kalo menurut saya bagaimana kalo rel menuju bandun tetap seperti adanya.
Tapi kalo rel yang ke jakarta ( baca : gambir ) dibuat lurus. Kan treknya menurun !
ini hanya saran lho !
KA Rangkas Jaya is my lovely train
Posts: 54
Threads: 0
Joined: Mar 2010
Reputation:
0
(02-07-2010, 08:20 AM)restu tri laksana Wrote: Kalo menurut saya bagaimana kalo rel menuju bandun tetap seperti adanya.
Tapi kalo rel yang ke jakarta ( baca : gambir ) dibuat lurus. Kan treknya menurun !
ini hanya saran lho !
Maksudnya gimana mas??
PARAHYANGAN'S USER
Posts: 2,344
Threads: 0
Joined: Dec 2008
Reputation:
8
(01-07-2010, 07:10 PM)hedwigus Wrote: Di beberapa tempat masih diberlakukan taspat. Jadi waktu tempuh belum kembali normal.
di petak atau daerah mana saja mas hedwig ?
Kalo mengandalkan jalur eksotis peninggalan belanda yg dulunya hanya memprioritaskan pada hasil bumi/alam nampaknya susah untuk mendapat taspat yang maksimal, harus buat shortcut² atau longcut (ini mah buka jalur baru aja sekalian, yg penting perjalanan singkat, pengandaian longcut Cikarang- Padalarang  ) dpt di reduksi jarak tempuhnya
Terdampar di Purwokerto setahun gara-gara proyek fiber optik Jateng ga kelar
Posts: 24
Threads: 0
Joined: Jul 2010
Reputation:
0
02-08-2010, 01:57 PM
(This post was last modified: 02-08-2010, 01:57 PM by hikarisan.)
(01-07-2010, 05:54 PM)m_ilhami Wrote: menurut saya, cikampek-bandung itu kecepatannya sudah cukup lambat, jadi jangan diperlambat lagi.
Untuk menikmati pemandangan, caranya adalah membuat jendela yang banyak, kalau perlu bikin jendela di lantai. Jadi bisa lihat jurang di bawah..mantab.
Tapi ketika cikampek - gambir, kecepatannya maksimal sehingga bisa 2.5 jam.
Mungkin perlu kereta yang punya gerbong "Wide View" dimana kecepatan kereta bisa cepat tetapi tidak mengurangi untuk menikmati pemandangan sepanjang perjalanan.
RF hikarisan, telah menjadi warga Semboyan35, Indonesian Railfans sejak Jul 2010.
Posts: 1,185
Threads: 0
Joined: Sep 2009
Reputation:
22
(02-07-2010, 08:17 AM)CC201101 Wrote: kemarin saya juga Naik Gopar ke GMR,di perjalanan yg bikin jadi lama adalah di Petak Sukatani - Ciganea yg Longsor disitu KAnya jalannya pelan bgt,memang setelah saya liat disisi Kanan Tebing2 mulai Retak2 mungkin nilah Penyebab Utama KA Gopar jadi lebih lama...
faktor utama emang itu, soalnya di petak lain, KA cenderung berjalan dengan kecepatan yang lumayan..disamping itu sumber lambat lainnya adalah saat akan masuk JNG dimana ada antrian karena saking banyaknya KRL yang lewat sehingga mempengaruhi KA jarak menengah ...
tapi kenapa petak sukatani-ciganea tidak kunjung tuntas??? apakah jalur ini sudah terlalu tua dan butuh perbaikan ekstra atau harus ganti jalur baru???
Posts: 846
Threads: 0
Joined: Mar 2009
Reputation:
3
yap tanahnya di daerah sukatani-ciganea msh labil dikarenakan hujan dan gempa yg melanda jabar beberapa waktu lalu dan ditambah gundulnya hutan di daerah sekitar jd penyerapan air kurang terserap dgn baik...
CMIIW
Train is never death for my life specially KA Lodaya
Posts: 178
Threads: 0
Joined: Jun 2008
Reputation:
2
Semoga perbaikan2 track cepat selesai. Semoga kendala alam (longsor, labil, dsb) bisa diantisipasi dengan baik. Semoga taspatnya semakin ditinggiin. Biar kereta makin ngebut dan makin cepet sampe, tapi tetep aman dan selamat. Kalo kereta makin cepet, penumpang akan puas. Berarti perkeretaapian Indonesia berubah ke arah yang lebih baik. Toh pemandangan masih bisa dinikmati dari atas kereta berkecepatan tinggi.
Posts: 6
Threads: 0
Joined: May 2010
Reputation:
0
enggak ah...kalau dari Bandung-Gambir 3 jam...begitu pun sebaliknya...cuman tergantung loko ama kapasitas keretanya doang...hehehe
Posts: 846
Threads: 0
Joined: Mar 2009
Reputation:
3
klo menurut aq sih kecepatan bkn segalanya yang membuat kereta api bisa cepat itu.
1. Treck ato jalur yang dilalui.
2. Kepadatan lalu lintas di jalur itu sendiri.
3. Faktor Alam seperti longsor, banjir n gempa
Nah jalur BD-GMR itu memenuhi kriteria ketiga faktor diatas tersebut jadi jln KA blm bisa maksimal.
Train is never death for my life specially KA Lodaya
Posts: 4,227
Threads: 0
Joined: Aug 2010
Reputation:
83
(02-07-2010, 08:17 AM)CC201101 Wrote: (01-07-2010, 03:07 PM)ebret_cc20191 Wrote: (01-07-2010, 01:25 PM)irfunz Wrote: (01-07-2010, 12:15 PM)nabil ismail Wrote: (01-07-2010, 12:03 PM)ebret_cc20191 Wrote: tapi tetep ada nuansa lain ketika naek KA karena bagi RF lebih lama naek KA makin mengasyikan....!!1
iya kang sebagai RF lama di kereta memang ada nuansa lain yang mengasyikan,dan saya juga sebagai RF merasakan hal seperti itu,,
tapi bagaimana klo orang awam ????
toh yang menyebabkan parahyangan dihapus itu karena kalah waktu tempuh kan kang yang menyebabkan okupansi merosot 
ikut nimbrung yakk kang...
bener juga itu,
lagipula pemakai kereta api paling banyak itu kan penumpang yang 'pure' peumpang,yang mungkon mementingkan waktu tempuh,dan mungkin inilah penyumbang pendapatan terbesar PT. Kereta Api (Persero). kalo ane sbage rf ya pasti seneng kalo naik kreta lebih lama,hehe
cmiww...
salah satunya ya itu dampak dari kemajuan pembangunan (baca:jalan tol cipularang) dan mungkin GAPEKA yang sekarang dimana makin padatnya jadwal perjalanan KA mungkin itu tapi ah saya orang bodo pasti ada alasan yang lainnya...
kemarin saya juga Naik Gopar ke GMR,di perjalanan yg bikin jadi lama adalah di Petak Sukatani - Ciganea yg Longsor disitu KAnya jalannya pelan bgt,memang setelah saya liat disisi Kanan Tebing2 mulai Retak2 mungkin nilah Penyebab Utama KA Gopar jadi lebih lama...
Memang benar, perjalanan KA Bandung-Jakarta PP lebih lambat dibandingkang perjalanan travel Bandung-Jakarta PP. Tetapi, masalah "kelambatan" Argo Parahyangan tidak dapat dipecahkan sebelum pemerintah turun tangan dalam menyelesaikan banyaknya kekurangan yang ada (dalam hal ini soal infrastruktur, apalagi soal track Argo Parahyangan yang memiliki banyak titik rawan longsor).
Tetapi, masalah waktu dapat ditutupi oleh faktor kenyamanan. Penumpang KA tidak akan menyesal bila mereka harus berada entah 2,5 jam, entah 3,5 jam, dalam perjalanan sejauh 150 km jika pada akhirnya badan mereka tidak terasa pegal-pegal karena diharuskan duduk dengan posisi "kaku" didalam ruangan tidak bebas bergerak (mobil). Kereta memungkinkan penumpang bebas menggerakkan badannya dan mengubah posisi kursi sehingga (contohnya) sebuah pasangan suami-istri bersama kedua anaknya bisa duduk berhadapan sambil menikmati perjalanan dengan cara mereka masing-masing.
Dan itu yang saya rasakan ketika bepergian dengan KA. Jika saya menggunakan travel, memang saya bisa memilih ingin turun dimana dan tiba lebih cepat, tetapi ketika turun dari mobil (mau di rest area mau di tujuan akhir) badan saya terasa pegal. Itulah kelemahan yang tidak akan pernah dapat diatasi seluruh perusahaan travel.
Jadi, tinggal menunggu perhatian dan bantuan dari pemerintah (berharap datangnya cepat). Kalau semuanya beres, kelihatannya angka penumpang Argo Parahyangan akan meningkat, walaupun tidak seperti era pra-Cipularang.
|